
Halo readers 🤗 Author kembali lagi. Semoga kalian gak bosen sama cerita ini. Sebelumnya buat yang nanya kenapa Vano belum menyesal? kenapa Angel bahagia aja? kenapa selalu Elisya yang sedih?
Nah semua itu emang udah diatur. Jadi ada saatnya semuanya akan mendapat karma dari perbuatan masing-masing. Jadi cukup ikuti alurnya saja. Jangan lupa Like dan Komen sebanyak-banyaknya. babayy🤗
🕓🕓🕓
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, karena jarak antara Rusia dan Indonesia bisa dibilang jauh. Arvie dan ketiga temannya sudah berada di Indonesia. Setelah mendapat kabar dari Bella jika Elisya masuk rumah sakit membuat Arvie semakin tidak terkendali, ia melajukan mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Sedangkan temannya, tak ada yang berani menegur Arvie sama sekali. Mereka semua hanya diam, mereka sadar jika Arvie benar-benar tak ingin menjelaskan apapun sekarang.
Tepat dirumah sakit. Diruangan VIP Elisya terbaring lemah tak berdaya, sudah cukup lama ia masih belum sadarkan diri. Akibat tubuhnya yang masih kurang sehat, dan syok berat yang ia alami tentunya.
Sam, Lisa dan Bella masih setia menunggu Elisya didalam ruangannya. Bahkan mata Lisa sudah sembab akibat terlalu lama menangis. Sama halnya dengan Bella yang matanya memerah karena tak henti-hentinya menangis. Bagaimana dengan Sam, pria itu tengah menggenggam erat tangan Elisya yang tak kunjung membuka mata indahnya.
Brak...
Pintu rumah sakit dibuka dengan kasar. Terlihat Arvie dengan wajah yang sangat dingin namun dipenuhi dengan beribu-ribu luka. Dibelakangnya ada Farhan, David dan Dicky yang juga diam.
Arvie berjalan cepat menuju brankar Elisya membuat Sam melepaskan genggaman tangannya.
"Gimana adik gue Sam?..."tanya Arvie.
"Dia syok berat bang, tadi tante gue udah periksa dia, tapi sampai sekarang masih gini..."ucap Sam seolah pasrah.
Farhan, David, dan Dicky hanya duduk disofa disamping Bella dan Lisa. Mereka tak ingin ikut bicara.
"Soal kejadian itu ada kabar?..."tanya Arvie lagi.
"Pesawat jatuh diwilayah daratan. Keadaan pesawat hancur karena ledakan yang keras. Kemungkinan penumpang tidak ada yang selamat..."lirih Sam pelan.
__ADS_1
Arvie bersandar ditembok rumah sakit, tubuhnya merosot kebawah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua orang tua yang sangat ia cintai ini telah pergi.
Melihat keadaan Arvie yang nampak acak-acakan ketiga temannya siap berdiri namun Bella menahan mereka.
"Gue emang gak kenal siapa kalian, tapi biar gue yang nenangin Arvie..."ucap Bella.
Farhan dan yang lain saling menatap, hingga akhirnya mereka mengangguk.
Dengan sisa tenaganya, Bella berjalan ke samping brankar Elisya. Mendekati kearah Arvie yang terlihat sangat kacau. Bella menatap ke arah pintu seolah meminta semuanya meninggalkan mereka berdua diruangan itu kecuali Elisya.
Sam yang mengerti maksud dari Bella akhirnya memutuskan keluar, begitu juga dengan ketiga teman Arvie dan Lisa.
Pintu tertutup, hanya tersisa Arvie, Bella, dan Elisya yang masih belum sadarkan diri hingga sekarang.
Bella duduk didepan Arvie lalu mengelus rambut Arvie pelan. Arvie mendongak hingga tatapan mereka bertemu persekian detik. Tidak ada pembicaraan, tidak ada kalimat penenang. Arvie hanya langsung memeluk erat tubuh Bella, bahkan sangat erat. Arvie menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bella.
Bella hanya membalas pelukan Arvie sambil mengusap belakang Arvie pelan. Bahkan bajunya sudah terasa basah dibagian bahunya. Bella sadar jika pria dipelukannya ini tengah lemah. Arvie tengah menangis tanpa suara dipelukan Bella. Bahkan Bella sudah tak bisa membendung air matanya. Ia kembali menangis seolah ikut serta merasakan sakit yang dirasakan Arvie.
Farhan, adalah sosok yang paling homuris. Namun, percayalah perasaan nya paling lemah jika melihat wanita menangis. Ia berjalan mendekati Lisa.
"Gue Farhan temannya Arvie..."ucap nya pelan.
Disela tangisnya Lisa mendongak. Karena memang tubuh Farhan lebih tinggi darinya.
"Lisa..."jawab Lisa pelan.
"Sebelumnya gue mau minta maaf kalau lancang, tapi gue paling gak bisa biarin cewek nangis kaya gini..."ucap Farhan.
__ADS_1
Farhan dengan lancangnya menarik tubuh Lisa dalam pelukannya. Tidak ada penolakan sama sekali, karena jujur saja yang Lisa butuhkan saat ini adalah sebuah pelukan. Pelukan yang tak akan ia dapatkan dari Sam.
Sam menoleh dengan tatapan tak suka, lalu pergi meninggalkan mereka berempat entah ingin kemana.
David dan Dicky hanya diam. Membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.
🕓🕓🕓
Hari sudah mulai gelap. Menandakan sang malam telah hadir. Namun Elisya masih belum juga sadar membuat semuanya menjadi khawatir.
"Ini udah malam, gue tau kalian semua capek. Thanks udah jagain adik gue. Kalian bisa pulang, biar gue yang jaga Elisya. Buat yang cewek silahkan pulang dan istirahat..."ucap Arvie dingin.
"Gue disini aja, nemenin lo..."ucap Bella final.
"Lis, lo pulang. Istirahat..."ucap Arvie.
"Gue yang antar Lisa pulang..."ucap Farhan.
"Nggak, biar gue aja..."protes Sam.
"Cukup, ngapain ribut sih. Biar kak Farhan aja yang nganterin aku..."putus Lisa.
Farhan tersenyum kemenangan, lalu berjalan keluar ruangan diiringi oleh Lisa dibelakangnya.
Sam mendengus kesal, benarkah dirinya mendapat penolakan?
"Sam lo pulang. Anterin temen-temen gue kerumah gue. Dan lo berdua, tidur dirumah gue. Ada mobil dibagasi kalau mau keluar. Kunci mobil dikamar gue. Lo berdua istirahat..."perintah Arvie.
__ADS_1
"Baik bang..."ucap Sam menurut.
"Lo jaga kesehatan Vie, kita ngerti lo lagi kacau sekarang. Kita kerumah lo dulu, besok pagi kita kesini..."putus David. Sedangkan Dicky seperti biasa, hanya diam dan mengikuti arahan Arvie.