Elisya

Elisya
99


__ADS_3

Keesokan harinya rencana sudah sangat matang. Mereka berlima sudah dalam penerbangan menuju Amerika. Karena rumah Johannes Qiandra berada disana. Meskipun sempat terjadi percekcokan karena Dicky yang melarang keras Elisya melakukan ini, namun karena Arvie yang berbicara padanya. Dengan berat hati Dicky menyetujui hal itu.


Elisya menghela nafasnya pelan, ia menggunakan dress berwarna hijau tua. Memamerkan bahunya yang putih dan mulus. Ini sudah sebagian dari rencana, meskipun Elisya agak kurang nyaman dengan pakaian seperti ini. Namun ia tetap mencoba membiasakan diri. Karena terasa dingin Elisya melapisi dressnya dengan sweater berwarna putih tebal.



Mereka berada di Jet pribadi Qiandra sekarang. Arvie, Farhan, dan David tengah sibuk mengatur strategi. Sedangkan Dicky hanya merenung menatap kearah jendela pesawat.


Elisya tahu betul pria itu begitu mengkhawatirkannya sedari tadi malam. Namun Elisya harus melakukan ini demi membalaskan kematian kedua orang tuanya.


Elisya berjalan mendekati kearah Dicky.


"Bang Iky..."lirih Elisya pelan. Jujur saja Elisya takut saat melihat Dicky hanya diam seperti ini. Demi Tuhan ia juga terpaksa melakukan semua ini.


Diluar dugaan, Elisya berpikir jika Dicky akan memarahinya atau membentak nya. Ternyata Dicky langsung berdiri menarik tubuh Elisya dalam pelukannya. Sangat erat, seolah tak ingin terlepaskan.



Elisya membalas pelukan itu, ia melingkarkan tangannya dipinggang ramping Dicky.


"Elisya akan jaga diri kok bang, makasih udah khawatir sama Elisya. Elisya udah jago kok. Kan udah diajarin bela diri..."lirih Elisya dengan candaan.


"Gue gak mau lo kenapa-napa..."ucap Dicky dingin.


Pipi Elisya merona seketika. Hanya mendengar satu kalimat dari Dicky barusan sudah mampu membuatnya salah tingkah seperti ini. Memang benar kata orang, pria dingin itu adalah pria yang sangat penyayang. Ia hanya tak bisa mengungkapkan perasaannya saja.


Elisya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dicky.


"Elisya berani kok, jangan khawatir..."ucap Elisya yakin. Padahal sebenarnya ia benar-benar takut bertemu dengan Johannes. Melihat om nya yang sudah membuat orang tuanya meninggal. Ia bahkan sangat takut namun berusaha baik-baik saja.


"Jangan bohong..."ucap Dicky.


Cukup Elisya tak bisa menahannya lagi. Gadis itu mulai terisak dipelukan Dicky, menunjukkan rasa takut yang ia rasakan.


"Elisya takut bang hiks om Johan udah bunuh mamah papah Elisya hiks hiks, Elisya takut..."lirih Elisya pelan.


Dicky sudah tau jika Elisya merasa takut namun gadis itu berusaha tegar. Dicky mengelus pelan surai rambut Elisya.


"Gue yakin lo bisa..."ucap Dicky.

__ADS_1



Hanya satu kalimat, kalimat singkat, padat, dan jelas. Namun mampu menjadi kalimat penenang bagi Elisya. Entahlah Dicky punya cara sendiri membuat Elisya nyaman saat berada didekatnya. Meskipun pria itu dingin, namun percayalah ia yang paling khawatir.


Disudut lain Arvie bersama Farhan dan David tengah sibuk menyusun strategi.


"Meleleh juga tuh es batu..."ejek Farhan.


"Elisya tuh hangat, kaya matahari. Makanya bisa lelehin es batu kaya Dicky..."jawab David.


Arvie meletakkan gelas minuman yang ia pegang.


"Gue percaya sih sama Dicky, dia bisa jagain adik gue..."ucap Arvie.


David langsung menoleh kearah Arvie.


"Yee pilih kasih lo Vie, giliran gue aja gak dibolehin dekatin adik lo..."protes David.


Arvie berdecih,


"Gue tau ya lo tuh brengsek, main cewe sana sini..."tegas Arvie.


"Kalau sama Elisya gue setia deh janji..."jawab David dengan wajah memelas seperti memohon.


"Biarin Elisya bahagia sama Dicky..."sambung Farhan lagi.


"Gimana hubungan lo sama Bella Vie?..."tanya David sambil memakan cemilan yang tersedia.


"Gue udah dua kali ngungkapin perasaan gue, dan kedua kalinya juga gue ditolak..."keluh Arvie.


David tersentak kaget hingga terbatuk-batuk.


"Uhuk uhuk uhuk, seorang Arvie Qiandra ditolak cewek? Gila bro. Satu kampus ngincer lo, bahkan Bianca anak pemilik kampus besar aja ngejar lo bro..."kaget David.


"Itu yang bikin Arvie suka, Bella itu beda. Dia gak mandang seberapa banyak kekayaan Arvie. Cuman dia yang berani nolak Arvie, langka banget kan..."jawab Farhan membela sosok Bella.


"Hm, dia beda dan gue suka..."jawab Arvie lalu melemparkan pandangannya kearah jendela pesawat.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“

__ADS_1


Di kantin sekolah Bella tengah duduk bersama dengan Sam dan Lisa.


"Denger kabar gak, katanya Vano hampir bunuh diri kemarin. Tuh anak bener-bener depresi banget. Tiap hari gue liat dia berdiri didepan rumah Elisya. Padahal jelas-jelas Elisya udah gak tinggal disana..."ucap Bella.


"Biarin aja Bel, lo jangan lupain apa yang udah Vano lakuin sama Elisya. Ini tuh karma buat si brengsek itu..."umpat Lisa.


"Lis gak boleh gitu..."ucap Sam sambil mengacak rambut Lisa.


"Abisnya Lisa kesel kak..."keluh Lisa.


"Yee pacaran mulu lo berdua..."protes Bella.


Lisa tertawa kecil, entah sejak kapan dua sejoli itu menjalin hubungan (Hanya author yang tau🀭😜) . Yang jelas status mereka sudah resmi berpacaran.


"Iri aja lo Bel, makanya sekali-kali susulin bang Arvie ke Rusia..."ejek Lisa.


"Lo pikir deket apah. Jauh tau..."jawab Bella kesal.


"Oh iya, Angel juga sekarang sakit. Dia kena penyakit jantung. Cukup parah sih..."ucap Bella lagi.


"Syukur lah, ini balasan karena dulu dia pura-pura sakit dan fitnah Elisya dengan kejam. Biarin dia ngerasain karmanya..."ucap Lisa tersenyum.


"Oh iya satu minggu lagi Elisya ulang tahun loh..."ucap Lisa lagi.


"Terus kita ada rencana apa nih guys buat kasih Elisya kejutan..."tanya Bella.


"Kita kasih surprise aja deh, kita ke Rusia gimana?..."usul Lisa.


"Gue ikut kalian aja sih..."jawab Sam.


"Setuju sih gue, nanti gue ngomong ke Arvie soal rencana ini..."jawab Bella antusias.


"Sekalian ketemu mas pacar ya Bel?..."goda Lisa.


"Ngeselin banget sih lo Lis. Sam pacar lo nih iseng banget..."kesal Bella.


Lisa tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan Bella.


"Lis udah, ayo kaka antar ke kelas..."ucap Sam lalu menggenggam tangan Lisa posesif seolah menunjukkan pada dunia jika Lisa miliknya.

__ADS_1


"Gue duluan Bel..."pamit Lisa.


"Oke, bay..."ucap Bella seraya tersenyum.


__ADS_2