Elisya

Elisya
67


__ADS_3

Sam kini tengah menginjakkan kakinya dirumah Elisya. Membopong tubuh gadis itu menuju kamarnya. Ia sebenarnya agak sungkan dan takut ada yang berpikiran macam-macam karena tidak ada siapapun dirumah itu. Oleh karena itu, Sam sengaja membuka lebar pintu kamar Elisya agar tidak ada yang salah paham nanti karena ia berada dikamar seorang perempuan.


"Sya, kamu mandi dulu ya. Kaka tunggu dibawah oke. Jangan sedih ya. Kaka sedih liat kamu gini..."ucap Sam pelan.


Elisya bersyukur, disaat-saat seperti ini Sam selalu ada untuknya. Elisya hanya mengangguk sebagai jawaban. Perasaan nya kali ini benar-benar hancur lebur. Rasanya ia tak punya setitik cintapun untuk Vano. Namun kenangan indah bersama Vano masih terus bersemayam di kepalanya. Ia tak menyangka jika Vano benar-benar menamparnya tadi.


Sam turun setelah mengusap pelan rambut Elisya. Elisya masuk kedalam kamar mandi, ia mendudukkan dirinya didalam bathub dan menyalakan shower disampingnya.


Air mengalir membasahi seluruh tubuh Elisya bersamaan dengan air mata yang sedari tadi ikut serta membasahi pipinya. Elisya tak merasakan dingin lagi. Tubuhnya seakan mati rasa sekarang.


Bayangan Vano yang menamparnya dengan sangat keras membekas dipikiran Elisya. Tangan mungilnya mulai mengusap pipinya yang memerah bekas tamparan Vano.


"Mamah, papah, sama kak Arvie aja gak pernah nampar gue Van..."lirih Elisya pelan nyaris tak terdengar.


Elisya sudah menghabiskan waktu setengah jam berendam di dalam bathup. Namun, tubuhnya masih saja tidak merasakan dingin sama sekali. Tubuhnya seakan mati rasa sekarang. Hatinya terluka teramat dalam.


Kata orang luka yang paling sempurna datang dari orang yang kita anggap spesial. Dan itu benar adanya!


Elisya hancur karena harapannya sendiri. Harapan besar yang ia percayakan pada Vano. Kini semuanya nihil. Vano sendiri yang menghancurkan kepercayaan nya itu.


Tanpa Elisya tau Sam dari tadi mondar-mandir didepan kamar Elisya dengan perasaan khawatir yang teramat sangat. Bagaimana tidak sudah lebih dari 30 menit, Elisya masih belum juga keluar dari kamar mandi.


****! Sam tidak bisa menunggunya lagi. Perasaan khawatir sudah menyeruak dalam dirinya. Ia berjalan memasuki kamar Elisya lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi Elisya beberapa kali.


"Sya, udah ya mandinya..."


Nihil, tak ada sahutan sama sekali. Hal itu membuat Sam semakin panik.


"SYA, KAMU DENGER KAKA KAN, BUKA PINTUNYA ELISYA..."teriak Sam sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi Elisya.


Namun hasilnya masih sama, tidak ada respon sedikitpun dari Elisya. Sudah cukup! Sam yang sangat panik langsung mendobrak pintu kamar Elisya.


Percobaan pertama gagal, hingga kedua kalinya pintu itu berhasil terbuka. Bukan itu yang membuat Sam kaget. Namun Elisya yang terbaring didalam bathup dengan shower yang terus mengalir. Bahkan wajahnya terlihat pucat pasi. Elisya memejamkan matanya dengan tenangnya.


Sam panik bukan main, ia dengan cepat mematikan shower itu. Elisya hanya mengenakan celana pendek cukup ketat dan tank top berwarna hitam.

__ADS_1


Sam sempat dilanda kebingungan, ia ragu mengangkat tubuh Elisya yang hanya menggunakan pakaian seminim itu. Namun karena keadaan mendesak ia akhirnya membopong tubuh Elisya keluar kamar mandi. Lalu meletakkan tubuh Elisya ke atas kasur.


Sam dengan cepat meraih selimut tebal yang ada dikasur Elisya dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.


Ia ingin membawa Elisya kerumah sakit. Namun sangat tidak mungkin jika ia membawa Elisya dengan pakaian seminim itu. Setelah lama bergulat dengan pikirannya akhirnya Sam menghubungi Lisa.


"Ada apa kak..."


"Lis lo kerumah Elisya sekarang, gue tunggu. Elisya pingsan..."ucap Sam panik.


"Hah Elisya pingsan. Oke kak aku kesana sekarang..."


Sam mematikan telponnya dan kembali memasukkan nya ke kantong celananya. Ia menepuk-nepuk pipi Elisya pelan.


"Sya bangun dong, jangan bikin kaka khawatir kaya gini Sya..."panggil Sam namun tetap tak ada respon sedikit pun.


Tubuh Elisya sangat dingin akibat terlalu lama berendam didalam bathup tadi. Sam duduk disamping Elisya dan menggosok-gosok telapak tangan Elisya agar sang empunya merasa sedikit hangat.


Sam bingung harus meminta tolong kepada siapa lagi. Hanya ada satpam didepan rumah. Sedangkan bi Ina sedang tidak masuk kerja karena anaknya sakit.


Dirumah Elisya memang hanya memperkerjakan satu Art, dikarenakan rumah ini bisa dibilang kecil menurut Elisya. Berbeda dengan rumah utamanya yang ada di Amerika. Rumah? Mungkin lebih tepatnya seperti sebuah istana dengan segala kemewahan nya.


"Arghh ****!..."umpat Sam kesal.


Perlu digaris bawahi. Bagaimanapun juga Sam tetap pria normal. Melihat Elisya dengan celana pendek diatas lutut yang cukup ketat dengan tank top hitam yang minim, tentu memamerkan tubuhnya yang putih mulus membuat libido Sam naik. Sam akui tubuh Elisya memang benar-benar perpect. Ketahuilah sedari tadi Sam menahan dirinya mati-matian agar tak bersikap kurang ajar pada adik kecilnya ini.


"****! Jangan sekarang. Tahan Sam tahan..."ucap Sam mengontrol dirinya.


Tanpa memakan waktu lama Lisa sudah datang dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari depan gerbang saking paniknya.


"Kak Sam..."panggil Lisa.


Sam menatap kearah pintu kamar Elisya.


"Syukurlah lo datang. Tolong bantu Elisya ganti baju. Gue mau telpon dokter dulu..."ucap Sam.

__ADS_1


Lisa mengangguk cepat. Sam berjalan keluar kamar Elisya tak lupa menutup pintu kamarnya, membiarkan Lisa membantu Elisya berganti pakaian. Ia dengan cepat menelpon dokter kepercayaan nya.


Disisi lain Lisa membuka lemari Elisya dan mengambil baju yang cukup tebal untuk Elisya agar gadis itu merasa hangat. Lisa dengan telaten membantu Elisya mengganti pakaiannya yang masih basah berbalut selimut tebal itu.


Akhirnya selesai. Lisa sudah selesai menggantikan baju untuk Elisya. Lisa menggenggam tangan Elisya pelan.


"Jangan bikin gue khawatir Sya. Gue yakin lo bisa. Lo beruntung kak Sam selalu ada buat lo. Ngejagain lo..."lirih Lisa pelan dengan tatapan sendu melihat keadaan sahabatnya yang pucat pasi.


Lisa memutuskan untuk keluar menyusul Sam.


"Kak udah selesai. Dokternya udah datang belum?..."tanya Lisa.


Sam menoleh ke arah sumber suara.


"Bentar lagi Lis..."jawab Sam cepat.


Lisa mengangguk anggukan kepalanya.


"Aku bikinin air hangat dulu kak, buat kakak sama Elisya..."pamit Lisa.


Sam tersenyum singkat, "Thanks udah dateng..."ucap Sam.


Lisa membalas senyuman itu. "Dia sahabat aku kak..."jawab Lisa.


Belum sempat Lisa membalikkan badannya kakinya malah tersandung ujung sofa karena terlalu terburu-buru. Posisinya yang cukup dekat dengan Sam membuat tubuhnya jatuh kearah Sam. Sam yang tidak siap pun ikut terjatuh dengan tubuh Lisa yang menempel tepat diatas tubuhnya.


Satu detik


Dua detik


Lisa tersadar lalu dengan cepat bangkit dari tubuh Sam.


"M-maaf kak, Lisa gak sengaja..."ucap Lisa gugup, jantungnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Detakan jantungnya dua kali lebih cepat dari biasanya.


Sam perlahan mulai bangkit, "Ngga papa Lis, lo lanjutin aja, mau ke dapur kan..."ucap Sam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Lisa berlari cepat menuju dapur menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu.


Sam lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar. Ujian apa lagi ini Tuhan? Ia sudah mati-matian menahan libido nya yang meningkat karena melihat Elisya dengan pakaian seminim itu. Dan sekarang Lisa malah terjatuh tepat diatas tubuhnya. Oh ****! Sam mengacak rambutnya frustasi.


__ADS_2