
Jet pribadi Arvie sudah mendarat 10 menit yang lalu. Bella, Lisa, dan Sam tak langsung pulang. Mereka berniat beristirahat terlebih dahulu dikediaman Arvie.
Rumah ini masih sama, bahkan kenangannya dan pahitnya juga masih terasa.
Sekarang sudah pukul 2 siang. Dicky, Farhan, dan David sedang tertidur lelap dikamar Arvie karena kelelahan.
Begitu juga dengan Lisa dan Bella yang tidur dikamar Elisya. Sam yang tidur di sofa depan televisi, sedangkan Arvie masih membereskan kopernya.
"Abang, Elisya boleh keluar bentar gak?..."ucap Elisya nampak ragu.
"Mau kemana lo..."selidik Arvie.
"Ke mini market terdekat aja bang, Elisya mau cari bahan makanan buat makan malam. Rumah ini kan lama kosong bang, nggak ada bahan makanan disini. Takutnya yang lain laper..."jelas Elisya jujur.
Arvie nampak berpikir sejenak.
"Gue anterin ya..."usul Arvie.
Elisya menggeleng cepat,
"Abang disini aja, lagian deket juga ko. Nanti kalau kita berdua pergi dan yang lain pada bangun, malah bingung nyari kita berdua dimana. Iyakan?..."ucap Elisya berpendapat.
Akhirnya Arvie mengalah.
"Yaudah, lo hati-hati. Nih bawa mobil gue..."ucap Arvie sambil menyodorkan kunci mobil kearah Elisya.
Elisya dengan cepat mengambil kunci itu dan berjalan keluar pintu tanpa menghiraukan Arvie lagi.
"Ck anak itu..."kesal Arvie karena merasa diabaikan.
Elisya dengan cepat menuju mobil dan menjalankan mobil itu ke mini market terdekat.
Hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit, Elisya sudah memarkirkan mobilnya didepan mini market.
Elisya nampak sibuk memilih beberapa macam sayuran, buah-buahan, snacks, dan makanan siap saji lainnya. Dirasa cukup, ia pun menuju bergegas menuju kasir.
Tak sengaja penglihatan Elisya terpokus pada seorang ibu yang terlihat bermasalah di kasir.
"Maaf kan kami bu, tapi ibu harus membayarnya sekarang juga..."
"Tas saya diambil orang mbak, tolong bantu saya. Handphone saya ada disana..."protes sang ibu nampak sedih.
Elisya dengan cepat menyusul ibu itu, menaruh keranjang yang berisi belanjaannya dan mengeluarkan sebuah blackcard. Ia lupa bawa uang cash karena ia baru saja dari Amerika. Akhirnya Elisya memutuskan untuk menggunakan blackcard miliknya.
"Mbak sekalian sama belanjaan ibu ini..."potong Elisya cepat.
Penjaga kasir itu nampak melongo tatkala melihat blackcard yang disodorkan oleh Elisya. Wanita itu tentu cukup pandai dalam mengetahui siapa pemilik blackcard ini. Tentunya bukan orang biasa.
Membuat sang ibu menoleh kearah Elisya.
"Elisya..."panggil ibu itu nampak sangat kaget.
__ADS_1
Elisya pun tak kalah kagetnya saat menyadari ibu-ibu didepannya adalah ibunya Vano.
"Tante Yunita, jadi tas tante yang hilang..."ucap Elisya kaget.
"Ia Sya, tas tante diambil orang..."ucap tante Yunita sendu.
"Sebentar ya tante..."ucap Elisya lalu menyelesaikan proses pembayarannya.
Elisya akhirnya mengajak Yunita untuk makan di cafe yang terletak tepat bersebelahan dengan mini market itu.
"Tante kok bisa diambil orang sih?..."tanya Elisya prihatin.
"Tante juga gak tau, tiba-tiba aja ada yang narik tas tante. Semua kartu-kartu penting tante ada disana..."ucap Yunita sangat khawatir.
"Tante tenang aja, Elisya akan urus semuanya. Supaya tas tante balik lagi ..."ucap Elisya menenangkan.
Elisya mengecek telponnya, mencari nomor seseorang disana.
"Pak ini mama temen Elisya kehilangan tas di mini market dekat rumah Elisya pak, tolong urus ya pak..."perintah Elisya sopan.
Hingga panggilan pun berakhir.
"Udah sekarang tante tenang aja, semuanya akan beres..."lirih Elisya seraya tersenyum.
"Makasih sayang, kamu kemana saja Elisya..."tanya Yunita malah menangis tersedu-sedu.
Elisya tentu saja sangat kaget akan hal itu.
Yunita menggenggam erat kedua tangan Elisya.
"Tolongin Vano Elisya hiks, Vano hancur sekarang. Kamu tau dia satu-satunya harapan tante. Kebanggaan tante, tapi sekarang dia malah jadi berandalan. Hanya kamu yang bisa bikin dia kembali kaya dulu Elisya..."mohon Yunita menangis histeris.
"Tante jangan gini dong, Elisya bukan siapa-siapa ka Vano lagi tante. Vano harus terbiasa tanpa Elisya..."jawab Elisya meskipun ia merasa tak enak mengatakan itu.
Diluar dugaan Yunita malah berjongkok meraih kaki Elisya. Membuat Elisya terlonjak kaget dan menahan tubuh Yunita.
"Tante jangan gini, ayo duduk..."bujuk Elisya.
"Tolong Vano Elisya, tolong dia. Tante mohon sama kamu. Hanya kamu yang bisa membuat dia kembali seperti dulu. Tolong maaf kan anak tante Elisya..."mohon Yunita lagi.
Elisya menghela nafas pasrah, oh Tuhan ia harus apa sekarang. Kenapa semuanya serumit ini. Ia benci berada di situasi seperti sekarang.
"Oke sekarang tante duduk, besok Elisya akan coba bicara sama ka Vano, tapi tante jangan gini lagi..."ucap Elisya mengalah.
Seulas senyum terbit dibibir Yunita.
"Terimakasih Elisya, tante akan sangat berhutang budi sama kamu..."ucap Yunita senang.
"Ia tante, sekarang kita makan dulu. Tante gak usah pikirin masalah itu lagi ya. Tante bilangin sama kan Vano, Elisya tunggu besok ditaman dekat rumah Elisya jam 4 sore..."ucap Elisya lembut sambil menuntun Yunita duduk dikursinya.
Elisya menyerah, ia benar-benar harus menemui Vano. Bagaimana pun juga Yunita sudah sangat baik padanya, tentu saja ia tak tega melihat Yunita memohon seperti itu padanya. Walaupun ini berat bagi Elisya.
__ADS_1
Elisya harus berdamai dengan masalalunya, ia harus menyelesaikan ini semua agar tak mengganggu pikirannya lagi.
🕓🕓🕓
Dicky celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.
"Vie, Esya mana. Dari tadi gue nyari gak ada..."tanya Dicky.
Arvie yang tengah sibuk berkemas menoleh kearah Dicky.
"Oh Elisya, dia ke mini market katanya. Beli makanan sama sayuran buat makan malam..."jawab Arvie sekenanya.
"Kenapa gak bangunin gue sih, biar gue yang nemenin..."protes Dicky.
"Gak enak kali dia, lo pules banget tidurnya..."jawab Arvie santai.
Dicky berdecak kesal. Kenapa harus merasa tak enak pada dirinya.
"Bang..."panggil Elisya yang tiba-tiba datang dari arah pintu. Dengan belanjaan yang penuh ditangannya.
Wajah Elisya nampak lesu. Ia terlihat seperti sedang banyak pikiran.
"Esya, kenapa gak bangunin gue. Gue bisa anterin lo..."protes Dicky sambil mengambil alih belanjaan ditangan Elisya.
Elisya tersenyum, ia tau pria didepannya ini mengkhawatirkan dirinya.
"Elisya kasian sama bang Iky, abisnya dalam perjalanan bang Iky gak tidur sama sekali. Malah jagain Elisya terus..."jujur Elisya.
"Gue gak keberatan buat jagain lo Sya, lo itu tanggung jawab gue juga..."ucap Dicky tegas.
"Iya maafin Elisya bang..."lirih Elisya sambil menundukkan kepalanya.
"Dicky cuman khawatir sama lo Sya, lain kali bangunin dia aja gak papa. Gue juga khawatir kalau lo pergi sendirian kaya tadi..."ucap Arvie menasehati.
"Iya bang, maafin Elisya..."lirihnya masih menundukkan kepalanya.
Dicky meraih gadis itu dalam pelukannya. Dengan senang hati Elisya menerima nya. Ia bahkan melingkarkan tangannya dipinggang Dicky.
"Kalau lo lagi ada masalah, cerita sama gue Esya. Akhir-akhir ini gue perhatiin lo sering ngelamun dan keliatan capek banget. Gue takut lo sakit..."ucap Dicky lembut.
Elisya sebenarnya ingin menceritakan semuanya. Tentang Yunita yang memohon kepadanya untuk menemui Vano. Namun Elisya belum siap menceritakan semua ini. Ia takut Dicky akan marah padanya. Sungguh ia tak mau itu terjadi.
Akhirnya Elisya hanya menggeleng dipelukan Dicky.
"Elisya kurang tidur aja bang, Elisya ke kamar dulu ya. Mau Istirahat..."ucap Elisya pelan lalu melerai pelukannya. Kemudian berjalan pelan menuju kamarnya.
Dicky terdiam sesaat lalu menatap kearah Arvie.
"Vie, gue yakin adik lo nyembunyiin sesuatu dari gue. Gue gak tau itu apa, yang jelas itu adalah beban pikiran buat dia. Gue khawatir dia kenapa-napa Vie..."ucap Dicky mengungkapkan isi hatinya.
"Gue juga ngerasa gitu Ky, tapi semoga aja gak ada apapun yang dia sembunyikan dari kita semua. Lo kedapur dulu Ky, antar tuh semua belanjaan..."perintah Arvie.
__ADS_1
Dicky pun melangkahkan kakinya menuju dapur.