
Elisya kaget bukan main melihat Lisa kehilangan kesadaran nya. Tubuh Lisa mulai melemah dengan mata yang menutup rapat. Elisya menggerakkan tubuhnya Lisa namun tak ada hasil apapun.
"Lis bangun, lo denger gue kan. Bangun Lisa..."lirih Elisya sambil terus menggerakkan tubuh Lisa.
Masih tak ada respon apapun dari Lisa. Elisya yang panik langsung berteriak kencang. "KAK SAM, TOLONGIN ELISYA..."teriaknya nyaring.
Sam yang tengah duduk disofa kaget sekaligus panik saat mendengar Elisya berteriak sekencang itu. Dengan pikiran kalang kabut ia berlari menuju kamar Lisa.
"Ada apa Sya, kamu kenapa?..."tanya Sam khawatir.
"Ka bantu angkat Lisa, tolong bawa dia ke rumah sakit sekarang. Dia pingsan kak! Ayo cepat..."desak Elisya sambil terus menangisi sahabatnya.
Sam nampak kaget melihat kondisi kamar Lisa yang begitu mengenaskan. Dan apa tadi, Lisa pingsan? Rasa penasaran nya pada gadis itu semakin menjadi-jadi. Ia sangat ingin mengetahui segala hal tentang Lisa.
Dengan sigap Sam mendekat dan membopong tubuh Lisa yang terkulai lemas tak berdaya. Ia berjalan cepat menuju ke mobil. Diikuti oleh Elisya di belakangnya.
"Ada apa Sya..."tanya sang nenek.
Elisya yang tak ingin membuat sang nenek khawatir terpaksa berbohong, "Ngga ada apa-apa nek, Elisya pengen ngajak Lisa keluar aja. Biar Lisa gak sedih terus..."ucap Elisya selembut mungkin.
Sang nenek tersenyum lalu membiarkan Elisya yang pergi dengan terburu-buru. Ia dengan cepat menaiki mobil Sam. Sam menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Untung saja jarak rumah Lisa dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Jadi mereka bisa membawa Lisa dengan cepat.
Sam berlari sambil membawa tubuh Lisa masuk kerumah sakit. Hingga seorang suster datang membawakan brankar untuk membaringkan tubuh Lisa.
"Lakukan yang terbaik suster..."ucap Sam lantang.
"Kalian tunggu disini, kami akan melakukan yang terbaik..."ucap sang suster lalu mendorong brankar itu masuk ke ruang UGD.
Elisya tak henti-hentinya menangis, Sam memeluk tubuh gadis yang terlihat sangat rapuh disampingnya ini. Elisya tak menolak sedikitpun. Ia tak munafik, ia sangat membutuhkan pelukan sekarang.
"Tenang Sya, gak akan ada apa-apa. Lisa akan baik-baik aja Sya. Percaya sama kaka..."ucap Sam berusaha menenangkan.
Elisya tersenyum getir, Vano yang seharusnya ada disini, memeluk dan menenangkan sekarang. Namun kenyataannya tidak. Entah apa yang dilakukan Vano sekarang. Elisya bahkan harus membuang jauh-jauh harapan nya itu.
Elisya semakin terisak dipelukan Sam, bahkan baju Sam sudah sedikit basah sekarang. Namun Sam tak mempermasalahkan hal itu.
__ADS_1
"Elisya takut kak, hiks Elisya takut Lisa kenapa-kenapa..."lirih Elisya ditengah isakannya.
Sam menuntun Elisya duduk dikursi depan UGD. Sambil terus menenangkan gadis itu. Sam menghembuskan nafasnya lega saat keadaan Elisya sudah sedikit lebih tenang.
Hari sudah semakin sore, sedangkan Sam dan Elisya masih mengenakan baju sekolah sekarang.
Pintu UGD terbuka menampilkan seorang dokter yang keluar dari pintu itu.
Elisya langsung menyusul dokter itu, "Gimana keadaan sahabat saya dok?..."desak Elisya.
"Anda bisa ikut keruangan saya sebentar?..."tanya dokter itu. Elisya mengangguk cepat lalu mengikuti langkah dokter itu. Begitu juga dengan Sam yang tetap berada disamping gadis itu.
Elisya dan Sam masuk keruangan yang serba putih itu. Kemudian duduk dikursi berhadapan dengan sang dokter.
"Sebenarnya tidak ada penyakit yang serius dengan teman anda, hanya saja saya sangat mengkhawatirkan keadaan psikisnya. Ada beberapa luka sayatan dibagian lengan dan kaki pasien. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam sehingga tidak berpengaruh buruk bagi keselamatan nya. Saya rasa psikisnya sedikit terganggu, ia bahkan melukai dirinya seperti tadi. Saya khawatir jika ini dibiarkan pasien akan melakukan hal-hal diluar dugaan..."jelas sang dokter panjang lebar.
"Lalu apa yang harus kami lakukan dok?..."tanya Elisya cepat.
"Saya sarankan untuk berkonsultasi dengan dokter psikologi, dan juga jangan tinggalkan pasien seorang diri tanpa pengawasan. Itu sangat berbahaya. Saya hanya takut pasien berbuat nekat. Untuk sekarang pasien baik-baik saja dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sebentar lagi mungkin akan sadar..."jelas sang dokter lagi.
Sam masih berperang dengan isi kepalanya, rasa penasaran menyeruak dalam pikirannya. Ada apa dengan Lisa? Dokter bilang psikisnya terganggu? Apa trauma yang ia alami? Kenapa sampai melukai dirinya sendiri? Apa yang membuatnya merasakan ketakutan yang berlebihan? Semua pertanyaan itu muncul di otak Sam. Sam mengusap kasar kepalanya yang terasa pusing memikirkan semua kejadian itu.
Sam mengelus puncak kepala Elisya, "Kamu pulang dulu Sya, ganti baju. Kamu juga perlu istirahat. Biar aku yang jaga Lisa disini..."pinta Sam.
Elisya menggeleng cepat, "Nggak kak, Lisa bakalan takut kalau liat cowok. Cuman aku yang bisa nenangin dia sekarang kak. Aku baik-baik aja. Percaya sama aku kak..."Elisya berusaha meyakinkan Sam.
"Oke aku ngerti, gini aja sekarang kamu masuk keruangan Lisa. Jaga dia! Kaka akan pulang sebentar terus kerumah kamu buat kasih kabar ke orang tua kamu, takutnya mereka khawatir, sekalian ngambil baju buat kamu. Kaka juga mau sekalian beli makanan buat kamu..."putus Sam.
Elisya tersenyum lalu menghambur pelukan pada Sam, dengan senang hati Sam membalas pelukan Elisya. "Makasih ya Kak, selalu ada buat Elisya, Elisya sayang banget sama kak Sam..."lirih Elisya.
Sam tersenyum getir, ia tahu betul kata sayang yang dimaksud oleh Elisya adalah rasa sayang sebagai kakak adik. Sam tak mempermasalahkan itu. Disayangi oleh Elisya saja sudah membuatnya senang.
"Ia kaka juga sayang sama kamu, udah sana masuk..."suruh Sam.
Elisya melerai pelukannya lalu berjalan memasuki ruang rawat Lisa. Beriringan dengan kepergian Sam.
Elisya melangkahkan kakinya pelan memasuki ruangan Lisa. Ia meraih sebuah kursi dan duduk tepat disamping Lisa. Ia menggenggam erat tangan sahabatnya itu.
__ADS_1
Lisa terlihat sangat tenang dalam tidurnya, Elisya menatap nanar tangan Lisa yang penuh dengan perban. Tanpa terasa air matanya mengalir.
"Gue gagal jagain lo Lis, kenapa lo bisa lukain diri lo lagi? Ada apa sama lo Lis, kenapa trauma lo bisa kambuh lagi?bangun Lisa. Gue mohon..."ucap Elisya yang mulai terisak disamping Lisa.
Cukup lama Elisya menangis, rasanya tubuhnya sangat lelah sekarang. Rasa kantuk pun menyerangnya hingga ia tertidur dalam keadaan duduk dan kepala yang bersandar dibrankar dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Lisa.
Perlahan Lisa mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, tatapannya menyapu sekeliling ruangan yang nampak berwarna putih. Tatapannya terhenti pada sosok Elisya yang tengah tertidur sambil menggenggam tangannya.
Ada sebuah senyuman dibibir Lisa, ia mengangkat tangannya dengan sisa tenaganya untuk mengelus kepala Elisya. Elisya yang merasa ada pergerakan dengan sahabatnya itu terbangun dari tidurnya.
Matanya berbinar-binar melihat Lisa yang sudah sadar sekarang. Ia langsung bangkit dan memeluk tubuh Lisa.
"Lo bikin gue takut, jangan kaya gini lagi. Gue takut lo kenapa-napa..."ucap Elisya.
Lisa tersenyum sambil menepuk pelan punggung Elisya.
"Maafin gue ya Sya, gue udah jahat banget sama lo. Padahal lo selalu baik sama gue. Lo boleh kok benci sama gue, lo cukup tau kalau gue itu sayang banget sama lo..."ucap Lisa tulus.
Tangis Elisya pecah seketika, "Gue udah maafin lo. Gue juga sayang sama lo. Tetap jadi sahabat gue Lis, gue akan terus jagain lo..."
Lisa terharu dengan ketulusan Elisya. Ia tersenyum senang. Elisya melerai pelukannya.
"Sekarang jelasin ke gue kenapa lo gini lagi Lis? Bukannya trauma lo udah lama sembuh kan?..."tanya Elisya.
Lisa menghela nafasnya pelan, ada rasa takut yang menyeruak dalam dirinya.
"Beberapa hari yang lalu, gue dapat paket didepan rumah. Karena gue gak tau itu dari siapa ya gue buka aja. Ternyata disana ada pisau yang penuh dengan darah Sya, dengan note kecil disampingnya. Ada tulisan "Gue sudah kembali" -R-..."jelas Lisa. Tubuhnya gemetar sekarang. Menyebutkan inisialnya saja membuatnya teramat takut.
Elisya mengerti sekarang. "Menurut lo apa dia udah bebas sekarang?..."tanya Elisya.
"Gue takut Sya..."lirih Lisa dengan air mata yang mengalir dipipinya.
"Gue akan jagain lo Lis, tenang ya. Jangan takut. Mulai sekarang gue gak akan biarin lo sendiri lagi. Gue akan selalu ada buat lo. Gue akan selidikin soal ini. Ada yang gak beres..."ucap Elisya.
Lisa tersenyum haru, ia sangat bahagia memiliki sahabat sebaik Elisya. Ia sangat menyesal karena telah mengikuti egonya selama ini. Rasa bersalahnya teramat besar pada Elisya. Elisya bahkan sangat baik padanya. Ia tak tau lagi apa yang terjadi pada hidupnya jika tak ada Elisya disampingnya.
Dulu mereka memang sempat terpisah sekolah, tapi percayalah Elisya tak pernah lalai menjaga Lisa. Ia mengarahkan banyak bodyguard untuk menjaga Lisa dan neneknya. Itulah yang membuat keamanan Lisa terjamin. Entah ada masalah baru apa lagi sekarang? Apa benar ia sudah bebas?
__ADS_1