
Di sisi lain Lisa sedang duduk dikamarnya.
Tiba-tiba ada yang menelponnya, Lisa pun dengan cepat melihat ponselnya.
Disana tertera nama Vano sang pujaan hati.
Lisa memang sudah lama menyimpan nomor ponsel Vano.
Lisa kaget bukan main, pujaan hatinya menelponnya.
Lisa menarik nafas dan mulai mengangkat telepon dari Vano.
Calling Lisa dan Vano
📞: I-iya kak, ada apa ya.
📞: Gue boleh minta nomer HP Elisya gak?
📞: Iya kak, bentar Lisa kirim dulu
📞: Oke
Vano langsung mematikan telponnya, sedangkan Lisa mengetik beberapa angka dan mengirimkan nya pada Vano.
Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit, ia sudah sangat berharap lebih ternyata Vano hanya ingin meminta nomer Elisya.
_____
Tutt...tuttt...
Ponsel Elisya berbunyi tapi Elisya belum juga bangun,
Sudah hampir 3 kali ponsel itu berbunyi, Untung saja Elisya sudah terbangun.
Ia meraih ponsel yang ada dimeja sebelah kasurnya.
Di sana tertera sebuah nomor yang tidak ia kenal tapi sudah menelponnya lebih dari 3 kali.
Tiba-tiba ponsel Elisya berbunyi lagi, takut ada yang penting Elisya langsung mengangkat nya.
Calling Vano dan Elisya
📞 : Hallo, ini siapa ya?
📞 : Ini kak Vano Sya.
📞 : Eh kak Vano dapet nomor Elisya dari mana kak?
📞 : Dari Lisa. Gimana kaki kamu Sya?
📞 : Udah gak sakit lagi kok ka.
📞 : Malam ini sibuk gak?
📞 : Engga, kenapa ya kak?
📞 : Mau gak jalan sama kaka?, Nanti kaka jemput.
📞 : Ii-ya kak mau.
📞: Jam 8 malam kaka jemput ya, udah dulu ya Sya. See you
📞 : Iya kak see you
Panggilan pun berakhir
Elisya langsung memegangi dadanya,
"Astaga mimpi apa gue kemarin sampai kak Vano ngajakin gue jalan, Aaaaaa...."teriak Elisya kegirangan.
Elisya pun berlari keluar kamar.
"Mamah..."teriak Elisya.
"Iya sayang, ada apa sih teriak-teriak..."jawab Revina bingung.
"Mah malam ini Elisya mau jalan sama kak Vano, boleh ya mah pliss..."mohon Elisya.
Revina tersenyum melihat kelakuan putrinya.
"Ia boleh deh..."
"Makasih mamah..."ucap Elisya lalu memeluk sang ibu.
"Tapi kamu makan dulu..."ucap Revina.
"Siap mah..."jawab Elisya cepat.
"Mamah perhatikan kayanya kamu suka ya sama Vano..."tebak Revina.
__ADS_1
Wajah Elisya langsung merona.
"E-engga kok mah, dia cuman kaka kelas Elisya..."jawab Elisya gugup.
"Mamah ini orang yang sudah membesar kan kamu Elisya, bahkan mama bisa mengetahui dari ekspresi wajah kamu..."sambung Revina.
"Emm Elisya juga gak tau mah, Elisya cuman nyaman aja kalau dekat kak Vano, dulu kak Vano selalu marah-marah tiap kali ketemu Elisya karena kak Vano trauma sama perempuan, sekarang kak Vano perhatian banget sama Elisya mah..."jelas Elisya sambil tersenyum.
"Trauma?..."tanya Revina bingung.
Elisya pun menceritakan semua hal yang ia dengar dari bu Siska tentang Vano.
Revina mendengarkan dengan serius.
"Berarti kamu hebat Sya, bisa bikin dia lupa sama traumanya..."jawab Revina.
"Mamah bisa aja, mah kalau misalkan Elisya sama kak Vano, mamah setuju ngga?..."tanya Elisya sungkan.
"Mamah sih cuman dukung kamu aja Sya, apapun yang terbaik untuk putri mamah ini..."jawab Revina sambil tersenyum.
Elisya pun memeluk ibunya sebentar. Lalu mereka berdua pun berjalan menuju meja makan.
_____
"Vano, habis telponan sama siapa?..."tanya Yunita ibu Vano penasaran.
"Ngga mah, ini adik kelas Vano, Vano cuman mau ngajak dia jalan..."ucap Vano jujur.
Yunita tersenyum senang melihat anaknya yang perlahan mulai bisa melupakan traumanya.
"Kenapa gak diajak kesini aja Van, sambil barbequean sama mamah..."tawar Yunita.
"Boleh juga tuh mah, yaudah nanti Vano ajak kerumah..."ucap Vano setuju.
"Yasudah kalau gitu mamah mau nyiapin semuanya dulu yah..."ucap Yunita.
"Angel diajak gak mah?..."tanya Vano.
"Gak usah kita bertiga aja yah, ini kan rencana kita..."tolak Yunita pelan.
Vano pun hanya menurut saja.
Sejujurnya Yunita tidak terlalu menyukai Angel, mulai dari sifatnya yang manja, sombong, dan tidak peduli pada sesama, tetapi melihat Vano yang begitu mempercayai Angel mulai dari kecil, membuat Yunita membiarkan pertemanan mereka.
_____
Tibalah jam 8 malam.
Elisya duduk diruang tamu ditemani oleh Revina sang ibu, sedangkan ayahnya lembur di kantor.
"Anak mamah cantik banget sih, tumben dandanannya kaya gini..."goda Revina.
"Mamah jangan gitu dong, aku kan malu..."pipi Elisya merona seketika.
"Non, nyonya, ada teman non Elisya didepan..."ucap bi Ina memberitahu.
"Suruh masuk aja bi..."jawab Revina.
"Baik nyonya..."jawab bi Ina lalu mempersiapkan Vano masuk.
Vano masuk dan mencium punggung tangan Revina, walaupun Vano terkenal angkuh tapi dia tetap sopan pada orang yang lebih tua darinya.
"Hallo tante..."sapa Sam.
Revina hanya tersenyum.
Deg
Vano seketika terpana melihat kecantikan Elisya, lalu dengan cepat ia menghilangkan kegugupannya.
"Sya..."panggil Vano.
"Berangkat sekarang ka?..."tanya Elisya malu-malu.
Revina yang melihat ekspresi putrinya kini paham dengan semua itu.
"Ini yang namanya Vano, sebelumnya tante mau ngucapin terimakasih karena kamu udah bantu putri saya, dia udah banyak cerita tentang kamu..."ucap Revina.
"Sama-sama tante, saya boleh minjem anaknya tante..."izin Vano sopan.
Revina terkekeh melihat kegugupan Vano.
"Jagain anak tante ya, pulangnya jangan terlalu malam..."pesan Revina.
Vano mengangguk tanda mengerti. Mereka berdua pun pamit menuju mobil.
Vano dengan cepat membukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
Mereka pun sedang dalam perjalanan menuju rumah Vano.
"Kamu cantik..."puji Vano.
"Kaka, Elisya jadi malu..."jujur Elisya.
Vano hanya tertawa kecil melihat kelakuan Elisya.
"Kita jalan kemana kak?..."tanya Elisya memberanikan diri.
"Kita mau barbequean dirumah kaka..."jawab Vano spontan.
Elisya kaget
"Kak kalau nanti dimarahin mama kaka gimana, Elisya takut..."ucap Elisya memanyunkan bibirnya.
Vano terkekeh
"Mama kaka yang ngajak kamu, jangan memanyunkan bibirmu, kamu menggoda kaka Sya..."
Elisya langsung menatap kesal ke arah Vano.
Tanpa terasa mobil Vano sudah terparkir depan gerbang rumah Vano.
Vano membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Elisya turun.
Setelah Elisya turun Vano menggandeng tangan Elisya erat. Menuntun Elisya menuju halaman rumahnya dan sudah ada karpet diatas halaman itu dan semua bahan sudah disiapkan.
Elisya duduk dan tersenyum
"Kaka udah nyiapin semuanya..."tanya Elisya.
"Mama yang nyiapin..."ucap Vano.
"Yee ngerepotin mama kaka kan jadinya..."Elisya cemberut.
Merasa gemas Vano mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Elisya.
Elisya hanya diam saat Vano mendekatkan wajahnya.
Seakan terbawa suasana wajah mereka semakin berdekatan.
"Ekhemm..."terdengar suara deheman dari arah belakang.
Vano langsung membenarkan posisi duduknya kembali semula, sedangkan Elisya terlihat salah tingkah.
"Mamahhhh..."ucap Vano kesal.
Yunita tertawa melihat ekspresi kesal putranya itu.
"Mau ngapain sih kalian..."tanya Yunita pura-pura tidak tahu.
"Ngga ngapa-ngapain kok tante..."jawab Elisya sungkan.
"Aduh ini ternyata adik kelas Vano, cantik banget sih kamu, pantesan si Vano luluh..."puji Yunita sambil memeluk Elisya.
"Makasih tante, tante juga cantik ko..."jawab Elisya.
"Sini duduk sayang, kita barbequean..."ajak Yunita tanpa menghiraukan keberadaan Vano.
"Mamah kan yang ngajak Elisya itu Vano, kenapa Vano yang dicuekin sih..."ucap Vano kesal.
Yunita dan Elisya bertatapan sesaat lalu tertawa kecil.
"Putra tante kalau lagi cemburu ya gitu..."ucap Yunita.
"Gak papa tante, putra tante baik kok..."puji Elisya.
Vano menyunggingkan senyumnya mendengar pujian Elisya.
"Cewe pertama yang bilang kamu baik nih Van..."ejek Yunita.
"Mama suka banget ngata-ngatain Vano..."jawab Vano kesal.
"Mah Vano mau ke dapur bentar ambil minuman..."pamit Vano.
Yunita hanya mengangguk saja.
"Sayang kamu tante tinggal sebentar ya, tante mau ke toilet dulu..."pamit Yunita.
Hanya tinggal Elisya sendiri, Elisya mulai menyalakan apinya, Elisya memang kaya, tapi dia cukup pandai dalam hal memasak. Ia menyalakan api dengan sangat telaten.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gelang berlian yang sangat berkilau diatas rerumputan.
Elisya banyak mempunyai itu dirumahnya, jadi tentu ia tau harga gelang itu bisa mencapai milyaran rupiah.
Elisya dengan cepat mengambilnya dan menyimpannya di tasnya.
Lalu Vano datang membawakan minuman.
__ADS_1
"Ini Sya minum dulu..."ucap Vano.
"Terimakasih kak..."jawab Elisya lalu meminumnya.