Elisya

Elisya
90


__ADS_3

Sang matahari telah kembali sebagaimana tugasnya untuk memberikan kehangatan. Namun cahayanya tak secerah biasanya. Matahari berlindung dibalik awan-awan hitam yang menutupinya.


Rumah keluarga besar Qiandra sudah penuh dengan para bodyguard, Kakek nenek Elisya juga ada disana. Suasana menjadi sangat menyedihkan. Kedatangan dua buah peti yang sudah dipastikan adalah tubuh milik dari orang tua Elisya yang sudah dalam keadaan tak utuh lagi.


Elisya kembali histeris. Bahkan untuk melihat wajah orang tuanya untuk terakhir kali pun ia tak bisa.


"Mah pah hiks kalian kenapa tinggalin Elisya. Elisya butuh kalian mah pah. Kenapa kalian pergi..."ucap Elisya histeris dipelukan kakek neneknya yang tentunya tak kalah syok nya saat mendengar berita itu.


"Sudah sayang, ini sudah takdir Tuhan yang sudah tidak bisa kita rubah lagi, kalau saja bisa nenek bersedia menggantikan posisi mereka Sya..."ucap nenek Elisya dengan wajah bersimbah air mata. Semuanya menangis disana. Lisa bahkan sudah merasa sedikit sesak nafas sambil terus menangis didepan peti kedua orang tua Elisya yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.


"Tante om, kenapa kalian ninggalin Lisa. Lisa cuma punya kalian hiks..."seperti biasa Farhan selalu cepat dalam bertindak. Ia memeluk erat tubuh Lisa menyalurkan ketenangan.


"Kakek gak nyangka mereka akan pergi secepat ini..."ucap kakek Elisya dengan mata memerah karena menangis. Bahkan wajah yang sudah terlihat keriput itu masih menangis sedari tadi.


"Mah pah, kalau Arvie tau kedatangan Arvie beberapa bulan lalu adalah pertemuan terakhir kita. Arvie gak akan kembali ke Rusia mah. Arvie akan menghabiskan seluruh waktu Arvie buat ada disamping kalian mah..."lirih Arvie menahan sesak yang teramat dalam didadanya. Bahkan Bella dengan sigap memeluk tubuh Arvie yang terlihat sangat rapuh.


Tidak hanya itu, bahkan para bodyguard keluarga Qiandra juga menangis. Tuannya yang sangat baik pada mereka dan memperlakukan mereka dengan sangat baik, kini telah pergi. Mereka bahkan berjanji akan mengabdi seumur hidup mereka pada keluarga Qiandra.


Acara pemakaman sudah dimulai. Awalnya Arvie ingin orang tuanya dimakamkan di Amerika saja. Di rumah utama mereka. Namun kakeknya ingin dimakamkan di Bandung saja. Ditempat khusus keluarga Qiandra. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Arvie menyetujui nya. Puluhan mobil berderet sepanjang jalan, mengantarkan jenazah tuan besar dan nyonya dari keluarga Qiandra. Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju Bandung untuk melakukan pemakaman.


Cukup memakan banyak waktu, akhirnya mereka tiba ditempat yang sudah ditentukan. Acara pemakaman sudah dimulai. Sekarang saatnya untuk mendoakan jenazah. Dengan pakaian serba hitam memenuhi wilayah pemakaman itu. Mengantarkan tuan dan nyonya Qiandra ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Bilang sama Elisya kalau ini cuma mimpi mah pah, kalian gak beneran ninggalin Elisya kan..."lirih Elisya melemah sambil memeluk foto yang ibu.


Lisa mendekat dan mendekap erat tubuh sahabat nya itu.


"Gue ngerti perasaan lo Sya, hiks hiks. Please lo harus kuat..."lirih Lisa disela tangisnya.


Sedangkan Arvie tak kalah terlukanya. Ia tengah memeluk foto sang ayah sambil menangis. Bella sedari tadi tak melepaskan dekapannya pada Arvie. Seolah merasakan betapa hancurnya prianya ini.


"Kita semua turut berduka cita Vie, kita ngerti ini berat banget buat lo sama Elisya. Tapi kita yakin lo kuat, lo bisa hadapin ini semua. Percayakan semuanya sama Tuhan Vie..."ucap David sambil menepuk pelan pundak Arvie.


Acara pemakaman sudah selesai. Semuanya mulai meninggalkan wilayah pemakaman dan sangat luas itu. Tentunya khusus untuk keluarga Qiandra.


"Kek nek, Arvie mau sekalian pamit. Setelah ini Elisya akan ikut Arvie ke Rusia..."ucap Arvie.


"Kenapa tidak tinggal sama nenek aja..."tawar nenek Elisya.


"Ini sudah keputusan Arvie kek nek, Arvie harap kalian mengizinkan Arvie buat jaga Elisya. Arvie akan sering kesini, jengukin kakek nenek sama ke makan mamah papah juga..."lirih Arvie sendu.


"Nenek percayakan semuanya sama kamu Vie..."ucap sang nenek tulus.

__ADS_1


"Kakek percaya sama kamu Vie, kamu tau yang terbaik untuk kehidupan kamu dan adik kamu..."ucap sang kakek mengizinkan.


Akhirnya Arvie berpamitan. Arvie dan teman-temannya ikut serta mencium tangan kakek dan nenek Arvie. Perjalanan kembali dimulai. Jangan lupa mereka semua sudah menyiapkan barang-barang untuk keberangkatan hari ini.


Setelah perjalanan yang tentunya menghabiskan banyak waktu. Akhirnya mereka kembali ke rumah Elisya. Jet pribadi sudah disiapkan oleh para bodyguard Arvie. Bahkan semua barang-barang mereka sudah beres didalam sana.


"Kita pamit ya, kalian jaga diri baik-baik..."lirih Arvie pelan.


Lisa dan Bella berlari memeluk Elisya.


"Jangan lupain kita ya Sya..."lirih Bella.


"Gue bakalan kangen banget sama lo..."rengek Lisa.


Elisya membalas pelukan kedua sahabatnya.


"Nanti bisa kontekan kok, makasih ya selama ini selalu ada buat gue..."lirih Elisya lalu melerai pelukannya. Matanya tertuju pada Sam yang tengah menatapnya dengan tatapan sayu tak bersemangat.


Elisya menghamburkan pelukan kearah Sam. Membuat Sam menyembunyikan wajahnya dibahu Elisya.


"Makasih kak, selalu ada buat Elisya, Elisya sayang banget sama kak Sam..."lirih Elisya disela pelukannya.


"Jaga diri adik kecil, jangan lupa makan, minum obat juga. Jangan nakal kalau dibilangin sama abang kamu. Harus jadi adik yang nurut. Belajar yang bener..."pesan Sam.


"Siap komandan..."ucap Elisya membuat Sam mengacak rambutnya pelan.


"Jaga diri baik-baik Lis, jangan sedih-sedih terus. Semoga dilain kesempatan kita bisa ketemu lagi..."pesan Farhan.


Lisa tersenyum tulus, "Makasih ya kak..."ucap Lisa tulus.


"Iya..."jawab Farhan dengan senyuman tulusnya.


Bella sedari tadi diam, menatap Arvie dengan tatapan sendu. Arvie merentangkan tangannya ke arah Bella, membuat gadis itu menghambur pelukannya ke Arvie.


"Jaga diri baik-baik, kalau pengen nyusulin ke Rusia tinggal bilang aja. Gue bakal sering kesini juga kok. Gak usah sedih..."ucap Arvie menenangkan.


Bella menangis terisak-isak dipelukan Arvie, percayalah ia sangat merindukan pria itu.


"Udah jangan nangis, gue jadi berat ninggalin lo..."ledek Arvie.


Bella mendongak dengan hidung yang memerah seperti tomat, "Hati-hati Vie..."lirih Bella pelan.

__ADS_1


Arvie tersenyum lalu mengecup singkat kening Bella.


"Nanti pas udah nyampe gue Video call. Jangan nangis lagi dong..."bujuk Arvie.


Bella mengusap air matanya, mencoba menyembunyikan kesedihannya. Lagi dan lagi Arvie memeluk Bella erat, mengusap rambut gadis itu pelan.


"Gue pamit ya..."lirih Arvie pelan. Dengan berat hati Bella melepaskan pelukannya.


Kepergian Arvie, Elisya, dan juga teman-teman Arvie membawa kesedihan masing-masing bagi mereka. Bagaimanapun caranya berpamitan rasanya tetap saja menyakitkan.


Elisya menghirup nafasnya dalam-dalam, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia menatap sekeliling nya, negara beribu kebahagiaan tak lupa dengan beribu luka yang menyertainya.


Elisya tak pernah menyesal pernah pindah ke negara ini, walau banyak hal menyakitkan yang ia terima.


Luka, terimakasih atas rasa sakitnya yang membuat Elisya tersadar bahwa hidup tak hanya tentang kebahagiaan, tapi juga tentang luka yang mendalam.


Elisya hanya berharap Tuhan memberikan nya kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya baik seberat apapun itu.


Mereka semua sudah masuk kedalam Jet pribadi keluarga Qiandra. Bahkan penerbangan sudah dilakukan. Mata Elisya menatap kearah jendela jet pribadinya.


Ia tersenyum lebar bersamaan dengan air mata yang juga ikut serta mengalir.


Elisya POV


Fisik? Terimakasih sudah kuat dan mau bertahan. Meski sering kali sakit, namun masih mau diajak berjuang bersama.


Mental? Ku mohon jangan lemah. Bantu aku berdamai dengan keadaan, berat bukan berarti tak bisa. Tidak ada salahnya mencoba.


Aku pernah mencintai seseorang sehebat-hebatnya. Sampai aku lupa mencintai diriku sendiri. Sampai pada akhirnya aku sadar hanya diriku yang berjuang hebat.


Aku terpaksa melepaskan untuk kesembuhan hatiku.


Memang pada awalnya sangat menyakitkan. Dimana aku merasakan sangat sakit dititik terendahku. Tapi aku percaya akan ada pelangi setelah hujan.


Aku tidak akan pernah melupakan segala bentuk kebahagiaan yang pernah engkau berikan kepadaku, beserta rasa sakit yang pernah menyelimuti ku.


Terimakasih semesta, menjadikan ku sekuat ini. Aku bahkan tak tumbang saat badai besar menghantamku. Masalah yang selalu ku hadapi membuat ku lebih dewasa.


Terimakasih Tuhan, atas segala nikmat beserta rasa sakitnya. Aku ingin mengeluh sepuasnya namun itu tak akan mengubah keadaan. Aku serahkan seluruh hidupku pada-Mu. Jadikan aku manusia yang kuat meski sebesar apapun badai menerjang. Aku percaya akan ada pelangi setelah badai yang besar. Akan ada kebahagiaan setelah rasa sakit yang mendalam.


Rute Indonesia – Rusia.

__ADS_1


🕓🕓🕓


Gimana bab ini readers 🤗 Author ngetiknya sampai mewek sendiri 🤧 setelah ini akan ada kehidupan baru yang akan menyambut mereka. Jangan bosan menunggu ya teman-teman. see you🥰


__ADS_2