Elisya

Elisya
106


__ADS_3

Pagi ini sesuai rencana yang telah disusun dengan matang. Dicky akan mengajak Elisya jalan-jalan kemanapun gadis itu mau.


Namun hingga pukul 08.00 gadis itu masih belum bangun. Dicky bercedak kesal saat melihat tak ada pergerakan sama sekali dari gadis itu padahal ia sudah memanggilnya beberapa kali.


Tiba-tiba terlintas ide jahil dalam pikiran Dicky. Elisya terlihat begitu menggemaskan saat meringkuk dibawah selimut seperti sekarang.


Dicky mendekatkan wajahnya mengecup setiap inci dari wajah Elisya. Baik itu pipi, kening, dahi, hidung, dagu dan berakhir di bibir.


Elisya yang merasa tidurnya terganggu pun melenguh kesal.


"Ihh Elisya ngantuk..."ucapnya dengan mata yang masih tertutup.


"Bangun..."ucap Dicky sambil tertawa kecil.


Perlahan Elisya mengucek matanya. Menetralkan cahaya yang masuk menyilaukan penglihatannya. Saat membuka mata ia kaget bukan main. Jarah wajahnya dan Dicky benar-benar sangat dekat. Hanya beberapa centi saja.


"Bang Iky, ihhh mesum..."protes Elisya sambil mendorong dada bidang Dicky.


Dicky tersenyum santai.


"Siapa suruh gamau bangun..."ledek Dicky.


"Ngapain sih bangunin Elisya, Elisya ngantuk..."protes Elisya.


"Jalan sama gue?..."tanya Dicky.


Elisya sedikit kaget mendengarnya, karena Dicky baru sekali mengajaknya jalan-jalan.


"Serius? Ngajak Elisya jalan?..."tanya Elisya masih agak ragu.


"Gue tunggu 15 menit dari sekarang..."ucap Dicky lalu keluar meninggalkan kamar Elisya.


"Bang Iky nyebelinnnn..."kesal Elisya namun tetap berlari kecil menuju kamar mandi.


🕓🕓🕓


Dicky berjalan menuju ruang tamu. Farhan dan David sudah berangkat lebih awal untuk menjemput Bella dan teman-temannya. Tersisalah Arvie sendiri.


"Gimana adik gue udah bangun? Tuh anak susah dibangunin..."cepu Arvie.


"Lagi mandi..."jawab Dicky.


"Kalau bisa lo ajak jalan Elisya agak lamaan ya, soalnya banyak banget yang harus disiapin..."pesan Arvie.


"Sampai malam juga gue mau..."jawab Dicky santai.


"Sialan lo, awas aja lo macam-macam sama adik gue..."kesal Arvie.


"Tinggal gue nikahin beres..."jawab Dicky santai.


Arvie tertawa kecil.


"Adik gue masih kecil Ky, baru 19 tahun. Terlalu muda untuk menikah..."jawab Arvie.


"Gak masalah bagi gue Vie, gue gak nuntut dia untuk cepet-cepet punya momongan. Gue cuman pengen dia jadi milik gue. Udah sesederhana itu..."jelas Dicky.


"Nanti deh gue bicarain soal ini sama adik gue..."jawab Arvie mempertimbangkan.


"Thanks ya Vie..."ucap Dicky tulus.

__ADS_1


"Santai aja kali..."jawab Arvie tenang.


Elisya keluar dengan terburu-buru. Menuruni satu persatu anak tangga. Gadis itu sudah cantik dengan sweater tebal berwarna tosca dengan paduan celana jeans hitam. Sangat cocok untuknya.


"Eh bang Arvie, bang Elisya mau jalan sama bang Iky, boleh gak?..."izin Elisya.


Arvie mengangguk.


"Boleh, hati-hati dijalan..."pesan Arvie.


Elisya tersenyum girang. Dicky menggenggam tangan kirinya menuntun Elisya keluar rumah.


Disana terparkir sebuah motor sport. Elisya sempat kaget melihat itu namun dengan cepat menetralkan keterkejutannya.


"Kita naik motor?..."tanya Elisya dengan tatapan berbinar-binar.


"Hm..."jawab Dicky.


Dicky memasangkan helm pada kepala Elisya. Lalu memasangnya helm untuk dirinya sendiri.


"Naik..."titahnya.


Dengan senang hati Elisya naik. Ini pertama kalinya ia naik motor berboncengan dengan Dicky. Tentu ia senang bukan main.


"Pegangan..."ucap Dicky jahil.


"Ah bang Iky modus..."protes Elisya.


Detik selanjutnya Dicky menaikkan gasnya membuat Elisya sontak melingkarkan tangannya dipinggang Dicky.


Dicky tersenyum penuh kemenangan lalu menjalan kan motornya. Sedangkan Elisya tengah kesal setengah mati karena Dicky berhasil mengerjainya.


🕓🕓🕓


Sekarang Jet pribadi itu sudah mendarat dihalaman rumah Arvie. Semuanya senang bukan main. Bahkan Lisa sudah heboh sedari tadi karena sudah lama ia tak pergi ke Amerika. Tempat kelahirannya.


Sam turun perlahan sambil membawakan koper milik Lisa. Sedangkan Lisa sudah berlari turun lebih dulu memasuki rumah besar Arvie. Disusul Sam dibelakangnya. David dan Farhan yang terlihat lesu karena bangun terlalu pagi pun berjalan memasuki rumah Arvie berniat untuk tidur sebentar.


Tersisalah Bella yang menarik kopernya perlahan menuruni Jet pribadi Arvie. Ia tak membawa koper besar, hanya koper berukuran sedang yang berisi barang-barang yang dibutuhkan nya saja selama disini.


Arvie tersenyum melihat pujaan hatinya yang sudah lama tidak bertemu. Arvie merentangkan tangannya dengan senyum merekah di bibirnya.


Bella tersenyum melepas kopernya lalu berlari menghambur pelukan ke arah Arvie.


"Kangen..."rengek Bella sambil menyembunyikan wajahnya didada bidang Arvie.


Arvie menyembunyikan wajahnya diceruk leher Bella. Menghirup dalam-dalam aroma gadis yang selalu ia rindukan setiap saat.


"Gue lebih kangen sama lo. Capek gak tadi?..."tanya Arvie lembut.


Bella cemberut, "Pegel..."ucap Bella mengadu.


"Ayo ke kamar gue. Istirahat dulu..."ucap Arvie dengan senyum nakalnya.


"Ngapain ke kamar lo..."tanya Bella sewot.


"Kan kangen..."rengek Arvie.


"Ihh dasar mesum. Udah ah gue mau masuk. Mau Istirahat..."ucap Bella lalu berlari memasuki rumah Arvie. Arvie tertawa kecil melihat tingkah Bella, lalu meriah koper Bella dan membawanya masuk.

__ADS_1


Semuanya nampak berpencar. Farhan dan David yang memasuki kamar Arvie untuk tidur. Lisa yang memasuki kamar Elisya untuk beristirahat tentunya.


"Halo bang, apa kabar..."sapa Sam.


"Baik gue, lo gimana..."tanya Arvie.


"Ya gini lah bang, aman lah pokoknya. Gue numpang istirahat dulu ya bang, pegel banget..."ucap Sam jujur.


"Masuk kekamar gue aja, disana ada temen-temen gue. Gak usah sungkan sama mereka..."pesan Arvie.


"Siap bang..."jawab Sam lalu berlari menuju kamar Arvie.


"Gue istirahat dimana? Kan pegel..."rengek Bella.


"Disana ada kamar tamu, Istirahat bareng gue mau?..."tawar Arvie sengaja.


"Gamauuu..."tolak Bella cepat.


Arvie tertawa kecil, jujur saja ia sangat senang melihat ekspresi wajah kesal dari Bella.


"Sini gue gendong, biar gak capek jalan. Dilantai atas ada kamar tamu kok. Gue anterin..."ucap Arvie.


Bella tersenyum sumringah, ia dengan cepat naik ke punggung Arvie. Membiarkan Arvie menggendong nya. Bella memeluk erat leher Arvie meletakkan dagunya di bahu Arvie. Arvie berjalan sambil menarik pelan koper Bella.


Arvie berjalan pelan menaiki satu persatu anak tangga. Pria itu nampak tak keberatan menggendong Bella.


Sampailah mereka disebuah kamar dengan desain minimalis, terlihat sederhana namun begitu mewah. Perlahan Arvie membuka pintu itu dan meletakkan Bella di atas kasur oversize itu. Dan melepaskan koper Bella disana.


"Istirahat disini, kalau perlu apa-apa panggil gue aja, lo bisa mandi dulu disana tuh, kalau mau makan gue bawain kesini..."pesan Arvie penuh perhatian.


Baru saja Arvie membalikkan badannya berniat ingin meninggalkan kamar itu, Bella malah meraih tangannya. Hal itu membuat Arvie mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Kenapa?..."tanya Arvie dengan suara beratnya.


"Temenin..."rengek Bella.


Arvie tersenyum kecil, lalu duduk disamping Bella. Arvie duduk dengan bersandar di sisi ranjang. Lalu meraih satu bantal dan ia letakkan disamping ia duduk.


"Sini tiduran, katanya capek..."tanya Arvie.


"Pengen dipeluk..."ucap Bella manja.


Lagi-lagi Arvie tertawa, ia merebahkan dirinya disamping Bella. Membiarkan Bella menjadikan lengannya sebagai bantal. Bella memeluk erat tubuh Arvie dari samping. Menghirup aroma tubuh Arvie yang selama ini selalu ia rindukan. Menyembunyikan wajahnya didada bidang Arvie.


"Udah sekarang tidur..."perintah Arvie.


"Jangan ditinggalin, pengen gini aja..."rengek Bella.


Arvie tersenyum lalu mengacak pelan rambut Bella.


"Ia gak ditinggalin, buruan tidur..."ucap Arvie.


Bella mulai menutup matanya, sambil merasakan usapan lembut dikepalanya, Arvie lah yang melakukannya.


Beberapa menit sudah berlalu, bahkan nafas Bella sudah terdengar teratur menandakan gadis itu sudah lelap dalam tidurnya.


Arvie memindahkan lengannya dari kepala Bella dan menggantinya dengan bantal. Ia bangkit dan menyelimuti tubuh Bella.


Detik selanjutnya ia tersenyum, mengecup singkat kening Bella.

__ADS_1


"Kasian cewek gue kecapekan..."lirih Arvie pelan.


Kemudian Arvie kembali membaringkan tubuhnya disamping Bella. Sekarang gantian, Arvie lah yang memeluk tubuh Bella, meraih tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Hingga tanpa sadar Arvie juga ikut larut dalam tidurnya.


__ADS_2