
Sesampainya dikamar Elisya terlihat sangat bahagia, hal yang ia sendiri tak berani membayangkan nya tapi sudah menjadi kenyataan sekarang.
"Astaga gue beneran jadian sama kak Vano, aaaaaa..."teriak Elisya kegirangan.
Tiba-tiba kringg...telepon disamping Elisya berbunyi tertera nama Vano disana. Elisya yang kaget dengan sigap mengambil ponsel itu.
Calling Vano dan Elisya
📞 : Sayang, besok berangkat bareng aku ya, nanti aku jemput.
📞 : I-ya kak.
📞 : Yaudah kamu istirahat deh, Good night sayang.
📞 : Too
Panggilan berakhir.
Elisya memegang dadanya. Detak jantungnya benar-benar tidak normal. Pipinya memerah mendengar panggilan sayang dari Vano. Ia menelungkup kan wajahnya ke bantal saking malunya. Dengan perasaan berbunga-bunga Elisya terlelap dalam tidurnya.
🕓🕓🕓
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Elisya kali ini sudah siap dengan seragam sekolah lengkap dan duduk kemeja makan bersama kedua orangtuanya.
"Tumben nih pagi banget udah siap aja..."goda Revina.
"Ihh mamah anaknya bangun pagi ko dibilang tumben sih..."rengek Elisya.
"Bilang aja gak sabar pengen ketemu si itu..."goda Revina lagi.
"Mama ihh Elisya malu tau..."Elisya menutup wajahnya dan kedua telapak tangannya.
"Wah kayanya papa ketinggalan berita nih..."ujar Ferly sang ayah.
"Ini loh pah, putri semata wayang kamu ini sekarang udah punya pacar, ganteng loh pah..."ledek Revina.
"Wah laki-laki beruntung mana yang bisa dapetin anak papah nih..."goda Ferly.
"Udah dong mah pah, Elisya malu tau nggak..."pipi Elisya merah merona.
"Tuan, nyonya ini ada temennya non Elisya katanya..."ujar bi Ina.
"Suruh masuk aja bi..."sahut Revina.
Vano pun melangkah kakinya menuju ruang makan itu.
Ia mencium tangan kedua orang tua Elisya.
__ADS_1
"Halo om tante, saya Vano pacarnya Elisya..."jujur Vano.
Elisya benar-benar dibuat malu kali ini.
Ferly dan Revina tertawa meledek Elisya.
"Pantesan Elisya mau mah, orang ganteng banget gini..."puji Ferly.
"Anaknya juga baik kata Elisya pah..."sambung Revina.
"Mah pah cukup dong mah..."lirih Elisya pelan.
"Vano jagain anak om ya, jangan disakitin. Om percaya kan sama kamu..."ucap Ferly.
Vano tersenyum lebar,
"Siap om..."jawab Vano penuh semangat.
"Udah dapet lampu hijau kamu dari calon mertua nih Van, jangan kecewakan Elisya ya..."pesan Revina juga.
"Siap tante, saya akan jaga Elisya. Saya sayang banget sama Elisya om tante..."jujur Vano membuat kedua orang tua Elisya tertawa.
"Ka Elisya udah selesai nih, ayo berangkat sekarang..."ucap Elisya dibalas anggukan oleh Vano.
"Mah pah, Elisya berangkat dulu..."pamit Elisya.
"Hati-hati ya kalian..."pesan Revina.
"Jagain anak om..."sambung Ferly.
"Siap om gak usah khawatir, yuk Sya..."ucap Vano lalu menggenggam tangan Elisya dan menuntunnya menuju halaman.
Vano membuka kan pintu mobil untuk Elisya masuk.
Elisya dengan senang hati masuk kedalam mobil Vano, lalu disusul oleh Vano.
Vano menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, tanpa terasa mereka sudah sampai diparkiran sekolah.
"Sya kamu mau kaka antar ke kelas ngga?..."
"Ngga usah deh ka, Elisya bisa sendiri ko. Makasih ya kak udah di anterin..."ucap Elisya.
"Makasih doang nih, gak ada yang lain gitu..."goda Vano sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.
Elisya yang paham maksud dari Vano pun nampak cemberut,
"Ka Vano gak ikhlas ya nganterin aku..."
__ADS_1
Vano tertawa melihat wajah gemas Elisya,
"Becanda ko, udah sana buruan masuk..."jawab Vano sambil mengacak-acak rambut Elisya.
"Dah ka..."ucap Elisya.
Cup...
Elisya mencium pipi Vano sekilas lalu dengan cepat keluar dari mobil Vano dan berlari kecil menuju kelasnya.
Berbeda halnya dengan Vano yang terkejut bukan main, Vano tersenyum sambil mengelus pipinya yang baru saja dicium Elisya.
"Gadis nakal..."gumam Vano lalu meninggalkan mobilnya.
Senyum dibibir Elisya tak pernah luntur dari tadi pagi, hatinya terasa berbunga-bunga.
Sesampainya Elisya dikelas, ia terlihat bingung. Lisa tidak ada disamping tempat duduknya.
Ya, gadis itu pindah ke bangku paling belakang.
"Lis ko lo pindah kebelakang sih..."tanya Elisya heran.
"Terserah gue lah, suka-suka gue dong..."jawab Lisa sewot.
"Lo kenapa jadi gini sih, gue salah apa sih sama lo..."
Lisa berdiri lalu mendorong bahu Elisya,
"Gue gak munafik ya Sya, dari awal juga lo tau gue suka sama ka Vano, terus maksud lo jadian sama ka Vano apa..."bentak Lisa.
Elisya terkejut
"Bukannya kemarin lo bilang kalau lo gak masalah ya kalau gue dekat sama ka Vano, sekarang kenapa lo jadi gini sih..."
"Gue emang gak masalah lo dekat sama ka Vano, tapi gak sampai jadian juga. Lo tuh egois tau nggak, lo teman gue bukan sih. Pernah gak lo mikirin perasaan gue hah, gue benci sama lo..."tegas Lisa.
"Kalau lo teman gue harusnya lo seneng dong liat gue bahagia, tapi ko sebaliknya..."
"Cih dasar murahan lo, kemarin sama kak Sam sekarang sama kak Vano, besok sama siapa lagi hah, lo tu murahan tau nggak..."bentak Lisa.
Elisya sudah tak dapat membendung air matanya lagi, hatinya terasa sangat sakit mendengar penuturan Lisa. Bahkan sahabat nya dari kecil pun menyembut nya murahan.
"Gue nggak nyangka sahabat gue dari kecil bahkan menghina gue se keji itu, lo kenal gue dari kecil Lisa, pernah gak lo mikir..."
"Alah emang bener kan, lo tuh murahan. Nyesel banget gue sahabatan sama orang kaya lo..."ucap Lisa lalu pergi meninggalkan Elisya.
Elisya berlari menuju toilet, ia menangis sejadi-jadinya didalam sama. Jika orang lain yang mengatakan itu mungkin tak akan sesakit ini. Tapi sekarang temannya sendiri yang mengatakan hal itu.
__ADS_1