
Hallo readers 🤗 Harini aku double up nih. Maaf ya kalau lama, soalnya author lagi ngumpulin mood buat ngetik panjang gini. Kalau udah lupa, silahkan baca ulang episode sebelumnya. Seperti biasa jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya, babayyy🥰
🕓🕓🕓
Sudah setengah jam lebih Elisya dan Lisa bergulat dengan barang-barang dapur. Namun tak ada sama sekali kabar dari kedua orangtuanya. Jika tadi Elisya masih bisa berpikiran positif, sekarang sudah tak bisa lagi. Perasaan nya benar-benar tidak enak sekarang.
"Lis, ini udah jam 4 sore loh. Harusnya kan orang tua gue datangnya 15 menit lalu..."protes Elisya.
Lisa mengelus pelan punggung Elisya.
"Shutt, gak usah dipikirin. Semuanya pasti baik-baik aja..."ucap Lisa.
"SYA..."teriak Bella dari luar bersama dengan Sam.
Mendengar itu Elisya dan Lisa memutuskan untuk ke ruang tamu.
"Masuk, gue bikinin minum dulu..."ucap Elisya dengan perasaan yang masih tidak karuan.
Belum sempat Elisya melangkah, Lisa sudah menahannya.
"Lo disini aja, tenangin diri lo. Biar gue aja yang ambil..."putus Lisa.
Elisya mengangguk lalu duduk disofa bersamaan dengan Sam dan Bella. Sedari tadi Elisya sibuk menatap telponnya. Tak ada satu pesan pun dari orang tuanya.
Elisya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sya, lo baik-baik aja kan?..."tanya Bella sambil mendekat kearah Elisya.
"Gue gak tenang Bel, harusnya nyokap bokap gue datang 15 menit yang lalu, tapi sampai sekarang masih gak ada kabar..."ucap Elisya. Demi Tuhan ia benar-benar khawatir sekarang.
Sam mengerti adik kecilnya itu tengah ketakutan sekarang. Sam duduk disamping Elisya, meraih tubuh mungil Elisya dalam pelukannya.
"Jangan khawatir Sya, kan emang udah biasa kaya gini. Mungkin ada sedikit kendala, atau cuaca buruk mungkin. Jadi harus positif thinking..."ucap Sam menenangkan Elisya.
Elisya membalas pelukan Sam, "Elisya takut kak, gak biasanya kaya gini kak, aku khawatir banget hikss, perasaan aku gak enak kak..."ucap Elisya yang sudah mulai terisak-isak dipelukan Sam.
__ADS_1
Bella ikut serta mengelus rambut Elisya, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Doain aja Sya, lo gak boleh sedih gini. Ya mungkin aja emang lagi ada kendala atau apa kan..."ucap Bella.
"Setidaknya kabarin gue dulu Bel, hiks gue takut..."tangis Elisya makin pecah.
Lisa tersenyum sambil memegang nampan berisi minuman dan cemilan. Ia nampak menghela nafas sebentar melihat Sam memeluk Elisya se erat itu, seakan tak ingin lepas sedetik pun. Kemudian Lisa tersenyum, mengeluarkan senyuman termanisnya.
"Nih minum dulu, ada cemilan juga..."ucap Lisa sambil menyodorkan nampan yang sedari tadi ia bawa.
Lisa ikut serta duduk disamping Bella. Sedangkan tangisan Elisya belum juga mereda.
"Sya, udah gak boleh nangis, nanti cantiknya ilang..."goda Sam.
"Lo cukup berdoa aja Sya..."sambung Bella.
"Mungkin ada perubahan jadwal keberangkatan, makanya agak terlambat, mungkin lupa aja ngabarin lo..."ucap Lisa berpikir se positif mungkin.
Tangisan Elisya sudah mulai mereda,
"Mau gue temenin?..."ucap Lisa khawatir.
Elisya mengusap sisa-sisa air mata diwajahnya. Detik selanjutnya ia tersenyum.
"Gue bisa sendiri kok..."ucap Elisya lalu berjalan menuju toilet.
Tersisalah Sam, Bella dan Lisa.
"Bosen deh jadinya. Kita nonton TV aja kali ya..."usul Bella.
"Tuh tinggal nyalain..."ucap Lisa. Sedari tadi matanya sangat enggan menatap ke arah Sam. Hatinya terasa sakit.
Bella menyalakan TV nya. Tidak ada yang menarik menurutnya. Hanya beberapa film kartun, dan hampir semua siaran penuh dengan berita.
Entah ada berita apa hari ini hingga semua siaran menyiarkan hal yang sama.
__ADS_1
"Gak ada yang seru nih, berita doang..."kata Bella pasrah.
"Liat berita aja kalau gitu..."usul Sam.
Bella yang malas pun akhirnya meletakkan remote nya di atas meja, berniat mendengarkan ada berita apa hari ini.
"Tepat pukul 15.43 tadi, pesawat dengan nomor penerbangan xxx dinyatakan hilang kendali. Pesawat diperkirakan jatuh di wilayah daratan.............."belum sempat berita itu selesai didengar.
Lisa yang tengah minum tersedak, bahkan gelas yang ada ditangannya sudah pecah berserakan dilantai. Tangannya gemetar, bahkan air matanya sudah tumpah.
Bella ikut panik melihat Lisa.
"Kenapa Lis?..."tanya Bella.
"I-tu, b-bukannya pesawat yang ditumpangi orang tua Elisya..."ucap Lisa dengan tubuh yang gemetar, bahkan kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia merosot kelantai tepat diatas pecahan gelas tadi. Ia bahkan tak merasakan sakit nya luka dikakinya akibat goresan pecahan itu.
Sama dengan Lisa, Bella dan Sam ikut panik setelah menyadari itu. Sam yang melihat tubuh Lisa merosot kelantai dengan sigap menghampiri Lisa.
Warna keramik yang tadinya putih kini sudah ada cairan darah Lisa disana akibat goresan gelas pecah tadi. Sam langsung membopong tubuh Lisa, mengangkat nya dan mendudukkan nya diatas sofa. Sedangkan Bella berlari mengambil kotak P3K. Lisa bungkam, ia bahkan tidak merasakan sakit sama sekali dari lukanya, yang ia pikirkan hanya bagaimana jika Elisya tau?
Lisa sudah pernah merasakan kehilangan orang tuanya. Hingga sekarang, ia masih merasakan kehilangan itu, dan sekarang ia kembali merasakan sakit yang teramat sangat. Orang tua Elisya yang sudah ia anggap sebagai orang tua angkatnya kini meninggalkannya. Hanya mereka yang Lisa punya, saat Lisa tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya, orang tua Elisya lah yang memberikan itu pada nya.
Lisa tak bisa berpikir apapun lagi, air matanya mengalir deras tanpa bisa ditahan.
"Nih Sam..."ucap Bella menyodorkan kotak P3K.
Sam dengan telaten membersihkan luka Lisa, ada beberapa luka dikakinya dengan darah yang terus keluar. Sam mengobati satu persatu luka Lisa dengan perasaan tak karuan. Ia tentu memikirkan bagaimana jika adik kecilnya tau.
Sedangkan Bella dengan cepat mematikan TV nya.
"G-gimana, k-kalau Elisya tau kak hiks..."lirih Lisa terbata-bata dengar air mata yang tak bisa ditahan lagi.
"Gue juga bingung, gue khawatir dia bakal ngelakuin hal yang nekat. Nanti kita kasih tau Elisya baik-baik. Sekarang obatin luka lo dulu..."putus Sam.
Bella sudah ikut menangis sekarang, ia benar-benar kaget dengan berita ini.
__ADS_1
Sam telah selesai mengobati luka Lisa, bahkan ada beberapa bagian yang diperban oleh Sam karena lukanya cukup dalam.