
Sampailah di akhir pekan. Tidak ada yang berniat untuk pergi kemanapun. Semuanya tengah berkumpul di ruang tamu. David dengan Farhan yang sibuk bermain game online dengan penuh cemilan didekatnya.
Sedangkan Arvie nampak sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang sedang Arvie lakukan. Sedangkan Dicky sedang pokus membaca buku.
Elisya berdiri, menyentuh dagunya seolah sedang berpikir.
Siapa yang akan ia ganggu lebih dulu. Setelah lama berdiri menatap ke arah abang-abang nya itu. Elisya akhirnya berlari menuju ke arah cemilan Farhan.
Ia melompat didepan Farhan lalu memeluk beberapa bungkus snacks makanan didepannya.
Farhan tentu saja tak terima. Pria itu sudah repot-repot membeli banyak makanan untuknya. Elisya dengan senangnya mengambilnya sebagian.
"Kembaliin Sya..."tegur Farhan.
"Elisya pengen tau, dikit doang..."rengek Elisya.
Farhan menggeleng, "Dikit dari mananya sih Sya, hampir semuanya itu lo ambil..."protes Farhan.
"Kasih aja kali Far, kasian tuh Elisya pengen..."bela David.
"Tuh bang David aja belain Elisya..."rengek Elisya masih setia memeluk bungkus makanan-makanan itu.
"Gak ya, balikin cepetan..."ucap Farhan tak terima.
Elisya menghela nafasnya pelan lalu berteriak,
"Bang Arvie, Elisya gak dikasih snacks. Padahal Elisya pengen banget..."rengek Elisya memelas.
Arvie menoleh ke arah Elisya.
"Farhan, kasih semua buat adik gue..."ucap Arvie.
Farhan langsung kicep seketika.
"Dasar tukang adu, nih ambil semuanya. Seneng kan lo. Nanti gue beli lagi..."pasrah Farhan.
Sedangkan Elisya sudah melompat-lompat kegirangan.
"Makasih abang Farhan, sayang abang banyak-banyak..."ucap Elisya.
"Gemes banget sih lo..."ucap Farhan lalu mengacak rambut Elisya.
Keadaan Elisya benar-benar sudah membaik. Dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan menjaganya dengan sangat ketat.
Teman-teman Arvie juga sudah Elisya anggap seperti abangnya sendiri. Mereka benar-benar memanjakan Elisya. Elisya merasa diperlakukan seperti seorang ratu diantara mereka. Sungguh Elisya bahagia.
__ADS_1
Merasa puas mengganggu Farhan, Elisya berlari sambil membawa satu bungkus snacks makanan kearah Dicky yang sibuk membaca buku. Elisya duduk tepat disamping Dicky.
"Bang Iky..."lirih Elisya pelan.
"Jangan ganggu gue Esya..."keluh Dicky.
"Elisya tuh pengen cerita tau nggak..."ucapnya dengan wajah seperti anak kecil yang siap bercerita.
"Apa..."jawab Dicky singkat.
"Sebenarnya tuh Elisya pengen banget makan nasi goreng buatan bang Iky, tapi Elisya tuh pengen nya sekarang..."ucap Elisya sambil memakan snacks ditangannya.
"Gak ada..."jawab Dicky mengerti arah pembicaraan Elisya.
"Bang Arvie, Elisya pengen nasi gue buatan bang Iky, Elisya pengen..."rengeknya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Ky bikinin nasi goreng buat adik gue..."lirih Arvie pelan.
Dicky menghela nafasnya berat. Kemudian menutup bukunya. Ia berdiri dan dan memegang ujung baju Elisya dan menariknya ke arah dapur seperti menarik seorang anak kecil.
Sesampainya di dapur,
"Diam disini, jangan ganggu..."ucap Dicky lalu mulai sibuk mempersiapkan bahan untuk membuat nasi goreng.
Bukan Elisya namanya jika hanya duduk mengikuti ucapan Dicky. Elisya yang jahil selalu saja ingin mengganggu Dicky.
Dicky menghela nafas berat,
"Esya duduk disana..."perintah Dicky.
"Ga mau..."jawab Elisya cepat sambil memanyunkan bibirnya.
Dicky pasrah ia membiarkan Elisya menggangunya. Dicky hanya pokus melanjutkan ritual memasaknya.
Detik demi detik berlalu, sudah hampir 15 menit Dicky pokus memasak tanpa menghiraukan apa yang dilakukan Elisya.
Tentu saja itu membuat Elisya kesal. Elisya menusuk-nusuk lengan kekar Dicky dengan jari telunjuknya yang mungil, masih tak ada respon dari Dicky. Akhirnya Elisya melakukannya lagi.
Dicky menatap malas kearah Elisya.
"Apaaa..."jawabnya.
"Elisya kok dicuekin..."keluhnya.
"Makanya kalau dibilangin nurut..."jelas Dicky.
__ADS_1
"Elisya kan pengen bantuin..."ucap Elisya berusaha mengambil alih pekerjaan Dicky.
"Gak perlu, lo duduk disana Esya..."perintah Dicky lagi.
Hanya Dicky yang memanggil Elisya dengan sebutan Esya. Mungkin ia lebih nyaman memanggil seperti itu.
"Elisya mau bantu..."protes Elisya kekeh dengan pendiriannya.
"Diam atau gue cium..."ucap Dicky datar.
Bukannya takut, Elisya malah cengengesan. Dalam pikirannya mana mungkin pria sedingin kulkas 20 pintu ini berani mencium nya. Itu mustahil.
"Tetep ga mau diam..."final Elisya.
Dicky mematikan kompornya. Memindahkan nasi goreng yang sudah matang kepiring. Sedangkan Elisya masih setia berdiri disampingnya.
Dicky menghadap kearah Elisya lalu sedikit menunduk menatap manik mata Elisya.
Cup
Kecupan singkat yang mendarat di pipi mulus Elisya.
Kemudian ia meletakkan nasi goreng di atas meja makan dan berjalan kembali ke ruang tamu dengan santainya.
"Nih makan..."ucapnya sebelum pergi.
Jika kalian ingin tau bagaimana reaksi Elisya. Gadis itu membeku ditempatnya. Apa yang terjadi barusan, Dicky si pria kulkas menciumnya. Apakah itu benar?
Mulut Elisya sampai menganga saking terkejutnya. Ada perasaan aneh yang mampu membuat jantung Elisya mendadak berdetak sangat cepat. Bahkan gadis itu sudah memegangi dadanya. Ia merasa gugup seketika.
Setelah kesadarannya kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk memakan nasi goreng buatan Dicky tadi. Sungguh ia tak menyangka jika Dicky benar-benar menciumnya.
🕓🕓🕓
Dikediaman Angel, kamar Angel sudah seperti kapal pecah. Sangat berantakan dengan dirinya yang meringkuk menangis.
"Sayang tolong jangan seperti ini nak, kamu harus bisa bangkit..."bujuk Desi.
"Angel mau Vano mah, Angel gak mau tau mamah harus bantu Angel dapetin Vano lagi. Angel cuman mau Vano..."ucap Angel sambil mengacak-acak rambutnya.
"Stop Angel, Vano sudah gak mau ketemu kamu lagi sayang. Lupakan Vano, masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik dari pada Vano..."bujuk Desi lagi.
"ANGEL MAU VANO MAH, HIKS HIKS CUMAN VANO. ANGEL MAU DIA MAH HIKS. ANGEL MAU VANO..."teriaknya histeris.
"Cukup Angel cukup, kamu terlalu terobsesi pada Vano sampai kamu jadi seperti ini..."bentak Desi.
__ADS_1
Tak ada jawaban lagi dari Angel, gadis itu sudah kehilangan kesadarannya. Ia pingsan, membuat Desi semakin panik. Desi dengan cepat meminta bantuan kepada supir pribadinya untuk membawa Angel kerumah sakit.