Elisya

Elisya
79


__ADS_3

Matahari Kembali menyapa semesta dengan sinarnya pagi ini. Kehidupan menuntut makhluk bumi untuk menjalankan rutinitas seperti biasanya. Elisya dan ketiga sahabatnya kini tengah menjalankan ritual makannya.


Setelah dirasa cukup mereka mulai berangkat kesekolah menggunakan mobil Sam. Sedari tadi tidak ada percakapan yang terlalu rumit. Semuanya lebih banyak diam. Elisya yang tengah memikirkan kedua orangtuanya yang tak kunjung pulang. Lisa yang ikut serta berperang dengan pikirannya. Begitu juga dengan yang lainnya.


Selang beberapa menit, mobil Sam memasuki area sekolah menuju parkiran nan luas. Ia memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil diikuti oleh ketiga sahabatnya.


"Kak aku sama Lisa ke kelas dulu..."pamit Elisya.


Sam mengangguk menyetujui hal itu.


Berita tentang kecelakaan Angel tentu sudah tersebar ke berbagai penjuru sekolah. Ada yang percaya namun ada juga yang tidak percaya. Berita itu menjadi simpang siur disekolah hari ini.


"Masih berani juga tuh anak datang kesekolah..."


"Muka doang cantik, tapi hatinya iblis..."


"Kan belum tentu dia yang salah..."


"Penjahat mana ada yang mau ngaku..."


"Psikopat..."


Begitulah kiranya kalimat yang memenuhi pendengaran Elisya saat berjalan di koridor sekolah. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan masalah itu.


"Gak perlu didengerin, gak penting..."saran Lisa.


Elisya tersenyum lalu mengangguk penuh arti. Mereka berjalan memasuki area kelas. Keadaan mendadak hening saat Elisya memasuki kelas. Namun tak ada yang berani memperbincangkan soal kecelakaan itu.


Elisya bisa saja dengan mudah mempermalukan Angel didepan semuanya. Ia bisa dengan mudah mencari bukti bahwa dirinya tak bersalah. Ia juga bisa melenyapkan rumor yang beredar disekolah ini dalam hitungan detik. Kalian jangan lupa kalau Elisya adalah putri dari keluarga besar Qiandra.


Namun ia tak ingin melakukan semua itu. Elisya sadar gerak geriknya tak lepas dari awasan para pengawal pribadinya. Namun mereka hanya mengawasi Elisya dari jauh. Menunggu gadis itu memerintah mereka untuk bertindak.


Elisya tetap nekat menghadapi masalah ini sendiri. Ia ingin tau seberapa liciknya Angel untuk menghancurkan dirinya. Ia juga ingin tau siapa sahabat yang menemaninya disaat semua orang hampir tak ada yang percaya padanya. Dan sekarang dititik terendah pun Elisya tak sendiri. Sahabatnya benar-benar menemaninya saat suka maupun duka.


Pelajaran dimulai seperti biasanya. Pihak sekolah pun tak ada yang berani mempermasalahkan hal itu. Tentu saja, siapa yang berani mengeluarkan Elisya dari sekolah milik keluarganya sendiri. Meskipun demikian, semua guru tetap diharuskan tutup mulut untuk identitas Elisya. Ia hanya ingin bersekolah seperti murid biasa lainnya. Tanpa ada pengistimewaan bagi dirinya.

__ADS_1


Lisa nampak tak pokus dengan pelajaran hari ini. Ia lelah dengan semua hidupnya. Ia muak dengan semuanya. Tadi malam tanpa sepengetahuan ketiga sahabatnya ia mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu berisikan,


"Gue sudah kembali Alisa, gue akan milikin apa yang seharusnya menjadi milik gue..."begitulah sekiranya isi pesan dari nomor asing itu.


Jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan Lisa. Ia tentu kaget mendapat pesan seperti itu. Namun ia memilih diam menyembunyikan segala ketakutan nya sendiri.


Tak terasa jam istirahat telah tiba, namun Elisya sama sekali tak berniat untuk pergi ke kantin. Ia bukannya takut oleh cacian siswa-siswi disini. Namun kepalanya sedang pusing saat ini. Untung lah Bella datang ke kelasnya dan bersedia menemani Elisya dikelas.


"Gue keluar bentar ya..."pamit Lisa.


"Jaga diri ya Lis..."pesan Bella.


Lisa tersenyum lalu mengangguk. Ia berjalan melewati koridor sekolah dengan tatapan yang sulit diartikan. Jika kalian kira ia akan pergi ke kantin. Maka itu salah. Ia berjalan menuju rooftop sekolah. Tangannya berpegangan pada pagar yang mengelilingi area rooftop itu.



Matanya menyapu sekeliling area itu. Angin menerpa kencang wajahnya. Sesekali ia menghela nafas dan memejamkan matanya.


Bolehkah ia mengeluh untuk kali ini saja. Ia lelah Tuhan, benar-benar lelah.


"KENAPA HARUS GUE YANG NGALAMIN INI SEMUA. KENAPA? GUE CAPEK HIKS HIKS. SEMESTA JAHAT BANGET SAMA GUE. TUHAN TOLONG LISA TUHAN. ALISA CAPEK..."teriaknya kencang sambil memukul pelan dadanya yang kian lama semakin terasa sesak.


Tiba-tiba sebuah pelukan melingkar erat diperut ramping Lisa. Ya, Sam memeluk Lisa dari belakang. Seolah menenangkan gadis itu. Nafas Lisa ngos-ngosan menahan emosi yang bergejolak dijiwanya.


Sam menarik Lisa kedalam pelukannya. Lisa sempat berontak, hingga akhirnya tenaganya seakan hilang entah kemana. Ia membiarkan Sam memeluk erat tubuhnya dengan mata yang masih dipenuhi air mata.


"Lo punya gue Lisa, jangan pernah ngerasa sendiri. Kalau lo ada masalah cerita ke gue. Jangan gini..."lirih Sam.


Sam awalnya ingin menyusul Elisya ke kelasnya. Namun matanya tertuju pada Lisa yang berjalan menuju rooftop sekolah. Karena khawatir ia pun menyusul Lisa.


Ia awalnya hanya mendengarkan Lisa dari belakang. Namun saat Lisa berteriak dan menangis histeris ia langsung mendekap tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Ia benar-benar takut Lisa melakukan hal yang tidak terduga.


Disinilah mereka sekarang. Berdua di atas rooftop sekolah. Saling terdiam dengan Sam yang mendekap erat tubuh Lisa mengurangi rasa khawatir yang menyeruak dalam dirinya.


Bolehkah Lisa egois untuk kali ini saja. Pelukan ini sangat nyaman. Pelukan ini mampu menenangkan seluruh jiwanya. Biarkan pelukan ini menjadi hal termanis yang akan ia ingat kelak. Hanya kali ini saja. Lisa ingin egois Tuhan.

__ADS_1


Cukup lama Lisa memejamkan matanya menikmati nyamannya pelukan Sam. Hingga kesadaran nya kembali terkumpul. Ia mendorong pelan tubuh Sam hingga pelukan mereka terlepas.


"Ngapain sih disini..."ucap Lisa ketus.


"Gue khawatir banget sama lo Lis, please jangan kaya tadi lagi, lo bikin gue takut..."ucap Sam.


"Aku nggak papa, kaka nyusulin Elisya aja. Dia lagi butuh kakak disamping nya..."saran Lisa lalu membuang pandangannya ke arah lain.


"Terus lo, lo gak butuh gue?..."tanya Sam pasrah.


Lisa tersenyum kecil, "Nggak..."lagi-lagi ia harus berbohong untuk kesekian kalinya.


"Lisa mohon kakak pergi dari sini. Lisa pengen sendiri, jauhin Lisa kak..."lirih Lisa berusaha membendung air matanya.


Sam mengusap rambutnya kasar. "Kenapa? Gue salah apa sih sama lo sampai lo ngehindarin gue kaya gini Lis..."lirih Sam pelan. Sam benar-benar mampu mengontrol dirinya. Ia tau gadis didepannya ini tengah lemah, maka dari itu Sam merendahkan nada bicaranya agar tak terkesan membentaknya.


"Gak ada alasan kak, Lisa cuman pengen kak Sam jauhin Lisa. Udah itu aja..."elak Lisa.


"Kenapa? Karena lo suka sama gue? Lo suka kan sama gue..."ucap Sam sambil memegang kedua bahu Lisa agar gadis itu menatap kearahnya.


Lisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dadanya kian sesak sejak pertanyaan Sam barusan terlontar.


Detik berikutnya Lisa menepis kasar kedua tangan Sam dibahunya.


"Kalau ia emang kenapa? Kalau aku suka sama kaka emangnya kenapa? Aku capek tau nggak. Aku cuman pengen lupain semua perasaan aku ke kakak. Sekarang kakak puas kan? Puas kan?..."ucap Lisa lantang lalu mendorong pelan bahu Sam.


Sedangkan Sam jangan ditanya lagi. Ia terdiam membatu ditempatnya. Tentu ia kaget karena pengakuan itu keluar dari mulut Lisa sendiri.


"Aku nyerah kak, sekuat apapun aku berusaha biar bisa deket sama kakak, itu semua percuma. Gak akan ada hasilnya. Hati kakak itu cuman buat Elisya sampai kakak gak sadar kalau disini ada aku yang sayang banget sama kakak. Hiks hiks, Lisa capek kak. Semua perhatian kakak cuman tertuju pada Elisya, sedangkan aku, aku apa kak?..."Lisa menghela nafasnya pelan lalu mengusap air mata yang sedari tadi mengalir deras di pipinya.


"BAHKAN KAKAK SAMA SEKALI GAK PERNAH LIAT AKU. AKU UDAH BERUSAHA, BERJUANG, PERHATIIN KAKAK. TAPI SEMUANYA, NIHIL..."teriak Lisa kencang. Ia ngos-ngosan. Dadanya terasa sesak sekali.


"Lisa nyerah kak, Lisa mundur mulai saat ini juga. Lisa udah gak kuat. Jauhi aku kak. Aku gak pantes buat kakak..."lirih Lisa pelan lalu kemudian berlari meninggalkan rooftop.


Sam seolah membeku ditempatnya. Pengakuan Lisa barusan seolah menjadi tamparan keras baginya. Apalagi melihat gadis kecil itu menangis karena dirinya. Bagaimana bisa ia tak menyadari bahwa perhatian Lisa selama ini adalah bentuk rasa sayangnya pada Sam. Sam mengacak rambutnya gusar.

__ADS_1


"ARGHHHHH..."teriaknya keras, lalu berlari menyusul Lisa yang sudah pergi sedari tadi.


__ADS_2