Elisya

Elisya
101


__ADS_3

Arvie tak bisa menahan diri lagi, ia harus melancarkan aksinya sekarang juga. Tak peduli Elisya sudah dapat tanda tangan itu atau belum. Ia tak mau ambil resiko, apalagi sampai membahayakan keselamatan adiknya.


Disebuah kamar nan luas, disanalah Elisya dan Johannes berada.


"Ayo om tandatangani untuk Elisya, ini harus di kumpulkan sore ini juga..."bujuk Elisya manja.


Johannes tak mampu menahan diri melihat Elisya semanja ini dengannya. Tak bisa dipungkiri ia mengagumi keponakan cantiknya ini.


Akhirnya Johannes menyerah, ia mengambil pulpen dan menandatangani nya tepat didepan Elisya tanpa membaca isinya sama sekali.


"Ini sayang, om akan biayai semua biaya kuliah kamu..."ucap Johannes dengan bangganya.


Elisya tersenyum menyeringai, tugasnya selesai. Bersamaan dengan itu terjadi keributan dirumah Johannes.


Seorang pengawal mengetuk pintu secara tiba-tiba.


"Tuan, ada pemberontakan. Beserta para polisi..."lapor pengawal itu.


Johannes berdecih kesal, siapa yang berani memberontak dirumahnya dan mengalahkan para pengawalnya.


"Sayang tunggu disini, om keluar sebentar..."pamit Johannes.


Elisya berpura-pura ketakutan.


"Jangan lama-lama om, Elisya takut..."akting Elisya sangat memuaskan.


Johannes keluar dengan terburu-buru. Elisya berpikir keras bagaimana ia harus keluar dari kamar yang luas ini. Ia tak mungkin keluar lewat pintu, karena keselamatan nya akan terancam. Akhirnya Elisya mempunyai ide, ia mengambil sebuah guci lalu melemparkan nya ke kaca jendela kamar Johannes.


Sukses kaca itu pecah berserakan. Elisya tersenyum lega melihat itu. Gerakan nya cukup terbatas, karena pakaiannya yang cukup minim membuatnya sulit beraksi.


Elisya dengan cepat menaiki jendela itu, tak peduli dengan telapak tangan dan lututnya yang sudah berdarah karena terkena pecahan kaca. Namun ia tak memperdulikan itu sama sekali. Bahkan map yang ia pegang sudah terkena darah yang keluar dari tangannya.


Karena jendelanya cukup tinggi, Elisya nekat melompat.


Bruk


"Aw sstt..."Elisya meringis tatkala pergelangan kakinya terkilir. Demi Tuhan rasanya sakit sekali. Bahkan jauh lebih sakit dari pada tangannya dan lututnya yang sudah berlumuran darah.

__ADS_1


Namun Elisya tak menyerah, ia tetap memaksakan diri berlari dengan langkah terburu-buru. Tak memperdulikan rasa sakit dikakinya.


Sedang terjadi perkelahian besar dirumah Qiandra. Yang ada dipikiran Dicky hanya Elisya. Dimana gadisnya itu. Akibat ketidak pokusannya membuat ia beberapa kali terkena pukulan yang cukup keras. Padahal ilmu bela dirinya tak bisa diremehkan.


Arvie berlari membantu Dicky,


"Ky biar gue, lo selamatin adik gue..."tegas Arvie.


Dicky mengangguk lalu dengan cepat berlari ke berbagai ruangan mencari keberadaan Elisya. Wajahnya sudah sangat panik. Hingga ia menemukan satu ruangan dengan kaca jendela yang pecah dan terdapat tetesan darah dilantai. Hal itu semakin membuat Dicky tak karuan.


Dicky melompati jendela itu dengan cepat. Mencari keberadaan gadisnya.


"Esya..."teriak Dicky. Dicky mengikuti tetesan darah yang cukup banyak.


Tak henti-hentinya Dicky berdoa dalam hatinya agar Elisya selamat. Dicky berlari kesana kemari mencari dimana Elisya berada.


Sedangkan Elisya sendiri sudah berhasil keluar dari gerbang rumah besar itu secara sembunyi-sembunyi. Disaat semua orang sibuk berkelahi Elisya menyusup dibalik tanaman-tanaman dan berlari keluar dengan kaki terpincang-pincang.


Elisya berjalan dengan sekuat tenaganya menuju tempat persembunyian Arvie diawal. Ia mengarahkan sisa-sisa tenaganya untuk mencapai tempat itu.


Bersamaan dengan itu Dicky berlari menyusul Elisya.


Elisya menoleh kebelakang, senyumnya terbit. Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan nya dari bahaya yang sudah didepan mata.


"Hey my girl, lo gapapa kan?..."tanya Dicky panik sambil memegangi kedua bahu Elisya.


Karena kehabisan tenaga tubuh Elisya kehilangan keseimbangan, namun Dicky dengan cepat memeluk gadis itu. Pakaian nya sudah lusuh dengan beberapa bercak darah disana.


Ingin rasanya Dicky menangis melihat keadaan gadisnya ini. Bukannya mengeluh Elisya malah tersenyum, lalu menyodorkan map yang sudah terkena tetesan darah kearah Dicky dengan tangan yang gemetar.


"Elisya berhasil, tapi kaki Esya sakit. Hehehe Elisya gapapa bang, tapi tangan sama lutut Esya berdarah..."ucap Elisya disusul dengan kekehan kecil.


Dicky sudah tak bisa menahan dirinya. Air matanya mengalir tanpa permisi. Untuk pertama kalinya ia mengeluarkan air mata untuk seorang perempuan, bisa dibayangkan seberapa tulusnya pria itu.


"Bang Iky jangan nangis, Esya gapapa kok bang. Tugas Elisya udah berhasil. Esya seneng bisa liat bang Iky lagi, dipeluk bang Iky kaya gini..."ucap Elisya hingga kesadaran nya perlahan mulai menghilang.


Gadis itu pingsan membuat Dicky panik bukan kepalang.

__ADS_1


"ESYA BANGUN, HEY DENGER GUE. ESYAAA..."teriak Dicky sambil mengguncangkan tubuh Elisya pelan. Namun nihil, gadis itu menutup mata dengan tenangnya.


"Ky..."teriak Arvie yang datang dari belakang. Sedangkan Farhan dan David, merekalah yang akan menghandle semuanya.


"Vie gadis gue Vie..."ucap Dicky melemah. Arvie yang melihat adik kesayangannya terkapar lemah membuat hatinya terasa sangat sakit.


"Gendong adik gue Ky, kita kerumah sakit sekarang..."putus Arvie.


Jika sampai terjadi apa-apa pada adik kesayangannya, Arvie tak akan memaafkan dirinya sendiri. Ini salahnya, kenapa ia harus melibatkan adik kecilnya dalam masalah yang sangat berbahaya ini.


Arvie menjalankan mobil dengan kecepatan yang tinggi. Perasaan khawatir benar-benar menyeruak dalam dirinya. Sedangkan Dicky mengusap air matanya kasar. Ia benci keadaan seperti ini, melihat gadisnya terkapar tak berdaya.


"Dari awal gue emang gak setuju Vie, Esya jadi gini sekarang..."protes Dicky.


"Gue juga khawatir Ky, dia adik gue. Lo diam dulu..."tegas Arvie.


Dicky bungkam, tak ada gunanya ia marah-marah seperti ini. Ini bukan dirinya, ia yang selalu bisa mengendalikan emosi. Namun kali ini ia tak mampu mengontrol emosinya sendiri.


Arvie menghentikan mobilnya dirumah sakit besar kepercayaan keluarganya. Tentu disana ada beberapa orang kepercayaan Ferly Qiandra yang sangat berbakti pada keluarga itu.


Baru saja Arvie keluar dari mobilnya. Sudah ada beberapa dokter yang berlari kearahnya.


"Ada apa tuan?..."tanya salah satu dokter itu.


"Tolongin adik gue..."perintah Arvie.


Tubuh Elisya dengan cepat dibawa keruangan UGD. Dicky mengacak rambutnya kasar. Ada apa dengan dirinya hingga ia setakut ini akan kehilangan Elisya.


"Gue lebih khawatir dari lo Ky, dia adik gue. Tolong tenang, adik gue baik-baik aja..."ucap Arvie sambil menepuk bahu Dicky.


Telepon Arvie berdering, tertera nama Farhan disana. Arvie dengan cepat mengangkat nya.


"Gimana?..."tanya Arvie.


"Semuanya aman Vie, Johannes dan beberapa orang kepercayaan nya sudah diamankan pihak kepolisian. Gue pegang banyak bukti. Itu semakin mudah buat kita jeblosin dia kepenjara..."ucap Farhan yakin.


"Lo urus disana, adik gue terluka Han. Gue khawatir..."lirih Arvie pelan.

__ADS_1


"Apa, baby girl terluka? Gue sama David kesana sekarang. Lo share lock..."ucap Farhan.


"Oke..."jawab Arvie sebelum panggilan benar-benar berakhir. Arvie dengan cepat mengirimkan lokasi keberadaannya sekarang.


__ADS_2