Elisya

Elisya
94


__ADS_3

Vano dikabarkan masuk rumah sakit setelah kejadian kemarin. Kondisi kesehatan nya menurun drastis. Tepat didepan rumahnya Vano kehilangan kesadarannya. Ia jatuh tak sadarkan diri membuat Yunita sang ibu panik bukan kepalang.


Disinilah sekarang Vano berada. Diruangan serba putih dengan selang infus yang masih setia menempel di punggung tangannya. Ia masih belum sadarkan diri. Tubuhnya terkapar lemah tak berdaya, dengan perban yang melilit ditangannya.


Yunita menangis tersedu-sedu. Bagaimana bisa kondisi anaknya seburuk ini. Kesehatan Vano benar-benar menurun. Padahal kemarin dia baik-baik saja saat dirumah Angel.


Jangan tanyakan bagaimana keadaan Angel, karena sedari kemarin wanita itu mengurung dirinya didalam kamar. Bahkan Desi sangat khawatir pada keadaan Angel.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Di belahan dunia lain, Elisya tengah belajar bela diri bersama dengan Dicky yang telah diberi kepercayaan oleh Arvie.


"Pokus Esya..."ucap Dicky.


Elisya tertawa cengengesan, entah kenapa gadis kecil itu sangat suka menggoda Dicky. Ada hal yang membuat Dicky begitu menarik dimata Elisya. Dicky yang dingin dan cuek, Elisya semakin menjadi-jadi menjahili pria itu.


"Nama aku Elisya ka Iky, bukan Esya..."protes Elisya.


"Bodo amat, gue panggil Esya..."jawab Dicky dingin.


"Panggilan kesayangan nih..."goda Elisya sambil mengedipkan sebelah matanya. Bahkan wajahnya sudah mendekat kearah wajah Dicky.


Dicky menghela nafasnya pasrah, ia mendorong pelan dahi Elisya dengan jari telunjuknya.


"Gadis nakal, Esya pokus..."tegas Dicky lagi.


Kali ini Elisya benar-benar serius. Ia belajar gerakan demi gerakan yang diajarkan oleh Dicky. Elisya cukup baik dalam hal ini. Ia mampu mengingat dan memperagakan dengan sangat baik. Bahkan Dicky sempat dibuatnya kagum karena Elisya sangat cepat diajari. Tidak sesusah apa yang Dicky bayangkan.


"Esya, cukup untuk hari ini..."ucap Dicky lalu duduk dikursi panjang disamping ruangan.


Elisya tersenyum, lalu berlari menyusul Dicky dan ikut duduk disana. Elisya mengambil handuk kecil dan mengelap keringat nya yang bercucuran.


Sedangkan Dicky mengambil botol minuman lalu meminumnya, kemudian ia meletakkan nya lagi ketempatnya.

__ADS_1


Sama halnya dengan Elisya, Dicky juga berkeringat. Elisya yang melihat keringat bercucuran di wajah Dicky repleks membantu mengelapnya dengan handuk.


Dicky kaget dan sontak menahan tangan Elisya. Percayalah Dicky tak pernah kontak fisik dengan wanita mana pun, ia sangat menghindari hal itu.


"Lo ngapain?..."tanya Dicky kaget.


"Keringat kak Iky banyak banget, Elisya bantu lap in aja..."jawab Elisya dengan polosnya.


"Gue bisa sendiri..."jawab Dicky lalu mengambil alih handuk ditangan Elisya dan mengelap keringatnya sendiri.


Elisya menusuk-nusuk lengan kekar Dicky dengan jari telunjuknya yang mungil.


"Apaaa..."jawab Dicky sambil menatap bola mata Elisya.


"Kak Iky marah ya sama Elisya, Elisya cuman mau nolongin tadi. Elisya lancang ya? Maafin ya..."ucap Elisya dengan wajah memelas.


Arghhh kenapa gadis ini sangat menggemaskan.


"Gak marah..."jawab Dicky lalu mengalihkan pandangannya.


Dicky sudah tak tahan lagi dengan sikap menggemaskan gadis disampingnya. Ia mengacak rambut Elisya pelan.


"Gak marah Esya, sana istirahat..."jawabnya lalu berjalan keluar ruangan untuk menuju kamarnya.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Di depan rumah Lisa, ia tengah duduk sambil berbincang-bincang bersama Sam. Mereka berdua kaget karena tiba-tiba saja Vano datang sambil berjalan sempoyongan. Ia bahkan masih mengenakan pakaian rumah sakit. Punggung tangannya berdarah, bisa dipastikan Vano melepas selang infusnya dengan paksa. Wajahnya pucat pasi.


"Ngapain lo kesini..."tanya Lisa emosi.


"Dimana Elisya Lis, gue pengen ketemu dia..."lirih Vano pelan. Kepalanya terasa sangat pusing sekali. Ia bahkan baru saja sadar dan langsung kabur dari rumah sakit.


"Ngapain lo nanyain Elisya, mau nyakitin dia lagi. Belum puas nyakitin dia..."bentak Lisa.

__ADS_1


Sam menggenggam tangan Lisa, seolah menyuruh Lisa untuk meredam emosinya.


"Ngapain lo nyari Elisya..."tanya Sam.


"Gue nyesel Sam, gue bodoh karena udah percaya sama Angel..."lirih Vano penuh penyesalan.


"Ck nyesel, seneng banget gue dengernya. Lo tau Angel sering nyakitin Elisya, fitnah Elisya dengan kejinya, dan lo dengan bangganya lebih ngebelain Angel dari pada Elisya pacar lo sendiri. Dasar brengsek..."umpat Lisa kesal.


"Gue nyesel Lis, tolong kasih tau gue dimana Elisya..."mohon Vano.


"Bahkan penyesalan lo udah gak ada artinya lagi Van..."jawab Lisa.


"Please Lisa, gue sayang banget sama Elisya..."mohon Vano lagi.


Lisa tertawa kencang,


"Sayang? Omong kosong. Kalau lo sayang sama Elisya, lo akan percaya sama dia bukan malah nuduh dia. Kalau lo sayang sama dia lo gak akan ngebentak dia dan nampar dia. Itu yang namanya sayang? Bahkan disaat dia terpuruk, apa lo ada disamping dia? Apa lo nemenin dia di titik terendahnya? Enggak! Lo malah hancurin hidup dia. Bahkan orang tua Elisya udah meninggal pun lo gak tau kan?..."mata Lisa bahkan sudah memerah karena menahan marah.


"Apa orang tua Elisya meninggal?..."ucap Vano kaget.


"Ia, dan itu yang lo bilang sayang. Kemana aja lo. Sekarang aja lo nyari-nyari dia, dulu waktu dia masih sabar pertahanin hubungan lo, lo ngapain? Sibuk ngurusin Angel sampai lupa kalau lo juga punya pacar..."ucap Lisa sambil mendorong sebelah bahu Vano.


"Gue tau gue salah Lis, gue mau minta maaf sama Elisya, gue nyesel. Tolong kasih tau gue dia dimana?..."tanya Vano.


"Sampai gue mati pun gue gak akan ngasih tau dimana Elisya, lo adalah pria brengsek yang udah hancurin hidup sahabat gue. Jangan pernah temuin gue lagi, pergi lo sekarang..."usir Lisa.


"Kasih tau gue Lis, gue mohon..."Vano bahkan sudah memegang kaki Lisa.


"LO GAK DENGER, PERGI VANO..."teriak Lisa lalu berlari memasuki rumah.


"Pergi Van, gue gak mau main kasar. Keadaan lo lagi gak baik. Lo pulang, jangan ganggu Lisa lagi. Lupain Elisya. Penyesalan lo gak ada artinya. Biarin Elisya bahagia dengan kehidupan nya yang baru, tentunya tanpa ada lo dikehidupan dia..."ucap Sam lalu berjalan meninggalkan Vano yang masih terduduk di halaman rumah Lisa.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“

__ADS_1


Yuhuuuuu gimana bab iniπŸ₯³


yuk komen banyak-banyak πŸ₯°


__ADS_2