
Elisya tersenyum lega melihat Bella yang nampak khawatir padanya. Ia tahu Bella orang baik.
"Masih nafas gak sih lo, kalau nggak sia-sia dong gue selamatin..."tukas Bella terdengar sangat kasar mungkin tapi percayalah Bella mengkhawatirkan Elisya. Ia melepas jaket yang ia pakai lalu memberikannya pada Elisya karena melihat seragam Elisya yang sudah basah kuyup.
Elisya tertegun lalu terkekeh,
"Ikhlas gak sih nolongin..."tanya Elisya.
Bella menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Ia ingin sekali berteman dengan Elisya. Ia lelah harus menjadi orang jahat karena Angel yang selalu mengancam perusahaan ayahnya. Ia bukannya takut miskin, hanya saja ia tak ingin perusahaan ayahnya yang sudah dibangun dari nol hancur karena orang seperti Angel.
"Ngga ikhlas sebenarnya gue, khilaf aja tadi..."jawab Bella.
"Elisya tau kok ka Bella orang baik..."ucap Elisya sopan.
"Apa-apaan sih lo, jangan kepedean deh. Gue iseng aja tadi..."ngeles Bella.
"Elisya tau ka Bella orang baik..."ucap Elisya lagi.
Pertahanan Bella pun runtuh seketika, tatapannya berubah menjadi sendu. Ia tak pantas memperlakukan Elisya seperti ini. Elisya tidak salah apapun padanya.
"Maafin gue ya Sya, gue nggak bermaksud mau celakain lo..."lirih Bella penuh rasa bersalah.
Elisya tersenyum lalu memeluk tubuh Bella erat,
"Makasih ya kak udah nolongin aku..."ucap Elisya.
Bella yang gengsinya cukup tinggi melerai pelukan itu,
"Baju gue jadi basah, baju lo tuh basah..."ledek Bella.
"Ceritain sama Elisya kenapa ka Bella jadi kaya gini..."tanya Elisya.
Bella mengelak,
"Udah nanti aja, sekarang lo pulang dulu. Masuk angin nanti..."ucap Bella.
🕓🕓🕓
Vano sudah selesai latihan basket dan bersiap pulang. Ia kaget saat Angel tiba-tiba menunggunya pulang.
__ADS_1
"Lo belum pulang Ngel?..."tanya Vano heran.
"Iya ada urusan bentar, ayo pulang bareng..."ajak Angel lalu menggandeng manja tangan Vano.
Vano pun mau tak mau mengikuti Angel. Saat Vano mengendarai mobilnya keluar gerbang ia melihat Arvie yang kelihatan panik.
"Ngel gue samperin dia dulu ya, takut ada apa-apa sama Elisya..."ucap Vano.
Angel dengan cepat menahan pergelangan tangan Vano,
"Gue tiba-tiba pusing nih. Buruan antar gue pulang ya..."rengek Angel.
Vano berubah mengkhawatirkan Angel, lalu menjalankan mobilnya dengan cepat membuat Angel tersenyum puas.
Sedangkan Arvie sangat panik melihat Elisya yang tak kelihatan, akhirnya ia memutuskan untuk masuk kesekolah itu mencari Elisya.
"Sya..."teriak Arvie berkali-kali.
Sampai tatapannya terhenti saat melihat Elisya yang basah kuyup dengan seorang wanita disamping nya.
Arvie yang panik langsung berlari menyusul Elisya.
"Sya..."panggil Arvie.
"Ka Arvie..."sahut Elisya.
"Lo kenapa, kok basah gini. Kalau berenang jangan di sungai kali Sya. Dirumah ada kolam Sya..."celoteh Arvie.
Elisya menepuk kepalanya,
"Siapa yang berenang sih kak, Elisya jatuh tau nggak..."rengek Elisya.
Arvie sangat panik,
"Ko bisa jatuh..."tanya Arvie.
Bella baru saja ingin mengatakan yang sebenarnya tapi Elisya sudah memberikan kode untuk diam hingga Bella mengurungkan niatnya.
"Nggak sengaja kak..."jawab Elisya cengengesan.
__ADS_1
Bella tertegun sejenak, perasaan nya semakin dipenuhi rasa bersalah. Bagaimana bisa Elisya hanya diam saja saat diperlakukan seperti ini.
"Lain kali kalau mau jatuh cari tempat yang bagusan dikit dong Sya..."ucap Arvie membuat Elisya melorotkan matanya.
"Lo tuh kakaknya atau bukan sih. Lemes banget tuh mulut. Buruan bawa pulang. Keburu mati kedinginan tuh adik lo..."bentak Bella.
Arvie kaget, baru kali ini ada wanita yang berani berkata kasar padanya. Ya kalian tau sendiri wajah tampan Arvie membuatnya jadi incaran kaum hawa.
"Ya adik gue lah, lo ikut kerumah gue buruan..."ucap Arvie.
Bella mendengus kesal,
"Ih apa-apaan lo, enak aja. Gue mau pulang. Ajak tuh adik lo pulang..."jawab Bella ketus membuat Arvie tak sengaja menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Lo harus ikut gue kerumah, karena lo temen adik gue. Lo harus anterin dia..."jawab Arvie tak mau kalah.
"Gue bukan temennya, enak aja lo..."kesal Bella.
Elisya nampak geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan kedua insan ini.
"Debatnya sampai kapan sih, Elisya kedinginan ini..."rengek Elisya.
Arvie yang tersadar pun dengan cepat membopong tubuh sang adik. Mau tak mau Bella mengikutinya dari belakang.
Arvie dengan hati-hati menurunkan Elisya dan menuntunnya masuk ke kursi belakang.
Arvie masuk kedalam mobil, baru saja Bella ingin masuk dan duduk disamping Bella. Arvie sudah mendengus kesal,
"Didepan, lo pikir gue supir..."kesal Arvie.
Bella berpikir sejenak,
"Tapi emang cocok sih. Lo punya tampang supir..."ucap Bella lalu duduk disamping Elisya tanpa menghiraukan Arvie.
Arvie membulatkan matanya,
"Gila lo, cowo setampan gue jadi supir. Jangan ngada-ngada lo..."emosi Arvie.
Elisya nampak keheranan melihat kakaknya yang biasanya tidak banyak omong kali ini malah nyerocos tak henti-hentinya saat berhadapan dengan Bella. Seperti Tom and Jerry saja.
__ADS_1
"Kepedean lo astaga, buruan jalan. Gue gak bisa lama-lama..."jawab Bella ketus.
Arvie menghela nafas kasar lalu menjalankan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.