
Saat perjalanan pulang.
"Kak mama kaka baik banget ya..."ucap Elisya memulai pembicaraan.
Vano tersenyum simpul
"Iya Sya, mama emang gitu..."jawab Vano singkat.
Elisya hanya mengangguk-angguk saja.
Setelah beberapa menit perjalanan Elisya baru sadar jika ini bukan jalan menuju rumahnya.
"Kak kita mau kemana sih?..."tanya Elisya penasaran.
"Kaka mau ngajak kamu jalan-jalan bentar, boleh ya?..."bujuk Vano.
Elisya kembali mengangguk tanda meng-Iya kan.
Tibalah mereka disebuah tempat yang cukup gelap tidak ada penerang apapun.
Mereka berdua turun perlahan.
"Kak ko gelap banget sih..."ucap Elisya sedikit takut.
Vano tersenyum lalu menggenggam tangan Elisya, menuntunnya untuk berjalan.
Elisya yang takut hanya mengikuti patuh.
"Ga usah takut Sya, tuh liat kedepan..."ucap Vano.
Elisya pun melihat kedepannya.
Mata Elisya terbelalak saat melihat beberapa huruf yang membentuk kalimat I Love You tiba-tiba menyala indah didepan matanya.
Tiba-tiba seluruh tempat menjadi terang dihiasi dengan gemerlap lampu nan indah dipandang menambah kesan romantis.
Elisya yang kaget langsung menoleh kearah Vano, tanpa ia sadari Vano sudah memegang erat kedua tangannya untuk menghadapnya.
Elisya merasakan debaran jantung yang tidak karuan saat Vano menatapnya dengan sangat intens.
__ADS_1
"Sya, kaka mungkin tidak seperti laki-laki lain yang bisa bersikap sangat lembut dan perhatian, ya kaka tidak terlalu pandai dalam hal itu..."
Vano nampak menarik nafas pelan.
"Kaka juga bukan laki-laki yang peka atau romantis, kaka hanya bisa menyiapkan apa yang kaka bisa, kaka mengerti kita baru saja dekat dan belum lama saling mengenal, tapi saat kamu berada disisi kaka, kaka merasa nyaman, kaka juga takut kehilangan kamu, huftt kaka suka sama kamu Sya, kamu mau gak jadi pacar kaka?..."Vano nampak gugup saat menyelesaikan kalimatnya.
Sedangkan Elisya terdiam mematung, tidak menyangka dengan apa yang terjadi sekarang, semua seakan mimpi baginya, pria yang selalu angkuh padanya kini melakukan hal seromantis ini.
Elisya tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, ia hanya mengangguk kan kepalanya. Bagaimanapun juga ini pertama kalinya Elisya menyukai seseorang.
Vano mengerti maksud dari Elisya lalu memeluk Elisya. Elisya nampak membalas pelukan Vano dengan sedikit terisak.
Vano yang mendengar hal itu langsung melepaskan pelukannya,
"Kenapa Sya, ko nangis?..."tanya Vano khawatir.
Elisya nampak memberanikan diri menatap manik mata Vano.
"Aku bahagia kak..."hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Elisya.
Vano tersenyum senang mendengar itu.
Elisya nampak memejamkan matanya. Vano mulai ******* lembut bibir Elisya. Elisya yang masih kaku hanya diam saja merasakan perlakuan Vano.
Setelah beberapa saat Vano mulai melepas pagutan bibirnya. Mengusap sudut bibir Elisya yang basah karenanya.
"Ayo kita pulang Sya, nanti mamah kamu nyariin..."ajak Vano.
Pipi Elisya merona seketika,
"Ayo kak..."jawab Elisya pelan.
Kini mereka melanjutkan perjalanan pulang.
Tanpa terasa Vano sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah Elisya.
"Sya besok kaka jemput ya..."ucap Vano lalu mengecup puncak kepala Elisya.
"Kaka gak mau mampir dulu..."tawar Elisya.
__ADS_1
"Ngga, ini udah malam, gak enak, kamu masuk ya terus istirahat sampaikan salam kaka ke mamah kamu ya, sampai kan juga kata maaf kaka karena nganter kamu agak malem banget nih..."jelas Vano.
"Siap kak, aku masuk dulu..."
Vano hanya mengangguk. Elisya pun masuk ke rumahnya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan lagi, hatinya terasa ditumbuhi bunga yang bermekaran.
Ia tal henti-hentinya tersenyum membayangkan kejadian barisan antara dirinya dan Vano.
"Ekhem, kayanya ada yang bahagia nih..."sindir Revina sang ibu.
Elisya nampak sedikit kaget melihat keberadaan sang ibu yang tiba-tiba muncul disampingnya.
"Mamah Elisya kaget..."ucap Elisya cemberut.
"Sini duduk cerita dulu, tadi ngapain aja ayo..."tanya Revina sedikit mengejek sang anak.
Pipi Elisya memerah seketika.
"Mamah suka banget bikin Elisya malu..."
Revina terkekeh kecil.
"Mah kak Vano nembak Elisya..."ucap Elisya cukup histeris.
"Terus terus gimana sayang, kamu mau nggak?..."goda Revina.
"Ya mau dong ma, kak Vano tuh beda dari yang lain, dulu emang suka marahin Elisya sih, tapi sekarang beda mah, Elisya suka sama kak Vano..."jujur Elisya.
"Hahaha kamu ini masih kecil juga udah pacar-pacaran, pertama kali pacaran nih makanya heboh gini, mamah dulu punya banyak pacar loh Sya..."sahut Revina.
"Ih mama playgirl juga ternyata..."ledek Elisya.
"Tapi sekarang ngga, mama sudah menemukan belahan jiwa mamah..."ucap Revina dengan penuh penghayatan.
Elisya tertawa cekikikan
"Alah mamah lebay, udah ah Elisya mau ke kamar, dah mommy..."ucap Elisya lalu mengecup pipi sang ibu dan berlari cepat ke kamarnya.
"Dasar anak nakal kamu ya..."teriak Revina sambil tertawa.
__ADS_1