
Bu Siska meninggalkan Elisya sendiri karena tidak ingin menganggu waktu istirahat nya.
Elisya yang sedari tadi tertidur pulas dengan nyamannya.
Tiba-tiba Vano datang dan duduk disamping Elisya.
Vano berniat ingin membenarkan posisi Elisya agar lebih nyaman, tapi saat ia memegang tangan Elisya, Elisya malah terbangun
"K-ka Vano..."panggil Elisya terbata-bata.
"Gimana keadaan lo..."jawab Vano tetap dengan nada ketusnya tapi terselip rasa khawatir didalamnya.
Elisya tersenyum
"Udah lumayan kok Ka, makasih ya udah nolongin Elisya..."
"Iya, lo juga sering nolongin gue..."jawab Vano tanpa nada lembut.
Entah ia gengsi atau bagaimana, tapi ia hanya mempertahankan keangkuhannya.
Entah kenapa Elisya merasa senang mendengar Vano mau berbicara dengannya walaupun masih tetap cuek.
Elisya tak mengincar kepopuleran Vano, ia mulai penasaran dengan Vano sejak mengetahui bahwa Vano mengalami trauma yang mendalam. Sejak itulah Elisya terlihat selalu mendekati Vano.
"Sya..."panggil Vano masih dengan nada dingin.
"Iya kak..."tanya Elisya.
"Thanks udah pernah nolongin gue kemarin-kemarin..."ucap Vano lalu membuang tatapannya kearah lain.
Jantung Elisya rasanya mau keluar dari tempatnya. Elisya mulai mencoba menetralkan nafasnya.
"Gapapa kok ka, Elisya senang bisa nolong orang..."
Vano hanya menganggukkan kepalanya.
"Mau gue antar ke kamar?..."tanya Vano.
"Perut Elisya masih lumayan sakit sih kak, tapi tadi udah minum obat yang dikasih bu Siska..."jelas Elisya jujur.
Vano berjongkok didepan Elisya dan menepuk-nepuk punggungnya, memberi kode pada Elisya.
Elisya yang takut Vano marah-marah lagi langsung paham dan mulai melingkarkan tangannya pada leher Vano.
Vano menggendong Elisya menuju kamarnya.
Sedangkan Elisya pipinya kini sudah merah karena malu.
Vano menurunkan Elisya saat sudah sampai di kamarnya.
"Sya, sekarang lo masuk, istirahat jangan lupa minum obat..."ucap Vano dengan nada ketus tapi tetap terkesan perhatian.
Elisya tersenyum
"Makasih kak Vano, Elisya masuk dulu..."ucap Elisya lalu langsung masuk dan menutup pintunya. Tubuh Elisya merosot kelantai sambil bersandar di pintu.
"Astaga, lama-lama kaya tadi bisa-bisa gue masuk rumah sakit karena jantung gue mau keluar ..."
Lisa yang sedari tadi dikamar mandi terkejut saat keluar melihat Elisya terduduk sambil bersandar di pintu.
Lisa langsung panik dan berlari menghampiri Elisya
"Sya lo gak papa? apa yang sakit, astaga sini gue bantu ke kasur..."ucapnya khawatir.
"Gue gak papa ko Lis, perut gue aja sih masih lumayan sakit..."jawab Elisya sambil memegangi perutnya. Ia tak ingin menceritakan tentang Vano tadi karena takut saja Lisa sakit hati mendengarnya.
"Bagian mana yang sakit, lo dari tadi kemana aja sih, gue sama kak Sam panik nyariin lo..."kesal Lisa.
Elisya pun menceritakan segalanya yang terjadi padanya setelah ia menuju toilet.
Lisa sangat kaget mendengar penuturan temannya itu.
"Sya lo sepemikiran gak sih sama gue..."ucap Lisa sambil menatap Elisya.
__ADS_1
"Ka Angel kan gak suka lo dekat-dekat sama kak Sam, mungkin aja kan ka Angel marah sama lo, dan ngerencanain ini gitu..."ucap Lisa dengan wajah serius.
Elisya terlihat nampak berpikir.
"Udah lah Lis biarin aja, gapapa ko, walaupun misalkan bener ka Angel yang lakuin, tapi kita tetap gak boleh nuduh tanpa bukti, nanti malah jadi fitnah lagi..."
"Masa lo terima-terima aja sih diginiin Sya..."ucap Lisa gusar.
"Gak papa kali Lis, santai aja, lagian gue juga gak papa ko..."Elisya tersenyum.
"Jangan terlalu baik kali Sya sama orang..."saran Lisa.
"Iya Lis gue tau ko..."jawabnya.
"Ya udah sekarang lo istirahat biar nanti cepet sembuh..."perintah Lisa lalu membaringkan tubuh Elisya dan mulai menyelimutinya.
_____
Ditempat lain Angel dan kedua temannya terlihat tertawa puas.
"Rasain tuh anak kurang ajar, ini baru permulaan, kalau setelah ini dia masih berani deketin Sam, gue gak akan segan-segan ngelakuin yang lebih parah dari ini..."ucap Angel tertawa puas.
"Hahaha biar mampus tuh anak..."sambung Karin.
"Nggak kasian tuh Ngel, sampai pingsan gitu..."ucap Bella.
"Lo apa-apaan sih Bel ngapain belain dia..."kesal Karin.
Angel menatap tajam ke arah Bella.
"Ia maaf Ngel, aku cuman bercanda..."sambung Bella.
____
"Gimana nih bu, pelakunya masih belum ditemukan, dan waktu kami menyiapkan makanan semuanya dalam keadaan bersih dan steril bu, tidak ada keanehan apapun, saya sama Riski juga selalu standby disana bu, dan gak ada apa-apa..."jelas Sam.
"Sudahlah Sam ,yang penting Elisya sudah baik-baik saja, semoga saja nanti akan segera ketauan siapa dalang dibalik kejadian ini, setelah ini ibu harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi..."tegas bu Siska.
"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu..."pamit Sam.
Tok tok tok...suara ketukan pintu
"Eh kak Sam, silahkan masuk kak, Elisya nya lagi istirahat..."jelas Lisa.
"Ya sudah lain kali saja, kaka akan kesini lagi kalau Elisya udah bangun, tolong jaga dia ya Lis, kalau udah bangun kasih tau kaka ya, bilangin tadi kaka nyariin dia..."pesan Sam.
"Baik kak..."jawab Lisa cepat.
_____
Pagi Hari
Sudah 2 hari mereka disini, besok semua siswa-siswi akan pulang dan masuk sekolah seperti biasanya.
Elisya menggeliat bangun dari tidurnya, syukur saja perutnya sudah tidak sakit lagi.
"Syukur lah udah gak sakit, tapi aku harus tetap minum obat yang dikasih bu Siska tadi..."gumam Elisya.
Ia pun bangkit dari ranjang dan mengambil botol air mineral disamping ranjangnya. Ia pun meminum obat itu.
Lalu ia mulai membersihkan diri serta berganti pakaian.
Ternyata perutnya sudah mulai lapar. Elisya pun berniat mencari makanan diluar.
"Eh Sya udah bangun..."sapa Lisa yang baru datang.
"Lisa tumben bangun pagi..."tanya Elisya.
"Lagi pengen aja sih, gimana perut lo..."ucap Lisa.
"Udah mendingan tapi laper sih, gue mau nyari makanan keluar dulu ya Lis..."pamit Elisya.
"Ya udah, oh iya tadi malam kak Sam nyariin kamu..."ucap Lisa.
__ADS_1
"Yaudah deh nanti aku samperin kak Sam..."ucap Elisya lalu pergi.
Elisya berjalan menuju tempat makan, sedangkan Sam masih terlihat sangat sibuk mengurus kepulangan besok. Elisya mengurungkan niatnya untuk menyapa Sam, karena tak ingin mengganggu, akhirnya Elisya memutuskan untuk makan sendiri saja.
Sesampainya ditempat makan Elisya langsung memesan makanan. Tiba-tiba, Elisya melihat Vano sedang duduk seorang diri dan terlihat melamun. Elisya mulai berperang dengan isi kepalanya
"Apa jangan-jangan kak Vano lagi ada masalah ya, atau teringat tentang trauma nya itu..."gumam Elisya.
Tanpa pikir panjang Elisya memutuskan menghampiri Vano.
"Kak Elisya boleh gabung gak, Elisya gak ada temen makan..."ucap Elisya membuyarkan lamunan Vano.
Vano sedikit kaget lalu menatap kearah Elisya.
"Duduk..."jawabnya cuek.
Elisya tersenyum senang, setidaknya kedekatannya dengan Vano ada peningkatan, Vano yang dulu selalu marah-marah sekarang sudah tidak, tapi tetap saja angkuh dan dingin.
Elisya duduk didekat Vano tanpa bicara apapun.
"Udah sembuh?..."Vano memulai pembicaraan walaupun masih saja dengan nada dingin.
Elisya lagi-lagi tersenyum. Entah apa yang ia rasakan, ia hanya senang Vano mau berinteraksi dengannya.
"Udah kak..."jawab Elisya cepat.
"Minum obat?..."tanya Vano lagi.
"Sudah kak, sekarang Elisya cuma laper, cacing diperut Elisya udah meronta-ronta pengen diisi..."jawab Elisya cemberut.
Tiba-tiba Vano tertawa kecil
"Lo cacingan emang?..."tanya Vano spontan.
Deg, Elisya terdiam, seakan terpesona pada Vano, sosok yang selama ini selalu memarahinya dan cuek padanya, sekarang tertawa, pertama kalinya Elisya melihat Vano tertawa dihadapannya.
"Ngga sih k-ka ..."Elisya terbata-bata, entah mengapa ia merasa sangat gugup.
Vano kembali ke wajah dinginnya. Pesanan pun datang, Elisya terlihat memesan beberapa makanan dan es kelapa.
Mata Elisya berbinar-binar melihat semua makanan didepannya.
Saat ia ingin meminum es kepala itu, dengan sigap Vano mengambilnya dan meminumnya sampai ludes.
Elisya kaget dan kesal
"Kak Vano, itu kan punya Elisya, jahat banget sih, dihabisin lagi..."ucap Elisya dengan wajah cemberut.
Tanpa sadar tangan Vano mengacak rambut Elisya merasa gemas dengan ekspresi gadis yang selalu mengganggu ketenangannya itu.
"Siapa yang bolehin lo minum es ini, lo itu baru minum obat ya, mau sakit lagi..."ucap Vano.
"Terus Elisya minum apa..."tanya Elisya.
Vano beranjak meninggalkan Elisya untuk membeli minuman, setelah beberapa saat Vano kembali dan membawakan botol air mineral.
"Nih lo minum ini..."
"Yah kaka gak asik ihh..."kesal Elisya.
"Nurut kalau dibilangin..."jawab Vano.
Elisya pun memulai makannya, tanpa ia sadari Vano sedari tadi memperhatikannya.
Vano merasa ada yang janggal pada hatinya seakan ada ketenangan lain saat menatap wajah Elisya, namun ia dengan cepat menepis semua pikirannya itu, rasa trauma nya sangat besar.
"Kak..."panggil Elisya sambil mengunyah makanannya.
"Emm..."Vano berdehem.
"Bisa gak sih kalau ngomong sama Elisya pakai aku kamu aja, jangan lo gue dong kak..."jujur Elisya.
Vano tersenyum singkat
__ADS_1
"Iya, sekarang kamu cepat habiskan makananmu, aku mau bayar dulu, kaka traktir..."ucap Vano lalu beranjak pergi.
Elisya langsung menetralkan napasnya, berdekatan dengan Vano seperti ini hampir membuatnya gila, apalagi sikap Vano yang mulai baik padanya. Buru-buru ia habiskan makanannya sebelum Vano datang.