Elisya

Elisya
103


__ADS_3

Yuhuuu ada yang nungguin gak? Double up nih.


Yuk komen sebanyak-banyaknya 🥰


🕓🕓🕓


Keadaan Elisya sudah jauh lebih baik. Bahkan perban di kaki dan tangannya sudah dilepas. Ia juga sudah diperbolehkan pulang, namun Arvie memaksa untuk tetap dirawat sementara waktu sampai adiknya benar-benar pulih.


Dicky tengah telaten menyuap kan nasi goreng ke mulut Elisya.


"Bang Iky..."rengek Elisya.


"Apaaa..."jawab Dicky dengan suara serak.


"Abang abang, Abang Iky..."rengek Elisya lagi layaknya anak kecil.


"Apaaa Esyaaa?..."jawab Dicky.


Elisya tertawa cengengesan, sungguh ia sangat suka mengganggu Dicky.


"Cita-cita abang mau jadi apa?..."tanya Elisya random.


Dicky menghela nafasnya, sambil terus menyodorkan suapan untuk Elisya.


"Pengen jadi suami lo..."jawab Dicky singkat padat dan jelas.


Siapapun tolong jantung Elisya.


"Boong..."jawab Elisya menyembunyikan salah tingkahnya.


"Tadi nanya, giliran dijawab gak percaya..."protes Dicky.


"Emm definisi cinta menurut abang apa?..."tanya Elisya mencoba mengurangi rasa gugupnya.


"Kalau menurut lo apa?..."tanya Dicky membalik pertanyaan Elisya.


Elisya nampak berpikir, ia bergumam tidak jelas sambil memikirkan jawaban.


"Kalau menurut aku, cinta itu sederhana. Cukup dua insan yang saling menjaga dengan perasaan yang sama dan saling melengkapi untuk mencapai sebuah kebahagiaan..."jawab Elisya puitis.


"Kalau abang gimana?..."tanya Elisya.


"Ck, bagi gue cinta itu elo..."jawaban singkat yang mampu membuat Elisya gelagapan.


Percayalah wajah Elisya sudah memerah karena menahan malu. Pria didepannya ini benar-benar mampu membuat jantungnya berdegup dengan kencang hanya dengan jawaban singkatnya.


"Apa an sih bang, kalau misalkan bang Iky disuruh milih harta atau kekuasaan, bang Iky milih apa?..."tanya Elisya lagi.


Dicky menatap mata Elisya yang menurutnya begitu teduh.


"Gue milih lo, karena lo lebih berarti dari semua itu..."jawab Dicky yakin.


Cukup sudah, rasanya Elisya ingin menjerit sekencang-kencangnya. Jantungnya benar-benar tidak aman saat ini.

__ADS_1


"Nanti kalau lo sembuh gue mau ajak lo jalan..."ucap Dicky.


Elisya mendongak menatap Dicky.


"Mau kemana?..."tanya Elisya.


"Kalau gue jawab kemana aja asal sama lo, romantis gak?..."tanya Dicky.


Elisya nampak berpikir.


"Emmm cukup romantis..."puji Elisya.


"Gue ga jago gombalin cewek, gue cuman ucapin apa yang emang bener-bener gue rasain..."ucap Dicky terus terang.


Elisya tersenyum, berarti apa yang dikatakan Dicky tadi benar-benar tulus dari hatinya.


"Aku dengar bang Iky pernah ngerokok?..."lirih Elisya.


"Iya bener, gue ngerokok tiap kali gue ngerasa muak sama hidup gue sendiri..."jawabnya.


"Egois gak kalau Elisya pengen bang Iky berhenti ngerokok?..."tanya Elisya hati-hati.


Dicky diam, menatap kearah jendela rumah sakit.


"Gak egois. Gue tau itu buat kebaikan gue..."jawab Dicky.


Elisya tersenyum senang,


"Gue tau..."jawab Dicky pasrah.


"Bang Iky pernah punya pacar?..."pertanyaan random itu lagi-lagi keluar dari mulut Elisya karena rasa penasaran yang benar-benar menyeruak dalam dirinya.


"Ga pernah..."jawabnya singkat.


"Kenapa gak pernah, bang Iky kan baik, terus juga ganteng, keren lagi..."puji Elisya tanpa sadar.


Sebuah senyuman terbit dibibir Dicky.


"Gue emang ganteng..."ucapnya pede.


"Ihh ngeselin..."protes Elisya dengan wajah cemberut.


"Karena gue punya sedikit trauma sama cewek. Tapi sekarang udah ngga. Ada seorang perempuan yang udah berhasil ngusik dunia gue yang gelap dan dia sekarang menjadi cahaya dikehidupan gue..."jelas Dicky.


"Siapa?..."tanya Elisya cepat.


"Nanti juga lo tau..."jawaban Dicky benar-benar membuatnya kecewa. Ia berharap Dicky menjawab jika wanita yang ia maksud adalah dirinya sendiri, namun Dicky malah menyembunyikannya. Apakah ia yang berharap terlalu tinggi pada Dicky?


"Kalau boleh tau, apa yang bikin bang Iky trauma?..."tanya Elisya hati-hati. Ia benar-benar takut menyinggung perasaan pria dihadapannya ini. Hal ini tentu begitu sensitif baginya.


Dicky menghela nafas berat. Meletakan mangkok bubur yang memang sudah habis.


"Dulu gue orang gak punya, tapi nyokap gue selalu nuntut hal-hal yang berlebihan. Terobsesi dengan hal-hal mewah tanpa memikirkan ekonomi keluarga. Gue sekolah karena beasiswa yang benar-benar gue perjuangin. Bokap gue kerja keras banting tulang buat menuhin pemintaan nyokap gue yang gak main-main. Gue pengen bantuin bokap gue tapi gue masih kecil saat itu..."Dicky menghela nafasnya berat. Matanya nampak sayu mengingat kejadian yang terjadi belasan tahun lalu.

__ADS_1


Elisya menggeser tubuhnya mencoba mendekati Dicky yang duduk dikursi samping brankar nya. Elisya mengelus pelan rambut Dicky seolah menyalurkan ketenangan pada pria itu.


"Suatu hari nyokap gue nuntut bokap gue untuk beliin mobil. Dan bokap gue benar-benar berusaha sekeras mungkin waktu itu. Hingga bokap gue jatuh sakit, bukannya merawat bokap gue, nyokap gue malah meninggalkan kami dengan laki-laki baru. Gue yang ngurusin bokap gue sendiri. Sampai pada suatu hari karena gue gak punya uang buat beliin obat lagi, Tuhan jemput bokap gue...."


Dicky berhenti sejenak, matanya mulai memerah menahan sesak.


"Itu hari terburuk dalam hidup gue. Gue berjuang hidup sendiri saat gue beranjak SMP, dengan biaya sekolah dengan beasiswa gue. Berat memang tapi gue gak punya pilihan. Gue bertekat harus jadi orang sukses..."ucap Dicky yakin.


"Dan bang Iky berhasil..."jawab Elisya.


"Arvie adalah orang yang berjasa dalam hidup gue. Dia datang layaknya malaikat yang bantu gue ngerintis usaha dan ngasih tempat tinggal gratis ke gue. Sejak SMA gue udah ketemu Arvie. Saat itu juga gue dapat kabar nyokap gue meninggal karena kecelakaan. Dan beginilah hidup gue sekarang..."ucap Dicky.


Elisya menggenggam tangan kekar Dicky.


"Elisya bangga sama bang Iky, abang hebat kok. Abang kuat banget jalanin hidup. Elisya kagum sama abang. Dan sekarang impian dan cita-cita abang buat jadi orang sukses udah tercapai..."puji Elisya.


"Belum, cita-cita gue kan jadi suami lo..."jawab Dicky.


"Abangggggg..."teriak Elisya kesal.


"Sana istirahat, jangan ngomong terus..."pesan Dicky lalu mengacak pelan rambut Elisya.


"Siap komandan..."jawab Elisya cepat lalu membaringkan dirinya dan menutup wajahnya dengan selimut karena malu.


Dicky tertawa kecil melihat tingkah Elisya yang baginya selalu saja menggemaskan. Lalu berjalan keluar ruangan Elisya. Didepan ruangan ada Arvie, David dan Farhan yang tengah berbincang.


"Adik gue udah makan?..."tanya Arvie yang langsung dibalas anggukan oleh Dicky.


"Tenang Vie kalau ada pawangnya mah pasti makan..."goda David.


"Gimana kasusnya?..."tanya Dicky serius.


"Semuanya udah beres Ky, seluruh harta kekayaan atas nama bokap gue udah kembali ke tangan gue. Sekaligus rumah utama Qiandra di Amerika..."jelas Arvie.


"Itu mah Istana Vie, bukan rumah..."ucap Farhan meralat perkataan Arvie.


"Besok adik gue pulang dari sini, kita akan ke penjara untuk menjenguk Johannes untuk terakhir kalinya sebelum dia membusuk dipenjara, itu bahkan gak setimpal sama apa yang dia lakuin ke nyokap bokap gue..."ucap Arvie emosi.


"Gue ngerti sama perasaan lo Vie..."sahut David.


"Ulang tahun Elisya yang ke 19 tahun tinggal 4 hari lagi, tahun ini mungkin gak sespesial tahun kemarin, karena gak ada bokap sama nyokap gue dalam acara nanti..."ucap Arvie sendu.


"Kita semua akan siapin pesta paling meriah buat Elisya. Biar dia gak ngerasa sedih..."usul Farhan.


"Gue pengen rayain di rumah utama gue di Amerika. Disana ada banyak kenangan gue sama keluarga gue. Kita akan berangkat kesana 2 hari lagi. Bella dan teman-temannya juga akan kesana nanti sebagai surprise..."ucap Arvie terkesan antusias.


"Ciaahh seneng banget kayanya pak bos..."ledek David.


"Bilang aja lo iri Vid..."ledek Farhan.


"Gue ajak Sella ya Vie..."bujuk David.


"Ajak aja sekalian..."jawab Arvie.

__ADS_1


__ADS_2