Elisya

Elisya
91


__ADS_3

Selamat datang di negara Rusia dengan beribu keindahan nya. Keindahan yang mampu menyegarkan mata bagi siapa saja yang berkunjung ke negara ini. Tentunya dengan berbagai tempat wisata nan sangat indah dan memanjakan mata. Matahari dengan cerahnya menyinari negara ini, menambah kesan indah dan kemewahan yang dimiliki negara ini. Seolah menunjukkan bahwa ini adalah hari baru.



Setelah kedatangan Elisya dan yang lainnya kemarin di Rusia. Mereka langsung beristirahat. Karena rasa lelah yang menyerang membuat mereka masih belum bangun pagi ini, padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


Hanya Elisya yang sudah bangun. Kini gadis itu sudah cantik dengan rambut yang dikuncir memperlihatkan leher putihnya. Baju kaos lengan pendek over size dengan celana pendek diatas lutut memamerkan pahanya yang mulus.


Keadaan Elisya sudah jauh lebih baik, ia lebih sering tersenyum sekarang. Perlahan ia mulai bisa menghilangkan kesedihannya walau masih membekas dalam hatinya.


Kehidupan baru di negara yang baru pula bagi Elisya. Ia harus bisa bangkit dari segala keterpurukan nya. Cukup masalah percintaan nya yang gagal, masa depannya tidak boleh gagal.


Gadis cantik itu tengah bersenandung kecil sambil sibuk bergulat dengan peralatan dapur. Kehidupan yang mewah bak seorang putri tak membuatnya menjadi gadis yang manja. Ia bahkan bisa memasak sendiri. Rencananya ia ingin membuat omelette untuk semua orang pagi ini. Dengan beberapa gelas susu sebagai sarapan.


Tiba-tiba Arvie, Dicky, David dan Farhan keluar dari kamarnya masing-masing. Padahal tidak janjian namun entah kenapa mereka malah bangun secara bersamaan.


Setelah dari kamar mandi mereka berempat menuju ke dapur, wangi makanan yang menyeruak di indra penciuman mereka membuat perut mereka meronta-ronta karena lapar.


Sesampainya di dapur, Elisya sudah beres menyelesaikan masakannya.


"Taraaaa Elisya bikinin omelette buat semuanya..."ucap Elisya dengan senyuman termanisnya.


Dicky sontak balik badan tak mau menatap Elisya. Sedangkan David terdiam dengan mulut menganga menatap ke arah Elisya. Farhan? Jangan tanyakan lagi, pria itu sudah melotot kaget.


Arvie yang tak kalah terkejutnya dengan cepat mengembalikan kesadaran nya. Apakah adiknya ini tidak sadar jika disini ada empat pria, bagaimana bisa ia memakai pakaian sependek itu. Biar bagaimanapun mereka semua pria normal. Melihat paha mulus yang tidak tertutup sehelai benang pun membuat mereka menelan saliva dengan susah payah.


Elisya memang terbiasa dengan pakaian seperti itu yang menurutnya lebih nyaman saat memasak. Biasanya hanya ada kedua orangtuanya dan Arvie saja yang menyaksikan itu.


"Balik badan atau mata lo semua gue congkel..."ucap Arvie lantang.


Dengan cepat Farhan dan David membalikkan badannya. Sedangkan Dicky sudah balik badan sedari awal.


"Kenapa sih ka?..."tanya Elisya heran.


"Ganti baju sekarang, pakai celana panjang Elisya. Disini cowok semua..."ucap Arvie menegaskan.

__ADS_1


Elisya meletakkan omelette ditangannya keatas meja.


"Maaf ka Elisya lupa..."jawab Elisya cengengesan lalu berlari ke kamar untuk mencari pakaian yang lebih sopan.


Setelah kepergian Elisya Arvie dan ketiga temannya akhirnya duduk dimeja makan.


"Pagi-pagi udah liat bidadari aja lagi masak. Gimana gak seger gue..."canda Farhan.


"Adik lo mantap banget ya Vie..."puji David.


Arvie menatap kedua temannya itu dengan tatapan tajam.


"Berani sentuh adik gue, patah tangan lo..."jawab Arvie membuat yang lain kicep.


"Bercanda doang kali Vie, santai dong pa..."jawab David takut.


"Soal pemalsuan tanda tangan kemarin, gue curiga sama satu orang Vie, tapi gue masih perlu waktu sedikit lagi untuk bisa membuktikan perkataan gue..."ucap Farhan.


"Gue percayakan semuanya sama lo Han, gue pengen kasus ini di usut tuntas sampai pelakunya membusuk dipenjara..."jawab Arvie.


"Pasti bro..."jawab Farhan yakin.


Dicky menatap bingung kearah Arvie, seolah menanyakan kenapa harus dia. Arvie yang mengerti langsung mengangkat suaranya.


"Gue cuman percaya sama lo, gue gak percaya sama dua tengil ini..."ucap Arvie sambil menatap tajam kearah Farhan dan David.


"Si bos lama-lama ngeri juga ya..."ucap David.


"Dari dulu juga gitu kali..."jawab Farhan.


Hari ini mereka berempat kebetulan masuk jam siang. Itu yang membuat mereka bisa bangun agak siangan.


Elisya sudah kembali dengan pakaian yang lebih sopan. Bahkan rambutnya sudah tergerai indah.


"Gimana kak?..."tanya Elisya.

__ADS_1


Arvie tersenyum lalu mengangguk. Elisya menyajikan omelette buatannya.


"Nih cobain masakan Elisya, Elisya bikinin susu juga..."ucap Elisya lalu duduk.


"Ngerepotin banget deh Sya..."keluh Farhan.


"Gak ngerepotin kok kak, Elisya emang suka masak..."ucap Elisya.


"Indahnya ciptaan Tuhan ini, siapa tau lo jodoh gue Sya..."ucap David dramatis.


"Jika itu terjadi maka gue adalah orang pertama yang akan nolak lo mentah-mentah sebagai adik ipar gue..."jawab Arvie ketus.


Farhan tertawa terbahak bahak meledek David.


"Lo ah Vie, gak asik banget..."keluh David.


"Hari ini kita kuliah siang Sya, lo di apartemen aja ya..."ucap Arvie.


"Elisya pengen ikut, bosen tau disini sendiri..."keluh Elisya.


"Yaudah kalau gitu, tapi janji gak ngerepotin ya. Tunggu aja sampai jam kaka selesai..."ucap Arvie pasrah.


"Siap komandan..."jawab Elisya bersemangat.


🕓🕓🕓


Keadaan kampus sangat ramai hari ini. Mereka berempat yang mendapat gelar most wanted di kampus ini. David yang terkenal playboy dan suka bergonta-ganti pacar, sedangkan Farhan terkenal dengan sifat friendly nya. Arvie dan Dicky adalah pria es yang tak tergapai. Banyak yang mengagumi mereka namun masih belum ada yang mampu mendapatkan pria dingin itu.


Keadaan kampus menjadi heboh saat mobil mewah Arvie memasuki area parkir kampus. Banyak kaum hawa yang histeris menunggu kedatangan mereka.


Semuanya keluar dari mobil seperti biasanya. Arvie dan Dicky dengan wajah datarnya. David yang selalu saja tebar pesona, membuat kaum hawa berteriak histeris. Sedangkan Farhan hanya tertawa-tawa kecil. Mereka sudah terbiasa dengan semua ini.


Jika biasanya mereka langsung berjalan meninggalkan mobil, maka kini tidak. Arvie terlihat membukakan pintu mobil untuk adik kesayangannya Elisya.


Elisya perlahan turun dari mobil, Arvie dengan cepat menggandeng erat tangan kiri Elisya. Disebelah kanan Elisya ada Dicky. Lalu dibelakangnya ada Farhan dan David.

__ADS_1


"Brengsek, siapa tuh ******, berani-beraninya pegangan tangan sama Arvie..."keluh Bianca tak terima.


"Nanti kita urus, masuk dulu..."jawab Celine.


__ADS_2