Elisya

Elisya
102


__ADS_3

Disinilah Elisya sekarang, disebuah ruangan VVIP. Terkapar lemah tak berdaya, cukup banyak darah yang keluar dari tangannya dan lututnya akibat tertancap pecahan kaca. Bahkan tangan dan lututnya sudah diperban. Begitu juga dengan kakinya yang terkilir.


Mungkin keadaan nya sudah membaik, namun gadis cantik itu masih belum juga sadarkan diri. Berkali-kali Dicky mengacak rambutnya gusar. Sudah hampir satu jam lebih namun Elisya belum juga sadar.


David dan Farhan yang tadinya kerumah sakit, sudah diperintahkan Arvie untuk menuntaskan kasus ini dengan bukti lengkap map yang sudah terkena darah Elisya.


Arvie melangkahkan kakinya lalu duduk disamping Dicky.


"Santai aja Ky, ini rumah sakit terbaik disini. Kepercayaan keluarga gue, adik gue kuat kali Ky. Dia gak akan kenapa-napa. Lucu juga gue liat lo gini, frustasi gara-gara cewek. Baru pernah liat gue..."ucap Arvie tertawa kecil.


"Gue sayang banget sama adik lo gila..."sahut Dicky tak senang saat Arvie mengejeknya.


"Es batu udah cair aja nih..."ledek Arvie.


"Adik lo kaya matahari, hangatin hidup gue..."jawab Dicky lagi.


"Heh jagain adik gue, gue gak percaya sama yang lain. Apalagi dua tengil itu..."ucap Arvie.


"Itu kewajiban gue..."jawab Dicky yakin.


"Sok puitis lo Ky..."ejek Arvie.


"Gapeduli gue..."tungkas Dicky.


"Gue keluar bentar Ky, mau bantuin tuh dua tengil buat tuntasin kasus ini. Titip adik gue..."pamit Arvie lalu menepuk pundak Dicky.


"Hati-hati lo..."pesan Dicky yang dibalas anggukan oleh Arvie.


Dicky berjalan menuju brankar Elisya. Ia duduk dikursi samping brankar tempat Elisya berbaring. Pria itu nampak menggenggam pelan tangan Elisya yang berbalut perban.


"Sadar dong Esya, lo bikin gue takut..."gusar Dicky.


Tak ada respon sama sekali, Elisya masih tenang memejamkan matanya.


Entah mendapatkan keberanian dari mana, Dicky malah mengelus kepala Elisya dan mengecup singkat keningnya.


"Hello my girl, bangun..."ucap Dicky melemah.


Namun masih juga tak ada respon. Dicky memutuskan untuk mandi di kamar mandi ruangan itu. Karena merasa sangat gerah. Ia juga sudah minta kirimkan baju dari bodyguard nya. Disana juga sudah lengkap dengan handuk dan fasilitas lainnya.


Dicky masuk kekamar mandi, ia menyalakan shower dan merendam tubuhnya didalam bathup. Sesekali ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya dan mengurangi rasa khawatirnya yang berlebihan.


Diruangan yang sama, mata cantik dan mungil itu perlahan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Bola matanya menyapu keseluruhan ruangan. Badannya terasa sangat lemah, mungkin ia kehabisan tenaga. Ia melihat banyak perban di tangannya. Lalu kemudian tersenyum singkat tatkala mengingat usahanya tak sia-sia.


Elisya merasa haus, namun ia tak mampu untuk bangkit. Rasanya tubuhnya lemah sekali. Kenapa tak ada seorang pun disini?


Pendengaran Elisya terpokuskan pada air shower yang mengalir dari arah kamar mandi. Elisya pikir itu pasti kakaknya Arvie yang sedang mandi. Alhasil ia memanggil orang itu.


"Bang Arvie, Elisya haus..."panggilnya.


Masih belum ada respon.

__ADS_1


"Abanggg Elisya haus tau..."keluh gadis itu dengan wajah cemberut.


Klek, pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Dicky yang hanya menggunakan celana boxer, memamerkan otot-otot perutnya. Tak bisa dipungkiri Dicky memiliki badan yang six pack.


"Aaaaaaaa..."teriak Elisya sambil memalingkan wajahnya kearah samping.


"Esya lo haus, gue ambilin air ya..."ucap Dicky khawatir.


"Bang Iky pakai bajunya dulu. Mata Elisya ternodai tau..."keluh Elisya.


Dicky tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Elisya yang ketakutan melihatnya.


Elisya sempat terkagum-kagum beberapa saat. Untuk pertama kalinya ia melihat Dicky tertawa selepas ini. Wajahnya menjadi jauh lebih tampan saat tertawa. Tak semenakutkan dulu.


Dicky berjalan santai sambil mengambil kaos oblong dan celana panjangnya. Kemudian kembali masuk kekamar mandi.


Elisya nampak ngos-ngosan, bahkan ia sudah memegang dadanya yang berdetak begitu kencang.


"Apa itu tadi, bisa-bisa nya gak malu mamerin roti sobek gitu. Sialan bang Iky. Gue jadi tremor astaga..."keluh Elisya.


Dicky keluar lagi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia mengambil segelas air lalu melangkahkan kakinya kearah Elisya.


"Mau minum sendiri atau gue bantu..."tanya Dicky.


"Bantuin bang, tangan Elisya kan diperban. Susah megangnya..."rengek Elisya.


Dicky tersenyum lalu meletakkan kedua tangannya disamping bahu kanan dan kiri Elisya. Terlihat seperti sedang mengunci tubuh gadis itu. Elisya bahkan sudah memejamkan matanya.


"Ngapain tutup mata, gadis nakal. Apa yang lo pikirin..."


Elisya dengan cepat membuka matanya. Ia bahkan sudah gelagapan.


"Elisya gak mikir apa-apa. Lagian ngapain juga bang Iky posisinya gitu..."protes Elisya.


"Lo takut? Gue pengen bantu lo duduk. Biar mudah minumnya..."ledek Dicky.


"Ih siapa yang takut, Elisya gak takut sama bang Iky..."ucap Elisya menahan malu.


"Oh ya?..."jawab Dicky sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Elisya.


Dengan sekuat tenaganya Elisya mendorong pelan tubuh Dicky.


"Bang Iky mesum..."teriak Elisya tak terima.


Dicky tak mempedulikan perkataan Elisya, Dicky langsung mengangkat pelan kepala Elisya dan meletakkan bantal dibelakangnya.


Sekarang Elisya sudah dalam posisi duduk. Dicky mendekatkan gelas minuman ke bibir Elisya. Membiarkan gadis itu minum sepuasnya.


Merasa cukup Dicky meletakkan kembali gelas minuman tadi ke meja disamping brankar.


"Bang Arvie mana?..."tanya Elisya.

__ADS_1


"Lagi nuntasin kasus Johannes..."jawab Dicky to the point. Pria itu memusatkan pandangan pada wajah cantik Elisya yang tanpa balutan make up sedikitpun.


"Ngapain sih liatin aku gitu..."tanya Elisya.


Dicky malah langsung mendekatkan wajahnya kewajah Elisya.


Cup


Tak hanya sebuah kecupan singkat. Namun Dicky ******* pelan bibir Elisya. Mata Elisya melotot karena kaget. Bahkan tubuhnya rasanya membeku. Ia tak membalas juga tak memberi penolakan sama sekali saking kagetnya.


Hanya sebentar, kemudian Dicky melepaskan nya. Mengusap sudut bibir Elisya yang sedikit basah karena salivanya.


Elisya menutup wajahnya yang sudah memerah menahan malu.


"Bang Iky Elisya maluuuuuu..."rengeknya sambil menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya.


Dicky tertawa lalu menuntun gadis itu kedalam pelukannya. Elisya menyembunyikan wajahnya didada bidang Dicky hingga suara pintu terbuka. Menampilkan Farhan, David, dan Arvie yang datang membawa bingkisan cukup besar berisi makanan.


"Wah kayanya kita ganggu nih Vid..."sindir Farhan.


"Gak panas kok gue, cuman udah gosong aja..."jawab David lalu duduk disofa.


Dicky melerai pelukannya. Bersamaan dengan Arvie yang mendekat kearah brankar Elisya.


"Udah enakan?..."tanya Arvie sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Elisya.


"Abanggg Elisya berhasil..."ucap Elisya senang lalu menyambut pelukan sang kakak.


Arvie mengelus pelan rambut adiknya.


"Ia adik gue hebat. Cepat sembuh adik kecil..."lirih Arvie.


Arvie perlahan melerai pelukannya. Bersamaan dengan David dan Farhan yang juga ikut mendekat disamping brankar Elisya.


"Bang David sama bang Farhan gamau meluk Elisya juga?..."tanya Elisya.


Farhan tertawa kecil lalu meraih gadis itu dalam pelukannya.


"Selamat lo berhasil, maafin saran gue yang bikin lo cedera kaya gini, gue juga khawatir banget sama keadaan lo. Terimakasih sudah mau berjuang buat dapetin tanda tangan itu..."lirih Farhan.


"Makasih abang, Elisya juga seneng bisa dapetin tanda tangan itu..."jawab Elisya.


Farhan melerai pelukannya dengan senyuman, lalu David mendekat.


"Gue juga mau..."ucap David lalu memeluk tubuh Elisya.


"Gue takut banget pas denger lo pingsan. Kita akan ngerasa bersalah banget kalau lo kenapa-napa. Sehat terus Elisya..."pesan David.


"Makasih abang..."balas Elisya tersenyum tulus.


Demi Tuhan Elisya sangat bahagia. Dijaga oleh ke empat laki-laki yang memperlakukan nya layaknya ratu. Disayangi dan dimanjakan dengan tulus. Sungguh posisi yang sangat diidam-idamkan oleh semua wanita.

__ADS_1


__ADS_2