
Keesokan paginya seluruh siswa siswi sudah berkumpul untuk kepulangan mereka. Begitu juga dengan Elisya dan Lisa.
Kaki Elisya sudah cukup membaik, belum sembuh tapi ia sudah bisa berjalan dengan hati-hati.
Tibalah mereka semua di bandara.
Sam sama sekali tak menyapa Elisya, ia benar-benar tak menghiraukan keberadaan Elisya.
Elisya juga tak memperdulikan hal itu, kata-kata Sam tempo hari benar-benar melukai hatinya.
Elisya menarik kopernya perlahan, tiba-tiba kopernya ditahan oleh seseorang.
"Sini kaka bawain..."ucap Vano.
Elisya tersenyum melihat kedatangan Vano.
Mereka semua pun menaiki pesawat, Elisya yang awalnya duduk satu bersebelahan dengan Sam kini tidak lagi, Sam sama sekali tidak terlihat.
"Ngel gue duduk didepan boleh gak..."tanya Vano.
"Yaelah Van, santai aja kali..."jawab Angel tak peduli.
Vano pun duduk tepat disebelah Elisya.
"Boleh kaka temani..."tanya Vano.
Elisya hanya mengangguk malu.
Tiba-tiba Sam sudah berdiri tepat dihadapan mereka berdua.
"Ini tempat duduk gue..."ucap Sam menatap Vano sinis.
"Lo mau duduk disini..."tanya Vano ketus.
"Ga usah, gue gak butuh duduk disini..."ucap Sam sambil emosi.
"Oh..."jawab Vano singkat.
Merasa Elisya tak bergeming dengan kedatangan Sam,
Sam berniat ingin memanas-manasi Elisya
"Nah pas banget gue duduk sama Angel aja..."ucap Sam cuek.
Sedangkan Elisya dan Vano tidak menghiraukan.
Lain halnya dengan Angel yang merasa sangat senang.
Sebenarnya Sam risih jika harus dekat-dekat dengan Angel, tapi ini ia lakukan karena berniat untuk memanas-manasi Elisya.
Pesawat pun mulai terbang meninggalkan Papua barat.
Elisya sudah mulai mengantuk, Vano yang menyadari itu langsung menggiring kepala Elisya agar bersandar di bahunya.
Elisya menurutinya saja.
"Tidurlah Sya, kaka disini..."ucap Vano.
Kata-kata yang mampu membuat jiwa Elisya seakan merasa penuh dengan kenyamanan. Hingga ia tertidur pulas dibahu Vano.
Tanpa terasa pesawat sudah mendarat di bandara.
__ADS_1
"Sya bangun, kita sudah sampai..."ucap Vano.
Elisya pun segera bangun dan mulai berdiri, Vano menggenggam tangan Elisya menggiringnya berjalan.
Lalu Vano mengambil koper Elisya dan Angel.
"Sya kamu pulang naik apa..."tanya Vano.
"Ngga tau kak, mungkin Elisya minta jemput mama papah aja..."jawab Elisya.
Tiba-tiba Sam lewat disamping mereka berdua bersama Angel yang bergelayut mesra ditangan Sam.
"Gue anterin Angel ya Van..."ucap Sam lalu berlalu tanpa menatap Elisya.
Sam benar-benar ingin membuat Elisya menyesal karena telah menolaknya walaupun ia harus risih berdekatan dengan Angel.
Vano langsung tersenyum
"Kaka ko senyum sih..."tanya Elisya heran.
"Ayo Sya kaka antar pulang..."ucap Vano lalu menarik tangan Elisya menuju mobilnya.
Elisya pun langsung masuk kemobil Vano. Dengan cepat Vano melajukan mobilnya.
Mereka pun sampai dirumah Elisya.
"Makasih ya kak, udah dianterin, kaka mau mampir dulu ngga?..."tanya Elisya.
"Ngga deh, kaka mau pulang aja, kamu istirahat ya Sya..."pesan Vano.
"Baik kak..."jawab Elisya lalu mulai membuka pintu mobilnya.
Belum sempat Elisya membukanya tangannya ditahan oleh Vano, Elisya langsung menatap Vano heran
Cup
Vano mencium bibir Elisya sekilas, sontak membuat mata Elisya terbelalak.
"Kak Vano ihh..."ucap Elisya dengan wajah cemberut.
"Ini manis, kaka suka..."goda Vano sambil menyentuh bibir Elisya dengan tangannya.
Elisya yang merasa gugup langsung menuruni mobil Vano dan berlari kedepan rumahnya.
Vano hanya tertawa kecil melihat kelakuan Elisya yang begitu menggemaskan.
"Mahh papah..."Teriak Elisya didepan pintu rumahnya.
Dengan cepat bi Ina membukakan pintu
"Eh non sudah pulang, masuk non, biar bibi yang bereskan koper non..."ucap bi Ina sopan.
Elisya pun menyerahkan kopernya pada bi Ina.
"Mamah papah mana bi..."tanya Elisya.
"Kalau tuan lagi kekantor non, kalau nyonya ada disofa duduk..."jawan bi Ina.
Elisya pun langsung masuk dan berlari menghampiri ibunya.
"Mamahhh..."teriak Elisya sambil memeluk Revina sang ibu.
__ADS_1
Revina sedikit meneteskan air matanya.
"Sayang kamu gak papa kan, mama kangen banget sama kamu..."
"Iya mah Elisya baik-baik aja, jangan nangis dong, nanti cantiknya ilang..."goda Elisya.
Revina pun hanya tersenyum melihat godaan anaknya.
"Sayang kamu ko sendiri, Sam mana, dia jagain kamu kan?..."pertanyaan beruntun keluar dari mulut sang ibu.
Seketika Elisya teringat kejadian saat ditempat wisata. Wajahnya terlihat murung dan Revina menyadari itu.
"Ada apa sayang..."tanya Revina pelan.
Tiba-tiba Elisya langsung menangis memeluk sang ibu.
"Hiks hiks ka Sam jahat mah, Elisya benci..."teriak Elisya histeris.
Revina yang melihat kejadian itu langsung memeluk putrinya mencoba menenangkan.
Beberapa saat Elisya terisak dipelukan sang ibu.
Merasa sedikit lebih tenang Revina melepaskan pelukan putrinya.
Revina mengusap air mata yang membasahi pipi Elisya.
"Tenang sayang, ceritakan pada mamah..."bujuk Revina.
Elisya pun menceritakan semua kejadian yang terjadi antara dirinya dan Sam, termasuk saat Sam mengata-ngatai nya wanita murahan.
Revina terlihat sangat marah mendengar itu.
"Ka Vano gendong Elisya karena kaki Elisya sakit mah, tapi kak Sam malah nuduh Elisya wanita murahan karena mau digendong sama orang yang baru Elisya kenal..."jelas Elisya sedikit terisak lagi dalam tangisnya.
"Sudah sayang mamah ngerti, mulai sekarang jauhi Sam, hindari dia, mama tidak suka ada yang menghina putri mama seperti itu, sudah cukup jangan menangis untuk laki-laki seperti Sam, lupakan dia..."perintah Revina tegas.
Elisya hanya mengangguk saja.
"Mah Elisya kekamar dulu, mau bersih-bersih sekalian ganti perban di kaki Elisya..."pamit Elisya.
"Apa ini masih sakit sayang..."tanya Revina khawatir.
"Ngga mah, ini udah mendingan ko, yang kasian tuh kak Vano gendong Elisya kemana-mana, terus beliin Elisya makanan, padahal kan badan Elisya berat mah..."oceh Elisya.
"Mamah jadi pengen ketemu sama Vano itu, mau berterimakasih karena sudah jagain putri mamah ini..."ucap Revina tersenyum sambil mengelus kepala putrinya.
"Nanti ya mah, Elisya kekamar dulu..."ucap Elisya.
"Kamu gak mau makan dulu?..."tawar Revina lagi.
"Nanti aja deh mah, Elisya mandi dulu..."ucap Elisya lalu beranjak menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar Elisya langsung melepaskan pakaiannya dan mulai berendam didalam bathub, Ia ingin menenangkan pikirannya.
Tiba-tiba Elisya teringat saat Vano menciumnya di pantai, wajahnya memerah seketika mengingat kejadian itu.
"Astaga kalau gini terus gue bisa gila..."gumam Elisya.
"Gue gak nyangka kak Vano yang dulu cuek banget, suka marahin gue, sekarang jadi sosok pangeran yang selalu ada buat gue, astaga..."gerutu Elisya.
Sekitar 30 menit Elisya merendamkan tubuhnya, setelah merasa cukup ia mengambil handuk dan melilitkannya ditubuhnya.
__ADS_1
Ia keluar dari kamar mandi dan mengambil piyama tidur didalam lemari lalu mengenakannya.
Ia pun duduk diatas kasurnya dan memutuskan untuk tidur sebentar melepas lelahnya.