
Hari kian menggelap. Bahkan sang matahari sudah menghilang. Digantikan dengan sang rembulan yang indah. Namun sayangnya tak ada bintang yang memberikan keindahan pada langit malam ini.
Vano tengah duduk dikamarnya sambil memegang bingkai foto Elisya yang tengah tersenyum dengan manisnya. Ia mengambil foto itu saat ia masih bersama Elisya dulu.
"Andai aja gue dulu gak bodoh Sya, mungkin sampai sekarang kita akan bahagia bersama Sya. Gue sayang banget sama lo..."ucap Vano sambil terus mengelus bingkai foto itu.
Ceklek...
Pintu terbuka, menampilkan sosok Yunita yang membawakan nampan berisi makan malam.
Vano menghela nafasnya malas. Lalu meletakkan bingkai foto itu ditempatnya.
"Vano gak mau makan mah, Vano gak laper..."protes Vano.
Yunita tersenyum,
"Mamah punya kabar baik buat kamu sayang. Tapi kamu harus makan dulu..."bujuk Yunita pelan.
Vano memutar bola matanya kearah lain.
"Vano gak butuh kabar baik. Vano cuman butuh Elisya. Vano juga gak butuh makanan ini..."ucap Vano tegas.
Yunita lagi-lagi tersenyum. Meletakkan nampan berisi makan malam itu di meja samping kasur Vano.
"Kamu mau ketemu Elisya Vano?..."tanya Yunita lembut.
Mendengar nama Elisya disebut Vano langsung menatap dalam kearah Yunita.
Yunita seolah mengerti jika Vano nampak ragu dengan ucapannya barusan.
"Tadi mamah ketemu Elisya..."ucap Yunita lagi.
Vano kaget bukan main. Bahkan ia dengan cepat mendekat kearah Yunita dan memegang kedua tangan sang ibu.
"Mamah gak lagi bohongin Vano kan?..."tanya Vano takut.
"Elisya tunggu kamu besok jam 4 sore di taman dekat rumah dia. Masih ingat kan? Tapi sekarang kamu makan dulu..."ucap Yunita lembut sambil mengelus kepala putranya.
Mata Vano berbinar-binar. Seolah-olah yang ia dengar barusan adalah kabar yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
"Mah Vano gak lagi mimpi kan? Elisya beneran mau ketemu sama Vano mah?..."tanya Vano memastikan.
"Iya sayang, Elisya mau ketemu sama Vano..."jawab Yunita lembut.
Vano tersenyum lebar lalu memeluk erat sang ibu.
"Vano seneng banget mah. Vano gak sabar nunggu besok. Vano mau ketemu Elisya..."ucap Vano antusias.
__ADS_1
Yunita tersenyum bahagia melihat anaknya kembali ceria.
"Sekarang kamu makan dulu ya, biar besok sehat ketemu Elisya nya..."perintah Yunita.
"Oke mah..."jawab Vano cepat lalu mengambil nampak berisi makanan itu dan memakannya dengan semangat.
Yunita tersenyum sendu sambil menatap kearah Vano.
"Sebesar itu pengaruh Elisya dalam hidup Vano, mendengar nama Elisya saja sudah bisa membuat Vano sebahagia ini..."gumam Yunita dalam hatinya.
🕓🕓🕓
Semuanya tengah berkumpul dimeja makan, terkecuali Elisya. Dari tadi siang ia sama sekali tak keluar kamar. Bahkan hingga waktu makan malam.
"Elisya kemana nih, kok gak ada..."tanya David bingung.
"Iya dari tadi gue gak ngeliat Elisya sahut Farhan juga.
"Biar gue yang anterin makanan ke kamar Elisya. Kalian semua makan aja. Gue ke kamar Elisya dulu..."pamit Dicky lalu beranjak dari duduknya. Ia mengambil sepiring makanan dan segelas air lalu berjalan menuju kamar Elisya.
"Kayanya Elisya lagi ada masalah..."ucap Arvie.
Bella menatap kearah Lisa, seolah memberi kode pada sahabatnya itu. Lisa mengangguk. Mengerti maksud dari Bella.
"Mungkin kecapekan aja bang, kan habis perjalanan jauh juga..."ucap Lisa mengalihkan pembicaraan.
"Bener juga sih..."sahut David.
🕓🕓🕓
Dicky mendekati Elisya dan meletakkan makanan itu disamping Elisya.
"Makan dulu. Lo gak makan dari tadi siang..."lirih Dicky.
Elisya menoleh kearah Dicky.
"Elisya gak laper bang..."jawab Elisya sekenanya.
Dicky menghela nafasnya pelan lalu memindahkan makanan itu keatas meja. Ia duduk kembali disamping Elisya.
"Sini..."lirih Dicky lembut sambil merentang kedua tangannya kearah Elisya.
Elisya menoleh kearah Dicky lalu menghambur pelukan kearahnya. Pelukan Dicky bagaikan candu bagi Elisya. Hanya dengan pelukan Elisya merasa begitu tenang dan aman.
"Jangan banyak pikiran Esya. Gue khawatir..."ucap Dicky seraya mengecup pelan kepala Elisya.
Elisya tersenyum dipelukan Dicky. Ia senang sekali saat Dicky memanjakannya seperti ini.
__ADS_1
"Elisya cuman kecapekan bang..."jawab Elisya pelan.
"Makan ya biar kuat..."ledek Dicky.
Elisya terkekeh pelan.
"Suapinnn..."rengeknya seperti anak kecil.
Dicky melerai pelukannya, namun Elisya menolak. Ia malah mempererat pelukannya pada Dicky.
"Katanya mau disuapin..."tanya Dicky.
"Tapi mau sambil peluk gini bang..."rengek Elisya manja.
"Yaudah, tapi gue ngambil makanannya dulu..."ucap Dicky membuat Elisya mengerucutkan bibirnya kesal.
Dicky dengan cepat mengambil makanan itu. Dam kembali duduk ke samping Elisya.
Elisya dengan cepat menghambur pelukan kearah Dicky. Dicky tertawa kecil, Elisya sepertinya dalam mode manja.
Dicky terlihat sangat tulus, bahkan ia dengan telaten menyuapi Elisya yang tengah memeluknya erat.
Ia akan melakukan apapun jika itu demi kebaikan Elisya.
Dicky bahkan benar-benar menyuapi Elisya layaknya anak kecil hingga makanan itu habis tak tersisa.
Bukan hanya itu saja. Dicky juga mengarahkan minuman kemulut Elisya. Membantu gadis itu untuk minum.
"Sekarang tidur ya, besok pagi mau ke makam orang tua lo..."perintah Dicky.
"Tidur sama bang Iky aja..."rengek Elisya.
Dicky menggeleng cepat. "Gak boleh ya Esya. Nanti aja kalau udah nikah..."jawab Dicky lembut.
Jawaban itu mampu membuat senyum di bibir Elisya mengembang.
"Yaudah deh. Elisya istirahat dulu..."ucap Elisya lalu berbaring diatas kasurnya.
Dicky perlahan menarik selimut untuk menutupi badan Elisya.
"Makasih ya bang..."ucap Elisya tulus.
Dicky tersenyum senang. Ia menundukkan kepalanya mendekati wajah Elisya. Mengecup kening Elisya pelan.
Belum sempat Dicky bangkit, Elisya sudah meraih leher Dicky. Menciumnya lebih dulu bahkan Elisya sedikit ******* bibir Dicky membuat sang empunya membelalakkan matanya kaget.
Hanya sebentar lalu Elisya melepas pagutannya. Detik selanjutnya Elisya merasa malu sendiri atas perbuatannya. Ia bahkan sontak menutup wajahnya dengan selimut tebal.
__ADS_1
Dicky tertawa kecil, sungguh gadis ini benar-benar lucu. Ia yang menciumnya lebih dulu, tapi lihat sekarang. Malah ia yang malu sendiri.
Tapi sungguh, Dicky benar-benar sangat senang sekarang. Ia mengambil piring bekas makan Elisya dan membawanya keluar kamar Elisya. Membiarkan gadis itu beristirahat.