
Setelah menghabiskan acara yang panjang tadi malam. Sekarang mereka semua tengah dalam perjalanan menuju Indonesia menggunakan Jet pribadi Arvie.
Mereka nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sama halnya dengan Elisya yang tengah melamun menatap kearah jendela pesawat. Entah apa yang tengah ia pikirkan. Tidak ada yang tau, namun wajahnya menyiratkan banyak makna. Ia terlihat khawatir.
Dicky berjalan kearah Elisya, lalu duduk tepat disamping Elisya. Tangannya mengelus puncak kepala Elisya. Membuat Elisya menoleh ke arah Dicky dan tersenyum.
Dicky meraih tubuh Elisya untuk bersandar di dada bidangnya. Elisya hanya menurut, ia diam sambil menyandarkan kepalanya didada Dicky.
"Gue gak tau lo lagi mikirin apa Esya, yang jelas kalau lo lagi ada masalah jangan terlalu dipikirin, semuanya akan baik-baik saja..."lirih Dicky pelan.
Elisya terdiam, ia tak berniat menceritakan apapun pada Dicky, ia hanya melingkarkan tangannya dipinggang Dicky dan memeluk pria itu dari samping. Elisya memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Dicky dalam-dalam. Sungguh ia mampu membuatnya jauh lebih tenang.
Dicky terus mengelus puncak kepala Elisya pelan. Membiarkan gadisnya itu merasakan hangatnya pelukannya. Ia tau Elisya terlihat sangat khawatir, namun seperti ia belum bisa menceritakan nya.
"Esya mau makan?..."tanya Dicky pelan.
Elisya hanya menggeleng dipelukan Dicky sebagai sebuah penolakan. Namun tak mengeluarkan sepatah kata pun. Entahlah moodnya sangat buruk hari ini.
Perasaannya bercampur aduk saat dalam perjalanan ke Indonesia, negara itu terlalu banyak kenangan yang sangat pahit dalam hidup Elisya.
Bagaimana dengan Vano? Rasanya Elisya tak mau bertemu dengannya lagi. Namun Elisya juga tak bisa diam saja melihat Vano hancur seperti sekarang dan itu karena dirinya.
Dirinyalah yang menjadi penyebab kehancuran Vano sekarang. Elisya tak mau orang-orang terdekat Vano jadi sedih karena melihat kondisi Vano sekarang?
Apa ia harus menemui Vano? Lalu bagaimana dengan Dicky? Apa prianya ini akan marah padanya? Elisya ingin meminta izin pada Dicky untuk sekedar menemui Vano, namun ia takut Dicky marah. Akhirnya Elisya mengurungkan niatnya untuk meminta izin.
"Esya lo sakit?..."bisik Dicky pelan.
Elisya lagi-lagi menggeleng sebagai jawaban.
"Terus kenapa gini, gak mau cerita sama gue?..."pancing Dicky.
"Esya pengen peluk aja..."jawab Elisya sangat pelan, sambil tetap menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dicky.
"Dari tadi udah dipeluk loh. Tumben lama banget meluknya?..."tanya Dicky lembut.
"Elisya kangen..."rengek Elisya seperti anak kecil yang tengah merajuk.
Dicky tersenyum, lalu sedikit melonggarkan pelukannya, namun tak melepas pelukannya. Ia hanya tak ingin Elisya kesusahan bernafas.
__ADS_1
"Manja banget, dari kemarin ketemu terus..."goda Dicky.
Elisya merengek mendengar Dicky yang begitu gencar menggodanya.
"Gak tau Elisya kangen aja, pengen gini aja lama lamaaaaaaaa..."ucapnya jelas.
Dicky lagi-lagi tersenyum, lalu memeluk pinggang ramping Elisya.
"Iya Esya, ini dipeluk terus..."jawabnya sangat lembut.
🕓🕓🕓
Bella tengah sibuk membaca sebuah novel kesukaannya sambil berdiri menatap kearah jendela pesawat.
Tiba-tiba Arvie datang dan melingkarkan tangannya di perut Bella dari arah belakang. Arvie menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bella, menghirup aroma gadisnya itu dalam-dalam.
"Vie, gue lagi baca buku..."rengek Bella merasa terganggu.
Arvie menutup pelan buku ditangan Bella. Lalu membalikkan tubuh Bella menghadapnya.
"Baca bukunya bisa nanti, sekarang berduaan sama gue dulu..."rengek Arvie manja.
Rasanya jantung Arvie sudah ingin keluar dari tempatnya. Ia mendadak salah tingkah. Hal itu membuat Bella terkekeh pelan.
"Bel tadi gue belum siap..."rengek Arvie tak terima.
"Biarin..."jawab Bella meledek.
Bella perlahan melingkarkan tangannya ke pinggang Arvie,
"Mau makan gak? Gue laper Vie..."adu Bella.
"Suapin ya Bel..."mohon Arvie nampak sangat memelas.
"Ihh manja banget pacar gue..."ucap Bella.
"Biarin, sama calon istri..."goda Arvie.
"Ingetin aja terus, udah sana ambil makanannya. Biar nanti makan bareng, gue suapin deh..."tawar Bella.
__ADS_1
"Siap ibu ratu..."jawab Arvie menurut.
🕓🕓🕓
Vano tengah duduk dikamarnya, keadaannya cukup membaik setelah kejadian nya dengan Angel kemarin.
Angel pun sudah keluar dari rumah sakit. Keadaan nya sudah membaik.
"Vano..."panggil Angel yang tiba-tiba masuk kekamar Vano dan duduk tepat dihadapan Vano.
"Lo udah enakan..."tanya Vano.
"Sudah kok, gue baik-baik aja..."jawab Angel tersenyum tulus.
"Syukur deh ..."jawab Vano acuh.
"Van, lo masih pengen balikan sama Elisya ya?..."tanya Angel tiba-tiba.
Vano menatap kearah Angel,
"Lo tau gue sayang banget sama dia Ngel..."jawab Vano sejujurnya.
"Kalau seandainya dia maafin lo, tapi gak bisa kembali sama lo lagi gimana?..."tanya Angel lagi.
"Gue akan berjuang sekeras mungkin buat dia balik lagi ke gue, gimana pun caranya..."jawab Vano sangat berambisi.
"Kalau dia udah bahagia sama yang baru, apa lo akan hancurin kebahagiaan Elisya yang sekarang?..."pertanyaan Angel mampu menusuk perasaan Vano.
Vano terdiam beberapa saat.
"Kalau Elisya ditakdirkan buat gue, dia akan kembali sama gue. Gue yakin itu..."jawab Vano terlihat pasrah.
"Kalau dia bukan takdir lo?..."tanya Angel sedikit intens.
"Seenggaknya gue usaha dulu buat perjuangin cinta gue ke dia..."ucap Vano seraya menghela nafasnya kasar.
"Seandainya lo gak bisa balik sama Elisya lagi, gue harap lo bisa berubah dan jauh lebih baik lagi dari sekarang Vano. Karena Tuhan akan kirim pengganti Elisya buat lo. Yang bisa bikin lo bahagia Vano..."ucap Angel menyemangati.
"Omong kosong, gue cuman mau Elisya. Dia adalah kebahagiaan gue satu-satunya. Gak ada kebahagiaan yang lain..."ucap Vano nampak emosi dan berjalan meninggalkan Angel sendiri.
__ADS_1
Angel menghela nafasnya pelan. Sungguh ia hanya tak ingin Vano hancur lagi jika mengetahui Elisya sudah bersama yang lain. Itu yang Angel takutkan tentang sahabatnya itu.