
Setelah kepulangan dari rumah sakit, Bella, Lisa dan Sam berniat untuk pulang.
"Kita pulang dulu ya Sya, mau ganti baju sekalian makan juga. Nanti sore kita kesini lagi, sekalian nyambut kedatangan nyokap bokap lo..."ucap Bella.
"Kamu jangan lupa minum obat ya Sya, kalau ada apa-apa telpon kakak aja..."pesan Sam.
"Gue pulang dulu Sya, gue cuman pulang bentar, terus langsung kesini..."ucap Lisa.
"Iya kalian hati-hati dijalan. Thanks banget ya guys, kalian selalu ada buat gue. Gue sayang banget sama kalian semua..."ucap Elisya terharu.
"Mulai deh nih, mewek kan gue..."kesal Bella.
Mereka semua tertawa lepas.
"Yaudah kita pulang dulu. Jaga diri baik-baik..."pesan Sam.
Setelahnya mereka pergi kerumah masing-masing. Meninggalkan Elisya seorang diri dirumah besar itu.
Elisya menghela nafasnya, tubuhnya rasanya sangat lelah sekarang.
"Gue tidur bentar dulu kali ya, biar fresh aja..."gumam nya.
Akhirnya Elisya memutuskan untuk tidur sebentar.
🕓🕓🕓
"Van gue mau sekolah, bosen tau..."rengek Angel yang tengah disuapi oleh Vano.
"Iya besok sekolah kok, nanti bareng gue..."ucap Vano lembut.
Angel tersenyum senang lalu memeluk erat tubuh Vano. Hampir saja piring makanan ditangan Vano tumpah, untung saja Vano dengan gesit menjauhkan piring itu.
"Pelan-pelan Angel, untung gak tumpah nih makanannya..."tegur Vano.
Angel tertawa cengengesan. "Gue sayang banget sama lo Van, jangan tinggalin gue ya..."rengek Angel manja.
"Iya Ngel, gak akan ditinggalin..."ucap Vano.
Angel pun melerai pelukannya dan duduk kembali seperti semua. Ia membuka mulutnya dengan jarinya yang menunjuk mulutnya. Memberi kode pada Vano agar di suapi lagi.
Vano yang paham pun dengan cepat kembali menyuapkan makanan ke mulut Angel.
__ADS_1
"Lo gak mau nuntut Elisya aja Ngel, dia keterlaluan banget sama lo..."kesal Vano.
Angel tersenyum puas, ia berhasil membuat Vano membenci Elisya.
"Gak perlu, diselesaikan secara baik-baik aja. Elisya juga tanggung jawab kok..."ucap Angel.
Vano tersenyum manis pada Angel.
"Baik banget sih sahabat gue. Tapi jangan gitu juga. Nanti malah ngelunjak..."protes Vano.
Angel menggeleng pelan.
"Gue gak papa kali, mau makan lagi..."rengek Angel.
Dengan senang hati Vano menyuapkan makanan itu ke mulut Angel.
Demi Tuhan, Angel sama sekali tidak menyesal telah memfitnah Elisya sekejam ini. Apapun akan ia lakukan agar Vano kembali padanya.
Diluar ruangan itu ada Karin, Desi ibunya Angel, Yudi ayahnya Vano. Sedangkan ayah Angel harus kembali ke perusahaan karena ada meeting mendadak.
"Lihat Yud anak kamu sama anak saya. Cocok banget kan mereka. Gimana kalau mereka berdua kita jodohkan saja..."saran Desi.
"Mereka masih sekolah Des..."ucap Yudi.
"Bener tuh om tante, lagian juga mereka kenal dari kecil kan, bayangin aja kalau misalkan om sama tante besanan, pasti perusahaan tante sama om makin jaya. Percaya deh sama Karin..."bujuk Karin.
Yudi nampak memikirkan perkataan Karin. Pria itu tetap pria yang gila kerja tentunya. Sangat terobsesi untuk menjadi yang terkaya. Lagi pula siapa yang tidak tau perusahaan yang di pimpin oleh ayah Angel. Itu perusahaan yang besar.
"Saya setuju sih, tinggal minta persetujuan sama anak-anaknya aja..."jawab Yudi bersemangat.
Desi ikut senang juga. "Nanti kita atur aja ya. Sekalian makan malam. Lama kamu gak kerumah saya Yud..."ucap Desi diselingi candaan.
"Gampang, kamu atur baiknya aja. Nanti kalau saya ada waktu luang, saya kabari..."jawab Yudi.
"Oke kalau gitu..."setuju Desi.
"Saya mau kembali ke kantor dulu, masih banyak kerjaan..."pamit Yudi.
"Terimakasih sudah menjenguk anak saya Yud..."ucap Desi.
"Ya sama-sama..."jawab Yudi lalu pergi.
__ADS_1
Karin tersenyum senang.
"Angel pasti seneng banget denger kabar ini. Gak sabar mau ngasih tau dia..."gumam Karin dalam hati.
🕓🕓🕓
Elisya terbangun dari tidurnya, hari sudah mulai sore. Harusnya sore ini adalah kedatangan kedua orang tuanya. Namun mereka masih belum datang.
Elisya memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Perutnya diserang oleh rasa lapar. Akhirnya Elisya memutuskan untuk merebus mie instan yang tersedia di dalam lemari dapurnya.
Elisya menyantap mie itu di meja makan. Sekarang sudah pukul 16.00 sore, namun ibu dan ayahnya sama sekali tak mengabari Elisya.
"Mamah sama papah kok gak ngabarin gue ya, atau gue telpon aja kali ya..."gumam Elisya.
3 panggilan tak terjawab
Sudah ketiga kalinya Elisya menghubungi nomor sang ibu namun selalu tidak aktif. Rasa khawatir mulai menyerangnya. Ia benar-benar takut saat ini.
"Syaaa..."teriakan Lisa yang tiba-tiba muncul dari arah pintu memenuhi seluruh ruangan.
"Eh lo Lis, ini rumah ya Lis, bukan hutan. Jangan teriak-teriak..."kesal Elisya.
"Hehe ya maaf, bokap nyokap lo udah datang?..."tanya Lisa.
"Belum Lis, gue juga khawatir banget nih. Ditelpon gak diangkat lagi..."keluh Elisya.
"Gak usah dipikirin, biasa kali. Mungkin ada sedikit kendala atau cuaca nya buruk. Jangan overthingking dong. Harus yakin..."ucap Lisa meyakinkan.
Elisya tersenyum.
"Lo bener juga, yaudah bantuin gue masak yuk. Biar pas nyokap bokap gue sampai, kita kasih surprise. Makanan buatan kita..."ucap Elisya antusias.
"Yuk..."ucap Lisa semangat.
Mereka berdua pun langsung bergegas menuju dapur. Membuat beberapa makanan yang mereka bisa.
🕓🕓🕓
Hallo readers 🤗 gimana bab ini?
Sebelumya author mau minta maaf karena jarang update, dan terimakasih banyak untuk yang sudah like dan komen juga.
__ADS_1
Sebenarnya author punya dua novel, yang satunya judulnya "Bella" tapi rencananya author mau tamatin novel ini dulu. Baru lanjutin yang satunya.
Oke itu aja, jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya. Happy reading 🥰