Elisya

Elisya
120


__ADS_3

Diruang tamu Elisya nampak cemas. Karena sampai detik ini Dicky masih belum pulang juga. Ia bahkan sudah puluhan kali menghubungi Dicky namun nihil, nomor pria itu tidak aktif.


Rasanya Elisya ingin menangis saja. Ia sangat mengkhawatirkan Dicky sekarang.


Arvie mendekat kearah Elisya. Mengelus pelan kepala adiknya itu.


"Bentar lagi juga pulang tuh anak..."ucap Arvie.


"Iya bener Sya, lo jangan panik gini dong. Gue yakin Dicky baik-baik aja..."sahut David ikut menenangkan.


Farhan juga ikut mendekat.


"Tapi Dicky gak biasanya gini sih, tuh anak gak pernah gini. Hilang tanpa kabar..."ucap Farhan mengingat-ingat.


Tangis Elisya pecah seketika.


"Hiks hiks, bang Iky kemana bang. Elisya takut..."lirih Elisya pelan ditengah tangisannya.


"Sya jangan nangis gini dong, oke kalau bentar lagi Dicky gak pulang. Gue sama Farhan akan nyari dia..."putus David.


"Ia Sya, lo tenang aja. Ada kita semua disini..."ucap Farhan.


Brum...


Suara motor terdengar dihalaman Elisya. Sudah bisa dipastikan jika itu Dicky.


"Nah itu pasti Dicky..."tebak David.


Benar saja Dicky muncul dari balik pintu. Dengan mata yang sayu, pakaian yang sedikit kotor, dan tangan yang berdarah.


"Dari mana lo Ky, Elisya khawatir banget sama lo..."protes Farhan tak terima.


Dicky menatap malas kearah semua orang.


"Nyari angin..."jawabnya tak minat.


Elisya dengan cepat mengusap air matanya. Ia sangat senang Dicky sudah pulang sekarang. Ia berjalan mendekati Dicky berniat memegang datang Dicky yang berdarah.


Baru saja Elisya ingin meraih tangan Dicky, Dicky sudah menepis pelan tangan Elisya. Seolah tak mau tangannya dipegang oleh Elisya.


Tubuh Elisya membeku seketika. Ini pertama kalinya Dicky tak mau disentuh olehnya.


"B-bang, ayo makan. Nanti Elisya obatin luka nya..."lirih Elisya pelan. Terlihat jelas jika gadis itu ketakutan.


Dicky menatap jengah kearah Elisya lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Gue gak laper..."jawab Dicky datar.


Elisya meringis tatkala hatinya rasanya sesak mendengar penuturan Dicky. Ada apa dengan pria ini? Kenapa pria ini terkesan sedang menghindarinya sekarang.

__ADS_1


Farhan mulai tersulut emosi. Ia mendorong kasar bahu Dicky.


"Lo apa-apaan sih Ky, dia nangis dari tadi karena khawatir sama lo. Dia puluhan kali nelpon lo dan gak lo angkat. Dan sekarang ini balasan lo buat Elisya. Brengsek lo Ky..."bentak Farhan.


"Lo kenapa sih Ky, biasanya lo gak pernah gini sama Elisya..."tanya Arvie masih tenang.


"Kalian gak tau apapun, jangan ganggu gue. Gue mau Istirahat..."bentak Dicky lalu berjalan meninggalkan semuanya yang masih berdiri didepan pintu.


"Ky dengerin gue..."teriak Farhan namun sama sekali tak digubris oleh Dicky. Ia langsung berjalan memasuki kamar nya tanpa memperdulikan siapapun.


Seketika tangis Elisya kembali pecah.


"Bang hiks Elisya salah apa sama bang Iky? Kenapa bang Iky hindarin Elisya? Hiks hiks bang Iky gak mau dipegang sama Elisya bang..."Elisya menangis sesenggukan sambil mengadu pada Arvie.


Arvie memeluk adiknya, menepuk-nepuk pelan punggung Elisya.


"Udah gak papa, besok gue bicara sama Iky. Dia lagi banyak pikiran aja. Besok juga pasti baik-baik aja kok. Lo tenang ya. Lo Istirahat sekarang..."perintah Arvie.


Elisya berjalan pelan menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia benar-benar takut Dicky menjauhinya seperti sekarang.


"Gue rasa ada yang aneh sama Dicky Vie, tuh anak gak pernah gitu sama Elisya. Lo juga tau kan sesayang apa Dicky sama Elisya. Gue sampai kaget tadi pas dia cuekin Elisya..."protes Farhan.


"Kita bicarain ini besok pagi. Sekarang semuanya Istirahat dulu..."perintah Arvie yang langsung dituruti semuanya.


🕓🕓🕓


Elisya bangun lebih pagi hari ini. Bahkan ia hampir tak bisa tidur semalaman karena memikirkan Dicky.


Arvie perlahan keluar dari kamarnya. Dengan kaos oblong dan celana pendek sehabis mandi. Rambutnya nampak acak-acakan semakin membuatnya kehilangan sangat tampan.


Arvie duduk dimeja makan. Bersamaan dengan David dan Farhan yang tiba-tiba keluar dari kamar dan ikut duduk juga.


"Wihh masak apa nih Sya, wangi banget..."puji Farhan.


Elisya tersenyum senang.


"Ini bang Elisya buat nasi goreng spesial buat bang Iky, buat kalian juga..."jawab Elisya.


"Rajin banget adik gue..."puji Arvie.


"Gue yakin Dicky cuman lagi ada masalah doang kok Sya. Jangan pikiran ya..."lirih David.


Elisya mengangguk seraya mulai menyajikan beberapa piring nasi goreng.


Ceklek


Pintu kamar Dicky terbuka. Bersamaan dengan Dicky yang keluar menggunakan pakaian yang ia pakai saat olahraga biasanya.


Semua orang menatap Dicky bingung, tak biasanya ia olahraga sepagi ini.

__ADS_1


"Bang Iky, sini makan dulu. Elisya bikinin nasi goreng spesial buat bang Iky..."ucap Elisya begitu antusias.


Dicky hanya menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan tawaran Elisya sama sekali.


Senyum yang sedari tadi terbit dibibir Elisya kini perlahan pudar.


"Ky lo kenapa sih, Elisya rela bangun pagi banget buatin ini buat lo..."kesal Farhan tak terima.


Namun Dicky seolah menulikan pendengaran nya.


"Wah gila tuh anak..."protes David.


"Bang Elisya salah apa sih..."lirih Elisya dengan suara bergetar menahan tangis.


Tangannya bahkan sedikit terluka saat memotong sayuran. Namun ia sama sekali tak peduli. Ia berusaha membuatkan nasi goreng spesial untuk Dicky. Jangankan mencicipi nya. Dicky bahkan tak memperdulikan tawarannya.


"Lo makan dulu Sya. Biar gue yang ngomong sama tuh anak..."ucap Arvie lalu beranjak menyusul Dicky keruang olahraga.


🕓🕓🕓


Tanpa makan malam dan tanpa sarapan, Dicky kini tengah memukul samsak tanpa memperdulikan rasa sakit ditangannya.


Keringat sudah bercucuran memenuhi tubuhnya, namun ia sama sekali tak berhenti memukul samsak itu tanpa henti.


Semakin lama pukulan Dicky semakin menggila. Ia tak memikirkan keadaan nya lagi. Sampai tiba-tiba Arvie menahannya.


"Stop Ky, stop. Lo gila ya. Sejak kapan lo jadi emosian gini. Lo ada masalah apa sih hah? Cerita sama gue Ky..."bentak Arvie.


Dicky terdiam. Ia menetralkan nafasnya yang terengah-engah.


"Kenapa hah? Lo lagi emosi? Pukul gue Ky. Ayo pukul gue sampai lo puas. Lo gila tau gak, lo gak makan dari tadi malam Ky. Dan sekarang lo mau apain tubuh lo ini. Lo paksa mati-matian..."bentak Arvie emosi.


"Terus gue harus apa Vie, HARUS APAAA..."teriak Dicky emosi.


"Lo kenapa Ky, cerika ke gue. Lo keterlaluan sama adik gue..."tegas Arvie seraya mendorong tubuh Dicky kasar.


"Terus gue harus apa? Gue khawatir setengah mati sama Elisya, dia pergi gak izin dan gak bilang ke siapa-siapa. Gue cari dia kemana-mana Vie. Gue panik karena gak nemuin dia. Sedangkan orang yang gue khawatirin lagi pelukan sama mantan kekasihnya. Gimana perasaan lo kalau lo diposisi gue bego. Elisya ketemu Vano kemarin, apa lo tau?..."bentak Dicky emosi.


Arvie terpaku ditempatnya. Ia kaget bukan main saat mendengar penjelasan Dicky.


"Elisya ketemu Vano, Sial gue gak bisa biarin ini..."ucap Arvie tak terima.


"LO SEMUA CUMAN BISA NYALAHIN GUE TANPA TAU APA YANG TERJADI KE GUE..."


"GUE UDAH BERUSAHA JADI YANG TERBAIK BUAT ADIK LO. GUE SELALU JAGAIN DIA, SELALU ADA BUAT DIA. LO LIAT SEKARANG. APA BALASAN ADIK LO KE GUE VIE. GUE JUGA UDAH BELI CINCIN, BUAT LAMAR ADIK LO. SEKARANG LO LIAT GIMANA PERLAKUAN ELISYA KE GUE..."teriak Dicky terengah-engah.


"Maafin gue Ky. Gue yang akan nyelesaiin masalah ini. Gue akan ngomong sama Elisya soal ini..."putus Arvie.


Arvie dengan cepat berniat menyusul Elisya. Namun langkahnya terhenti saat Dicky kembali berbicara.

__ADS_1


"Gak perlu, gue mundur..."


__ADS_2