
Tinggallah Arvie, Bella dan Elisya yang masih setia memejamkan matanya. Elisya mengalami syok berat, tubuhnya sangat lemah hingga sampai sekarang masih belum sadarkan diri.
Arvie duduk disofa berdampingan dengan Bella.
"Lo pucat banget Vie, gue beliin makanan bentar ya keluar. Biar lo makan dulu..."ucap Bella lalu bangkit dari sofa. Belum sempat ia melangkah Arvie sudah menahan tangannya. Sontak membuat Bella memalingkan tubuhnya menghadap Arvie.
Arvie malah memeluk perut ramping Bella dengan posisi berhadapan, Arvie duduk disofa dan Bella berdiri dihadapannya.
Arvie menggeleng pelan dalam pelukannya, seolah memberi isyarat jika ia tak ingin Bella pergi. Bella yang mengerti mengelus-elus pelan rambut Arvie.
Menit selanjutnya Bella melerai pelukan Arvie. Arvie mendengus pelan seolah tak terima pelukan itu dilepaskan. Bella tersenyum melihat kekesalan Arvie yang baginya sangat lucu.
Bella kembali duduk disamping Arvie lalu menepuk pahanya. Arvie tentu paham maksud dari Bella. Dengan cepat Arvie langsung membaringkan tubuhnya, meletakkan kepalanya diatas paha Bella. Bella mengelus pelan rambut Arvie membuat Arvie menyembunyikan wajahnya diperut ramping Bella.
"Tidur, biar gak capek..."ucap Bella.
Arvie hanya menganggukkan kepalanya. Sungguh Arvie memang perlu ini. Perasaan nya sedang kacau sekarang. Kabar buruk yang baru saja menimpanya benar-benar membuat hidupnya terasa hancur lebur. Biarkan ia tenang kali ini saja Tuhan!
Arvie perlahan mulai memejamkan matanya. Dengkuran halus sudah terdengar menandakan jika Arvie sudah tertidur dipangkuan Bella.
Bella tersenyum sambil terus mengelus kepala Arvie.
"Gue tau ini gak mudah, setidaknya gue pengen ada disamping lo saat lo butuh gue Vie, gue gak akan biarin lo ngerasa terpuruk. Kabar barusan membuat semua orang kaget Vie, kita juga berduka. Gue harap lo kuat setelah ini, gue akan selalu disamping lo, nemenin lo, susah ataupun senang..."lirih Bella sambil menatap wajah Arvie yang tertidur damai dipangkuannya.
Rasa kantuk kini sudah menyerang Bella. Melihat Arvie yang tertidur sangat pulas dipangkuannya membuatnya tak tega membangunkan Arvie. Walau tak bisa dipungkiri kakinya sudah terasa pegal. Akhirnya Bella menyandarkan kepalanya di pinggir sofa dan berusaha memejamkan matanya dengan tangan yang masih berada diatas rambut Arvie.
🕓🕓🕓
"Ini kamar bang Arvie, gue mau pulang dulu..."pamit Sam.
"Hati-hati lo..."pesan David yang dibalas anggukan oleh Sam.
__ADS_1
"Dicky, lo mau mandi dulu gak? Atau gue aja duluan. Gerah banget gue..."keluh David.
"Lo duluan..."jawab Dicky cuek.
Dengan senang hati David berlari menuju kamar mandi didalam kamar Arvie.
Dicky berjalan ke ruang tamu, banyak sekali terpajang foto keluarga disana. Foto Arvie dan Elisya juga banyak sekali. Dicky menatap lama foto itu. Gadis mungil yang tersenyum sangat manis, cantik sekali.
"Eh Ky, ngapain lo..."sapa Farhan yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
"Ngga ada..."jawab Dicky dingin.
"Gue nganterin Lisa tadi..."ucap Farhan lalu duduk disofa bersamaan dengan Dicky yang juga duduk disana.
"Emm..."Dicky hanya berdehem.
"Gue emang gak ahli dalam memahami cewek tapi dari tatapan Lisa ke Sam, gue yakin Lisa suka sama Sam Ky..."sambung Farhan.
"Ngga tau, gue kasian aja sama Lisa. Sam kaya gak perhatian gitu ke dia. Sejenis cinta bertepuk sebelah tangan lah pokoknya..."jelas Farhan.
"Keputusan ada di lo..."ucap Dicky.
"Gue pengen deket sama Lisa aja sih, gue pengen liat Sam cemburu apa nggak? Gue pengen bantuin Lisa..."sambung Farhan.
"Hati-hati baper..."jawab Dicky cuek.
"Itu resiko yang akan gue genggam..."ucap Farhan.
Dicky berdiri lalu menepuk bahu Farhan.
"Pikir dulu..."ucap Dicky lalu berjalan menuju kamar Arvie.
__ADS_1
🕓🕓🕓
Matahari sudah bersinar dengan terangnya. Aktivitas sekolah dilakukan dengan semestinya. Namun hari ini baik Elisya, Lisa, Sam, maupun Bella tidak ada yang masuk sekolah. Pagi sekali mereka sudah menyusul Elisya kerumah sakit begitu juga dengan Farhan, David, dan Dicky tentunya.
"Nih makan dulu, kita bawain makanan..."ucap Farhan menyodorkan makanan ke arah Arvie.
Arvie menerima makanan itu dengan malas. Sungguh ia tak merasakan lapar sama sekali. Bella yang mengerti jika Arvie tak ingin makan langsung mengambil bingkisan makanan itu dari tangan Arvie.
"Disimpan dulu aja kalau gak laper..."ucap Bella serata tersenyum.
Senyum itu benar-benar mampu menenangkan Arvie. Entah sejak kapan mereka berdua sedekat ini, hanya mereka lah yang tahu.
"Mah pah..."tiba-tiba terdengar suara Elisya yang masih terbaring lemah. Elisya mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Arvie yang melihat itu langsung berlari ke samping brankar Elisya. Bersamaan dengan Bella dan Lisa yang juga ikut mendekat.
"Sya, ini gue Sya..."ucap Arvie sambil menggenggam erat tangan Elisya.
Seketika ingatan tentang kabat buruk itu kembali menyerang Elisya. Elisya tiba-tiba menangis histeris.
"KAK MAMAH PAPAH NINGGALIN ELISYA..."teriaknya keras.
Arvie dengan cepat menarik tubuh adiknya itu kedalam pelukannya. Ia ikut serta menangis merasakan kepedihan yang dirasakan adiknya.
"Ada gue disini Sya, gue juga sama kaya lo. Kaka ada disini Sya..."ucap Arvie menenangkan. Namun malah membuat tangis Elisya semakin pecah.
Tak bisa dipungkiri Arvie pun tak kalah terlukanya. Ia hanya tak ingin menunjukkan sisi lemah itu dihadapan Elisya. Elisya hanya punya Arvie untuk menjadi penopang hidupnya. Adik kesayangannya itu menangis sekarang. Rasanya hancur sekali mendengar tangisan pedih Elisya.
Lisa sekarang sudah tak mampu membendung air matanya. Rasanya sangat sakit melihat Elisya yang biasanya selalu kuat kini malah selemah ini. Farhan tiba-tiba menarik Lisa kedalam pelukannya. Padahal baru saja Sam berniat melakukan itu namun Farhan sudah lebih dulu mendekati Lisa.
Sedangkan Bella memencet tombol disamping brankar, melihat Elisya histeris membuatnya benar-benar takut.
__ADS_1