Elisya

Elisya
64


__ADS_3

Bella datang membawa nampan berisi makanan. Keadaan menjadi sangat hening.


"Kok pada diem sih? Kenapa?..."tanya Bella heran.


Elisya menggeleng pelan seolah memberitahukan bahwa ia baik-baik saja. Berbeda dengan Lisa yang matanya sudah sembab karena menangis tadi.


"Izinin gue bisa gak Bel, gue pengen pulang aja. Lagi gak enak badan soalnya..."jujur Elisya. Kepalanya rasanya pusing sekali.


"Gue antar pulang aja gimana?..."tawar Bella.


"Bel lo masuk aja deh, izinin gue sama Elisya. Guru pasti ngerti kan, gue kemarin juga sakit kan. Jadi gue mau nganter Elisya sekalian istirahat, gue mohon Bel..."ucap Lisa memelas.


Bella mengangguk, "Oke kalian pulang aja, istirahat. Kejadian tadi lupain aja Sya. Lo juga istirahat Lis..."pesan Bella.


"Thanks ya Bel..."ucap Elisya.


"Yaudah ini makanannya buat gue aja deh..."ucap Bella cengengesan.


Lisa tertawa kecil menanggapi Bella, "Kita kekelas duluan ya Bel, mau ngambil tas. Lo habisin makanannya dulu..."ucap Lisa.


Bella mengangguk senang.


Lisa meraih tangan Elisya menuntunnya berjalan menuju kelas. Ia dengan cepat mengambil tasnya dan juga tas Elisya lalu berjalan pelan melewati koridor sekolah menuju gerbang.


"Kita pesen taksi aja deh ya..."putus Lisa.


Elisya mengangguk menyetujui. Selang beberapa menit sebuah taksi sudah berhenti tepat didepan kedua gadis itu.


Mereka berdua naik perlahan kedalam taksi itu. Lisa tak ingin pulang, ia berniat menenangkan sahabatnya itu.


Tak perlu waktu lama mereka sudah sampai dirumah Elisya. Berjalan pelan memasuki rumah yang nampak sepi karena orang tuanya tengah sibuk mengurus perusahaan. Revina juga ikut serta membantu Ferly dalam menjalankan perusahaan.


"Gue antar ke kamar..."putus Lisa.


Mereka berjalan pelan menuju ke kamar Elisya. Perlahan Lisa menuntun Elisya duduk diatas kasur empuknya.


"Gue ga tau harus bilang apa lagi, lo juga ngerasain sendiri kan gimana Vano sama lo, cowok brengsek kaya dia gak berhak buat wanita sebaik lo Sya..."lirih Lisa pelan.


Elisya tersenyum miris, ia sadar perlakuan Vano memang sudah kelewatan batas. Namun hatinya belum ingin menyerah, ia masih ingin berjuang sekali lagi. Rasa sayangnya begitu besar pada sosok Vano yang merupakan cinta pertamanya itu.


"Izinin gue berjuang sekali lagi, sekali aja lagi. Kalau sampai Vano masih tetap perlakuin gue seburuk ini. Gue janji akan menghilang dari hidup dia selamanya..."jawab Elisya pelan.


Lisa menghembuskan nafasnya pelan, "lo terlalu baik buat Vano Sya, dia gak pernah hargain lo sebagai pacarnya. Gue gak mau liat lo disakitin lagi sama dia..."bujuk Lisa.


"Please, gue mohon. Sekali aja. Gue pengen berjuang sekali lagi. Kalau gagal gue akan mundur. Gue akan nyerah..."ucap Elisya.


Percuma saja membujuk Elisya, entah apa yang ada dipikiran gadis itu hingga tak mau memutuskan hubungannya dengan Vano.


"Lo gak tau Lisa, sebelum sejahat ini Vano pernah buat gue merasa menjadi orang yang paling istimewa didunia ini. Semua kenangan itu gak bisa dilupain begitu aja. Semuanya terasa berat bagi gue. Izinin gue berjuang sekali lagi Lis..."ucap Elisya kini nampak memelas.


Lisa pasrah, ia menganggukkan kepalanya. Lalu meletakkan satu tangannya dipundak Elisya.


"Ini yang terakhir, kalau sekali lagi Vano nyakitin lo. Gue gak terima alasan apapun. Tinggalin dia..."putus Lisa.

__ADS_1


Elisya mengangguk lalu tersenyum getir.


"Lo tiduran dulu aja, biar lebih enakan..."perintah Lisa.


"Lo juga istirahat keadaan lo belum sembuh total, gimana trauma lo..."tanya Elisya.


"Udah mendingan, gue bisa kok ngontrol diri gue. Nanti gue ke psikiater buat konsultasi lagi..."jawab Lisa seraya tersenyum.


"Gue ikut senang dengernya, nanti gue temenin lo..."jawab Elisya.


Lisa tersenyum, "Lo terlalu baik sama gue..."


"Gue pulang ya Sya, tadinya gue pengen disini nemenin lo. Gue lupa kalau nenek minta gue pulang cepet. Sorry ya Sya..."ucap Lisa tak enak hati.


"Santai aja kali, hati-hati dijalan ya Lis..."pesan Elisya.


"Oke siap..."jawab Lisa cepat lalu berjalan meninggalkan kamar Elisya.


🕓🕓🕓


Hari sudah semakin gelap, Elisya sudah membersihkan dirinya dan memakai baju tidur berwarna biru malam.


Ia tengah duduk disofa sambil menonton televisi dengan perasaan yang sangat gelisah. Elisya pun bingung ada apa dengannya.


"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi siang banyak ngelamun..."sapa Revina dari arah dapur.


"Elisya gak enak badan aja mah..."jawab Elisya sekenanya.


Revina tersenyum, ia duduk disamping Elisya lalu mengusap pelan rambut putrinya penuh kasih sayang.


"Mah Elisya ikut..."rengeknya.


"Kamu ini masih saja seperti anak kecil, nanti mama beliin oleh-oleh deh buat kamu..."bujuk Revina.


"Bener ya mah..."ucap Elisya senang.


Revina mengangguk yakin, "Kalau mamah sama papah udah gak ada, kamu gaboleh lemah ya sayang. Kamu harus jadi gadis yang kuat. Mama papah juga bakalan sedih kalau kamu sedih. Jaga diri kamu baik-baik..."pesan Revina.


Elisya mendengus kesal, "Mamah ngomong apaan sih, kita tu bakalan terus sama-sama terus..."jawab Elisya lantang.


"Besok mamah pakai pesawat umum aja Sya, gak pakai Jet pribadi kita..."ucap Revina.


Elisya mengerutkan keningnya, "Kenapa mah?..."


"Pengen aja sih, papah kamu yang mau..."jawab Revina.


"Yaudah deh mah..."jawab Elisya lesu.


"Sekarang kamu istirahat, besok bisa anter mamah ke Bandara deh..."perintah Revina.


Dengan langkah gontai Elisya pun menyetujui perintah sang ibu. Ia berjalan pelan menuju ke kamar untuk tidur.


🕓🕓🕓

__ADS_1


Malam sudah berganti pagi, namun sang matahari belum juga menampakkan dirinya. Karena tertutup awan yang gelap. Hari ini cuaca cukup mendung.


Elisya sudah siap dengan seragam sekolahnya, bersama dengan Revina dan Ferly yang keluar dari rumah.


"Halo om tante..."sapa Sam yang tiba-tiba datang menjemput Elisya.


"Eh ada Sam..."ucap Revina.


"Mau kemana om tante?..."tanya Sam penasaran.


"Om sama tante ada kerjaan, jadi mau ke Amerika untuk beberapa hari. Ini Elisya mau nganterin kami ke Bandara..."jawab Revina jujur.


"Yaudah bareng saja aja, saya anterin tante..."tawar Sam.


"Yasudah kalau gitu..."jawab Ferly.


Mereka berempat kini sedang dalam perjalanan menuju Bandara.


Keberadaan rumah Elisya yang bisa dibilang tidak terlalu jauh dari Bandara membuat mereka dengan cepat bisa sampai di Bandara.


Keadaan Bandara sudah ramai. Mereka berempat turun dari mobil.


"Pesawat dengan kode penerbangan xxx akan berangkat 5 menit lagi..."terdengar suara pengumuman yang cukup keras.


"Kalian berangkat ke sekolah sekarang. Tinggal lima menit lagi papah sama mamah berangkat..."ucap Ferly.


Elisya kini malah terisak dipelukan Revina.


"Mah perasaan Elisya gak enak mah..."ucapnya jujur.


"Itu karena kamu aja yang gak pernah ditinggal sama mamah papah, makanya takut..."ledek Revina.


Elisya lalu beralih memeluk sang ayah.


"Jangan lama-lama ya pah, Elisya takut..."rengek Elisya.


Ferly mengusap pelan air mata putrinya.


"Ia sayang..."jawab Ferly.


Elisya mulai melerai pelukannya.


"Jaga Elisya untuk kami Sam..."ucap Ferly sambil menepuk bahu Sam.


Sam tersenyum senang, "Siap om..."jawabnya cepat.


"Mamah sama papah pergi ya Sya..."pamit Revina.


Elisya mengangguk lalu melambaikan tangannya. Setelah ayah dan ibunya sudah tidak terlihat Elisya pun berjalan bersama Sam menuju mobil Sam.


Dan memutuskan untuk berangkat kesekolah agar tidak terlambat.


🕓🕓🕓

__ADS_1


Sampai disini dulu ya readers 🤗 jangan lupa spam like, dan spam komen sebanyak-banyaknya oke!


Happy reading 🤗


__ADS_2