
Elisya duduk disofa, Vano berjalan lalu membaringkan tubuhnya diatas sofa dengan berbantalkan paha Elisya.
"Ka Vano ih, nanti mama liat..."ucap Elisya malu.
Vano terkekeh, "Biarin, paling dinikahin. Biar cepat jadi imam buat kamu..."ucap Vano seadanya.
"Ih jahil banget sih..."Elisya menepuk lengan Vano pelan.
Vano melirik tangan Elisya yang diperban rapi. Ia meraih tangan mungil itu lalu mengecupnya tepat di atas perban itu.
"Cepat sembuh cantiknya Vano, gak boleh sakit-sakit lagi. Lain kali hati-hati ya sayang..."ucapan Vano sukses membuat jantung Elisya seakan melayang-layang saat ini.
"Udah gak papa ka Vano,udah baikan kok..."jawab Elisya tersenyum. Ia meletakkan tangannya di atas kepala Vano lalu mengusap-usapnya pelan. Menunjukkan betapa ia sangat menyayangi sosok laki-laki yang menjadi kekasihnya ini.
"Capek banget..."rengek Vano.
Oh shit! Kenapa sangat menggemaskan? Vano yang manja seperti ini sangat menggemaskan menurut Elisya. Siapun tolong panggilkan ambulance! Jantung Elisya sepertinya bermasalah saat berdekatan dengan Vano.
Entah mendapat keberanian dari mana, Elisya menunduk lalu mengecup dahi Vano singkat.
"Capek kenapa?..."tanya Elisya.
Senyum Vano merekah, ia sangat suka dimanjakan oleh Elisya seperti sekarang ini.
"Tadi habis latihan basket, pulangnya langsung mandi sama ganti baju. langsung ke mall deh cari boneka buat kamu. Terus langsung kesini deh..."cerita Vano.
"Gemes banget sih pacar aku. Kasian deh kecapekan..."ucap Elisya gemas.
Vano mengecup tangan Elisya beberapa kali. Sangat nyaman, ia bahkan enggan untuk bangkit dari pangkuan Elisya. Rasa lelahnya seakan hilang saat menghirup aroma tubuh Elisya. Sangat menenangkan.
"Kamu wangi, aku suka..."ucapnya sambil memiringkan kepalanya. Ia menyembunyikan wajahnya diperut rata Elisya.
Elisya tak henti-hentinya mengelus kepala Vano.
"Geli ka Vano..."rengeknya.
"Boleh tidur bentar gak Sya, disini lebih nyaman dari pada batal. Aku suka..."ucap Vano.
Elisya tersenyum, "Tidur aja kak, nanti aku bangunin kalau mamah udah datang..."ucap Elisya.
Vano mulai memejamkan matanya. Elisya tersenyum menatap wajah Vano dipangkuan nya. Hingga nafas Vano mulai teratur menandakan Vano sudah larut dalam tidurnya.
Tiba-tiba Revina muncul dari arah dapur membawakan dua gelas minuman dan satu piring cemilan. Ia tersenyum kala melihat putrinya yang mengelus-elus kepala Vano yang tengah tertidur dipangkuan nya. Menunjukkan tatapan tulusnya. Revina bisa merasakan jika anaknya begitu menyayangi sosok Vano.
Revina berjalan pelan meletakkan nampan yang ia bawa diatas meja. Ia tersenyum ke arah Elisya.
"Eh mamah, jangan dibangunin dulu deh mah. Ka Vanonya kecapekan katanya. Biarin Istirahat sebentar ya mah..."ucap Elisya memohon.
"Iya sayang, kalau gitu mamah ke kamar dulu ya. Ngga mau ganggu kamu..."ledek Revina.
Elisya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum kikuk.
"Mamah apa an sih..."ucapnya gugup.
__ADS_1
Revina terkekeh melihat anaknya yang salah tingkah. Lalu berjalan pelan menuju kamarnya.
Elisya kembali menatap wajah Vano yang tertidur dengan damai dipangkuannya. Seolah itu tempat yang paling nyaman baginya. Sebuah ketenangan.
Sudah setengah jam lebih Vano tertidur pulas dipangkuan Elisya, tapi Elisya merasa tak enak hati untuk membangunkan nya. Walaupun ia merasa kakinya sudah terasa pegal. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Keinginan nya hanya agar lelah yang dirasakan Vano berkurang setelah ia bangun nanti.
Sudah hampir satu jam, akhirnya Vano menggeliat. Mulai mengerjap-ngerjapkan matanya setelah tidur pulasnya. Kenapa rasanya begitu nyaman? Akh ia tidur hingga selama itu. Melepas semua rasa lelah setelah kegiatannya selama seharian penuh.
"Pules banget tidurnya, udah bangun..."tanya Elisya.
Vano tersenyum senang. Bagaimana tidak? Saat bangun tidur ia sudah melihat senyuman manis dari kekasihnya itu.
Vano bangkit untuk duduk. Lalu memeluk tubuh Elisya dari samping. Sambil kepalanya ia letakkan dibahu Elisya.
Elisya tersenyum, ia tidak keberatan dengan hal itu. Meskipun tidak bisa dipungkiri kakinya terasa pegal sekarang. Elisya menyembunyikan hal itu. Seakan tidak masalah akan hal itu.
"Manja banget sih..."ucap Elisya terkekeh.
Vano mendongak menatap wajah cantik Elisya dari samping.
"Kenapa gak dibangunin, nanti kaki kamu pegel Sya..."
"Gak tega aku bangunin nya, Tidur ka Vano pules banget. Masih capek ya?..."tanya Elisya.
Vano menggeleng, "Udah gak capek lagi. Enak banget tiduran dipangkuan kamu. Rasa capeknya langsung hilang..."jujur Vano.
Elisya tertawa kecil, "Minum dulu kak, tadi mamah yang bikinin. Sama cemilannya juga..."
Vano meminum minuman itu dan memakan beberapa cemilan disana.
Vano melirik jam tangannya sudah menunjukkan hampir jam 22.00 malam. Oh shit! Ia tertidur selama hampir satu jam. Padahal perasaannya hanya tidur sebentar saja. Entah kenapa rasanya sangat nyaman.
"Pasti kaki kamu sakit ya, soalnya aku tiduran nya lama banget..."tanya Vano khawatir.
Elisya menggeleng pelan, "Ngga sakit kok. Elisya gak papa..."jelas saja Elisya berbohong akan hal ini.
"Aaaa..."Vano menyodorkan cemilan kemulut Elisya. Dengan senang hati Elisya menerima suapan Vano.
"Padahal masih pengen disini, tapi udah malam banget. Gak enak sama mama papa kamu Sya..."rengek Vano sambil terus mencium tangan Elisya. Entah mengapa wangi tubuh gadis itu seolah menjadi candu bagi Vano.
"Masih ada hari besok kak. Kaka pulang dulu. Terus istirahat deh biar gak capek lagi..."saran Elisya.
"Pengen tidur sama kamu aja. Lebih enak..."goda Vano.
Elisya menepuk pelan lengan Vano. "Gak bisa lah. Dimarahin mama nanti..."
"Heheh bercanda kok, yaudah aku pulang dulu deh. Gak enak udah malam banget soalnya. Mamah kamu mana, aku mau pamit nih..."ucap Vano.
"Bentar aku panggil dulu..."jawab Elisya.
"Mamah sini deh, ka Vano mau pulang..."teriak Elisya.
"Bentar sayang..."jawab Revina dari dalam kamar. Ia berjalan keluar kamar menghampiri putrinya.
__ADS_1
"Udah mau pulang ya Vano?..."tanya Revina ramah.
Vano tersenyum lalu mengangguk, "Ia tante, udah malam banget soalnya. Vano pamit dulu..."ucap Vano lalu mencium punggung tangan Revina.
"Hati-hati dijalan ya Vano, sering-sering main kesini..."ucap Revina.
"Baik tante, kalau ada waktu Vano main kesini lagi..."jawab Vano sopan.
Elisya pun ikut berdiri. "Mamah istirahat duluan aja. Elisya mau antar ka Vano kedepan..."
"Yasudah, mama ke kamar lagi ya..."ucap Revina.
"Ayo kak, Elisya antar..."Vano menurut saja saat Elisya memegang tangannya dan menuntunnya berjalan menuju pintu keluar.
Sampailah mereka berdua disamping mobil Vano yang tengah terparkir didepan rumah Elisya.
"Ka Vano hati-hati ya dijalan, kalau udah sampai rumah kabarin Elisya..."pesan Elisya.
Bukannya memasuki mobil Vano malah berdiri menghadap Elisya. Sambil bersandar disamping mobilnya. Ia tiba-tiba merengkuh pinggang Elisya. Menariknya kedalam pelukannya. Elisya dengan senang hati membalas pelukan itu. Jujur saja! Elisya juga masih merindukan Vano.
Vano melerai pelukannya.
"Gak jadi pulang deh, masih kangen..."rengek Vano manja.
Elisya tertawa kecil, "Udah pulang dulu, nanti ketemu lagi..."
"Yaudah tapi ini dulu..."kode Vano sambil menepuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Tentu saja Elisya mengerti apa yang dimaksud oleh Vano. Elisya berjingkit mengecup bibir Vano singkat.
Vano tersenyum, "Singkat banget sih, aku belum siap loh tadi..."goda Vano.
Elisya menunduk menahan malu, pipinya sudah memerah saat ini. Huft! Kenapa menggemaskan sekali.
Vano mengangkat dagu Elisya kemudian sedikit menunduk. Ia meraih bibir mungil Elisya. Lagi dan ******* lembut bibir Elisya. Mengabsen seluruh rongga mulut Elisya. Elisya masih saja sangat kaku, ia masih kaget karena serangan tiba-tiba dari Vano.
Merasa kehabisan nafas Vano melepas pagutan nya.
"Manis..."ucap Vano sambil mengusap sudut bibir Elisya yang basah karena salivanya.
"Elisya malu tau..."percayalah Elisya benar-benar sangat malu saat ini.
"Kayanya harus sering-sering deh, biar gak malu lagi..."goda Vano.
Elisya mendengus kesal, "Udah buruan pulang, nanti mamah liat loh..."ucapnya.
Vano terkekeh, "Kaka pulang dulu ya cantik, good night my mine..."Vano mengecup pipi Elisya singkat.
Arghh sial! Jantung Elisya benar-benar bermasalah. Perlakuan Vano seperti ini membuat jantung nya seakan melayang-layang didalam sana. Apalagi saat mendengar perkataan terakhir Vano yang memanggilnya dengan sebutan "My Mine", sangat mengesankan bukan?
"Good night too gantengnya aku..."jawab Elisya.
Vano terkekeh pelan, ia mengacak rambut Elisya pelan lalu berjalan memasuki mobil. Ia melambaikan tangannya kearah Elisya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Elisya.
__ADS_1
Elisya menetralkan nafasnya, Shit! Yang diacak rambutnya yang berantakan hatinya. Sangat tidak masuk akal bukan? Anggap saja ia sudah gila dengan semua ke bucinan ini.
Saat mobil Vano sudah tak terlihat lagi, Elisya pun masuk kembali kerumah dan berjalan menuju kamarnya untuk istirahat.