
Semuanya menghela nafas lega. Seluruh dekorasi dikamar Elisya sudah siap. Bahkan kamarnya sudah penuh dengan balon dan beberapa dekorasi lainnya.
"Yes udah kelar, semoga aja Elisya suka deh..."ucap Lisa semangat.
"Semoga aja dia senang..."jawab Arvie sendu.
"Laper gue nih Vie, makan yuk..."ajak David sambil mengeluh.
Tiba-tiba Bella datang dari arah pintu kamar Elisya.
"Semuanya makan dulu yuk, gue tadi bikin burger buar kalian semua..."ucap Bella sambil tersenyum.
"Aduh Bella, udah cantik jago masak lagi. Kurang apa coba lo Bel..."puji Farhan yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Arvie.
Farhan meneguk salivanya susah payah, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Calon istri gue..."ucap Arvie tegas.
"Ia deh Vie iya, becanda doang gue..."ucap Farhan takut.
"Sahabat gue pokoknya..."putus Lisa angkat suara.
Semuanya tertawa bahagia disana. Bahkan Bella nampak malu-malu mendengar penuturan Arvie.
"Udah ah ayo makan..."ucap Bella lagi.
Semuanya berjalan menuju meja makan. Semuanya sudah siap tersaji disana. Bella memang sangat pandai memasak.
"Silahkan makan semuanya..."ucap Bella mempersilahkan.
Semuanya sekarang mulai menikmati makanan mereka.
"Enak banget gila..."puji Farhan.
David mengangguk setuju.
"Kalau Bella yang masak mah gak usah diraguin lagi kali..."puji David.
"Oh jelas, pacar gue..."ucap Arvie bangga.
"Belum jadian ya..."sindir Farhan.
Arvie menatap kesal ke arah Farhan.
"Lo ada masalah apa sama gue Han, habis ini kita satu lawan satu..."kesal Arvie.
Farhan tertawa cengengesan.
__ADS_1
"Ampun Vie, gak berani gue sama lo..."jawabnya ragu.
"Udah ah, buruan makan. Nanti Elisya datang. Malah gagal rencananya..."ucap Bella yang membuat semuanya patuh dan melanjutkan makan.
Menghabiskan waktu beberapa menit untuk mereka menghabiskan makanan masing-masing. Bahkan sekarang Lisa tengah membantu Bella mencuci piring-piring yang kotor. Sedangkan David dan Farhan tengah bermain game online di ruang tamu. Sam sudah berada dilantai atas. Ia izin untuk tidur lebih awal karena merasa lelah. Arvie sendiri tengah duduk disofa sambil memainkan telponnya.
Tepat setelah Bella dan Lisa selesai membersihkan piring. Suara Elisya menggema dari arah pintu.
"Abanggg Elisya pulang..."teriaknya senang.
"Bel lo sama Lisa naik ke atas. Nanti gue nyusulin..."perintah Arvie. Bella dan Lisa dengan cepat menaiki satu persatu anak tangga.
Elisya masuk dengan wajah ceria, dengan Dicky yang berada dibelakangnya sambil membawakan boneka beruang yang besar. Ya, Dicky membelikan boneka itu untuk Elisya karena melihat Elisya begitu menyukainya. Elisya bisa saja memborong seluruh boneka itu, namun jika dibelikan oleh Dicky tentu saja berbeda. Lebih spesial mungkin. Hehe
Bayangkan saja bagaimana susahnya Dicky membawakan boneka itu untuk Elisya. Namun nyatanya Dicky sama sekali tak keberatan. Ia bahkan akan melakukan apapun jika itu demi kebahagiaan Elisya.
"Kayanya ada yang seneng banget nih hari ini..."goda David.
"Ia bener, senang banget wajahnya..."ledek Farhan.
Elisya menghamburkan pelukan ke arah Arvie.
"Elisya seneng banget hari ini..."ucapnya mencurahkan isi hatinya.
"Tadi ngapain aja..."tanya Arvie basa basi.
"Gue seneng liat lo bahagia gini Sya, bahagia terus ya..."ucap Arvie.
"Iya bang..."jawab Elisya cepat.
"Sya kamar lo ada masalah dikit sama pintunya, jadi untuk malam ini lo gak bisa tidur disana dulu. Dikamar tamu dulu gak papa kan?..."ucap Arvie ragu.
"Oh gitu ya, yaudah gak papa deh. Elisya ke kamar tamu dulu ya. Pengen istirahat capek..."ucap Elisya.
Arvie menghela nafas nya lega karena Elisya mempercayai alasan yang terdengar konyol.
"Bang Iky, siniin boneka Elisya. Makasih ya bang. Udah susah-susah bawain buat Elisya..."Ucap Elisya sambil meraih boneka ditangan Dicky lalu memeluknya erat.
Dicky tersenyum lalu mengacak pelan rambut Elisya.
"Sekarang Istirahat, gak boleh kecapekan..."perintah Dicky.
"Siap komandan..."jawab Elisya patuh lalu berjalan menuju kamar tamu.
Arvie mendekat kearah Dicky, menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
"Thanks ya Ky, udah bikin adik gue se seneng itu..."ucap Arvie tulus.
__ADS_1
"Itu tugas gue sekarang..."jawab Dicky yakin.
Arvie tersenyum,
"Bantu pantau adik gue Ky, gue mau ke atas dulu. Nyamperin Bella..."ucap Arvie yang dibalas anggukan oleh Dicky.
🕓🕓🕓
Arvie mengetuk pelan pintu kamar Bella.
"Ia bentar Vie..."jawab Bella dari dalam.
Bella perlahan membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Arvie masuk. Lisa ada dikamar sebelah bersama dengan Sam.
Arvie langsung menghambur pelukan kearah Bella. Sambil menutup pintu kamar Bella perlahan.
"Berat ih..."keluh Bella sambil tertawa kecil.
"Kangen..."lirih Arvie pelan.
"Manja banget..."ledek Bella.
Bella melerai pelukannya, lalu berjalan kearah jendela besar dikamar itu. Menatap sang langit yang indah dengan taburan bintang. Bella terlihat sangat cantik dengan cahaya sang bulan yang menyinari wajahnya.
Arvie berjalan mendekati Bella, memeluk erat tubuh gadis itu dari belakang.
"Menikah sama gue Bel..."lirih Arvie tepat disamping telinga Bella.
Bella tersenyum mendengar itu. Sungguh ia sangat mencintai pria yang tengah memeluknya sekarang.
"Thanks udah mau berjuang buat gue Vie, dan mau ngeyakinin keluarga gue kalau lo emang yang terbaik buat gue..."jawab Bella terharu.
"Apapun buat lo Bel..."jawab Arvie.
"Gue ngerasa gak tau diri, bisa-bisanya gue yang cewek biasa gini mencintai seorang Arvie Qiandra. Siapa yang gak kenal keluarga lo Vie. Gue ngerasa gak pantes untuk itu. Gue sayang banget sama lo Vie, rasanya ini mimpi bagi gue..."ucap Bella terharu dengan air mata yang sudah mulai mengalir tanpa permisi dipipinya.
Arvie tak suka mendengar Bella yang menganggap dirinya serendah itu. Sadarkah Bella jika Arvie menganggapnya begitu istimewa.
Arvie membalikkan tubuh Bella. Memegang tengkuk Bella lalu perlahan menundukkan kepalanya. Meraih bibir mungil Bella. ********** pelan dan sangat lembut. Bahkan Bella mulai melingkarkan tangannya dileher Arvie dengan mata yang memejam.
Arvie melepas pagutan itu, mengusap pelan pipi Bella.
"Jangan ngomong gitu lagi, lo istimewa bagi gue Bel. Menikah sama gue mau?..."tanya Arvie dengan suara beratnya.
Bella menghela nafasnya, menetralkan jantungnya yang berdetak begitu cepat. Ia tak mampu mengungkapkan seberapa bahagianya ia sekarang. Namun gadis itu mengangguk tanda jika ia menyetujui ucapan Arvie.
Arvie tersenyum senang lalu kembali ******* bibir Bella. Jika tadi begitu lembut, sekarang ******* itu berubah menjadi sedikit kasar dan menuntut. Bella bahkan ngos-ngosan menyeimbangi Arvie.
Arvie menahan tengkuk Bella untuk memperdalam ciumannya. Sambil sebelah tangannya menahan pinggang Bella.
__ADS_1
Tangan Bella melingkar diperut Arvie. Memeluk pria itu erat. Setelah merasa kehabisan nafas Arvie melepaskan pagutannya. Lalu mengecup singkat kening Bella. Memeluk wanita itu erat dalam dekapannya. Bella bahkan sudah menyembunyikan wajahnya didada bidang Arvie karena menahan malu.
"Hampir aja gue keterusan. Untung kesadaran gue masih ada..."lirih Arvie dengan suara beratnya. Sungguh ia benar-benar sedang menahan dirinya. Agar tidak berbuat yang tidak wajar.