
Disinilah semuanya berkumpul, setelah drama pemaksaan agar Elisya mau minum obat. Mereka semua duduk diatas karpet yang terhampar disamping kolam belakang rumah Elisya. Mereka duduk membentuk lingkaran. Disana sudah ada Elisya, Lisa, Bella, Arvie, Farhan, Dicky, Sam dan David tentunya.
Keadaan Elisya sudah mulai membaik, tidak seburuk kemarin. Ia sudah mau makan dan meminum obatnya. Itu cukup membuat Arvie sangat lega. Sekarang ia memegang kendali penuh atas keamanan Elisya.
"Thanks buat semua yang udah datang kesini. Anggap lah malam ini adalah malam perpisahan. Besok gue dan teman-teman gue termasuk Elisya akan pindah ke apartemen gue yang ada di Rusia. Tadi gue udah urus semua surat pindahnya. Gue harap kalian semua gak akan ngasih tau siapapun tentang keberadaan Elisya setelah ini. Gue pengen adik gue tenang menjalani hidupnya. Kalian boleh mampir ke apartemen gue, tinggal bilang sama bodyguard gue biar diantarin..."ucap Arvie menjelaskan.
"Sultan mah beda..."sahut David dengan tertawa.
"Sultan?..."tanya Bella heran.
"Kak Sam, Bella?..."panggil Lisa lirih. Membuat keduanya sontak menoleh ke arah Lisa.
"Ada hal yang kalian berdua gak tau, kalian tau keluarga besar Qiandra?..."tanya Lisa mencoba menjelaskan.
"Qiandra, Ferly Qiandra kan? gue sering denger cerita nyokap bokap gue sih. Pembisnis terkenal sepanjang masa kan..."jawab Bella sekenanya.
"Nah lo sadar gak nama Elisya adalah Elisya Caithlyn Qiandra, dan nama kak Arvie adalah Arvie Qiandra?..."tanya Lisa.
Mata Bella melotot kaget.
"M-maksud lo? mereka?..."tanya Bella terbata. Sedangkan Sam masih diam menyimak setiap kata demi kata yang diberitahukan Lisa. Ini sudah saatnya mereka tau.
"Iya bener, Elisya dan kak Arvie adalah pewaris dari keluarga besar Qiandra, waktu dirumah sakit pas Elisya bilang black card, itu bener banget. Elisya selalu bawa black card dalam tasnya. Soal sebelum liburan, waktu Elisya keceplosan bilang jet pribadi, itu bener kak Sam, Elisya punya jet pribadi..."jelas Lisa sejujur-jujurnya.
"Tapi mereka punya alasan kenapa sembunyiin identitas mereka. Lo tau Bel, keselamatan mereka terancam. Banyak orang yang nyari tau siapa pewaris dari keluarga Qiandra. Tentunya punya tujuan yang licik..."lanjut Lisa lagi.
"Maafin gue semuanya, Bella, kak Sam juga. Gue gak bermaksud nutupin identitas gue dari kalian tapi ini demi keselamatan gue dan kak Arvie, gue harap kalian bisa ngertiin ini..."lirih Elisya pelan.
Arvie mengusap lembut kepala Elisya.
"Ini semua gue lakuin karena gue pengen jaga Elisya. Jadi gue sembunyiin semuanya. Gue percaya sama semua orang yang ada disini. Tapi ini cara teraman buat gue lindungin adik gue Elisya..."lirih Arvie tegas.
"Minder gue jadinya bang..."ucap Sam sambil tertawa cengengesan.
"Sebenarnya kita semua tuh sama aja. Harta itu hanya titipan, cuman Tuhan kasih titipan terlalu banyak ke Arvie..."ledek Farhan.
"Sa ai lo Saipul..."ledek David.
"Nama gue ganteng ya kaya orangnya, enak aja lo main manggil-manggil Saipul aja..."protes Farhan tak terima.
Mengundang gelak tawa semuanya kecuali Dicky si pria dingin. Ia masih setia dengan wajah datarnya.
"Besok setelah acara pemakaman, gue langsung berangkat ke Rusia. Kalian jaga diri baik-baik disini..."ucap Arvie.
"Yah bakalan jauh deh sama lo Sya..."rengek Lisa.
"Gimana kalau lo ikut Lis, bareng gue?..."tawar Farhan.
"Modus lo kampret..."ledek David.
"Ngapain sih..."jawab Sam ketus seolah tak senang.
"Bawa santai aja dong bro, kusut banget tuh muka gak ada tampan-tampan nya..."ejek Farhan.
"Udah semuanya gak usah sedih, kita masih bisa ketemu lagi lain waktu..."lirih Elisya pelan.
Sedangkan Bella sedari tadi hanya terdiam.
"Bel lo mau gak gue culik, ikut gue ke Rusia?..."tanya Arvie.
"Buset si bos, mau culik cewe izin dulu Far..."goda David.
__ADS_1
"Bukan maen, emang beda sih ini..."ucap Farhan ikut-ikutan.
"Apaan sih lo Vie, gue udah kelas XII, udah hampir lulus. Gue pengen sekolah..."protes Bella.
"Yang rajin belajarnya, jangan nakal. Kalau lo nakal gue culik beneran ya..."ucap Arvie membuat semuanya bersorak.
"Ekhem, ada udang dibalik bakwan nih..."ucap Lisa mengejek.
Detik selanjutnya membuat semuanya semakin gempar, bagaimana tidak Arvie menarik tubuh Bella untuk mendekat dengannya. Lalu mengecup pelan kepala Bella.
"Kipas mana kipas? Panas banget anjir..."ucap Farhan dilebih-lebihkan.
"Perasaan gue udah mandi kembang tujuh rupa, kok masih panas ya Far?..."tanya David.
"Lo yang digituin, gue yang tremor Bel..."ucap Lisa.
Percayalah wajah Bella sudah memerah seperti kepiting rebus sekarang.
"Mau digituin juga ngga Lis?..."tawar Farhan.
"Jangan ngada-ngada ya lo..."protes Sam.
"Lah kok ngamok, situ siapa sih? Pacarnya?..."ledek Farhan. Pertanyaan itu mampu membuat Sam bungkam. Kenapa rasanya ia tak terima jika ada yang memperlakukan Lisa seperti itu. Akh menyebalkan.
"Malam ini kita ngapain? Yang seru-seru deh nih..."tanya David.
"Lisa pengen nyanyi boleh gak?..."tanya Lisa.
"Boleh banget cantik, mumpung gue lagi pegang gitar sekalian aja gue gitarin nih, mau lagu apa?..."jawab Farhan cepat.
Lisa nampak berpikir sejenak. Menimang-nimang lagu apa yang akan ia bawakan untuk menghibur teman-temannya. Sekaligus mendeskripsikan dirinya, mungkin!
"Utopia- Antara ada dan tiada kak..."putus Lisa.
Setiap ku melihatmu
Ku terasa di hati
Kau punya segalanya
Yang aku impikan
Dan anganku tak henti
Sajak tentang bayangmu
Walau kutahu
Kau tak pernah anggapku ada
Lisa nampak memejamkan matanya, menghayati bait demi bait lagu yang ia lantunkan. Seolah itu benar-benar mewakili perasaannya.
Semua orang disana ikut terbawa suasana mendengarkan suara Lisa yang terkesan lembut.
Ku tak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku
Tak mungkin lepas lagi
__ADS_1
Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatmu
Harus padam dan berakhir
Lagu berakhir. Membuat Lisa membuka matanya. Sam terpaku sesaat menyaksikan seberapa dalamnya gadis itu saat menyanyikan lagu barusan.
"Suara lo lembut banget Lis..."puji Farhan.
"Jelas lah, dia udah cantik suaranya bagus lagi. Gak kaya lo kalau nyanyi tuh merdu alias merusak dunia..."ejek David.
"Sialan banget lo, mimpi apa gue punya temen kaya lo..."kesal Farhan.
"Elisya juga pengen kak..."rengek Elisya.
"Lagu apa Sya?..."tanya Farhan.
"Judika- Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja..."ucap Elisya.
Farhan dengan cepat kembali memetik senar gitarnya.
Elisya memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lagu ini benar-benar mewakili perasaannya sekarang.
Andai aku bisa memutar waktu
Aku tak ingin mengenalmu
Mengapa ada pertemuan itu
Yang membuat aku mencintaimu
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
Terus mengingatmu
Memikirkanmu
Semua tentang dirimu
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
Tak seperti kamu
Yang mampu tanpaku
Bagaimana
Mungkin kini kau bersama yang lain
Walau hatimu untukku
Adakah kesempatan untuk cintaku
Bahagia walau kita berbeda
Elisya sudah tak mampu melanjutkan bait lagu selanjutnya. Bulir bening mulai menetes di pipi mulusnya. Hal itu membuat Arvie langsung menarik adiknya dalam pelukannya.
"Gak papa, pelan-pelan aja. Nanti bisa kok. Harus yakin..."ucap Arvie sambil mengelus kepala Elisya yang tengah terisak dipelukannya.
__ADS_1
"Acara malam ini gue cukupin sampai disini. Kalian semua bisa istirahat. Gue mau antar adik gue ke kamarnya dulu. Bel lo ikut gue..."ucap Arvie lalu bangkit dari duduknya diikuti oleh Bella dibelakangnya.
Semuanya sudah mulai bubar memasuki rumah untuk tidur. Besok adalah acara pemakaman kedua orang tua Elisya.