
Arghhh gak kerasa udah 100 episode aja🥰
Dukung terus ha guys! Author hanyalah penulis amatir yang masih perlu banyak belajar lagi. Jangan lupa support terus ya guys!!!
🕓🕓🕓
Setelah memakan banyak waktu jet pribadi Qiandra sudah mendarat 2 jam yang lalu di Amerika. Berhubung rumah utama keluarga Qiandra sedang diambil alih, maka Arvie memutuskan untuk meninggali sebuah apartemen saja.
Kini mereka berada didalam sebuah mobil.
"Semuanya udah siap kan?,kita jalan sekarang..."ucap Farhan sambil mengendarai satu mobil dengan 5 orang.
Misi kali ini benar-benar berbahaya. Mendatangi rumah seorang Johannes Qiandra bukanlah hal yang mudah. Dengan ratusan orang pengawal disetiap sisi rumahnya, tidak ada orang sembarangan yang boleh masuk kesana.
Arvie sudah menargetkan tempat dimana mereka akan memantau Elisya dari kejauhan nanti agar tidak ketahuan. Elisya benar-benar akan masuk sendiri kedalam sana. Meskipun terdengar sangat nekat, namun tak ada cara lain untuk melakukan ini. Mereka hanya perlu tanda tangan dari seorang Johannes Qiandra sebagai bukti pengembalian seluruh harta kekayaan milik Ferly Qiandra.
Mobil Farhan berhenti ditempat yang memang sudah mereka tentukan dan sudah bisa dipastikan aman. Elisya akan naik taksi menuju gerbang rumah Johannes Qiandra.
Mereka mengambil jarak tak terlalu jauh dari rumah itu, hanya sekitar 200 meter. Elisya sudah memakai alat kecil di telinganya agar semua pembicaraan bisa didengar dari tempat persembunyian mereka. Elisya juga sudah diberikan sebuah cincin dimana ada tombol kecil disana, Elisya akan memencetnya jika tugasnya sudah selesai atau nyawanya terancam. Maka disitulah Arvie akan menerobos masuk bersama para pengawal pribadinya dan polisi kepercayaan nya tentunya.
Arvie memeluk adiknya,
"Gue pantau lo dari sini, jaga diri baik-baik. Jangan takut, rileks..."ucap Arvie menenangkan.
Elisya mengangguk yakin lalu melerai pelukannya. Detik selanjutnya ia malah memeluk Dicky. Dicky dengan cepat membalas pelukan Elisya.
"Hati-hati Esya, gue yakin lo bisa. Ikuti semua arahan yang sudah diberikan. Demi keselamatan lo..."lirih Dicky pelan.
Elisya tersenyum lalu mengangguk dipelukan Dicky.
"Fighting my girl..."bisik Dicky tepat ditelinga Elisya.
Hal itu mampu membuat Elisya malu sekaligus salah tingkah secara bersamaan.
"Gue gak panas sih, cuman udah gosong aja..."sindir David.
Hal itu mampu mengundang gelak tawa semuanya.
"Sya, ingat semua instruksi gue tadi malam. Lo harus bener-bener hati-hati disini. Lo tentu tau seberapa berbahaya nya tempat ini buat lo. Semangat Sya, kita ada disini mantau keselamatan lo..."ucap Farhan tegas.
"Jaga diri baik-baik baby girl..."ucap David.
Elisya tersenyum menghela nafasnya beberapa kali lalu perlahan menuruni mobil itu. Elisya menaiki taksi yang memang sudah disediakan. Sambil membawa satu buah map dan bingkisan buah-buahan.
Taksi sudah berjalan dan berhenti tepat didepan rumah bak istana milik Johannes Qiandra.
Elisya turun perlahan, lalu berjalan menuju gerbang. Disana Elisya sudah bisa melihat jelas ada 5 orang pengawal berbadan kekar dengan wajah sangarnya menatap Elisya mengintimidasi.
Jujur saja Elisya sangat takut, namun ia mempunyai ilmu bela diri yang cukup jika memang keadaan mendesaknya.
Elisya tersenyum lalu melanjutkan langkahnya dengan santainya seolah tak ada ketakutan sama sekali.
"Ada perlu apa kesini..."tanya salah satu pengawal dengan sinis.
"Om Johannes nya ada dirumah?..."tanya Elisya sopan.
"Ya, ada apa? Apa kau salah satu ****** yang selalu melayani Tuan Johannes..."tanyanya lagi.
Elisya meringis mendengar jika dirinya disebut sebagai salah satu ****** Johannes. Memang dengan pakaian yang cukup minim, membuat orang menilai dirinya buruk.
Elisya membuka tasnya lalu menyodorkan kartu identitasnya.
"Saya Elisya Caithlyn Qiandra, keponakan dari om Johannes. Boleh saya masuk?..."tanya Elisya sopan.
__ADS_1
Pengawal itu nampak kaget setelah melihat itu, detik selanjutnya mereka menjadi sangat ramah.
"Maafkan kami telah menghalangi langkah Nona Elisya, silahkan masuk. Tuan Johannes ada didalam. Mari saya antar..."ucap salah satu pengawasan ramah.
Elisya tersenyum meremehkan, semuanya terasa konyol baginya.
Elisya berjalan dengan anggunnya ditemani dengan satu pengawal disampingnya memasuki rumah bak istana itu.
Sedangkan Arvie dan ketiga temannya menghela nafas lega karena Elisya bisa masuk tanpa halangan. Meskipun Arvie sempat emosi karena mendengar para pengawal itu menyamakan adiknya dengan ****** Johannes.
Di sebuah ruangan khusus, disanalah Johannes Qiandra duduk dikursi kebesarannya. Hingga ketukan pintu mengganggu pendengarannya.
Seorang pelayan masuk lalu membungkukkan badannya sopan.
"Permisi tuan, diruang tamu sudah ada nona Elisya Caithlyn Qiandra menunggu tuan..."ucap pelayan itu nampak takut.
Johan sempat kaget mendengar itu.
"Saya akan kesana..."jawab Johan cepat.
"Elisya, keponakan cantik saya..."ucap Johan dengan senyum menyeringai.
Johannes nampak semangat berjalan menuju ruang tamu dengan langkah terburu-buru.
Diruang tamu Elisya tengah duduk dengan anggunnya. Tubuhnya yang putih mulus tentu menarik perhatian. Apalagi dengan pakaian yang cukup minim membuat Elisya terlihat sangat menarik.
"Keponakan kesayangan om..."ucap Johannes Qiandra mampu membuat bulu kuduk Elisya berdiri.
Elisya menghela nafasnya pelan, saat inilah dramanya akan dimulai. Elisya tersenyum menggoda, percayalah ini bukan dirinya yang sesungguhnya. Namun ini bagian dari rencana.
"Hallo om, Elisya kangen..."ucap Elisya lalu berlari memeluk Johannes.
Johannes tertawa kecil,
"Siapa dulu dong, kan keponakan om Johan..."ucap Elisya tak mau kalah.
"Tumben datang kesini, ada perlu apa?..."tanya Johannes penasaran.
"Emang Elisya gak boleh ya main kesini..."tanya Elisya.
"Boleh cantik..."ucap Johannes sambil mengusap pelan bahu mulus Elisya.
Elisya rasanya ingin cepat-cepat keluar dari sini. Ia benar-benar risih sekarang. Namun tugasnya belum selesai.
Elisya tetap berusaha tersenyum,
"Om tau kan papah sama mamah udah gak ada..."ucap Elisya sedih.
"Ia om tau..."jawab Johannes cepat.
Elisya tersenyum meremehkan,
"Om tau dari mana, kan Elisya belum cerita..."tanya Elisya memancing.
Johannes sukses dibuat gelagapan karena pertanyaan Elisya barusan.
"Om kan punya banyak pengawal, jadi om tau semuanya. Om turut berduka cita akan kabar itu..."ucap Johannes prihatin.
Elisya menarik tangan Johannes untuk duduk disofa.
"Ini om Elisya bawain buah buat om..."ucap Elisya.
"Ah ini pasti sangat manis seperti kamu..."puji Johan.
__ADS_1
Elisya tersenyum malu-malu, walaupun dalam hatinya ia sangat memaki-maki Johannes.
"Sabar Elisya sabar..."gumam Elisya menyemangati dirinya sendiri.
Didalam mobil, Dicky sudah memukul kaca mobil cukup kencang. Ia tak suka ada yang menggoda gadisnya seperti ini. Gadisnya? Ah itu terdengar romantis.
"Esya dalam bahaya Vie..."keluh Dicky.
"Percaya sama adik gue Ky, dia bisa..."jawab Arvie.
Elisya memulai aksinya. Ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Yang harus ia lakukan adalah mengalih perhatian Johannes agar tidak membaca isi surat itu. Elisya harus benar-benar lancang disini, ia tak peduli jika ia disebut wanita penggoda, toh ia melakukannya karena keterpaksaan.
Elisya memegang tangan kekar Johannes. Elisya bahkan mengubah cara bicaranya seolah benar-benar menggoda Johannes.
"Om sebenarnya Elisya pengen kuliah di universitas impian Elisya, tapi biayanya pasti banyak banget kan om. Sedangkan Elisya udah gak punya siapa-siapa lagi. Ok mau nggak bantuin Elisya..."ucap Elisya.
"Berapa biayanya, om akan bayar semuanya..."ucap Johannes yakin.
"Banyak sih om, kalau om setuju om bisa tandatangani map ini..."bujuk Elisya.
Johannes dengan cepat mengambil alih surat itu berniat untuk membaca sebelum menandatangani.
Elisya dengan sigap mengeluarkan senjata terakhirnya, ini cukup menjijikkan baginya. Namun tak ada cara lain. Elisya berdiri dan beralih duduk dipangkuan Johannes. Membuat senyum dibibir Johannes semakin lebar. Tak bisa dipungkiri keponakan nya ini memang benar-benar cantik dan menarik, dan Johannes suka itu.
"Gak usah dibaca om, langsung tanda tangani aja..."bujuk Elisya.
Johannes melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elisya. Elisya memejamkan matanya sejenak.
"Sedikit lagi Elisya..."gumam Elisya menyemangati diri sendiri.
"Yasudah om tanda tangani, tapi temani om tidur mau?..."tanya Johannes dengan senyum menyeringai.
"Brengsek, gue akan bunuh Johannes setelah ini kalau dia berani nyentuh gadis gue..."protes Dicky yang mendengar percakapan Elisya dari jauh.
Arvie menepuk bahu Dicky,
"Gue juga khawatir sama adik gue Ky..."jujur Arvie.
"Kita samperin sekarang aja..."putus Dicky namun ditahan oleh Farhan.
"Kalau lo keluar sekarang sama aja lo hancurin semua rencana yang udah kita susun. Percaya aja sama Elisya..."tegas Farhan membuat Dicky mendesah pasrah.
"Tapi om tanda tangan dulu disini..."tunjuk Elisya sambil menyodorkan pulpennya.
Johannes malah menyingkap rambut Elisya ketelinganya. Hingga terlihat sebuah alat pendengar yang menempel ditelinga Elisya.
Johannes mengambilnya, sontak membuat Elisya gelagapan.
"Ini untuk apa sayang?..."tanya Johannes.
"Elisya kan suka denger musik, jadi Elisya bawa itu terus..."ucap Elisya tenang agar Johannes percaya.
Johannes melempar alat pendengar itu secara asal-asalan ke lantai.
"Om tidak suka itu..."ucap Johannes membuat Elisya meneguk salivanya susah payah.
Alat pendengar itu pecah dilantai membuat Farhan panik.
"Kita samperin sekarang juga Han..."teriak Dicky.
"Sabar Ky, Elisya masih punya cincin itu..."ucap Farhan.
"Gak lo gila, Elisya udah lepas dari pengawasan kita. Kalau dia diapa-apain gimana? Gue pengen nyusul dia sekarang juga..."bentak Dicky.
__ADS_1
"Hubungi polisi kepercayaan gue sekarang Vid..."perintah Arvie beraksi. Ia tak akan membiarkan adiknya dalam bahaya.