
Pagi ini matahari bersinar dengan terangnya, seluruh penduduk bumi beraktivitas seperti biasanya.
Elisya celingak-celinguk didepan rumah menunggu jemputan Vano yang kian lama masih tak ada tanda-tanda kedatangan Vano.
"Ka Vano mana sih, biasanya gak pernah telat..."gumam Elisya.
"Sayang, kamu bareng mamah papah aja. Ini sekalian mau nganterin kaka kamu ke bandara, mungkin Vanonya lagi ada kesibukan mendadak, jadi lupa kabarin kamu kalau hari ini nggak jemput..."ucap Revina.
Elisya mendengus pasrah, "Iya deh mah..."Elisya naik ke mobil bersama kedua orangtuanya dan Arvie sang kakak.
Hanya perlu beberapa menit Elisya sudah sampai disekolah.
"Mah pah Elisya turun dulu, ka Arvie hati-hati ya kak. Nanti kalau udah sampai kabarin Elisya..."pamit Elisya.
"Belajar yang bener..."ucap Arvie.
"Siap kak..."jawab Elisya.
Elisya turun dari mobil, ia melangkah kan kakinya di koridor sekolah. Matanya tak berhenti menyapu sekeliling nya. Mencari sosok Vano yang sedari pagi belum juga kelihatan.
"Elisya..."langkah Elisya terhenti saat mendengar namanya disebutkan. Ia menoleh kebelakang mencari sumber suara itu.
"Ka Bella..."sahut Elisya.
"Gue denger Angel sakit Sya, gue cuman pengen lo jaga-jaga aja sih. Angel itu licik Sya. Dia bakal lakuin apapun buat dapetin apa yang dia mau. Gue juga tau betul gimana care nya Vano sama Angel. Gue cuman takut aja Angel manfaatin situasi kaya gini buat ngerebut Vano dari lo..."jelas Bella.
Tatapan Elisya berubah sendu, "Makasih udah ingetin Elisya kak, tapi Elisya ga bisa larang-larang ka Vano buat jauhin ka Angel. Biar gimanapun ka Angel sahabat ka Vano ka..."lirih Elisya pelan.
"Gue cuman berharap Vano bener-bener sayang sama lo sih. Gue gak mau lo sakit hati gara-gara Vano..."pesan Bella.
"Ada yang drama-drama an nih disini..."Lisa bersama teman barunya Rena baru saja datang kesekolah.
"Mulut lo bisa diam gak sih? Berisik..."kesal Bella.
"Upss ternyata ada yang kemakan omongan sendiri nih Ren, ngata-ngatain gue pengkhianat eh dia jua khianatin ka Angel..."sindir Lisa.
"Terserah gue lah, emang lo siapa..."ucap Bella sesantai mungkin.
"Ka Bella udah, orang kaya dia gak usah diladenin. Gak penting..."ketus Elisya.
"Kenapa, takut lo sama gue..."bentak Lisa.
"Hahah gue takut sama lo, tidur lo kayanya kelamaan deh. Mimpi ya lo..."jawab Elisya cuek.
Lisa terbakar emosi mendengar penuturan Elisya. Ia mendorong kasar tubuh Elisya sampai tubuh Elisya tersungkur ke lantai mengenai pot bunga hingga pecah.
"Au..."Elisya meringis saat menyadari lengan bagian bawahnya terluka.
__ADS_1
Bella kaget melihat itu, ia langsung membantu Elisya berdiri. "Lo gila ya, dasar setres lo. Lo kalau iri sama Elisya iri aja. Gak usah nyakitin fisik orang. Gak mampu bersaing ya lo? Dasar lemah..."kesal Bella.
"Hahaha rasain lo Sya, jangan pernah main-main sama gue..."Lisa berjalan bersama Rena meninggalkan Elisya yang meringis menahan sakitnya.
"Ka Bella cukup. Elisya gak papa ko, udah kak..."lerai Elisya.
"Ini gak bisa dibiarin Sya, Lisa udah keterlaluan sama lo..."emosi Bella melunjak.
"Udah biarin aja. Ka Bella bisa anterin Elisya ke UKS bentar gak?..."mohon Elisya.
"Ayo Sya..."Bella membantu Elisya berjalan menuju UKS. Belum sampai di UKS tatapan Elisya terhenti pada mobil Vano yang terparkir indah diparkiran sekolah. Bukan itu yang menarik perhatian Elisya. Tapi Vano yang dengan telaten membantu Angel menuruni mobil layaknya seorang putri raja yang selalu dilayani.
Setelah kerumah sakit tadi malam. Angel memang diperbolehkan pulang dengan syarat harus benar-benar menjaga kesehatan dan pola makan yang sehat.
"Gue udah bilang kan Sya? Sekarang lo liat sendiri gimana perlakuan Vano ke Angel. Itu yang gue takutin..."lirih Bella.
"Elisya gak papa ko ka..."bohongnya. Siapa yang tidak cemburu saat melihat pacar sendiri memperlakukan wanita lain seberlebihan itu.
Angel yang melihat keberadaan Elisya bersama Bella dengan sengaja bergelayut manja ditangan Vano. Herannya tidak ada penolakan sama sekali dari Vano. Hal itu membuat hati Elisya terasa sakit.
Mereka berpapasan dikoridor sekolah.
"Eh Van, pacar lo tadi jatuh nih. Lo anterin ke UKS deh..."Bella sudah tak tahan melihat Angel yang dengan sengaja bermanja-manja dengan Vano.
"Aduh Van, kepala gue pusing..."rengek Angel sengaja.
"Gue antar Angel dulu. Nanti gue nyusulin Elisya. Tolong anterin Elisya ya Bel. Ayo Ngel..."ucap Vano berlalu.
Angel tersenyum puas. "Bye Elisya..."ucapnya lalu berjalan menuju kelas bersama Vano.
Tak bisa dibayangkan betapa kecewanya Elisya saat ini. Saat pacarnya sendiri lebih mengkhawatirkan sahabat nya di banding dirinya yang berstatus sebagai kekasihnya ini.
"Lo liat kan Sya, Vano bahkan lebih khawatir sama Angel dari pada sama lo..."kesal Bella.
Tak bisa dipungkiri Elisya benar-benar kecewa saat ini. Tapi ia lebih memilih diam saja sambil terus berjalan menuju UKS.
Elisya duduk perlahan di sofa yang ada di UKS. Bella mengambilkan kotak P3K untuk Elisya.
"Makasih ya ka, udah anterin aku..."
Bella tersenyum tulus, "Gue prihatin sama lo Sya, gue takut aja Angel ngambil Vano dari lo..."ucap Bella.
"Udah lah ka, kalau ka Vano emang beneran sayang sama Elisya. Ka Vano pasti bakalan selalu ada buat Elisya..."Elisya tak mau ambil pusing.
Bella nampak telaten membersihkan dan membalut luka Elisya.
"Udah nih Sya, lo mau kekelas gak? Gue anter deh..."ucap Bella.
__ADS_1
Elisya tersenyum, "Elisya mau istirahat disini dulu kak. Kaka kekelas aja, makasih udah bantu Elisya..."
"Gak usah sungkan kali sama gue..."jawab Bella lalu pergi meninggalkan Elisya sendiri.
Elisya duduk disofa UKS sendiri. Pikirannya terasa tidak tenang. Apalagi saat melihat Vano begitu mengkhawatirkan Angel. Ia cemburu, tentu saja.
Lamunannya buyar saat Vano masuk kedalam UKS.
"Gimana keadaan kamu Sya..."tanya Vano tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Masih ingat sama Elisya, kirain udah lupa..."jawab Elisya ketus.
"Maaf ya Sya, jangan marah dong. Angel itu lagi sakit. Aku harus selalu jagain dia..."jawab Vano.
"Kenapa harus ka Vano sih..."kesal Elisya.
"Karena Angel cuman punya aku Sya. Dia sahabat aku. Dia butuh aku sekarang. Kamu ngertiin aku dong. Jangan egois gini..."ucap Vano.
Elisya diam sesaat, "Aku egois? Ka Vano ngerti kata cemburu gak sih. Ka Vano pernah gak sih mikirin perasaan Elisya. Dan sekarang ka Vano bilang Elisya egois. Elisya capek ka Vano. Kemarin ka Vano seenaknya ngebatalin janji cuma demi ka Angel, dan tadi pagi aku nungguin ka Vano tapi apa ka Vano dateng jemput aku? Ngga ka. Apa ka Vano mikir gimana perasaan aku ngeliat ka Vano lebih khawatir sama Angel dibandingin aku? Ngga kan..."Elisya benar-benar mengeluarkan semua kekesalannya.
"Maaf Sya, aku lupa jemput kamu..."
"Semudah itu ka Vano ngomong lupa. Ka Vano egois tau nggak. Ka Vano ngelarang Elisya dekat sama cowo lain tapi sekarang liat gimana perlakuan ka Vano sama ka Angel..."bentak Elisya.
Vano terdiam tak bisa menjawab.
"Kenapa diam, ka Vano gak bisa jawab Elisya kan. Ingat ya ka Vano. Disini Elisya pacar ka Vano dan ka Angel hanya sahabat ka Vano. Beda-beda in mana pacar mana sahabat. Jangan sampai lupain pacar sendiri..."Elisya yang sudah sangat kesal berjalan meninggalkan Vano yang terdiam di sofa UKS.
🕓🕓🕓
Keadaan bandara sudah sangat ramai pagi ini. Jam keberangkatan Arvie memang cukup awal.
"Mah pah Arvie berangkat dulu. Mama papa jaga kesehatan disini. Jangan kecape an..."pesan Arvie.
"Ia sayang, kamu jaga diri disana..."lirih Revina sendu.
Arvie tersenyum, "Jangan sedih dong mah. Nanti Arvie ikutan sedih..."
"Ia mah jangan sedih. Arvie sudah dewasa mah. Dia bisa jaga diri sendiri..."sambung Ferly.
"Yasudah Arvie berangkat. Bye mah pah..."pamit Arvie.
"Ko mamah takut ya pah. Takut aja ini terakhir kalinya kita ketemu Arvie..."ucapnya asal.
"Ih mama ngomong apa sih. Gak boleh ngomong sembarangan. Mama cuman kangen aja sama Arvie. Makanya khawatir. Jangan berpikiran macam-macam..."tegur Ferly.
Revina mengangguk. "Ayo pah kita pulang..."ajaknya.
__ADS_1