Elisya

Elisya
41


__ADS_3

Raut wajah yang tadinya murung berubah menjadi berseri-seri.


"Kita kemana kak?..."tanya Elisya.


"Kemanapun lo mau, gue traktir..."sahut Arvie singkat tapi sukses membuat Elisya kegirangan.


"Ka Arvie memang terbaik..."puji Elisya sambil memeluk Arvie erat.


"Udah buruan naik, kita naik mobil aja. Takut lo masuk angin. Baju lo tuh kurang bahan..."ledek Arvie.


Elisya mendengus kesal,


"Ka Arvie aja ga tau fashion. Model nya emang kada gini. Bukan kurang bahan..."kesal Elisya.


Arvie tak menghiraukan keluhan Elisya lagi, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ditengah perjalanan mata Elisya menangkap sosok yang ia kenali seperti tengah bertengkar.


"Ka stop deh, itu kaya ka Bella..."ucap Elisya sambil menyenggol tangan Arvie.


Arvie mengerem mobilnya mendadak saat mendengar nama Bella disebutkan. Elisya bergegas turun meninggalkan mobil menuju ke arah Bella.


"Eh lo kasar banget sih sama cewe, banci ya lo..."teriak Elisya pada sosok laki-laki yang menarik tangan Bella kasar.


"Elisya..."lirih Bella pelan.


"Eh lo gak usah ikut campur ini urusan gue sama Bella..."jawab laki-laki itu sambil mendorong sebelah bahu Elisya.


"Ya lo jangan kasar dong, beraninya sama cewe. Banci tau nggak..."bentak Elisya.


Laki-laki itu mengangkat tangannya hampir saja menampar wajah mulus Elisya, tapi Arvie sudah menggenggam tangannya keras.


"Berani banget lo mau nampar adik gue, lo cowo kan? Berantem sama gue. Cari musuh tuh yang sepadan, jangan berani sama cewe..."tantang Arvie.


"Banyak bacot lo..."laki-laki itu menyerang Arvie dengan bringas.


Terjadilah perkelahian disana. Laki-laki itu nampak hilang kendali sambil terus menyerang Arvie, sedangkan Arvie masih dengan wajah santainya menangkis serangan demi serangan yang datang kepadanya. Jangan pernah meragukan kemampuan bela diri seorang Arvie Qiandra.


Hanya beberapa menit laki-laki itu sudah tergeletak diatas tanah dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.


"Bangun lah? Sini lawan gue, jangan beraninya sama cewe. Cih banci..."sindir Arvie.


"Gue akan balas kalian semua..."ucap laki-laki itu lagi berjalan tertatih-tatih menaiki motornya.


Arvie berjalan kembali menuju Elisya dan Bella berdiri.


"Lo gak papa Bel?..."tanya Arvie.

__ADS_1


Bella mengangguk, "Thanks ya Vie lo udah nolongin gue. Makasih juga Sya..."lirih Bella pelan.


"Dia siapa sih ka, ko kasar gitu sama ka Bella?..."tanya Elisya penasaran.


"Ceritanya panjang Sya..."jawab Bella sekenanya.


"Sekarang ka Bella mau kemana, ikut kita ya kak..."bujuk Elisya.


Bella menggeleng pelan, "Nggak usah deh Sya, gue takut ngerepotin..."


Elisya menatap Arvie memelas, "Boleh kan ka..."rengeknya seperti anak kecil yang sedang meminta permen.


Arvie mendengus kesal, "Ayo naik..."ucapnya sambil menuju ke arah mobil.


Elisya kegirangan mendengar jawaban Arvie lalu menarik tangan Bella menuju mobil.


"Kita ke cafe aja kak, Elisya laper nih..."rengek Elisya.


Arvie berdecih, "Dasar manja..."ucapnya.


Arvie menjalankan mobilnya menuju cafe terdekat. "Sya ayo turun..."ajak Arvie.


Elisya masih setia menggenggam tangan Bella menuntunnya turun dari mobil. Elisya menyadari wajah Bella yang masih nampak ketakutan.


Mereka bertiga berjalan memasuki cafe itu.


Seakan mengerti keadaan, Arvie mengangguk lalu meninggalkan Elisya yang tengah duduk berdua dengan Bella.


"Sekarang ka Bella cerita ya sama aku..."bujuk Elisya.


Bella menghela nafasnya pelan,


"Gue takut Sya..."lirih Bella sambil mempererat genggaman tangannya pada Elisya.


Elisya mengusap pundak Bella sambil membenarkan duduknya menghadap Bella. "Sekarang ka Bella tenang dulu. Disini ada Elisya ka, sekarang ka Bella ceritain semuanya ke Elisya..."bujuk Elisya lagi.


"Dia mantan gue Sya, namanya Rangga. Dia kasar banget Sya. Gue udah gak tahan lagi sama sikap dia yang terlalu posesif dan kasar. Gue udah minta putus sama dia Sya, tapi dia gak mau. Dia malah nyeret-nyeret gue kaya tadi. Gue takut Sya hiks hiks..."tangis Bella pecah seketika. Ia tak bisa lagi menyembunyikan raut wajahnya yang benar-benar ketakutan.


Elisya memeluk Bella memberikan ketenangan,


"Mulai sekarang ka Bella ngga usah takut lagi, Elisya akan berusaha jagain ka Bella mulai sekarang..."ucap Elisya.


Bella menggeleng kuat, "Jangan Sya, gue mohon lo gak usah ikut campur urusan gue. Gue gak mau lo dalam bahaya gara-gara gue..."tolak Bella.


"Ka Bella ngga perlu mikirin itu. Elisya akan lakuin apapun buat ngejaga ka Bella..."ucap Elisya meyakinkan.


Bella melerai pelukannya, "Thanks banget ya Sya, lo udah nolongin gue. Gue bersyukur banget Tuhan berbaik hati sama gue ngasih gue temen sebaik lo..."puji Bella.

__ADS_1


Elisya tersenyum, "Terlalu berlebihan ka Bella, udah sekarang gak usah nangis ya ka..."hibur Elisya.


Bella mengangguk lalu mengusap air matanya pelan.


Arvie sedari tadi ingin kembali ke tempat duduknya tapi saat melihat Bella menangis menahan ketakutannya, ia mengurungkan niatnya. Ia memberikan waktu untuk Elisya menenangkan Bella.


Arvie mengambil telpon nya didalam kantong celananya, ia terlihat sibuk menghubungi seseorang yang entah itu siapa.


"Besok gue udah balik ke Rusia, gue minta kalian jaga Elisya dan temannya Bella. Jangan sampai ada yang berani nyakitin mereka setelah gue pergi..."ucap Arvie bicara ditelpon lalu mematikan sambungan telponnya.


Arvie melangkahkan kakinya mendekati Elisya saat merasa keadaan sudah cukup tenang.


"Nih makannya Sya, Bel..."sapa Arvie lalu duduk.


"Thanks ya Vie, sorry ngerepotin lo..."ucap Bella sungkan.


"Santai aja kali..."jawab Arvie sekenanya.


"Wah ka Arvie baik banget sih. Sini ka makanan nya, Elisya laper tau..."ucap Elisya mencoba mencairkan suasana.


Arvie terkekeh melihat sikap manja adiknya itu, ia mengusap pelan kepala Elisya.


🕓🕓🕓


Disebuah rumah sakit besar, Vano berlarian mencari ruang rawat Angel. Sampai matanya tertuju pada sosok ibunya Angel yang tengah berbicara dengan dokter diluar ruangan.


"Tante..."teriak Vano.


Desi langsung kelihatan gugup saat kedatangan Vano.


"Nanti kita bicara lagi..."ucap Desi yang membuat dokter itu pergi.


"Gimana keadaan Angel tante?..."tanya Vano khawatir.


"Tadi dia pingsan Vano, dokter bilang jantung Angel bermasalah. Tante takut Angel kenapa-kenapa Vano..."jelas Desi.


Vano menghela nafasnya pelan. "Tante tenang ya, Angel pasti akan sembuh..."ucap Vano menenangkan.


"Kamu mau janji sama tante Vano?..."tanya Desi.


Vano mengangguk mantap, "Apa tante?..."


"Tante pengen kamu selalu jagain Angel, selalu berada disamping dia. Tante takut Angel kenapa-kenapa..."lirih Desi pelan.


"Iya tante, Vano janji. Vano akan selalu ada buat Angel..."jawab Vano yakin.


Desi tersenyum senang, "Sekarang kamu masuk dulu, Angel udah nungguin kamu di dalam..."ucap Desi.

__ADS_1


Vano bergegas masuk keruangan Angel.


__ADS_2