Elisya

Elisya
98


__ADS_3

Hallo readers setiaku🤗 Kali ini author up cukup banyak nih. Maafin ya karena lama gak up. Author sibuk banget beberapa hari ini. Jadi tetap support terus ya guys🥰 babayy🤭


🕓🕓🕓


Bukh


Bukh


Bukh


Keringat nampak bercucuran di dahi Dicky yang tengah sibuk berlatih beladiri. Namun sama sekali tak mengurangi semangatnya untuk terus memukul samsak itu.


Arvie datang dengan pakaian berlatihnya.


"Cukup Ky, lo terlalu keras..."ucap Arvie dengan candaan.


"Gue pengen adik lo Vie?..."ucap Dicky to the point.


Arvie mengernyitkan dahinya.


"Maksud lo?..."tanya Arvie heran.


Dicky menghentikan pukulannya. Lalu membalikkan badannya menatap kearah Arvie.


"Gue emang bukan pria baik, gue bukan pria kaya raya seperti keluarga lo. Gue bahkan punya hutang budi sama lo. Gue gak pernah ngerasain kaya gini sebelumnya..."


Dicky menghela nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Gue gak tau apa itu cinta, gue gak ngerti gimana sayang sama orang. Gue gak ngerti sama semua itu. Tapi, semenjak adik lo hadir dikehidupan gue, gue seakan punya semangat baru. Gue pengen jagain dia seumur hidup gue..."


Dicky tersenyum, lalu mengusap keringat nya.


"Mungkin ini terdengar konyol, tapi gue pengen milikin adik lo. Gue pengen lamar dia. Itupun kalau lo sebagai kakaknya ngizinin gue..."ucap Dicky tertawa kecut.


Arvie menatap tajam ke arah Dicky.


"Seberapa yakin lo adik gue mau sama lo?..."tanya Arvie tegas.


"Gue bukan Tuhan yang bisa tau gimana perasaan orang lain ke gue. Tapi lo kenal gue lebih dari siapapun. Gue bukan berasal dari keluarga konglomerat, atau mungkin seorang pria kaya raya. Namun, gue sanggup buat biayain seluruh kehidupan adik lo. Kekayaan gue emang gak seberapa dibanding sama keluarga lo. Gue cuman punya dua perusahaan dibawah kendali gue sendiri, yang siap gue alih nama sebagai hak milik Elisya..."ucap Dicky yakin.


"Definisi merendah untuk meroket..."sindir Arvie. Apa tadi Dicky bilang, hanya dua buah perusahaan? Percayalah ada dua perusahaan besar yang dipegang oleh Dicky, ia juga disebut CEO muda kaya raya.


"Kenapa lo berani lamar adik gue?..."tanya Arvie.


Dicky tersenyum miring.


"Gue pengen milikin dia. So simple..."jawab Dicky yakin.


"Gue gak ngizinin lo..."jawab Arvie tegas.


"Gue akan lakuin apapun biar lo ngizinin gue..."jawab Dicky lagi.


"Apa taruhannya kalau lo kecewain adik gue?..."tanya Arvie serius.


Dicky tertawa kecil,


"Penggal leher gue..."jawab Dicky santai.

__ADS_1


"Penawaran yang cukup menarik, kalahin gue dulu kalau mau adik gue..."tantang Arvie.


"Adik lo bukan barang yang bisa dijadikan bahan taruhan. Tapi gue akan tetap lawan lo, sebagai bukti kalau gue emang layak dikasih kepercayaan sama lo buat jagain adik kesayangan lo..."jawab Dicky yakin.


"Pede banget lo..."ledek Arvie.


Pertarungan antara Arvie dan Dicky pun dimulai. Entahlah siapa yang menang. Karena sesungguhnya kemampuan mereka sama-sama diatas rata-rata.


🕓🕓🕓


Di ruang tamu sudah ada Dicky, Arvie, Farhan dan David. Dimana Elisya? Gadis itu sudah tertidur karena kelelahan akibat beraktivitas seharian. Mulai dari jalan-jalan berbelanja dan lain sebagainya.


Farhan melemparkan sebuah map keatas meja tepat didepan Arvie.


"Sebelumnya gue mau minta maaf Vie, tapi ini hasil pengamatan gue beserta bukti lengkap. Sekaligus rekaman cctv di bandara sebelum keberangkatan bokap lo. Sejauh ini gue belum pernah salah ngasih informasi. Lo kenal gue jauh dari ini Vie..."jelas Farhan dengan serius.


Arvie langsung membuka semua map itu. Detik selanjutnya Farhan menyetel sebuah rekaman cctv di laptopnya. Disana terlihat banyak sekali pria berbaju hitam dengan masker hitam menutupi separuh wajahnya.


30 menit sebelum keberangkatan Ferly Qiandra dan sang istri. Ada banyak sekali pria misterius yang berada disekitaran pesawat yang akan dinaiki keluarga Qiandra.


"Semuanya sangat jelas direncanakan Vie. Tapi pelaku benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang seolah ini murni sebuah kecelakaan biasa..."tunjuk Farhan pada video itu.


"Dan ini hasil sidik jari yang gue dapat dari kartu tanda pengalihan harta kekayaan itu. Dan semuanya terbukti jelas..."jelas Farhan detail.


"Om Johan?..."ucap Arvie kaget. Pelakunya adalah kakak kandung dari ayahnya sendiri.


"Gila om lo Vie?..."ucap David ikut kaget.


"Seperti yang pernah lo ceritain ke kita semua Vie. Dan menurut hasil penyelidikan gue. Motif dari semua ini adalah rasa iri dan kebencian. Lo tau kan Johannes Qiandra adalah putra pertama dari keluarga Qiandra. Namun, bokap lo Ferly Qiandra malah jauh lebih dipercaya dan diberikan banyak sekali kekuasaan. Sedangkan om lo? Hanya satu perusahaan besar saja. Itu menimbulkan dendam mendalam. Makanya om lo nekat ngelakuin hal selicik ini..."jelas Farhan.


Bruk...


"Brengsek, orang yang gue percaya ternyata dia adalah orang paling brengsek. Gue akan bikin dia membusuk dipenjara..."ucap Arvie emosi. Jari tangannya sudah sedikit berdarah karena pecahan kaca meja.


David sudah kaget karena melihat Arvie se emosi ini.


Tanpa mereka sadari sedari tadi Elisya sudah bangun dan mendengarkan segala pembicaraan antara ke empat pria itu. Kaki gadis itu sudah gemetar bersamaan dengan air matanya yang jatuh terus menerus di pipinya.


"Jadi om Johan yang udah ngelakuin semua ini..."ucap Elisya dengan suara bergetar.


"Elisya..."ucap Arvie panik lalu berlari menyusul sang adik. Diikuti oleh David, Dicky, dan Farhan yang juga nampak khawatir.


Arvie dengan cepat merengkuh tubuh sang adik yang sudah mulai kehilangan keseimbangan.


"Bang mamah sama papah. Elisya pengen ketemu mamah sama papah hiks. Lepasin Elisya bang hiks..."Elisya kembali histeris saat mengingat kedua orang tuanya itu.


Elisya terus memberontak dalam pelukan Arvie hingga perlahan kesadarannya mulai menghilang. Hal itu tentu membuat mereka semakin panik.


"Sya bangun Sya..."ucap Arvie sambil menepuk-nepuk pelan pipi sang adik.


"Angkat Vie, gue telpon dokter..."ucap Dicky cepat.


"Gue cari minyak angin bentar..."ucap Farhan berlari.


"Gue nyalain kipas angin dulu. Takutnya Elisya gerah..."ucap David cepat.


Arvie dengan cepat membopong tubuh adiknya ke kamarnya. Sedangkan Dicky mengambil ponselnya untuk menelpon dokter kepercayaannya. Farhan sibuk mencari minyak angin untuk Elisya. Sedangkan David sedang menyalakan kipas angin agar Elisya tidak merasa gerah sama sekali.

__ADS_1


Hanya perlu beberapa menit, dokter sudah datang menangani Elisya. Tentunya dokter kepercayaan mereka.


Elisya yang syok sekaligus histeris membuatnya kehilangan kesadarannya. Dokter sudah memastikan jika Elisya baik-baik saja. Bahkan ia juga sudah menulis resep obat untuk mengembalikan kesehatan Elisya yang mulai menurun.


Syukurlah kesadaran Elisya kembali dengan cepat. Wajah Arvie sudah memucat karena takut adik kesayangannya terluka.


"Kita harus rencanain semuanya baik-baik Vie, Elisya berhak tau. Bagaimana pun kita harus buat om Johan menandatangani surat pengembalian seluruh kekayaan Qiandra atas nama lo. Tapi, gimana caranya dapetin tanda tangan itu. Om Johan tentu bukan orang yang mudah dibodohi..."ucap Farhan.


"Bang biar Elisya yang ngelakuin ini. Demi mamah papah..."lirih Elisya pelan.


"Maksud lo apaan Sya?..."tanya David kaget.


Elisya menggenggam tangan Arvie.


"Abang tau kan om Johan sayang banget sama Elisya. Dari tatapan dia ke Elisya dulu juga beda kan. Biarin Elisya yang akan lakuin ini semua. Elisya janji akan buat om Johan menandatangani surat itu..."ucap Elisya yakin.


"Gue gak setuju Esya. Lo sama aja masuk ke kandang harimau..."protes Dicky.


"Lo bahayain nyawa Lo sendiri Sya..."protes David tak terima.


"Mereka benar Sya, lo dalam bahaya kalau lo nekat ngelakuin itu..."ucap Arvie tidak setuju.


"Bang tolong percaya sama Elisya. Elisya punya kalian buat lindungin Elisya. Elisya bisa dapetin tanda tangan itu. Demi mamah papah bang..."mohon Elisya.


"Gak gue gak setuju. Keselamatan Elisya benar-benar dipertaruhkan..."protes Dicky.


"Tapi Elisya benar, ini mungkin akan berhasil..."ucap Farhan.


"Lo gila Han, lo bahayain Elisya..."teriak David.


"Elisya akan pergi kesana sendiri..."putus Farhan.


"Maksud lo apa ngomong gitu hah, lo mau bunuh Elisya..."ucap Dicky emosi.


"Dengerin gue dulu. Gue yakin cara ini akan berhasil. Elisya akan pergi kesana sendiri dengan membawa sebuah map berisi surat pernyataan. Dan itu harus ditandatangani oleh om Johan. Yang harus Elisya pastikan adalah mengalihkan perhatian om Johan agar tidak membaca surat itu sama sekali. Ini memang bahaya buat Elisya, tapi kemampuan bela diri dia sudah cukup mampu untuk melindungi dirinya sendiri..."jelas Farhan.


"Gue juga udah nyiapin alat biar kita bisa denger pembicaraan Elisya, dan berkomunikasi sama Elisya. Kita gak akan biarin Elisya sendiri. Kita sembunyi di dekat rumah om Johan. Elisya hanya perlu memencet alat itu sebagai kode jika tugasnya selesai, disanalah kita akan datang bersama dengan polisi..."ucap Farhan.


"Elisya mohon kak, Elisya bisa kok jaga diri. Percaya sama Elisya. Demi mamah papah ka!..."mohon Elisya.


David menghembuskan nafasnya berat.


"Kalau memang ini satu-satunya jalan yang bisa bikin harta Arvie balik ke dia. Gue setuju..."ucap David.


"Ini bener-bener berat banget. Gue gak mau adik gue dalam bahaya..."ucap Arvie.


"Kita pantau Elisya Vie. Gak akan terjadi apa-apa. Elisya dalam pengawasan kita..."ucap Farhan yakin.


"Jaga diri Sya. Ini bahaya banget..."ucap Arvie melemah.


"Makasih udah percaya sama Elisya bang..."Elisya tersenyum senang.


"Kapan kita mulai rencana ini?..."tanya Arvie.


"Besok..."jawan Farhan siap.


"Lo semua gila, Esya jauh lebih penting dari segalanya..."ucap Dicky emosi lalu meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Bang Iky..."panggil Elisya namun tak dihiraukan Dicky sama sekali. Elisya mengerti jika Dicky sangat mengkhawatirkannya. Namun ia harus melakukan ini.


__ADS_2