
Sesampainya didepan kelas Elisya,
"Kaka ke kelas dulu ya Sya, kamu yang rajin belajarnya..."
"Siap ka..."jawab Elisya.
Vano mengusap kepala Elisya lembut lalu kembali ke kelasnya. Baru beberapa langkah ia ingin masuk ke kelas, pandangannya terhenti pada sosok Riski yang tengah berjalan melewati kelasnya.
Elisya mengurungkan niatnya untuk masuk kekelas, ia berlari kecil menyusul Riski,
"Ka Riski..."teriak Elisya.
Riski yang merasa namanya dipanggil pun menghentikan langkahnya,
"Eh Elisya, kenapa Sya?..."jawabnya.
"Ka Riski liat kak Sam gak?..."tanya Elisya dengan rasa khawatir dan rasa bersalah yang menjadi satu.
Riski tersenyum melihat kekhawatiran Elisya,
"Sam lagi di UKS samperin aja..."ucap Riski.
"Oke, makasih ya ka..."ucap Elisya lalu berlari kecil menuju UKS.
Riski tersenyum singkat lalu meneruskan langkahnya.
Sesampainya diruang UKS, Elisya masuk tanpa mengetuk pintu. Sam nampak meringis di atas kasur UKS sambil mengobati lukanya. Semakin bertambah lah rasa bersalah Elisya.
Sam kaget saat ada yang memegang tangannya,
"Elisya, sejak kapan di sini..."tanya Sam kaget.
Elisya duduk di samping Sam,
"Maafin ka Vano ya kak, Maafin Elisya juga. Gara-gara Elisya ka Sam jadi gini..."ucap Elisya sendu.
Sam terkekeh lalu mengusap kepala Elisya pelan,
"Kaka ngga papa Sya, dipukul gini udah biasa Sya. Namanya juga cowok..."ucap Sam.
"Tapi kan tetap sakit, sini Elisya obatin..."ucap Elisya lalu meraih kotak P3K di samping Sam. Elisya dengan telaten membersihkan luka Sam. Pukulan Vano sangat keras hingga membuat sudut bibir Sam mengeluarkan darah.
"Aw..."pekik Sam. Elisya kaget "Maaf ka, Elisya akan pelan-pelan..."ucap Elisya.
Sam tersenyum melihat Elisya yang nampak sangat mengkhawatirkannya, walaupun hanya dianggap sebagai seorang kakak. Berdekatan dengan Elisya membuatnya sangat senang.
"Nah selesai..."ucap Elisya lalu membereskan peralatan P3K itu. "Sekali lagi Elisya minta maaf ya kak! Elisya gak enak sama kak Sam..."ucap Elisya menunduk.
Sam tersenyum lalu mengangkat dagu Elisya agar Elisya menatapnya.
"Hey cantik, gak boleh sedih ya. Kaka ngga papa ko, sekarang kamu kembali ke kelas ya..."ucap Sam lembut.
Elisya tersenyum lalu mengangguk. Ia bangkit dari duduknya.
"Elisya ke kelas dulu ya kak, kak Sam cepat sembuh..."pamit Elisya.
Sam mengangguk beriringan dengan Elisya yang berjalan meninggalkan UKS.
__ADS_1
"Andai aja lo sukanya sama gue Sya. Gue pasti ngga akan pernah nyakitin lo. Gue takut Vano nyakitin lo Sya..."lirih Sam dengan tatapan sendu setelah kepergian Elisya.
🕓🕓🕓
"Gue mau kasih pelajaran sama Elisya pulang sekolah ini. Gue udah gak bisa diam aja liat dia dekat-dekat terus sama Vano..."ucap Angel lantang.
"Gue setuju sih Ngel, mau kita apain?..."tanya Karin.
"Kita akan nyeburin dia di sungai belakang sekolah, gimana? Pasti seru kan. Biar mampus tuh anak..."ucap Angel sambil tertawa sinis.
Bella kaget bukan main,
"Lo gila ya Ngel, lo mau bunuh anak orang. Sungai belakang itu arusnya deras banget Ngel. Kalau dia kenapa-kenapa gimana..."kesal Bella.
"Lo tuh kenapa sih. Belain Elisya terus. Biarin aja lah mau dia kenapa-napa kek, biar dia mampus sekalian..."titah Karin.
"Jangan macam-macam lo sama gue ya Bel, ikutin semua perkataan gue..."sambung Angel.
Lisa yang juga ikut berkumpul dengan geng itu, menelan salivanya dengan susah payah. Ia memang membenci Elisya, tapi untuk mencelakai nya Lisa nampak sangat ragu.
"Dan tugas lo Lisa, ajak Elisya bicara di belakang sekolah deket sungai pulang sekolah ini..."perintah Angel.
Lisa yang ragu hanya meng-Iya kan perintah Angel,
"I-iya ka..."jawab Lisa agak terbata-bata.
Angel tertawa puas,
"Bagus, rasain lo Elisya. Mampus lo sama kita-kita..."ucap Angel lantang.
🕓🕓🕓
Vano kini tengah mempersiapkan diri untuk latihan basket. Entah kenapa teman-temannya mengajak nya latihan basket hari ini.
Lisa mulai meluncurkan aksinya.
"Sya ikut gue, gue mau ngomong sama lo..."ucap Lisa ketus.
Elisya menengak ke arah Lisa,
"Ngomong aja langsung..."jawabnya ketus.
"Nggak disini, ikut gue..."paksa Lisa.
Elisya yang tidak mau berdebat pun hanya mengikuti langkah Lisa sampai ke dekat sungai belakang sekolah.
"Mau ngomong apa lo..."tanya Elisya.
Lisa tertawa kencang, Beriringan dengan Angel, Bella dan Karin yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
"Kenapa hah lo takut?..."ejek Lisa.
Elisya menghela nafas pelan, "Ngapain takut sama mental patungan..."jawab Elisya cuek.
"Beraninya keroyokan, gak punya nyali lo pada..."Elisya yang berusaha selalu sopan pada kaka kelasnya kini tidak lagi. Kesopanan nya ternyata tidak dihargai disini.
"Udah berani ya lo ngomong gitu ke kita-kita..."ucap Angel.
__ADS_1
"Sama-sama manusia kan? Makan nasi kan? Ngapain takut. Mungkin kalau lo semua makan nya besi. Gue bisa aja takut..."ucap Elisya sambil tertawa.
Angel mendengus kesal,
"Tutup mulut lo. Bella, Karin pegang..."ucap Angel.
Dengan sigap Karin memegang erat tangan Elisya disusul oleh Bella yang membuat Elisya kesusahan bergerak.
"Lepasin, apa-apaan sih. Beraninya keroyokan..."kesal Elisya.
Angel tertawa keras,
Plak
Satu tamparan mendarat mulus dipipi Elisya.
"Nggak usah banyak ngomong lo. Dengerin gue baik-baik ya. Gue minta lo jauhin Vano. Dia itu milik gue..."kesal Angel.
Elisya tertawa keras,
"Situ siapa sih, cuman sahabatnya kan, gue pacarnya. Jadi Vano milik gue..."jawab Elisya lantang.
Angel yang tersulut emosi menarik rambut Elisya membuat sang empunya meringis menahan sakit.
"Gue bakal lakuin apapun. Apapun biar Vano balik lagi ke gue..."ucap Angel lantang.
"Lo iri ya? Sampai pakai cara kekerasan buat misahin gue sama Vano. Kenapa? Gak mampu ya ngerebut Vano dari gue sampai pakai cara kotor kaya gini..."jawan Elisya lantang.
"Diam lo, gue nggak peduli. Gue bakal dapetin Vano dengan cara apapun. Walaupun harus bunuh lo dulu..."ucap Angel menyeringai.
Angel memberi kode pada temannya yang tidak dimengerti oleh Elisya.
Byurr...
Karin mendorong kasar tubuh Elisya sampai tercebur ke sungai. Elisya memang bisa berenang tapi arus sungai yang cukup deras membuatnya kewalahan.
Angel tertawa kencang,
"Mampus lo, pulang guys..."ucap Angel lalu berjalan meninggalkan wilayah itu diikuti oleh Karin.
Lisa sebenarnya merasa kasihan dengan Elisya tapi ternyata rasa bencinya jauh lebih besar dari rasa kasihan nya. Ia pergi meninggalkan wilayah itu tanpa peduli pada Elisya.
Tertinggal Bella yang berdiri disana,
"Gila, bisa mampus anak orang kalau gini..."kesal Bella.
Sedangkan Elisya berteriak-teriak meminta tolong sedari tadi.
Bella pun dengan cepat mengambil sebuah tongkat kayu yang cukup panjang di sekitaran wilayah sungai itu. Dengan cepat ia menyodorkan kayu itu kearah Elisya.
Elisya yang melihat itu dengan sigap meraih kayu itu. Dengan susah payah Bella menarik Elisya sampai kepinggir sungai.
"Pegang tangan gue..."teriak Bella.
Elisya pun meraih tangan Bella. Bella menarik Elisya dengan sekuat tenaga sampai tubuh Elisya berhasil naik ke tebing.
Sebenarnya Elisya bisa saja menyuruh para bodyguard nya untuk menjaganya, tapi Elisya menolaknya. Elisya ingin sekolah seperti anak biasanya. Tanpa dikawal sedikit pun.
__ADS_1