Elisya

Elisya
61


__ADS_3

Hallo readers πŸ₯°πŸ€—


Sebenarnya author agak sedih. Dari sekian banyak orang yang baca novel ini yang like dan coment cuman dikit. Author sedih jadinya. Jadi kurang semangat deh up nya.


Yaudah deh itu aja yang mau author bilang, silahkan lanjutkan membacanya. Jangan lupa ya LIKE & COMENTπŸ€—πŸ₯°


HAPPY READING 😍


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Jika kalian penasaran kenapa Vano bisa ada dirumah sakit. Setelah kejadian disekolah kemarin. Sehabis dari UKS, Vano langsung membawa Angel pulang kerumah. Disanalah Angel memulai sandiwara nya dengan berpura-pura pingsan hingga membuat Vano sangat panik, begitu juga dengan ibunya Desi.


Karena Angel yang tak kunjung sadarkan diri, akhirnya Vano memutuskan untuk membawanya kerumah sakit. Entah kebetulan atau bagaimana Vano malah menyaksikan Elisya yang tengah dipeluk erat oleh Sam. Emosinya semakin menjadi-jadi. Traumanya menghantui pikirannya.


Vano sangat marah sekarang, rasa benci menyeruak dalam dirinya. Seolah rasa sayangnya tertutupi oleh kebenciannya. Ingatan saat Sam memeluk Elisya selalu terbayang-bayang dalam pikirannya. Jika kemarin Vano hanya melihat lewat foto, maka sekarang Vano melihat dengan mata kepalanya sendiri. Membuat kebenciannya semakin bertambah.


"Ck murahan..."gumam Vano sambil menggenggam erat gelas ditangannya. Ia tengah duduk disofa sambil menunggu Angel sadar.


Jika menurut kalian ini semua akal-akalan Angel! Ya! Benar. Angel menyuruh beberapa orang untuk mengikuti Elisya. Tentu ia tau jika Elisya tengah berada dirumah sakit bersama Sam. Karena itulah ia memulai sandiwara dengan berpura-pura pingsan. Tentu dengan tujuan agar Vano semakin salah paham dan semakin membenci Elisya.


"Rasain lo Sya, kita liat! Sampai mana lo bisa bertahan..."gumam Angel dalam hati.


Angel mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia memanggil nama Vano pelan. "Vano..."lirihnya pelan.


Vano yang mendengar itu langsung mendekat dan duduk disamping brankar Angel. "Lo baik-baik aja Ngel, lo bikin gue khawatir..."keluh Vano.


Angel tersenyum puas, setelahnya ia malah terisak-isak dalam tangisan nya. Membuat Vano semakin panik. "Lo kenapa nangis Ngel?..."tanya Vano heran.


"Mending lo gak usah jagain gue deh Van, lo tinggalin aja gue. Gue bisa sendiri ko hiks, gue cape Vano. Siapa yang mau sakit kaya gini. Tega banget Elisya bilang kalau gue pura-pura sakit. Buat apa coba Van? Gue sakit hati Vano. Lebih baik lo tinggalin gue aja..."tangis Angel semakin kencang bahkan ia mulai histeris membuat Vano langsung mendekap tubuh Angel erat.

__ADS_1


"Tenang Ngel, jangan mikirin itu. Gue akan selalu ada buat lo. Percaya sama gue..."ucap Vano menenangkan.


"T-tapi Elisya gak suka sama gue, kemarin dia nampar gue Vano, dorong gue. Gue sakit hiks! Gimana kalau besok dia apa-apa in gue lagi. Gue takut..."ucap Angel histeris.


"Tenang Ngel tenang, gue akan selalu disamping lo. Jagain lo, jangan pernah takut. Sekarang lo tidur. Istirahat sekarang juga. Jangan pikiran masalah itu. Kalau sampai Elisya nyakitin lo lagi, gue yang akan negur dia..."ucap Vano lalu mulai melerai pelukannya.


"Janji ya Vano, lo akan jagain gue terus..."lirih Angel pelan.


"Gue janji..."jawab Vano lantang.


Vano membenarkan selimut Angel lalu mengusap-usap kepala Angel, Angel tersenyum puas. "Tinggal sedikit lagi Sya, Vano akan jatuh ke pelukan gue selamanya..."gumam Angel dalam hati.


Setelah nya ia mulai memejamkan matanya sedangkan Vano masih terus mengusap-usap kepala Angel penuh kasih.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Malam yang cukup panjang telah berlalu, berganti dengan kehadiran sang mentari yang menyinari indahnya bumi pagi ini. Elisya sudah rapi dengan seragam sekolahnya yang memang sudah ada dirumah sakit. Begitu juga dengan Sam.


"Sya, Lis, nih makan dulu..."ucap Sam sambil menyodorkan kantong plastik berisi makanan.


Dengan senang hati Elisya menyambutnya. "Ayo ka kita makan dulu..."ajak Elisya. Akhirnya mereka bertiga pun duduk disofa bersama.


"Berangkat bareng kaka aja Sya, sekalian nganter Lisa pulang..."ucap Sam.


"Oh yaudah kalau gitu..."jawab Elisya cepat.


Lisa menggeleng pelan, "Gue pengen sekolah Sya, gue bisa kok. Temenin gue pulang bentar ya, ganti baju doang. Habis itu langsung berangkat..."lirih Lisa pelan.


Elisya melirik kearah Lisa,"Gak bisa gitu dong Lis. Lo masih belum terlalu pulih, lebih baik lo Istirahat aja deh dirumah, nanti gue izinin kok..."jawab Elisya khawatir.

__ADS_1


Sam akhirnya ikut angkat suara juga. "Bener Sya, Lis lo lebih baik istirahat deh. Gue takut aja lo malah kenapa-kenapa nanti. Jadi mending dirumah dulu deh..."jawab Sam lagi.


Lisa tersenyum, "Gue bisa kok Sya. Lisa bisa kak. Kalian berdua gak usah khawatir..."jawab Lisa yakin.


"Yaudah deh kalau gitu. Habisin makanannya dulu. Habis ini kita kerumah lo..."ucap Elisya.


Sedangkan Sam hanya mengangguk saja.


"Nenek gue gimana Sya? Tau nggak kalau gue masuk rumah sakit gini?..."tanya Lisa ragu.


Elisya menggeleng pelan, "Gue sengaja gak bilang sama nenek lo. Gue takut nenek lo khawatir, gue cuman bilang lo nginep dirumah gue aja sih..."jawab Elisya jujur.


Lisa menghela nafas lega, "Syukur deh, gue juga gamau nenek tau. Lo tau kan gue cuman punya nenek satu-satunya..."jawab Lisa berubah sendu.


Elisya tersenyum, "Gue ngerti..."


Sam tiba-tiba menyodorkan telponnya kearah Elisya. "Liat deh Sya..."ucap Sam.


Betapa terkejutnya Elisya saat melihat ditelpon Sam ada video waktu kejadian kemarin.


"Kaka dapet video ini dimana..."tanya Elisya bingung.


"Ada temen kaka yang gak sengaja videoin ini Sya, sekarang kaka kirim ke nomor kamu ya, biar bisa buktiin ke Vano kalau kamu gak salah..."ucap Sam lalu tersenyum.


Elisya tersenyum lega, "Makasih ya kak, kaka baik banget sama Elisya..."ucap Elisya tulus.


"Ia cantik..."jawaban Sam membuat Lisa merasa sesak. Entah apa yang terjadi pada perempuan itu. Bukankan Lisa tergila-gila pada sosok Vano? Ada apa sekarang?


"Lo ada masalah ya Sya?..."ucap Lisa angkat suara.

__ADS_1


Elisya tersenyum getir, "Dikit doang kok Lis, gue bisa hadapin ini..."jawab Elisya yakin.


"Udah buruan habisin makanannya, biar gak telat..."ucap Sam.


__ADS_2