Elisya

Elisya
126


__ADS_3

Hai readers 😍 Karena lama gak up jadi di part ini panjang banget hihi. Maafin ya lama banget baru up. Author lagi banyak pikiran jadi gak bisa up beberapa hariπŸ₯Ί.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Setelah pesta pernikahan selesai. Bella dengan cepat mengganti pakaiannya.


Bella menatap sendu kearah orang tuanya yang akan kembali pulang ke Indonesia.


"Mah Pah, kenapa gak nginep dulu disini sama Bella..."bujuk Bella sedih.


Ibu Bella memeluk putrinya begitu erat.


"Mamah sama papah akan kesini lagi jalan-jalan. Sekarang mamah sama papah pulang dulu ya sayang. Ada kerjaan yang mengharuskan papah untuk pulang hari ini juga..."ucap Ibu Bella menenangkan.


Ayah Bella menepuk pelan pundak Arvie.


"Sekarang saya serahkan putri saya satu-satunya pada kamu Arvie. Saya menaruh harapan penuh pada kamu. Saya tidak minta banyak hal. Saya hanya ingin kamu bertanggung jawab atas dia, dan membahagiakan dia seumur hidupnya..."pesan Ayah Bella terdengar begitu serius.


Arvie mengangguk mantap.


"Saya berjanji akan menjaga Bella seumur hidup saya. Saya juga akan membahagiakan dia sampai dia lupa bagaimana rasanya terluka..."jawab Arvie tegas.


Ayah Bella tersenyum senang.


"Saya pegang omongan kamu. Karena jika kamu Ingkar janji, saya akan mengambil putri saya kembali..."ancam ayah Bella.


"Akan saya pastikan hal itu tidak akan terjadi..."jawab Arvie yakin.


Ayah Bella beralih menatap putrinya itu. Mendekap putrinya begitu erat.


"Jaga diri baik-baik putri papah. Papah harap kebahagiaan selalu bersama kamu sayang. Kami pamit pulang dulu..."pamit Ayah Bella lalu mengecup puncak kepala anaknya.


Dengan berat hati Bella melepaskan kepulangan kedua orangtuanya.


Arvie menoleh kearah istrinya yang nampak sangat sedih sedari tadi. Akhirnya Arvie malah membopong tubuh Bella dan berjalan dengan santainya menuju kamarnya. Tanpa mempedulikan Bella yang sudah berontak minta diturunkan.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Diruang tamu nan megah Elisya terlihat berbaring disofa lebih tepatnya diatas paha Dicky dengan Dicky yang setia mengelus kepalanya.


"Bang Arvie kemana ya, dari tadi gak keliatan..."heran Elisya.


Dicky tertawa pelan.


"Namanya juga pengantin baru Sya, ya wajar lah..."goda Dicky.


Elisya menutup wajahnya malu. Harusnya ia bisa memaklumi hal itu.


"Ihh malu..."rengek Elisya.


Dicky menggenggam tangan Elisya.


"Ngapain malu sih, kan bentar lagi kita nikah juga Sya..."ucap Dicky.


"Masih 2 minggu lagi bang..."peringat Elisya.


"Kalau gitu gue majuin ada pernikahan nya jadi 2 hari lagi..."ucap Dicky enteng.


Elisya melotot karena kaget. Ia sampai bangkit dan duduk tepat disamping Dicky.


"Ihh abang bukan gitu maksudnya Elisya. Mana bisa gitu. Gak boleh ya, pokonya 2 minggu lagi. Elisya belum siap tau..."protes Elisya.


Dicky tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Belum siapa ngapain? Nanti juga siap kok..."goda Dicky semakin menjadi-jadi.


"Abang ihh jangan ngomongin itu..."rengek Elisya tak terima.


Dicky tertawa sambil meraih tubuh Elisya dan mendudukkan nya tepat dipangkuannya dengan posisi Elisya berhadapan dengannya. Membuat Elisya sedikit menunduk untuk menikmati wajah tampan Dicky.


Detik selanjutnya Dicky meletakkan tangan kirinya tepat dipinggang Elisya, dan tangan kanannya meraih leher Elisya agar memudahkan nya untuk menggapai bibir mungil Elisya.


Benar saja. Dicky tidak seperti biasanya. Setiap berdekatan dengan Elisya selalu membuat dirinya hampir diluar kendali.


Seperti sekarang Dicky tengah ******* bibir Elisya dalam. Membuat Elisya sontak mengalungkan kedua tangannya dileher Dicky.


"Shhh..."lenguh Elisya saat tangan Dicky perlahan mulai menyingkap kaos lengan pendek yang ia pakai. Mengelus pelan perut rampingnya.


Ini gila, benar-benar gila. Namun Elisya tak munafik, ia menikmatinya. Sama halnya dengan Dicky yang semakin menggila. Ciumannya kini turun ke leher Elisya membuat tanda kepemilikan disana.


"Bang shh..."ucap Elisya pelan namun sama sekali tak dihiraukan oleh Dicky. Ia benar-benar sudah dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri.


Tangan Dicky semakin gencar mengelus pelan bagian tubuh Elisya hingga saat tangannya ingin membuka kaos Elisya, Farhan tiba-tiba datang tanpa diundang.


"Panas banget nih Ac. Rusak apa gimana ya? Kaya gak ada kamar aja sialan..."ucap Farhan yang selalu saja mengganggu.


Elisya langsung merapikan bajunya dan duduk disamping Dicky. Dicky menghela nafasnya yang memburu. Sungguh rasanya ia ingin memakan Farhan hidup-hidup setelah ini.


"Kalau gue kanibal. Lo udah gue makan Han..."ucap Dicky.


Farhan meneguk salivanya susah payah.


"Yaelah gue cuman bercanda Ky, g-gue permisi dulu..."pamit Farhan lalu berlari meninggalkan Dicky dan Elisya.


"Abang Elisya maluu..."rengek Elisya.


"Mau lanjut di kamar gak Sya?..."goda Dicky.


"Gamauuu Elisya mau mandi aja. Gerahh..."protes Elisya lalu berlari kecil menuju kamarnya. Membuat Dicky tertawa kecil.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


"Elisya kemana? Kok gak makan malam sih?..."tanya Bella penasaran.


Arvie menoleh ke sekeliling meja makan. Memang tak ada Elisya disana. Hanya ada Farhan, Arvie,Bella, Dicky,David,Sam dan Lisa tentunya.


"Ky nanti lo ke kamar adik gue anterin makanan. Mungkin kecapekan tuh anak..."putus Arvie yang membuat Dicky berdehem menyetujui.


Suasana menjadi hening setelah itu. Farhan juga hanya diam karena takut pada Dicky.


"Emm gue denger Vano akan ke sini saat pernikahan Elisya sama Dicky nanti. Kalian ada masalah gak sama itu? Kita semua tau kan Elisya udah baikan sama Vano. Gue rasa gak ada yang perlu dikhawatirkan..."jelas David hati-hati.


Arvie nampak menimang-nimang penuturan David sampai Bella memegang tangan Arvie lembut.


"Kenapa nggak kan Vie? Seseorang yang melakukan kesalahan dan menyesali kesalahan itu, dia berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tuhan aja maha pemaaf masa kita nggak?..."lirih Bella pelan.


Arvie tersenyum, Bella memang selalu jadi yang terbaik. Meskipun banyak sekali wanita diluaran sana yang mengincarnya, ia tetap memilih Bella. Bella adalah wanita spesial baginya. Tak ada yang pantas menjadi pasangan hidupnya selain Bella.


Akhirnya Arvie mengangguk.


"Gue gak masalah dengan hal itu. Bella bener, Vano berhak diberi kesempatan. Selagi dia ga jadi pengacau sih. Ya gapapa..."putus Arvie.


"Gue juga setuju sama Bella, lagian Vano udah dapat hukuman yang sepadan juga kan. Jadi gak ada masalah iyakan Bel?..."ucap Farhan sambil menatap kearah Bella.


Arvie menatap tajam kearah Farhan membuat Farhan cepat-cepat memutuskan pandangan nya dari Bella.


"Gak Dicky gak Arvie posesif semua. Heran gue. Kaya gue mau ngambil aja..."keluh Farhan terlihat begitu pasrah. Seperti nya ia selalu salah.

__ADS_1


"Gue gak setuju..."tiba-tiba Dicky angkat suara membuat semua mata tertuju padanya.


"Kalau menurut Lisa gak masalah loh bang Iky, lagian kita semua tau kan Elisya sesayang apa sama bang Iky..."bujuk Lisa ikut serta.


"Bener bang, Vano itu hanya masalalunya bang. Sedangkan abang masa depannya. Ayolah bang jangan gini..."ucap Sam.


"Kita semua tau Ky gimana kalau kita diposisi lo. Tapi lo harus percaya sepenuhnya sama Elisya. Gue yakin lo bisa..."lirih David meyakinkan.


Dicky diam. Sama sekali tak memberikan jawaban entah ia menyetujui kedatangan Vano atau tidak. Dicky malah bangkit dari tempat duduknya dan meraih sepiring makanan dan minuman. Tanpa mengeluarkan suara ia berjalan meninggalkan semua orang menuju kamar Elisya.


Baru saja David ingin bangkit dan menyusul Dicky. Farhan dengan cepat menahannya.


"Nggak perlu Vid. Biarin dia mikirin soal ini dulu. Lo tau kan Elisya wanita pertama Dicky. Wajar sih dia se posesif itu sama Elisya..."jelas Farhan.


"Udahlah kita makan aja. Gak usah dipikirin..."putus Bella.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Elisya tengah duduk di balkon kamarnya seperti kebiasaan yang selalu ia lakukan akhir-akhir ini. Menatap sang bulan dengan hamparan bintang-bintang yang senantiasa menghiasi malamnya.


Tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Elisya menoleh kearah pintu. Disana ada Dicky yang membawakan nampan berisi makanan dan minuman. Elisya tersenyum, demi Tuhan ia bersyukur karena telah dihadirkan sosok seorang Dicky dalam dunianya. Elisya tak punya kata-kata untuk menjelaskan betapa bahagianya dia memiliki Dicky dalam hidupnya.


"Sini bang..."ucap Elisya sambil menepuk lantai disampingnya menyuruh Dicky duduk disana.


"Makan dulu Esya..."ucap Dicky lalu menaruh nampan itu disamping Elisya lalu duduk menghadap gadis itu.


Ada yang berbeda pada Dicky malam ini. Sapaan nya pada Elisya terdengar begitu dingin. Biasanya pria ini selalu berbicara sangat lembut pada Elisya. Apa ada sesuatu yang menganggu pikirannya?


Elisya tahu betul sikap Dicky akan berubah menjadi dingin jika ada sesuatu yang menganggu pikirannya


"Elisya belum lapar. Nanti Elisya makan..."ucap Elisya lalu memindahkan nampan itu keatas meja dan kembali duduk disamping Dicky.


Jika biasanya Dicky akan marah jika ia menunda waktu makan. Kali ini Dicky hanya diam. Tak protes sedikit pun. Sekarang Elisya yakin ada sesuatu yang benar-benar menganggu pikirannya.


Elisya menepuk pahanya. Seolah memberi kode jika Dicky harus berbaring diatas pahanya. Dicky tak merespon apapun tapi ia menuruti keinginan Elisya. Ia merebahkan kepalanya tepat diatas paha Elisya.


Elisya tersenyum, ia tau Dicky tak akan menolaknya. Perlahan Elisya mengusap-usap pelan rambut Dicky.


"Elisya tau kok ada sesuatu yang abang pikiran. Mau cerita gak sama Elisya?..."tanya Elisya lembut.


Namun Dicky tetap diam saja. Bukan Elisya namanya jika langsung menyerah begitu saja. Ia kembali membujuk Dicky.


"Elisya tuh seneng banget tiap kali bang Iky cerita sama Elisya soal apapun yang dialamin bang Iky. Itu membuat Elisya ngerasa istimewa..."ucap Elisya dengan senyuman manisnya.


Bulan begitu terang malam ini. Namun bagi Dicky Elisya jauh lebih menarik perhatiannya. Gadis itu selalu saja menggemaskan dimatanya.


"Vano akan datang kesini Sya..."ucap Dicky singkat.


Elisya terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Dicky lebih banyak diam. Ia tau jika pria ini tak percaya diri. Ada rasa takut yang menyerangnya jika Elisya kembali pada Vano. Elisya bahkan bisa melihat jelas ketakutan itu dimata Dicky.


Elisya terus mengelus kepala Dicky. Lalu mengecup pelan dahi pria itu.


"Ada kalanya masalalu selalu ikut campur dan datang kembali dimasa depan kita? Kita gak akan bisa hidup tenang kalau kita sendiri gak bisa berdamai sama masalalu. Perasaan akan tumbuh jika ia merasa nyaman dan bisa hilang dengan cepat jika ia merasa disakiti..."lirih Elisya pelan.


Dicky menatap wajah Elisya sambil terus mendengarnya.


"Elisya tau kalau ka Vano pernah punya kenangan sama Elisya. Tapi Elisya juga gak akan lupa sama apa yang udah dilakuin ka Vano sama Elisya. Sekarang Elisya udah bahagia banget sama bang Iky. Bahkan Elisya gak pernah berpikir sedikit pun untuk ninggalin bang Iky. Elisya gak akan mau nikah sama bang Iky kalau Elisya gak serius. Bang Iky tau Elisya baru 19 tahun tapi Elisya udah siap ngelepas kebebasan Elisya demi jadi Istri yang baik buat bang Iky. Bang Iky percaya kan sama Elisya..."ucap Elisya begitu lembut.


Senyuman terbit dari bibir Dicky tanpa bisa ia tahan.


"Gue sayang banget sama lo Sya. Maafin gue kalau udah posesif sama lo. Lo satu-satunya dalam hidup gue Sya..."jelas Dicky lembut.


Elisya lagi-lagi tersenyum. "Elisya bahkan gak keberatan kalau bang Iky posesif sama Elisya. Elisya cuman mau kita saling percaya satu sama lain. Sekarang bang Iky harus janji sama Elisya, untuk selalu percaya apapun yang terjadi..."usul Elisya lalu menyodorkan jadi kelingking nya.

__ADS_1


Dicky terkekeh geli melihat kegemasan gadisnya ini.


"Janji. Gue akan percaya sama lo..."jawab Dicky yakin.


__ADS_2