Elisya

Elisya
114


__ADS_3

Acara makan-makan sudah dimulai. Semua tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang memang diperuntukkan pada mereka.


Bella sangat kesal sedari tadi, bagaimana ia bisa diam saja saat melihat banyak wanita yang memuji Arvie secara terang-terangan didepannya.


Ia memang bukan kekasih Arvie, tapi Arvie miliknya. Titik.


Ia mendengus kesal saat melihat Arvie nampak tak keberatan saat wanita-wanita itu menyapanya dengan ramah.


Sebenarnya Arvie hanya menyambut rekan-rekan kerja nya, bukan berniat mencari perhatian dari mereka.


Arvie yang telah menyadari wajah kesal Bella kini mengerti jika gadisnya itu sedang cemburu, Arvie tersenyum senang.


Ini pertama kalinya Bella menunjukkan rasa cemburunya secara terang-terangan. Biasanya gadis itu hanya diam meskipun ia cemburu sekalipun.


Arvie tersenyum kearah Bella, lalu menyodorkan tangannya dari jauh. Membuat beberapa tamu heran melihat tingkah Arvie.


Bella tersenyum lalu berjalan dengan elegan menyambut uluran tangan Arvie. Arvie menggenggam tangan Bella begitu erat. Hal itu tentu membuat semua orang kaget.


"Perhatian sebentar, ini Bella calon istri saya. Saya harap kalian semua bisa memperlakukan dia dengan sangat baik..."ucap Arvie dengan bangganya mengakui Bella sebagai calon istrinya didepan semua orang.



Bella menatap Arvie haru, ia tak menyangka Arvie akan mengakui dirinya dengan bangganya dihadapan semua rekan bisnisnya. Bella sangat bahagia sungguh!


Banyak yang ikut senang dengan pengumuman itu, tapi banyak juga yang menatap Bella sinis.


"Bahkan aku jauh lebih cantik..."


"Sekaya apa wanita itu?..."


"Berasal dari keluarga mana dia..."


"Dia pasti menggoda Arvie ..."


Banyak sekali komentar buruk tentang Bella. Namun Bella sama sekali tak menggubrisnya. Baginya semua komentar buruk itu hanya menunjukkan jika mereka iri dan ingin berada diposisi Bella sekarang.


Arvie bahkan terang-terangan merangkul pinggang ramping Bella, menunjukkan pada semua orang, bahkan Bella adalah gadisnya. Dan selamanya akan tetap begitu.


Tak hanya itu, Elisya pun tak kalah menarik perhatian semua orang. bagaimana tidak ia tengah berdiri disamping Dicky yang tengah merangkul mesra pinggang Elisya.


"Bang Iky laper gak?..."tanya Elisya lembut.


"Laper kalau lo suapin..."entah kenapa pria dingin ini berubah sangat manja jika disamping Elisya.


"Aaa..."ucap Elisya sambil menyodorkan sesendok cake coklat kemulut Dicky. Dengan senang hati Dicky menerima suapan itu.


"Enak gak bang?..."tanya Elisya penasaran.


"Lebih enakan lo..."goda Dicky membuat Elisya malu dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah padam di dada bidang Dicky.


"Elisya malu tau..."rengek Elisya.

__ADS_1


Dicky tertawa kecil karenanya,


"Jangan disembunyiin wajahnya, nanti cantiknya gak keliatan..."bujuk Dicky pelan.


Namun saat Elisya mendongak Dicky langsung mendekatkan bibirnya kesamping telinga Elisya dan berbisik sangat pelan


"I love you Esya..."lirih Dicky.


Elisya tersenyum sangat manis, sebelum akhirnya memeluk Dicky begitu erat, tak peduli jika disana banyak orang, karena ia sangat bahagia sekarang.


Dicky dengan senang hati mendekap tubuh Elisya dalam pelukannya. Apapun yang terjadi Elisya adalah miliknya, dan selamanya akan tetap begitu. Ia memang serius pada Elisya, namun ia hanya menunggu waktu yang pas untuk melamar gadisnya itu.


🕓🕓🕓


Diruangan serba putih, Angel terbaring disana. Syukur nya ia sudah sadarkan diri.


"Dari awal gue ngizinin lo ketemu Vano Ngel, liat lo sampai pingsan gini..."kesal Riski bercampur rasa khawatirnya.


Angel tersenyum melihat wajah khawatir kekasihnya itu.


"Gue baik-baik aja Ki, sekarang hubungan gue sama Vano udah baik-baik aja. Vano udah maafin gue. Gue seneng banget..."ucap Angel bahagia.


Riski menghela nafas pasrah,


"Kalau itu bisa bikin lo senang, gue bisa apa..."ucapnya dengan menghela nafas berat.


"Jangan gitu dong mukanya, tambah ganteng..."puji Angel membuat Riski luluh. Entah kenapa pria itu benar-benar bucin pada Angel.


Angel mengangguk menurut.


🕓🕓🕓


"Terimalah sudah mengundang kami pa Arvie, saya harap perusahaan kita akan bekerja sama dengan baik..."ucap salah satu rekan bisnis keluarga Qiandra.


Arvie mengangguk senang.


"Terimakasih banyak pa Anto..."jawab Arvie yakin.


"Vie..."rengek Bella.


Arvie langsung menoleh kearah samping.


"Iya sayang..."jawab Arvie membuat Bella tersipu malu.


"Gue laper..."rengek Bella.


Ah sial dia begitu menggemaskan saat mengadu pada Arvie seperti ini.


Arvie bahkan lupa jika sedari tadi ia dan Bella belum makan karena menyapa rekan-rekan bisnisnya.


Pa Anto yang merupakan rekan bisnis nya itu tersenyum,

__ADS_1


"Kalian ini sangat cocok sekali, seperti penganten baru saja..."ucap pa Anto.


Arvie tertawa kecil,


"Bapak bisa saja, kalau begitu saya tinggal dulu..."pamit Arvie sopan.


"Baik silahkan..."jawab pak Anto sopan.


"Bel, sini makan bareng kita..."teriak Lisa yang tengah duduk bersama yang lainnya.


Dress yang Lisa kenakan



Bella pun menarik tangah Arvie menuju kesana.


"Wihh sama calon istri nih ya Vie..."ledek Farhan.


"Jelas..."jawab Arvie bangga sambil menuntun Bella duduk perlahan.


"Gue juga lupa bilang sama kalian, gue ke Indonesia sekalian mau lamar Bella, gue mau kerumah orang tuanya. Rencananya setelah Bella lulus gue akan langsung nikahin dia, tinggal beberapa minggu lagi kan hari kelulusan dia ..."ucap Arvie dengan mantap.


"Wah gercep banget nih calon penganten baru..."goda David.


"Lo kapan nyusul Sya?..."tanya Lisa ceplas-ceplos.


"Kok gue sih, gue baru 19 tahun kali..."protes Elisya.


"Ihh gak papa kali, nikah muda gitu..."goda Lisa membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.


"Orang tua lo udah tau tentang rencana Arvie Bel?..."tanya Farhan penasaran.


"Udah, gue udah bilang juga ke nyokap bokap gue. Dan mereka juga udah setuju kok..."ucap Bella senang.


"Wah selamat ya Bel..."ucap Lisa.


"Selamat calon kaka ipar gue ..."puji Elisya.


"Makasih guys, kalian berdua tuh sahabat terbaik gue..."ucap Bella bangga.


"Gue juga pengen tunangan sama Lisa pas lulus nanti, gue udah temuin nenek Lisa juga. Kalian semua harus datang. Nyokap bokap gue juga udah setuju gue sama Lisa. Mereka bahkan minta gue jalanin perusahaan bokap gue, biar bisa nafkahin semua kebutuhan Lisa..."ucap Sam mantap.


Lisa tersenyum senang seraya menatap kearah Sam, sungguh ia benar-benar tak menyangka Tuhan benar-benar akan mempersatukan dirinya dengan sosok Sam yang sudah lama ia kagumi itu.


"Ini kenapa pada mau nikah semua sih, lah gue sama siapa..."ucap Farhan meratapi nasibnya.


"Lo sama kucing gue aja Han, masih jomblo dia..."usul David.


"Gue benci banget sama lo Vid, sumpah..."jujur Farhan kesal.


"Ia sama-sama..."jawab David santai seolah yang barusan diucapkan Farhan adalah sebuah ucapan terimakasih.

__ADS_1


Mereka tertawa begitu lepas malam ini. Suasana yang membahagiakan.


__ADS_2