
Hendra mendekat kearah Vano yang berdiri mematung ditempatnya.
"Sejak kapan lo jadi gini Van, sejak kapan lo jadi brengsek kaya gini. Kemarin kan kita udah bilangin lo buat gak prioritasin Angel, ingat Van! Disini pacar lo itu Elisya bukan Angel. Jangan sampai lo nyesel saat lo udah benar-benar kehilangan Elisya..."
Aldi menepuk pundak Vano, "Gue kecewa sama lo Van, gue pikir lo bakalan jaga Elisya dengan baik. Ternyata gini. Perasaan cewek itu lembut Van. Apa lo mikir gimana perasaan dia saat lo bentak-bentak dan lo kasarin. Kalau lo masih perlakuin Elisya buruk. Gue gak akan mikir dua kali untuk rebut dia dari lo..."Aldi yang sudah emosi berjalan memasuki kelas meninggalkan Vano seorang diri dan disusul oleh Hendra dibelakangnya.
Vano mengacak rambutnya kasar, "Shit! Elisya pasti kecewa banget sama gue. Arrggghh..."teriak Vano frustasi.
🕓🕓🕓
"Sekarang luka lo udah gue obatin..."ucap Bella sambil merapikan kotak P3K yang ada dipangkuan nya.
"Thanks ya Bel, lo selalu nolongin gue..."ucap Elisya seraya tersenyum.
"Yang kuat ya Sya, gue tau lo cewek kuat. Jangan terlalu mikirin masalah ini. Apalagi soal Vano. Lupain aja. Gue tau lo kecewa sama Vano..."tutur Bella.
"Gue gak tau harus ngapain lagi Bel, bahkan Vano nggak percaya sama gue!..."lirih Elisya sendu.
"Udah tenang aja! Gue yakin Vano bakalan nyesel karena udah giniin lo..."ucap Bella menenangkan.
Elisya tersenyum getir, "Semoga aja..."jawabnya sambil memaksakan senyumannya.
"Gue antar ke kelas ya Sya, bentar lagi bel masuk..."ucap Bella sambil membantu Elisya berdiri. Elisya hanya menurut saja.
Saat langkah mereka keluar dari UKS. Angel dan Karin tengah tertawa didepan UKS.
"Gimana rasanya dibentak didepan umum? Sama pacar sendiri lagi. Duh sakit banget ya..."ledek Angel.
"Malu banget dong Ngel, dikasarin pula. Ups..."sambung Karin sambil menutup mulutnya.
Elisya menghela nafasnya pelan, mengontrol emosinya.
"Gak malu sih, biasa aja tuh. Lagian ka Vano cuman salah paham. Gue malahan malu kalau gue berusaha ngerebut cowok orang. Ups gak mampu cari cowok lain ya sampai ngebet banget mau ngambil cowok orang. Memalukan..."ucap Elisya sesantai mungkin.
Bella tertawa kecil, "Bener banget sih Sya, atau mungkin gak mampu nyaingin lo Sya, makanya berinisiatif buat ngambil cowok orang..."ledek Bella.
__ADS_1
Elisya terkekeh, "Ternyata hidup gue beruntung banget ya Bel, banyak banget yang iri sama gue. Sampai pacar gue aja pengen direbut. Astaga lucu banget sih..."sambung Elisya lagi.
Angel mengepalkan tangannya menahan emosi, "Brengsek, maksud lo apa ngomong gitu hah. Vano itu sahabat gue dari kecil. Wajar dong kalau dia dekat sama gue..."jawab Angel lantang.
Elisya lagi-lagi tertawa kecil, "Jangan mengkambing hitam kan kata persahabatan buat nutupin niat jahat lo buat ngerebut Vano dari gue. Basi!..."
Angel yang kesal setengah mati ingin menjambak rambut Elisya tapi Bella menepis tangannya cepat.
"Jangan pernah mimpi mau nyakitin Elisya kalau gue masih ada disamping dia. Gue akan jagain dia. Kenapa lo marah hah. Tersinggung? Emang bener kan apa kata Elisya tadi. Lo tuh cewek gatel. Kegatelan sama pacar orang. Ga tau malu banget..."kesal Bella yang sudah terpancing emosi.
"Diam! Gue gak peduli sama kalian. Gue akan dapetin apapun yang gue mau dengan cara apapun itu..."teriak Angel.
Elisya menyeringai, "Jangan emosi dong Ngel, sifat setan nya makin keluar..."ledek Elisya.
"Heh gak mampu bersaing. Harus pakai cara kotor dulu ya Ngel biar bisa nyaingin Elisya, miris banget hidup lo..."ledek Bella lagi.
"Udah cukup Ngel, bel masuk kelas udah bunyi. Kita kembali ke kelas sekarang..."peringat Karin.
"Awas lo berdua, gue akan buat perhitungan yang lebih buruk dari ini. Liat aja..."sentak Angel lalu berjalan meninggalkan Elisya dan Bella diiringi Karin yang setia dibelakangnya.
"Udah Bel, gak usah diladenin. Lo ke kelas aja. Gue bisa sendiri ko. Udah bel masuk juga..."suruh Elisya.
"Lo yakin? Gak gue anterin aja..."tawar Bella.
Elisya menggeleng pelan, "Udah gak usah. Gue bisa sendiri kok. Sekali lagi thanks lo selalu bantu gue..."
"Santai aja kali, yaudah gue duluan. Lo hati-hati ya..."pesan Bella.
Elisya tersenyum lalu mengangguk. Mereka berdua berpencar menuju kelas mereka masing-masing.
🕓🕓🕓
"Gimana latihan hari ini..."tanya Arvie dengan botol minum ditangannya. Ia tengah duduk di kursi sambil mengamati teman-teman nya yang berbaring di lantai karena kewalahan.
"Capek banget gue njir..."jujur Farhan.
__ADS_1
"Iya bener, tepar gue..."sambung David.
"Biasa aja..."ucap Dicky yang berjalan santai mendekati Arvie, ia duduk disamping Arvie dengan wajah santainya. Seolah-olah tak merasa letih sama sekali.
Arvie tersenyum, "Kemampuan lo udah hampir setara sama gue, latihan terus..."pesan Arvie.
"Hm..."jawab Dicky lalu meraih sebotol minuman dimeja, dan meneguknya hingga tandas.
Mereka tengah berada disebuah tempat mereka biasa latihan bela diri. Tempat khusus yang hanya boleh digunakan oleh mereka berempat. Sebut saja itu markas.
"Dicky emang beda sih, keren parah. Kemampuannya makin jago aja..."jujur Farhan.
"Jelas lah, gak kaya lo. Babak belur mulu..."ejek David.
"Diam lo. Jangan banyak omong. Soalnya mulut gue parah banget kalau udah benci sama orang..."kesah Farhan.
"Alah sia boy. Jadi takut gue..."ucap David dengan candaan.
Tatapan Arvie berubah serius, "Kita gak akan balas dendam ke siapapun. Sesuai perjanjian kita gak akan serang orang duluan kecuali seseorang itu mengusik ketenangan kita. Dan sekarang, ketenangan kita sedang diusik. Mungkin sebelumnya Farhan, tapi kita gak tau besok siapa lagi yang mereka targetkan. Gue harap lo semua jaga diri baik-baik. Jangan lengah. Musuh bisa menyerang kapanpun..."jelas Arvie.
"Gue setuju sih sama lo Vie, kita gak bisa lengah sekarang. Mereka semua ngintai kita. Cih heran gue sama mereka. Beraninya keroyokan..."David berdecih.
"Gue sebenernya gak suka punya masalah kaya gini, tapi kita gak bisa diemin..."keluh Farhan.
"Jangan sok kuat. Kalau ngga sanggup hadapin sendiri panggil bantuan. Telpon teman. Saling bantu..."ucap Dicky ketus lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga.
Arvie tersenyum singkat, kata-kata Dicky kadang terdengar kasar dan cuek sekali. Tapi jika salah satu diantara mereka ada yang terluka, ia lah yang akan maju paling depan membela mereka semua. Ia punya cara sendiri untuk melindungi orang-orang terdekatnya.
"Dengerin kata Dicky. Jangan nekat ngelawan sendiri. Telpon teman. Minta bantuan kalau memang mereka keroyokan. Bukan karena kita takut tapi keselamatan anggota kita nomor satu..."jelas Arvie.
Farhan mengangguk paham. "Sekarang kalian bisa istirahat, besok udah masuk kuliah. Ingat pesan gue barusan..."sambung Arvie sambil mengambil handuk kecil dan mengelap keringatnya.
"Oke, kita duluan bro..."pamit David.
"Gue juga, mau mandi dulu. Gerah banget..."sambung Farhan.
__ADS_1
"Hm..."Arvie berdehem.