Elisya

Elisya
56


__ADS_3

Sampailah mereka berdua didepan kelas Elisya. "Lo masuk dulu. Lo tenangin diri dulu. Gue mau masuk kelas dulu. Ada beberapa tugas yang belum gue selesain. Gue harap lo baik-baik aja..."lirih Bella pelan.


Elisya mengangguk tanpa jawaban sedikit pun, Ia berjalan memasuki kelas. Bella pun bergegas kembali menuju kelasnya.


Keadaan kelas sangat ramai, tapi Elisya masih saja sibuk dengan lamunannya. Ia menghela nafas beberapa kali menetralkan dadanya yang terasa kian sesak. Kecewa! Satu kata yang menggambarkan keadaan Elisya saat ini. Benar-benar kecewa. Vano membentaknya sekasar itu. Bahkan orang tuanya pun tak pernah berbicara sekasar itu padanya. Disaat ia ingin mengungkapkan kebenaran kenapa Vano malah tidak mempercayainya.


Kamu masih ada disisiku, bersamaku, tapi rasanya jauh sekali hingga lepas dari genggamanku.


โ€“Elisya Caithlyn Qiandra


Oh shit! Ditaman belakang sekolah tak ada cctv sama sekali. Bagaimana cara Elisya membuktikan semuanya. Lama ia mengontrol emosinya, mencoba menghilangkan rasa kecewanya, namun nihil. Perkataan Vano seolah menohok hatinya ke relung terdalam.


Sudah cukup! Ia harus kuat. Ia tak boleh lemah seperti ini. Vano masih ada, masih bersamanya. Namun, dengan sifat yang berbeda.


Ia menghapus pelan air mata di pipinya. Tak peduli dengan tatapan penasaran dari teman sekelasnya. Ia menoleh ke berbagai penjuru kelas. Kemana Lisa? Kenapa tak ada?


Hubungan nya dan Lisa sahabat kecilnya itu memang sedikit renggang. Namun percayalah Elisya masih sangat menyayangi sahabatnya itu. Ia tahu betul masalah yang dialami Lisa hingga sejauh ini. Itulah yang membuatnya ingin selalu mensupport Lisa.


Rasa khawatir menyerangnya. Ia bangkit mendatangi Rena yang tengah menulis.


"Ren, Lisa gak masuk?..."tanya Elisya.


"Katanya sakit sih..."jawab Rena sekenanya.


Elisya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu kembali ketempat duduknya. Ia merasa gelisah. Bagaimana pun caranya ia akan kerumah Elisya saat pulang sekolah nanti.


Elisya terlalu memikirkan masalah Vano. Hingga ia lupa masih banyak orang yang membutuhkan bantuannya.


๐Ÿ•“๐Ÿ•“๐Ÿ•“


Tibalah jam pulang sekolah. Sam sudah bersandar disamping mobilnya, menunggu kehadiran Elisya.

__ADS_1


Elisya melangkahkan kakinya gontai, Ada apa dengan Lisa? Bukankah ia baik-baik saja kemarin? Rasa khawatir menyeruak dipikiran Elisya. Apakah terjadi sesuatu pada Lisa?


Beberapa hari yang lalu Elisya mendapat laporan dari bodyguard yang memang ia tugaskan untuk selalu menjaga keselamatan Lisa, kalau Lisa mendapat sebuah teror. Itulah yang membuat Elisya begitu mengkhawatirkan kondisi sahabat nya itu. Sedari lama tanpa sepengetahuan Lisa, Elisya memang menyuruh beberapa bodyguard untuk mengawasi Lisa dari kejauhan. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk menjaga keselamatan gadis itu.


Sebenarnya Lisa memiliki trauma yang membuat psikisnya sedikit terganggu. Mungkin akhir-akhir ini sudah mendingan karena ia rutin periksa ke psikiater, namun setelah kabarnya Lisa mendapat teror beberapa hari yang lalu. Traumanya kembali. Bodyguard Elisya pun memberitahukan jika Lisa nampak sangat ketakutan setelah mendapatkan teror itu.


Elisya yang penuh dengan kekhawatiran berlari menuju tempat Sam berdiri. "Jangan lari-lari Sya, nanti jatuh..."peringat Sam.


Elisya menghela nafasnya yang memburu, "Ka Elisya boleh minta tolong gak? Anterin Elisya kerumah Lisa. Sekarang juga! Bisa nggak?..."ucap Elisya memelas.


Sam tersenyum lalu membukakan pintu mobilnya. Elisya dengan cepat masuk ke dalam mobil Elisya. Disusul oleh Sam disampingnya.


"Lisa kenapa? Sakit?..."tanya Sam.


Elisya menoleh kearah Sam. "Katanya sih sakit kak, tapi perasaan aku gak enak. Aku takut dia kenapa-kenapa..."jujur Elisya.


Sam diam, seolah mengerti kecemasan gadis disampingnya ini. Ia pokus menjalankan mobilnya. Sam memang tahu rumah Lisa karena ia pernah sekali mengantarkan Lisa pulang.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang sudah tua renta dengan penuh kerutan diwajahnya keluar membukakan pintu.


Dibalik sifat Lisa yang keras, dan kata-kata nya yang kadang kali kasar. Gadis itu menyimpan banyak penderitaan. Mulai dari kematian kedua orang tuanya, kesulitan ekonomi, hanya hidup berdua dengan sang nenek. Memiliki masalalu yang begitu kelam. Itulah yang membuat Elisya sangat menjaga Lisa. Ia tak ingin gadis itu merasa kesepian.


Biaya sekolah pun, Semua ditanggung oleh keluarga Elisya. Sehingga Lisa tak perlu memikirkan biaya untuknya sekolah. Ia juga bekerja paruh waktu disebuah restoran yang cukup besar dengan gajih yang cukup untuk menghidupi kehidupannya bersama neneknya.


Jika kalian ingin tahu, restoran besar tempat Lisa bekerja itu sebenarnya milik orang tua Elisya. Mereka membantu Lisa secara diam-diam. Namun Lisa tak mengetahuinya sama sekali. Mereka diam bukan bermaksud apa-apa. Melainkan agar Lisa tak tersinggung dengan bantuan itu.


Elisya tersenyum, "Nenek ini Elisya..."ucap Elisya sambil mencium punggung tangan sang nenek.


"Elisya, sudah lama tidak kesini. Ayo masuk, Lisanya ada didalam kamar, dari kemarin ia tidak mau keluar kamar..."ucap sang nenek nampak sedih.


Elisya merasakan kesedihan sang nenek. "Elisya ke kamar Lisa dulu ya nek..."izin Elisya yang dibalas anggukan oleh sang nenek.

__ADS_1


"Kak, Elisya ke kamar Lisa dulu. Kaka tunggu disini ya..."ucap Elisya.


Sam tersenyum, "Aku tunggu disini ya Sya..."ucap Sam.


Elisya mengangguk pasti, ia berlari menuju kamar Lisa. Bersyukurlah pintunya memang tak terkunci.


Pelan-pelan Elisya membuka pintu kamar Lisa. Terpampang lah kamar yang berantakan sekali, dengan beberapa pecahan kaca yang berserakan dilantai. Kamarnya sangat gelap sekali namun masih ada sedikit cahaya yang menyelinap masuk dari jendela kamarnya.


Lisa tengah meringkuk disamping ranjangnya, sambil memeluk erat kedua lututnya. Wajahnya ia sembunyikan dikedua lututnya. Sambil terus terisak.


Tangisannya terdengar sangat menyakitkan. Elisya berjalan perlahan lalu kembali menutup pintu. Hatinya terasa sangat sakit melihat sahabatnya dalam keadaan seperti ini. Tanpa pikir panjang Elisya merengkuh tubuh Lisa. Ia tak mampu menahan air matanya lagi. Seolah tubuhnya pun ikut merasakan sakit yang dirasakan Lisa.


Lisa mendongak saat sebuah tangan memeluknya erat, matanya mulai terbuka melihat siapa yang datang. Cukup sudah! Ia tak mampu lagi menyembunyikan rasa takutnya. Tangisnya semakin menjadi-jadi sambil mempererat pelukannya pada Elisya.


Elisya mengerti jika sahabatnya ini tengah mengalami ketakutan yang luar biasa. Ia mengelus-elus punggung Lisa pelan mencoba menenangkan.


"Nggak papa Lis, jangan takut, gue ada disini. Gue akan terus jagain lo. Jangan pernah takut, Liat gue, tatap mata gue. Jangan takut oke, gue akan selalu ada disamping lo..."ucap Elisya sambil terus mengelus punggung Lisa.


"Gue takut Sya, hiks hiks. D-dia datang lagi, dia mau bunuh gue Sya, g-gue t-takut hiks hiks..."rintihan yang terdengar sangat memilukan itu keluar dari mulut Lisa.


Elisya menangis pilu menyaksikan keadaan sahabatnya ini, rambut yang berantakan, dengan wajah bersimbah air mata. Bahkan tubuhnya gemetar menahan rasa takut sekaligus traumanya.


"Nggak akan ada yang nyakitin lo, dengerin gue. Dia nggak akan pernah bisa nyakitin lo, gue akan selalu jagain lo. Jangan takut, udah jangan takut ya, semuanya akan baik-baik aja. Percaya sama gue..."Elisya tak henti-hentinya menenangkan Lisa.


Pelukan Lisa perlahan mulai melemah, bersamaan dengan kepalanya yang terasa sangat pusing. Beberapa detik berikutnya kesadaran nya mulai menghilang dipelukan Elisya sahabatnya.


๐Ÿ•“๐Ÿ•“๐Ÿ•“


Sampai sini dulu๐Ÿฅฐ Jadi gimana guys? Ada yang penasaran gak sama kisah Alisa yang merupakan sahabat kecil dari Elisya? Ada gak sih kira-kira yang mau tau kisahnya?


Oh iya! Jangan lupa like, coment, and vote juga ya readers ku๐Ÿค—๐Ÿ˜ I love you All๐Ÿฅฐ

__ADS_1


__ADS_2