
Berita itu tentu mampu menggegerkan seisi kampus. Bagaimana tidak? Ada seorang gadis cantik yang berada ditengah-tengah ke empat most wanted itu. Bak seorang ratu yang dikawal oleh para pengawal yang tampan tentunya. Siapapun yang melihatnya tentu saja merasa iri.
Elisya menatap bingung ke arah orang-orang yang menatapnya sinis. Kaum hawa bahkan sudah heboh dengan berita ini. Ada yang iri bahkan memuji. Tentu keberadaan sosok Elisya sangat dipertanyakan?
Kaum adam juga tak kalah hebohnya, siang ini mereka kedatangan wanita cantik yang dikawal oleh ke empat most wanted ditengah-tengahnya. Bahkan ada yang memandang Elisya tanpa berkedip.
Arvie tentu saja tak suka melihat adik kesayangannya jadi pusat perhatian.
"Tutup mata lo. Jangan liat milik gue..."ucap Arvie lantang membuat kaum adam langsung membuang pandangan ke arah lain.
Tanpa Arvie sadari kaum hawa sudah heboh karena kata milik gue keluar dari mulut seorang Arvie.
"Ka, Elisya takut..."bisik Elisya pelan kepada Arvie.
Arvie menatap ke arah Elisya yang nampak menyembunyikan wajahnya dibelakang punggung tegap Arvie. Arvie kemudian merengkuh pinggang Elisya posesif lalu berjalan melewati tatapan para mahasiswa.
"Hai, cantik banget sih, siapa nih Vie?..."tanya seorang perempuan yang tiba-tiba datang.
Dia adalah Marsella, satu-satunya wanita yang bisa bergaul dengan ke empat most wanted ini. Gadis cantik dengan hidung mancung, kulit putih dan tinggi. Tentunya dia adalah orang yang sangat tulus. Ia bahkan sering kali membantu ke empat most wanted ini. Dia hanya wanita sederhana, tidak dilahirkan dari keluarga berada. Ia bahkan bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri. Itulah yang membuat dirinya diberi kepercayaan oleh mereka.
"Sel, adik gue nih..."jawab Arvie.
"Hai cantik banget sih, gue Marsella. Panggil Sella aja..."ucap Sella ramah sambil mengulurkan tangannya.
Elisya perlahan menerima uluran tangan dari Sella.
"Aku Elisya kak..."ucap Elisya sopan.
"Rahasiain identitas Elisya dulu Sel, bahaya kalau ada yang tau kalau dia adik Arvie..."ucap Farhan.
Sella tersenyum, "Santai dong Han, gue bisa jaga rahasia..."jawab Sella yakin.
Jam masuk sudah hampir dimulai. Namun Arvie tak mungkin membawa Elisya masuk kedalam. Sedangkan Sella juga harus masuk kelas siang.
"Sya lo duduk disini, tunggu sampai kakak keluar dari kelas. Jangan kemana-mana oke?..."tegas Arvie.
"Kakak lama nggak?..."tanya Elisya dengan polosnya.
"Enggak, gak lama kok. Jangan nakal, diam disini..."tegas Arvie lagi. Elisya hanya mengangguk patuh, bersamaan dengan kepergian mereka memasuki kelas.
Jujur saja Arvie rasanya tak bisa melakukan ini. Namun ia juga tak mungkin mengajak Elisya masuk.
__ADS_1
🕓🕓🕓
Sudah satu jam lebih Elisya menunggu didepan kelas. Namun Arvie masih belum juga keluar. Ia bahkan sudah sangat bosan sekarang. Ia juga risih karena banyak kaum adam yang memperhatikannya nya secara terang-terangan. Namun tak ada yang berani mendekati Elisya jika seorang Arvie sudah melarang mereka.
Elisya memutuskan berjalan menuju toilet, ia bahkan tidak tau dimana letak toilet. Hal itu membuatnya memberanikan diri bertanya. Matanya tertuju pada seorang gadis berkacamata dengan buku ditangannya. Elisya pun menghampiri nya.
"Permisi kak, toilet disebelah mana ya?..."tanya Elisya sopan.
"Lurus aja, diujung sana belok kanan..."jawab seorang wanita dengan kacamata.
"Makasih kak..."ucap Elisya yang dijawab senyuman ramah dari gadis itu.
Elisya pun berjalan menuju toilet, tanpa memedulikan tatapan aneh dari mahasiswa sini.
Sesampainya di toilet Elisya malah bertemu dengan kedua gadis cantik yang berkuasa dikampus ini tentunya. Dia adalah Bianca Stefano anak dari memilik kampus ini.
Sudah lama dirinya menaruh hati pada seorang Arvie. Bahkan ia sudah menawarkan begitu banyak kekayaan kepada Arvie agar bersedia menjadi kekasih hatinya, namun Arvie tetap menolaknya. Tentunya tak ada yang tau siapa Arvie sebenarnya. Mereka kira Arvie hanya pria kaya biasa. Tak ada yang tau ia adalah pewaris keluarga Qiandra.
"Permisi kak, aku mau lewat..."ucap Elisya formal.
"Jadi ini yang datang gandengan tangan sama Arvie tadi. Siapa sih gadis ini..."tanya Bianca remeh.
"Siapa sih lo?..."tanya Celine tak kalah penasaran.
"Itu urusan gue, Arvie itu milik gue asal lo tau. Gue gak akan biarin siapapun rebut dia dari gue..."teriak Bianca lantang.
"Milik kakak? Kayanya milik aku deh kak..."jawab Elisya santai.
"Sialan lo, lo berani sama gue hah? Lo gak tau gue siapa?..."ucap Bianca tak terima.
"Sama-sama makan nasi kan ya kak? Ngapain takut sih, kecuali kalau kakak makannya manusia kaya kanibal contohnya, baru aku takut..."jawab Elisya dengan senyuman manis.
"Sekali lagi gue tanya lo siapa?..."tanya Celine yang tersulut emosi.
"Penting banget ya buat tau aku siapa?..."tanya balik Elisya.
"Nyolot banget ya lo. Berani-berani nya lo ngomong gitu sama gue..."ucap Bianca tak terima.
"Dari tadi aku cuman diam ya kak, kakak berdua yang halangin jalan aku. Sekarang kakak marah-marah sama aku? Kakak waras?..."tanya Elisya meledek.
Bianca yang sudah tersulut emosi mendorong kencang tubuh Elisya hingga membuat kepala Elisya terbentur tembok cukup keras.
__ADS_1
Akibat benturan yang keras membuat kepala Elisya terasa sangat pusing. Bahkan ada darah yang keluar dari hidungnya. Elisya memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit. Ia bahkan sudah tersungkur kelantai.
"Mampus lo..."ucap Bianca tertawa remeh. Selama ini Bianca memang bersikap semaunya. Karena selalu dimanja kan oleh ayahnya.
"Brengsek..."ucap Arvie yang tiba-tiba datang bersama ke empat temannya. Ia bahkan menatap Bianca dengan tatapan marah.
Setelah keluar dari kelas Arvie panik mencari keberadaan Elisya. Hinggan Sella berinisiatif mengecek ke toilet. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Bianca mendorong Elisya dengan kasar.
"Arvie lo kok disini..."ucap Bianca panik.
"Kalau sampai dia kenapa-kenapa habis lo sama gue..."ucap Arvie lantang lalu membopong tubuh Elisya dan berlari menuju parkiran.
"Lo gila Bianca, gak waras..."teriak David emosi.
"Kalau dia kenapa-napa, hidup lo ada ditangan gue..."ucap Dicky dingin. Lalu berlari menyusul Arvie dengan David dan Sella dibelakangnya.
Farhan menatap marah ke arah Bianca.
"Lo salah pilih lawan Bi, dia bukan sembarang orang. Gue gak akan segan-segan bunuh lo kalau dia kenapa-napa..."ucap Farhan lalu berlari menyusul teman-temannya.
Bianca membeku ditempatnya. Siapa gadis itu hingga dijaga begitu ketatnya oleh mereka berempat. Bahkan diperlakukan layaknya seorang ratu bagi mereka. Kenapa bukan dia yang diperlakukan seperti itu oleh mereka?
"Kayanya tuh cewek bukan cewek sembarangan deh Bi, lo tau kan gue udah lama ngejar-ngejar Dicky, tentunya gue udah cari tau segala hal tentang dia. Asal lo tau dia gak pernah peduli sama cewek manapun. Lo tau sedingin apa dia, dan tadi dia bahkan ngancam lo cuman demi cewek itu..."protes Celine tak terima.
Bianca menghela nafasnya kasar, siapa wanita itu?
🕓🕓🕓
"Hari pertunangan lo sama Vano tinggal beberapa hari lagi, selamat ya Ngel, usaha gila lo ternyata gak sia-sia..."ucap Karin yang tengah duduk bersama Angel didalam kamar Angel.
"Thanks juga udah bantuin gue, gue seneng banget akhirnya Vano bisa gue milikin..."ucap Angel senang.
"Lo gak takut Vano tau apa Ngel? Kalau lo sendiri yang tabrakin diri dan fitnah Elisya..."ucap Karin ragu-ragu.
"Dia gak akan tau, gue bahkan akan lakuin cara yang lebih kejam dari itu jika cara itu bisa bikin gue milikin Vano..."ucap Angel puas.
"Gue puas banget sekarang, liat Elisya dibentak, bahkan ditampar sama Vano, dan itu demi gue. Gue yakin Vano cinta banget sama gue..."ucap Angel bangga.
"Pastilah Ngel, itu sih jelas. Dan soal lo yang pura-pura sakit demi dapetin Vano, itu gimana?..."tanya Karin.
"Lo tenang aja, dokter yang nanganin gue juga keluarga gue sendiri. Jadi bisa diajak kerjasama, padahal gue kan sehat. Yakali sakit-sakitan..."ucap Angel tertawa lepas.
__ADS_1
"Bener juga sih lo..."ucap Karin yang ikut tertawa.
"Jadi selama ini lo bohongin gue?..."ucap Vano yang berdiri dengan tatapan penuh amarah didepan pintu kamar Angel.