
Hallo readers setiaku 🤗 Semoga sehat selalu dimanapun kalian berada. Terimakasih buat para readers yang masih sabar nunggu author up hehe, rencananya author mau double up. Cuman masih belum kelar ngetik aja. Okey happy reading 🤗
🕓🕓🕓
Setelah Elisya selesai menjelaskan semuanya keadaan menjadi hening. Arvie memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua diruangan itu. Sedangkan Elisya masih menangis sesenggukan karena rasa bersalahnya pada Dicky.
"M-maafin Esya bang. Es-ya t-tau kok Esya salah. Esya janji gak akan gitu lagi..."lirih Elisya disela isakannya.
Ia mendongak menatap dalam kearah Dicky. Hidungnya sudah memerah seperti tomat karena terlalu lama menangis.
Dicky tak bicara apapun. Tapi tangannya meraih tubuh mungil Elisya ke dalam pelukannya. Mendekap gadis itu erat seolah tak mau melepaskan nya lagi. Menghirup dalam aroma tubuh Elisya yang bagaikan candu baginya.
Sedangkan Elisya langsung membalas pelukan Dicky. Ia memeluk Dicky erat, bahkan sangat erat sambil terus menangis pelan.
"Lo milik gue Esya. Hanya gue. Semuanya tentang lo, itu milik gue. Gak ada cowok asing yang boleh meluk lo. Gue, hanya gue Sya. Satu-satunya sandaran lo. Cuman tubuh gue yang boleh meluk lo. Gue gak peduli mau lo bilang egois karena mengklaim lo sebagai milik gue. ..."ucap Dicky berat lalu menyembunyikan wajahnya diceruk leher Elisya.
"Elisya sayang banget sama bang Iky..."lirih Elisya pelan.
"Gue juga sayang sama lo. Menikah sama gue saat kita kembali ke Amerika Sya..."ucap Dicky tegas.
Elisya perlahan melerai pelukannya.
"Bang Iky lamar Esya?..."tanya Elisya dengan tatapan terharu.
"Ya anggap saja begitu. Gue bukan cowok romantis Esya. Yang ngasih lo bunga atau dinner ditempat yang indah. Gue cuman pengen lo tau gue serius sama lo..."jawab Dicky.
Elisya bahkan tak menyangka ini akan terjadi. Dicky tak pernah sekalipun mengajaknya berpacaran. Tapi lihatlah pria ini langsung mengajaknya menikah tanpa tunangan terlebih dahulu. Sungguh Elisya sangat bahagia.
Dicky berdiri. Mengambil tasnya diatas kursi. Dan kembali duduk dihadapan Elisya.
Tangannya sibuk mencari sesuatu. Dicky akhirnya mengeluarkan sebuah cincin The Graff Pink Diamond Ring. Cincin ini dilengkapi 26,3 karat, dengan kemurnian bias cahaya hingga hampir 80 persen. Tentunya dengan kisaran harga sekitar 620 miliar. Ia memang sudah merencanakan soal pernikahan ini. Hanya saja ia masih menunggu waktu yang tepat. Dan menurut nya sekarang ia sudah siap.
Elisya tertegun. Menatap haru cincin berlian yang Dicky sodorkan didepannya. Dicky memegang sebelah tangan Elisya.
"Esya, will you marry me?..."pertanyaan itu seolah spontan keluar dari mulut Dicky.
Oh Tuhan, jantung Elisya berdetak begitu cepat. Ia benar-benar kaget dan hampir tak percaya jika sekarang Dicky benar-benar melamarnya diusianya yang masih 19 tahun ini.
__ADS_1
Elisya menghela nafasnya perlahan.
"Yes, i will..."jawabnya sangat indah di pendengaran Dicky.
Dicky tersenyum penuh arti lalu perlahan memasang kan cincin itu dijari manis Elisya. Mengecup tangan Elisya singkat. Lalu kembali meraih tubuh Elisya ke dalam dekapannya.
"Suka nggak sama cincin nya?..."tanya Dicky lembut.
"Suka banget tau, tapi lebih suka orangnya..."ucap Elisya spontan membuat Dicky terkekeh kecil.
Dicky sangat bahagia, sungguh. Ia mengecup pelan kening Elisya. Hari ini biarkan mereka berdua larut dalam kebahagiaan masing-masing.
🕓🕓🕓
"Gimana Iky?..."tanya Farhan sedikit emosi. Ia bangkit berdiri menghampiri Arvie.
"Adik gue yang salah Han..."ucap Arvie pelan.
"Maksud lo gimana Vie?..."tanya David ikut emosi.
"Adik gue nemuin Vano kemarin. Dan Dicky liat itu. Mereka lagi pelukan..."jelas Arvie sedikit kesal saat mengatakan itu.
"Wah ini sih wajar kalau Dicky marah. Kok bisa Vie..."tanya Farhan tak terima.
"Tenang aja, adik gue cuman nyelesaiin masalahnya. Sekarang semuanya udah beres. Dia cuman mau berdamai sama masalalu nya. Dan gue gak masalahin hal itu..."tegas Arvie.
"Gimana keadaan Elisya sekarang?..."tanya David tegas.
"Biarin dia sama Dicky dulu. Nyelesaiin masalahnya. Kita gak usah ikut campur..."putus Arvie lalu meninggalkan Farhan dan David yang terlihat ingin protes pada keputusan Arvie.
🕓🕓🕓
Arvie memijat pelan kepalanya yang rasanya sangat pusing karena banyak masalah akhir-akhir ini.
Ia mengeluarkan telpon dari samping saku celananya. Mencari nomor telepon Bella disana kemudian mulai menyambung kan panggilannya.
"Kenapa Vie..."suara Bella terdengar lembut diseberang sana.
"Gue kangen..."rengek Arvie layaknya anak kecil.
__ADS_1
"Ih manja banget pacar gue. Yaudah malam gue kesana. Ngajak Lisa sama Sam juga..."
"Beneran ya, gue tunggu..."jawab Arvie antusias.
"Iya sayang..."
Tut tut... sambungan telepon diputuskan Bella secara sepihak bersamaan dengan tubuh Arvie yang membeku.
Apa tadi, Bella memanggil nya sayang. Ah itu sangat merdu sekali. Rasa lelah Arvie hilang seketika saat mendengar ucapan Bella.
Dan apa barusan Bella memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ah Arvie akan menghukum gadis itu nanti. Tunggu saja.
🕓🕓🕓
"Aw shh pelan-pelan bang Iky..."keluh Elisya saat merasa Dicky terlalu kencang mengompres lututnya yang membiru akibat terbentur lantai saat jatuh tadi.
Raut wajah Dicky berubah sangat khawatir.
"Mana yang sakit, gue terlalu kenceng ya. Maafin gue ya. Lo sih gak hati-hati tadi. Makanya jatoh kan..."omel Dicky yang terasa sangat menggemaskan dimata Elisya.
"Abang sih salah paham sama Elisya. Makanya Elisya panik banget. Jadi lari-lari deh nyamperin abang..."kesal Elisya saat merasa dirinya disalahkan.
"Lagian pergi gak bilang-bilang. Mana sampai nangis-nangis gitu lagi lari nya. Kaya anak TK..."ledek Dicky sambil tertawa kecil.
Elisya mengerucut kan bibirnya kesal sekaligus merasa malu secara bersamaan.
"Maafin Esya abang. Nanti gak akan gitu lagi. Esya kan sayang banget sama bang Iky. Jelaslah Esya takut bang Iky cuekin Esya..."jawab Elisya mengadu.
Dicky mengacak pelan rambut Elisya.
"Gue juga sayang sama lo. Lain kali jangan bikin gue marah lagi..."pesan Dicky.
"Abang jangan cuekin Esya lagi ya..."mohon Esya.
"Iya anak kecil. Udah sekarang gue buatin nasi goreng deh buat lo. Lo tunggu disini..."bujuk Dicky.
Elisya tak bisa menahan senyumnya lagi. Ia tersenyum lebar mendengar itu. Baru saja sekali Dicky mengabaikannya ia sudah merindukan pria itu.
"Ay ay captain..."jawab Elisya sambil meletakkan tangannya seperti sedang hormat.
__ADS_1
Dicky tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar menuju dapur.