
Matahari mulai menyapa penduduk bumi pagi ini. Elisya sudah cantik dengan seragam sekolah rapi. Kali ini ia benar-benar tak berharap Vano menjemputnya lagi. Ia tengah menunggu taksi didepan rumahnya.
Entah ia anggap apa beberapa mobil yang tersusun rapi digarasi rumahnya itu. Hingga ia malah memilih menaiki taksi. Entahlah, hanya Elisya yang tau!
Beberapa menit Elisya berdiri, namun masih tak ada juga taksi yang lewat. Elisya melirik jam tangannya.
"Duh kalau telat bahaya nih, gimana ya!..."Elisya berpikir keras.
Hingga suara klakson mobil mengejutkan nya. "Hai cantik, kaka anterin yuk. Bareng aja, nanti telat..."lelaki itu tak lain adalah Sam.
Elisya tersenyum senang, lalu menaiki mobil Sam.
"Maaf ya kak ngerepotin terus..."
Sam mengelus puncak kepala Elisya, "Kaka malahan seneng kalau kamu mau bareng terus. Tiap hari juga gak papa. Oh iya, sebelumnya maaf ya Sya, kaka bukannya bermaksud nyakitin perasaan kamu. Cuman tadi aku liat Vano berangkat bareng sama Angel. Dan-..."ucapan Sam terputus saat Elisya angkat suara.
"Dan nggak jemput aku kan ka?..."Elisya tertawa getir. "Gak papa kok ka, Elisya baik-baik aja..."sambungnya lagi. Walaupun tak bisa dipungkiri hatinya sakit menerima kenyataan Vano semakin mengabaikan nya. Sudah beberapa hari ini Vano tak menghubunginya sama sekali. Elisya harus apa?
Sam sadar jika ia menyinggung hal sensitif dihidup Elisya, yaitu Vano.
"Udah lah gak usah dipikirin. Ayo berangkat..."Sam mulai menjalankan mobilnya perlahan.
"Oh ya kak, ini jaket kaka kemarin. Udah aku cuciin kok. Makasih ya kak..."ucap Elisya sambil menyodorkan jaket milik Sam.
Sam dengan senang hati menyambut uluran tangan itu.
"Sama-sama cantik..."goda Sam.
Sam memarkirkan mobilnya diparkir sekolah. Mereka berdua turun dari mobil.
"Mau kaka antar ke kelas gak Sya?..."tawar Sam.
"Nggak kak, nggak usah. Elisya ada urusan bentar..."bohong Elisya. Ia sebenarnya hanya tak enak jika terus merepotkan Sam.
"Pulang bareng aku ya..."ucap Sam to the point.
Elisya nampak ragu sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Sam senang bukan main. "Yaudah aku duluan ya Sya..."ucap Sam lalu berjalan meninggalkan Elisya.
__ADS_1
Elisya berjalan melewati koridor sekolah. Perasaan nya benar-benar tidak enak pagi ini. Bagaimana tidak? Sepagi ini Elisya begitu banyak mendengar cacian.
Dasar cewek gatel!
Gak punya malu banget sih!
Udah punya Vano juga, gak bersyukur banget!
Sok cantik!
Gak tau diri banget!
Berbagai hinaan diterima Elisya sepagi ini. Hinaan itu terdengar dari beberapa murid yang berada didepan kelas mereka masing-masing. Elisya yang tak mengerti hanya melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.
Hampir saja Elisya memasuki kelasnya, Bella sudah terlebih dahulu menyeret tubuh Elisya pelan.
"Lo harus ikut gue..."ajak Bella.
Elisya yang heran hanya mengikuti saja.
Oh shit! Ternyata banyak siswi yang tengah bergerombol di mading itu. Bahkan ada beberapa siswa yang menatap Elisya jijik.
"Minggir lo semua, bubar-bubar..."usir Bella.
"Ooouuu..."sorangan beberapa siswi terdengar ditelinga Elisya.
"Lo liat ini Sya..."tunjuk Bella. Mata Elisya terbelalak kaget. Di mading terdapat beberapa foto yang menunjukkan Elisya tengah berpelukan dengan Sam. Itu tak benar adanya, Sam memang memeluk Elisya, tapi dengan alasan menenangkan nya. Fitnah apalagi ini?
Bella mengambil foto itu lalu merobek-robek nya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Gue gak tau ini ulah siapa, yang jelas orang ini benar-benar pengen hancurin hubungan lo sama Vano..."ucap Bella emosi.
"Ini semua gak bener, kak Sam cuman nenangin gue. Gak kaya yang mereka pikirin..."ucap Elisya.
"Gue percaya sama lo Sya, gak usah dipikirin. Lo tenang aja..."ucap Bella memenangkan.
"Gue antar ke kelas..."putus Bella.
__ADS_1
Saat sampai didepan kelas, Lisa menyambut kedatangan Elisya dengan tatapan sinis.
"Masih punya muka juga ternyata lo datang kesekolah, heh dasar cewek gatel. Gak bersyukur banget sih lo. Gak cukup ya sama Vano sampai nyari pelukan di cowo lain. Murah banget..."ledek Lisa.
Bella yang sangat kesal menjambak rambut Lisa membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Jaga mulut sampah lo itu. Kalau gak tau yang sebenarnya gak usah nuduh yang nggak-nggak. Kenapa hah. Bilang aja lo iri sama Elisya karena Elisya bisa dekat sama cowok-cowok populer disekolah ini. Sedangkan lo apa? Gak ada yang nengok elo..."kesal Bella.
"Lepasin bego, sakit..."jerit Lisa.
Elisya yang tadinya diam menarik tangan Bella.
"Udah Bel lepasin..."ucap Elisya.
Akhirnya Bella pun melepaskan jambakan tangannya pada rambut Lisa.
"Gue diam bukan berarti gue takut sama lo Lisa. Gue masih ngehargain lo sebagai teman gue dari kecil. Lo salah beranggapan kalau gue takut sama lo. Gue bisa aja hancurin lo dalam hitungan detik Lisa. Bisa-bisanya lo menghina-hina gue, ngata-ngatain gue padahal aib lo aja gue simpan rapat-rapat..."nada bicara Elisya kian meninggi.
Lisa bungkam setetika, "Aib, aib apa Sya..."tanya Bella.
Elisya melirik Bella sekilas, "Nggak ada, nggak penting..."jawab Elisya lalu menatap manik mata Lisa yang nampak ketakutan.
Lisa pergi meninggalkan Elisya tanpa sepatah katapun.
Entah apa Aib yang dimaksudkan oleh Elisya. Hanya Elisya dan Lisa lah yang tahu.
(Author juga tau ya😂)
"Gue ke kelas dulu Sya, lo jaga diri baik-baik. Nggak perlu dengerin kata-kata orang yang gak penting..."pesan Bella.
Elisya mengangguk menandakan ia baik-baik saja walaupun berita ini sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Apakah benar Elisya baik-baik saja? Sepertinya tidak!
Bella meninggal kan Elisya menuju kelasnya. Hanya tersisa Elisya lah yang berdiri disana. Elisya menghela nafasnya pelan. Masalah apa lagi ini. Bahkan masalahnya dengan Vano kemarin masih belum selesai. Sekarang sudah ada masalah baru. Bagaimana jika Vano melihat ini. Apa kabar dengan traumanya? Apa responnya?
Itulah yang sedang ada dalam pikiran Elisya saat ini. Apa Vano akan salah paham juga?
Sudahlah Elisya tak mau berpikir terlalu keras, itu hanya akan membuat kepalanya semakin pusing saja. Ia melangkahkan kakinya gontai memasuki area kelasnya. Ia bahkan tak mempedulikan ocehan-ocehan yang terdengar ditelinganya.
__ADS_1