Elisya

Elisya
59


__ADS_3

Tanpa mereka berdua sadari, Elisya sudah sedari tadi keluar dari kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju pada sosok Sam yang tengah menyuapi Lisa. Hatinya terasa hangat melihat itu. Sam benar-benar seperti sosok seorang kakak yang selalu ada untuknya. Elisya senang melihat Lisa yang sedang tertawa saat bersama Sam itu.


Elisya masih diam, sambil terus menatap kearah Sam dan Lisa.


"Mau nambah gak? Ini udah abis?..."tawar Sam.


Lisa menggeleng pelan, "Aku udah kenyang kak..."lirihnya pelan.


Sam pun membereskan bekas makannya dengan Lisa.


"Ekhem, ada yang baru suap-suapan nih..."ledek Elisya.


"Apaan sih Sya, ka Sam cuman nolongin gue ko..."jawab Lisa menahan malu.


"Iya Sya, dia harus makan kan! Biar cepet sembuh..."ucap Sam.


Elisya tertawa kecil, "Iya deh iya..."ledek Elisya.


"Kamu nggak mau makan dulu?..."tanya Sam.


Elisya menggeleng pelan, "Elisya masih belum lapar kak, nanti aja. Sekarang aku mau ngomong sama kak Sam. Biarin Lisa istirahat bentar..."ucap Elisya.


"Oh yaudah kalau gitu, kita keluar bentar ya Lis, lo istirahat aja. Biar cepat enakan..."ucap Sam.

__ADS_1


Lisa mengangguk seraya tersenyum. Elisya keluar diiringi Sam dibelakangnya. Tak lupa pula Elisya memanggil suster untuk menjaga Lisa selama ia tidak disampingnya. Ia hanya takut Lisa nekat melukai dirinya sendiri.


Elisya menuntun Sam berjalan menuju sebuah kursi didepan ruangan Lisa. "Duduk kak..."ajak Elisya.


Sam pun menurut saja. "Ngomongin apa Sya?..."tanya Sam penasaran.


Elisya menghela nafasnya pelan, "Elisya pengen cerita sama kak Sam. Elisya yakin kak Sam bisa jaga rahasia ini sepenuhnya..."lirih Elisya pelan.


Sam yang seolah mengerti arah pembicaraan Elisya pun mengangguk yakin.


"Dulu, Elisya sama Lisa satu sekolah waktu SMP. Kita sekolah di Amerika kak. Kita sahabatan selalu bertiga, aku, Lisa sama Reza. Dia selalu ada untuk kami. Elisya pun nyaman banget sama Reza, karena dia adalah sosok yang selalu menjaga kami. Hingga saat menginjak kelas 3 SMP sebuah insiden terjadi..."Elisya menghela nafasnya pelan.


Sam menggenggam erat tangan Elisya, seakan menyalurkan kekuatan untuk gadis itu. "Kalo gak sanggup jangan dilanjutin. Kaka gak maksa ko..."jawab Sam.


Elisya menggeleng pelan, "Kak Sam harus tau..."ucapnya.


Air mata Elisya menetes saat mengingat kejadian itu, "Elisya pikir kak Reza nggak masalahin hal itu. Karena dia terlihat fine fine aja gitu kak, ternyata Elisya salah. Dia menculik Lisa kak, Lisa nggak ada kabar selama kurang lebih 3 hari, Bahkan parahnya Reza hampir saja melecehkan Lisa. Untung saja Elisya datang tepat waktu. Ya walaupun Lisa sudah dalam keadaan tanpa pakaian sehelai pun. Dengan beberapa memar ditubuh Lisa, dan darah yang mengalir disudut bibirnya dan di hidungnya. Terlihat jelas kalau Lisa mengalami kekerasan dan pelecehan. Di sana Elisya rasanya benar-benar hancur. Melihat Lisa diperlakukan tidak senonoh seperti itu, bahkan oleh orang yang paling kami percaya..."


Elisya mengusap air matanya kasar, "sejak itulah, kondisi psikis Lisa terganggu kak, bayangan saat ia mengalami kekerasan yang dilakukan Reza selalu menghantui nya. Elisya juga rutin membawa Lisa ke psikologi. Dan syukurlah keadaan Lisa sudah mulai membaik. Hingga pada suatu hari Lisa mengikuti langkah orang tuanya untuk pindah ke Indonesia, dari sanalah kami berpisah. Tanpa disangka kejadian yang tak diinginkan pun terjadi. Mobil yang dikendarai Lisa dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan saat perjalanan dari bandara kerumah neneknya. Nyawa kedua orangtuanya terenggut. Hanya Lisa yang selamat. Dari sanalah mentalnya semakin down. Bahkan aku sering mendapati Lisa yang tengah melukai dirinya sendiri kak..."


Sam masih setia mendengarkan setiap bait cerita Elisya.


"Seiring berjalannya waktu keadaan Lisa mulai membaik. Ia sudah mulai bisa menerima keadaan, Elisya juga rutin membawa dia ke dokter psikologi. Akhirnya semua berjalan seperti semestinya. Elisya melanjutkan sekolah di Amerika dan Lisa di Indonesia. Tentu dengan seluruh biaya papa dan mama Elisya yang tanggung. Hingga akhirnya Elisya juga pindah kesini. Karena Elisya mengkhawatirkan Lisa dan kebetulan papa juga mau nambah cabang bisnis disini..."

__ADS_1


"Lalu Reza nya kemana Sya, dan kenapa keadaan Lisa memburuk seperti ini..."tanya Sam yang masih dihantui rasa penasaran.


"Elisya udah jeblosin Reza ke penjara, dan soal trauma yang dialami Lisa sekarang. Beberapa hari yang lalu ia dapat teror kak. Elisya takut aja kalau Reza udah bebas. Makanya Lisa ketakutan banget..."ucap Elisya.


Sam mengepalkan tangannya menahan emosi, "Kaka gak nyangka kehidupan Lisa ternyata seberat ini..."ucap Sam.


"Tolong bantu Elisya jagain Lisa kak. Elisya gak mau Lisa kenapa-kenapa, Elisya takut kehilangan Lisa..."ucap Elisya nampak memohon.


"Pasti, kaka akan jagain kalian berdua. Jangan sedih lagi ya Sya, kaka pasti akan bantu. Sekarang kamu makan dulu ya. Dari tadi siang kamu belum makan..."ucap Sam.


Elisya mengangguk tanda menyetujui. "Dan terimakasih udah percaya sama kaka, dan ceritain semuanya. Kaka akan jaga rahasia ini baik-baik..."ucap Sam.


Elisya tersenyum, "Elisya percaya sama kak Sam, tolong jangan kecewakan kami kak..."lirih Elisya pelan.


Sam merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Elisya pun dengan senang hati membalas pelukan Sam. Hingga mereka terkejut saat Vano yang menatap mereka datar sambil terus berjalan melewati mereka dengan membopong tubuh Angel yang terlihat tengah pingsan.


"Kamu ngga papa Sya..."ucap Sam lalu melerai pelukannya.


"Ngga papa, Elisya masuk dulu ya..."ucap Elisya. Bohong saja jika ia bilang ia tidak apa-apa. Melihat kekasihnya itu selalu ada disamping Angel. Bahkan saat dirinya membutuhkan sosok seorang Vano pun, Vano tak ada untuknya. Apakah itu masih pantas disebut dengan seorang kekasih?


Elisya masuk keruangan Lisa. Ternyata Lisa tengah terlelap dalam tidurnya. Elisya tersenyum lalu mengambil bingkisan makanan yang diberikan Sam padanya sebelum ia mandi tadi.


"Suster, biar saya yang jaga. makasih ya sus..."ucap Elisya.

__ADS_1


Suster itu tersenyum ramah, "Itu sudah menjadi tugas saya. kalau begitu saya permisi dulu ya mbak..."ucap suster itu sopan.


Elisya mengangguk seraya tersenyum, kemudian ia duduk disofa sambil membuka bingkisan makanan itu. Lalu mulai memakannya.


__ADS_2