Elisya

Elisya
72


__ADS_3

"Lo suka ya sama kak Sam?..."suara lembut Elisya membuyarkan lamunan Lisa yang sedari tadi menatap kearah kepergian Sam.


Sontak ia menjadi kelimpungan dan gugup.


"Sya ini nggak yang kaya lo bilang tadi. Gue gak suka sama kak Sam. Sumpah deh Sya. Gue gak ngulangin kesalahan gue lagi kok Sya. Lo percaya kan sama gue..."tanya Lisa takut.


Bukannya marah Elisya malah tertawa terbahak-bahak.


"Apaan sih lo. Gak usah gugup kali. Gue tau kok lo suka sama kak Sam. Santai aja kali. Gue udah anggap kak Sam kaya kakak kandung gue sendiri. Gue dukung kok kalau lo mau sama kak Sam..."ucap Elisya dengan senyuman tulusnya.


Lisa yang terharu memeluk erat tubuh sahabat nya itu.


"Makasih ya Sya. Gue tau kok kalau kak Sam cuman suka sama lo. Tapi salah gak sih kalau gue berjuang dulu. Kalaupun akhirnya nanti kak Sam tetap milih lo, gue ikhlas kok..."lirih Lisa pelan.


Elisya mengelus pelan punggung sahabatnya.


"Jangan berkecil hati, gak ada yang gak mungkin. Usaha aja dulu..."saran Elisya.


Lisa mengangguk lalu melepaskan pelukannya.


"Nih gue buatin nasi goreng spesial buat lo. Makan dulu ya. Terus minum obat biar cepat sembuh..."ucap Lisa disusul dengan tertawa kecil.


"Thanks ya Lis, lo udah makan?..."tanya Elisya.


Lisa mengangguk cepat. "Udah, ini baru selesai..."jawabnya jujur.


"Sya, gue minjem baju lo ya, soalnya gue lupa bawa baju kemarin, sekalian gue mau numpang mandi nih..."ucap Lisa cengengesan.


Elisya tertawa kecil, "Alah kaya sama siapa aja lo tuh. Pilih sendiri sana dikamar gue, parfum ada di atas meja disamping kasur gue tuh..."ucap Elisya sambil terus menyantap nasi goreng buatan Lisa.


"Peka banget lo gue butuh parfum..."jawab Lisa lalu berlari menuju kamar Elisya.


"Gila tuh anak kayanya..."ledek Elisya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Lisa.


🕓🕓🕓


Di sebuah ruangan serba putih Angel masih belum sadarkan diri dari komanya. Membuat Vano dan yang lainnya khawatir bukan main.


"Dok ini sudah 2 hari, kenapa Angel belum sadar juga dok?..."tanya Vano emosi.


Dokter itu tersenyum, "Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien, tolong untuk pihak keluarga agar bisa berdoa untuk kesembuhan pasien. Saya permisi dulu..."jawab dokter itu sopan.

__ADS_1


Vano mengusap rambutnya kasar.


"Argghhhh ini semua karena Elisya, kenapa harus lo sih Sya, kenapa lo harus setega ini sama Angel, gue sayang banget Sya sama lo, andai aja lo bisa ngertiin gue..."desah Vano kecewa.


Benarkah? Vano kecewa? Bukankah disini Elisya yang harusnya kecewa padanya? Kenapa malah terbalik?


Desi menangis terisak melihat putri semata wayangnya masih setia memejamkan matanya tanpa ada tanda-tanda akan sadar. Vano melangkah menghampiri Desi.


"Tante tenang ya, Vano yakin Angel akan sadar sebentar lagi. Kita berdoa aja yang terbaik untuk Angel..."lirih Vano pelan.


"Jagain Angel terus ya Vano, tante cuma percaya sama kamu..."ucap Desi histeris.


"Vano akan selalu jagain Angel tante..."jawab Vano yakin.


🕓🕓🕓


"Hai cantik..."sapa Sam yang baru saja datang dari arah pintu.


Elisya yang baru saja selesai makan mendongak menatap ke sumber suara.


"Eh kak Sam, bawa apa tuh kak?..."tanya Elisya penasaran.


"Wah enak banget nih, sini kak Elisya mau..."ucap Elisya antusias.


Sam berjalan menghampiri meja makan tepat disamping Elisya duduk.


"Nih makan yang banyak, gak boleh banyak pikiran lagi ya cantik, harus sehat..."ucap Sam lalu merapikan surai rambut Elisya.


Elisya mengangguk senang, demi Tuhan ia bersyukur dihadirkan sosok Sam yang selalu ada untuk dirinya layaknya seorang kakak kandung yang selalu menjaganya kapanpun dan dimanapun.


"Nyenyak banget tidurnya ya kak tadi malem?..."goda Elisya.


Sam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya sih lumayan lah..."jawab Sam sekenanya.


"Lisa tuh kak yang ambilin selimut buat kakak, ambilin bantal juga..."lirih Elisya pelan takut Lisa mendengar.


"Beneran?..."tanya Sam.


Elisya mengangguk beberapa kali. "Lisa suka kayanya sama kakak tuh, dia anaknya baik kok..."puji Elisya.

__ADS_1


"Kamu bisa aja Sya, kamu juga baik..."jawab Sam sambil mencubit pelan pipi Elisya.


"Ihhh kakak, sakit tau..."rengek Elisya.


"Ihhh bayi gede ngambek..."goda Sam.


Lisa sedari tadi berdiri tak jauh dari meja itu. Ia sudah mengenakan sweater cukup tebal dengan rok selutut yang sangat pas di tubuhnya yang mungil. Dengan sedikit polesan make up membuat nya semakin cantik natural.


Ia meringis pelan menyaksikan interaksi antara Sam dan Elisya. Haruskah ia berjuang untuk mengambil hati Sam? Atau mungkin ia harus mundur saja?


Terlihat jelas Sam begitu menyayangi Elisya? Sedangkan dirinya bukan siapa-siapa.


Lisa mencoba menyembunyikan kecemburuan nya, bahkan untuk cemburu pun ia tak berhak. Huft cinta beda perasaan memang sangat menyakitkan.


Lisa mencoba tersenyum lalu menghampiri kedua sejoli yang tengah bercengkrama itu.


"Wihh makan apaan nih, enak banget kayaknya?..."ucap nya antusias.


Elisya dan Sam sontak menatap ke arah Elisya.


"Ini gue beliin martabak buat lo sama Elisya. Dimakan gih. Nih obat lo, jangan lupa diminum biar gak lemes..."ucap Sam lalu menyodorkan bingkisan obat itu pada Lisa.


"Cie perhatian banget..."goda Elisya.


"Apaan sih lo Sya..."elak Lisa malu-malu lalu mengambil obatnya.


"Hari ini gue mau ngajak lo sama Elisya ke pantai. Ya sekalian refreshing lah, buat nenangin pikiran biar gak galau-galau lagi, gimana? Mumpung akhir pekan nih?..."usul Sam.


"Wahh setuju banget sih kak, gimana sama lo Lis?..."tanya Elisya.


"Gue ikut kalian aja sih..."jawab Lisa tak kalah senang.


"Oke kalau gitu kalian berdua siap-siap dulu, kaka mau nyiapin mobil bentar..."pamit Sam.


"Kalau gitu gue mandi bentar deh..."ucap Elisya lalu berlari kecil menuju kamarnya.


Sedangkan Lisa hanya duduk dimeja makan sambil mencicipi martabak yang dibeli Sam tadi.


"Obatnya jangan lupa diminum..."ucap Sam lalu berjalan menuju halaman.


Lisa tersenyum senang lalu meminum obatnya dan mulai membereskan bekas makan mereka tadi.

__ADS_1


__ADS_2