
Sam memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Elisya, perlahan ia mendekat dan mengetuk pintunya.
Revina mengerutkan keningnya, merasa bingung siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Siapa ya mah..."tanya Elisya sambil bangkit dari pangkuan sang ibu.
"Gatau sayang..."jawab Revina.
Bi Ina berlari kecil sambil membuka pintu.
"Nyari siapa den?..."tanya bi Ina sopan.
"Saya Sam bi, bisa ketemu Elisya..."tanya Sam.
"Tunggu ya den saya panggilkan dulu..."ucap bi Ina lalu berjalan mendekati Revina dan putrinya.
"Nyonya diluar ada den Sam yang mau ketemu sama non Elisya, mau disuruh masuk atau gimana nyonya?..."
Revina terkejut mendengar nama Sam disebutkan.
"Biarin aja bi, bibi lanjut istirahat aja..."perintah Revina.
Langsung dipatuhi oleh bi Ina.
"Sayang kamu temuin ya..."bujuk Revina.
"Elisya gak mau, Elisya kecewa sama ka Sam mah. Dia udah hina Elisya..."kesal Elisya.
"Mamah tau sayang, mama juga kecewa sama Sam karena udah berani nyakitin putri kesayangan mama ini..."ucap Revina sambil mencubit kecil hidung Elisya.
Revina tersenyum,
"Tapi sayang, kamu harus selalu ingat. Kita gak boleh dendam sama orang. Kita harus saling memaafkan. Elisya kan anak baik, gaboleh dendam ya sayang. Sekarang kamu temuin dia, kasian kan udah datang malam-malam kesini..."bujuk Revina.
Dengan langkah gontai Elisya berjalan menuju pintu.
Elisya membuka pintu pelan, ia melihat Sam yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Ngapain kesini, masih mau ketemu sama cewe murahan kaya aku..."tanya Elisya cuek.
Sam langsung berdiri melihat kehadiran Elisya,
"Sya maafin kaka ya, waktu itu kaka benar-benar gak bisa ngontrol diri. Jujur kaka cemburu banget karena kamu lebih dekat sama Vano..."ucap Sam memohon.
"Kaka jahat, Elisya tuh udah anggap kaka kaya kaka kandung Elisya sendiri tapi apa balasan kaka, kaka malah ngehina Elisya, dan ngata-ngatain Elisya kak. Hati Elisya sakit tau nggak..."kesal Elisya.
Percayalah saat ini Elisya berusaha menahan agar air matanya tak keluar. Bagaimana pun juga semua ini menyakiti perasaannya.
"Elisya kaka mohon maafin kaka, kaka udah keterlaluan banget sama kamu, maaf udah nyakitin kamu Sya, maaf juga udah ngecewain kamu..."ucap Sam dengan wajah sendu.
Sam menghela nafasnya pelan, lalu berjongkok tepat didepan kaki Elisya.
"Kaka sayang banget sama kamu Sya, kaka mohon maafin kaka, kaka janji nggak akan ngecewain kamu lagi. Kaka ikhlas kamu sama Vano asal kamu bahagia. Kaka mohon maafin kekhilafan kaka..."Sam memohon-mohon didepan Elisya.
Elisya sudah tak mampu lagi membendung air matanya, melihat ketulusan Sam yang tengah memohon-mohon didepannya membuat perasaan nya terenyuh. Elisya bukan tipe wanita pendendam, perasaannya sungguh lembut dalam hal memaafkan.
Elisya menuntun Sam berdiri lalu memeluk erat tubuh Sam. Sontak Sam langsung membalas pelukan Elisya jauh lebih erat. Elisya menangis tersedu-sedu dipelukan Sam.
"Jangan kecewain Elisya lagi ya kak, Elisya sakit pas denger kaka ngehina Elisya, hiks hiks..."lirih Elisya ditengah isakannya.
"Ia Sya, kaka janji gak akan nyakitin kamu lagi, kaka akan selalu ada buat kamu..."ucap Sam senang.
Elisya mulai melerai pelukannya. Sam mengusap air mata Elisya pelan.
"Jangan nangis lagi ya Sya..."bujuk Sam.
Elisya tersenyum lalu mengangguk.
"Kaka mungkin gak bisa lama-lama Sya, karena ini udah malam. Takutnya ganggu waktu istirahat kalian..."ucap Sam pelan.
"Yaudah kak, kalau mau pulang..."ucap Elisya.
__ADS_1
"Yah kaka diusir dong..."canda Sam.
Elisya terkekeh,
"Nggak ka, katanya tadi gak bisa lama-lama. Gimana sih..."gerutu Elisya.
Sam pun mengeluarkan sebuah bingkisan dan membukanya.
"Kalung yang cantik untuk ratu yang cantik..."goda Sam.
"Buat aku ka?..."tanya Elisya antusias.
"Terima ya sebagai permintaan maaf kaka..."ucap Sam dengan wajah kembali sendu.
"Iya kak, Elisya suka. Kalungnya cantik..."puji Elisya.
Sam tersenyum,
"Sini kaka pakein..."ucap Sam.
Elisya pun berbalik dan mengangkat rambutnya agar Sam lebih mudah memakaikan kalungnya.
"Nah udah, tuh kan cantik banget kaya orangnya..."goda Sam.
Elisya memukul pundak Sam pelan,
"Gombal aja terus..."ledeknya.
"Yaudah kaka pulang dulu ya, kamu langsung tidur..."pamit Sam.
"Oke ka, bye..."ucap Elisya sambil melambaikan tangannya beriringan dengan Sam yang mulai meninggalkan rumah Elisya.
Elisya merasa sangat senang, sekarang masalahnya sedikit berkurang, tapi tidak dengan Lisa.
Lamunan Elisya buyar saat sang ibu mengagetkan nya.
"Cie ada yang udah baikan nih..."
"Mamah Elisya kaget tau, Elisya seneng banget mah. Sekarang masalah Elisya perlahan mulai berkurang..."Elisya merasa lega.
"Iya mah, good night..."ucap Elisya lalu berjalan menuju kamarnya.
"Good night too..."jawab Revina.
🕓🕓🕓
Matahariku bersinar dengan terangnya pagi ini, menyinari seisi dunia. Elisya. mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasa cahaya mulai mengenai bola matanya. Ia menggeliat lalu melihat jam beker disamping kasurnya.
"Ah udah jam 7 ternyata, gue mandi dulu deh. Takut ka Vano tiba-tiba datang..."lirih Elisya pelan lalu melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar mandi.
Elisya berendam didalam bath up cukup lama, sampai acara mandinya pun selesai.
Elisya hanya mengenakan sweater tebal berwarna kecoklatan dengan celana jeans ditambah anting cantik berbentuk amor.
Berbalut make up tipis, Elisya kelihatan sangat cantik.
Elisya meraih sling bag kecil dengan warna senada dengan baju yang ia kenakan. Menyemprotkan sedikit parfum kesukaannya, dan selesai. Elisya nampak puas dengan penampilannya.
Pintu kamar Elisya ada yang mengetuk.
"Non Elisya, diruang tamu ada den Vano nungguin non..."teriak bi Ina.
"Ia bi, bentar..."sahut Elisya lalu meraih handle pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu.
Vano tersenyum senang melihat Elisya yang berjalan mendekati nya.
"Hai cantik..."sapa Vano.
"Ka Vano udah lama?..."tanya Elisya malu-malu.
__ADS_1
"Ngga ko, baru nyampe. Ayo berangkat sekarang..."ucap Vano yang dibalas anggukan oleh Elisya.
"Mah Elisya berangkat dulu sama ka Vano..."teriak Elisya.
"Iya sayang hati-hati..."jawab Revina dari dalam kamar.
Elisya dan Vano berjalan beriringan menuju mobil Vano.
Dengan telaten Vano membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Elisya masuk.
"Kita mau kemana ka?..."tanya Elisya.
"Katanya mau jalan-jalan kan?..."goda Vano.
"Ia sih kak..."jawab Elisya kikuk.
Cukup lama mereka menyusuri kota hingga akhirnya Vano memarkirkan mobilnya didekat area sungai yang cukup luas dengan pemandangan yang sangat indah.
Elisya dan Vano turun dari mobil, Elisya terpaku sejenak menikmati indahnya pemandangan alam disini.
"Indah banget kak pemandangan nya..."puji Elisya.
"Lebih indah kamu sih Sya..."goda Vano.
Elisya tersenyum,
"Gombal terus sampai mampus..."ledek Elisya.
Vano tertawa kecil melihat wajah menggemaskan Elisya,
"Itu ada perahu Sya, kita kesana ya. Lumayan bisa menyusuri sungai disini Sya..."ajak Vano.
Elisya terlihat sangat antusias,
"Ayo kak, Elisya pengen cobain naik perahu kecil gitu..."
Vano menggenggam erat tangan Elisya, menuntunnya mendekat ke arah sungai itu.
Perahu kecil itu memang sudah Vano siapkan lebih dulu.
Dengan hati-hati Vano membantu Elisya menaiki perahu itu. Vano mengambil pengayuh perahu lalu mulai menyusuri indahnya sungai.
(Sedikit gambaran sungainya)
Senyuman selalu merekah dibibir Elisya,
"Elisya suka ka, disini indah banget. Adem juga..."puji Elisya.
Vano menghela nafas lega saat melihat Elisya begitu bahagia, seketika senyum di bibirnya terbit.
"Entah keberuntungan apa yang memihak di gue Sya, sampai-sampai Tuhan izinin gue buat milikin lo..."gumam Vano sambil terus menatap wajah cantik Elisya.
Banyak sekali suara-suara kicauan burung-burung kecil yang menghiasi perjalanan Elisya dan Vano. Mereka menyusuri sungai cukup lama sampai keduanya merasa puas. Vano pun menepikan perahunya ke dermaga kecil disamping sungai.
Vano membantu Elisya menuruni perahu.
"Makasih ka Vano, Elisya suka banget..."ucap Elisya.
"Makasih doang nih ya..."goda Vano.
Cup...
Persekian detik Vano kaget saat Elisya mendaratkan ciuman lembut dipipi kanannya. Setelahnya Elisya membuang tatapannya kearah lain.
Vano tersenyum senang lalu meraih pinggang Elisya dalam dekapannya, mengecup singkat kening Elisya.
"Udah mulai nakal ya sekarang..."goda Vano.
Elisya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vano.
__ADS_1
"Udah ah, Elisya malu..."lirihnya pelan.
Vano tertawa kecil melihat sikap Elisya yang masih malu-malu padanya.