Elisya

Elisya
Merasa bersalah


__ADS_3

"Ka Ayo pulang, Elisya udah ngantuk. Malam ini kaka harus tidur dikamar Elisya, Elisya mau tidur sama kaka..."rengek Elisya sambil masih bergelayut manja di tangan Arvie.


Arvie tertawa kecil melihat kemanjaan adiknya itu,


"Iya adik kecil..."jawabnya.


Arvie memasangkan helm untuk Elisya. Menyuruh nya naik ke atas motor dan menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.


Diperjalanan hanya hening tidak ada pembicaraan, Elisya menyandarkan kepalanya di punggung Arvie sambil menatap pemandangan di pinggir jalan. Tubuhnya sedang bersama Arvie tapi pikirannya tidak. Bayangan Vano menggenggam erat tangan Angel terngiang-ngiang dikepalanya. Bahkan Vano tak menjelaskan apapun padanya.


"Ka Vano bahkan gak nyamperin aku sama sekali..."gumam Elisya sendu.


Rupanya Arvie menyadari diam adiknya itu, ia mengerti apa yang Elisya rasakan. Jika saja Elisya tidak menyayangi Vano, mungkin Arvie sudah menghabisinya. Tapi ia tak ingin melukai perasaan adiknya.


Sampailah mereka di depan rumah. Arvie turun dari motor dan membungkukkan badannya didepan tubuh Elisya sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Mata Elisya langsung berbinar-binar, dengan cepat ia naik ke punggung Arvie. Elisya dulu sangat suka digendong Arvie. Bahkan sampai sekarang.


Arvie menggendong Elisya memasuki rumah.


Di sofa sudah ada Revina dan Ferly yang tengah menonton televisi, Revina dan Ferly menoleh saat pintu terbuka.


"Pah liat tuh anak kamu, manja banget sama kakanya..."ledek Revina.


Ferly tertawa kecil,


"Ia mah, sifat manjanya gak hilang-hilang..."sindir Ferly.


Arvie tertawa kecil sambil mendekat ke arah kedua orangtuanya.


"Mah pah Elisya udah ngantuk, Arvie mau antar ke kamar Elisya..."ucap Arvie.


Revina tersenyum melihat kedua anaknya ini saling menyayangi satu sama lain.


"Kamu tidur dimana Vie?..."tanya Revina.


Elisya yang mendengar itu langsung menatap ke arah orang tuanya.


"Ka Arvie harus tidur dikamar Elisya, ga boleh kemana-mana..."rengeknya.


Ferly tertawa melihat itu,


"Ya sudah bawa adik kamu itu Vie..."perintah Ferly.


Arvie pun menggendong Elisya menuju kamarnya.


Revina tersenyum senang sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Mama bangga pah, anak kita saling menyayangi satu sama lain..."puji Revina.


Ferly tersenyum,


"Ia mah, papa harap Arvie bisa menjaga Elisya dengan baik, walaupun kita udah nggak ada nanti..."ucapnya.


🕓🕓🕓


Arvie menurunkan Elisya di atas kasurnya pelan.

__ADS_1


"Tidur ya Sya..."ucap Arvie sambil mengelus kepala Elisya.


"Elisya mau tidur sambil peluk kaka..."rengeknya.


Arvie tersenyum lalu membaringkan tubuhnya disamping Elisya. Membiarkan adiknya memeluknya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arvie.


Tak butuh waktu lama, nafas Elisya sudah teratur menandakan gadis itu sudah lelap dalam pelukan sang kakak.


Arvie menyeka rambut Elisya yang menutupi wajah cantiknya itu.


"Gue gak terima Sya kalau ada yang berani nyakitin lo..."lirih Arvie pelan sambil terus mengelus kepala yang adik.


🕓🕓🕓


"Ngel sekarang lo masuk kerumah lo, gue mau pulang istirahat..."ucap Vano saat memarkirkan mobilnya.


Angel tersenyum senang lalu memeluk tubuh Vano. Vano yang kaget hanya diam tanpa membalas pelukan Angel sedikit pun.


"Lo harus jadi milik gue Van, gimanapun caranya..."gumam Angel sambil menyeringai.


Angel melepas pelukannya,


"Thanks ya Van waktunya, gue mau pulang dulu..."ucap Angel lalu berjalan menuju rumahnya.


Vano mengusap wajahnya kasar sambil berjalan menuju kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.


"Elisya pasti salah paham sama gue, gue harus jelasin ke dia. Bisa-bisanya gue lupa izin dulu ke dia. Pasti bang Arvie mikir yang enggak-enggak tentang gue..."Vano menghela nafas kasar.


Akhirnya Vano memutuskan untuk menelpon Elisya, ia mengambil telpon di kantong celananya. Mencari-cari nomor Elisya hingga ia menemukannya.


Panggilan ditolak.


Vano menghempaskan telponnya di sampingnya.


"Astaga, Elisya pasti marah besar sama gue. Huft..."kesal Vano. Benar saja ia merasa bersalah saat ini. Ia sangat takut Elisya kecewa padanya.


Akhirnya Vano memutuskan untuk tidur, besok ia berniat menjemput Elisya lebih pagi untuk menjelaskan semuanya.


🕓🕓🕓


Arvie tersenyum sinis saat melihat telpon Elisya berbunyi, tertera nama "My fav boy❤️" disana.


Dengan cepat ia mengambil dan menolak panggilan dari Vano.


"Gue gak akan biarin lo ganggu tidur adik gue Van..."ucapnya dingin.


Beberapa kali panggilan Vano masuk namun selalu ia tolak. Saat Vano tak menelpon lagi, Arvie meletakkan telpon Elisya kembali ke atas nakas. Ia memejamkan matanya sambil mempererat pelukannya pada tubuh sang adik.


🌞🌞🌞


Elisya mengerjap-ngerjapkan matanya saat cahaya menyilaukan matanya.


"Ka Arvie mana sih, ko Elisya gak dibangunin..."lirihnya pelan.


"Udah bangun, buruan mandi hari ini kaka yang antar kesekolah..."ucap Arvie yang baru masuk ke kamar Elisya.


Elisya tersenyum senang lalu berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


Hanya perlu beberapa menit Elisya sudah rapi dengan seragam sekolah lengkap, dengan rambut tergerai indah. Sangat cantik.


Elisya berjalan menuju meja makan,


"Pagi ka..."ucap Elisya lalu mengecup singkat pipi Arvie.


"Mah pah, Elisya udah nakal nih..."ledek Arvie membuat gelak tawa dari kedua orang tuanya.


Elisya mendengus kesal,


"Emang nyium kaka sendiri ga boleh?..."kesalnya.


"Udah Vie jangan ledekin adik kamu terus buruan sarapan nanti telat..."lerai Revina.


Elisya pun memakan sarapannya,


"Mah Elisya diantar ka Arvie hari ini..."ucapnya antusias.


"Ia tuh Vie, mumpung kamu disini. Bisa jagain Elisya..."ucap Ferly.


Elisya tersenyum,


"Elisya udah gede pah, masa dijaga lagi sih..."rengeknya.


"Lo tuh kecil tau nggak..."ejek Arvie. "Udah ayo kaka antar..."ucap Arvie mencium punggung tangan kedua orangtuanya disusul oleh Elisya.


"Arvie sama Elisya pamit mah pah..."pamit Arvie.


"Hati-hati sayang..."teriak Revina.


Elisya berjalan mengiringi Arvie dari belakang, ia mengambil telpon di dalam tasnya. Ia berniat mengirimkan pesan untuk memberitahu Vano kalau hari ini Arvie yang mengantarnya.


–Ka Elisya hari ini diantar sama ka Arvie, kaka ngga usah jemput–


Send. Pesan terkirim.


Dengan cepat Elisya memasukkan lagi telponnya dalam tas dan memasuki mobil Arvie.


🕓🕓🕓


Di kediaman Vano.


Vano yang nampak sangat bersemangat ingin menjemput Elisya, berubah menjadi sendu saat melihat pesan masuk dari Elisya.


"Lo semarah itu sama gue Sya sampai minta antar sama bang Arvie..."lirih Vano kecewa.


Lamunan Vano buyar saat Angel menyapanya.


"Vano ayo berangkat, gue udah siap..."ucap Angel antusias.


Vano menghela nafasnya pelan,


"Ayo Ngel..."ajaknya. Kemudian berjalan menuju mobil.


Angel tersenyum senang saat tau Vano tidak menjemput Elisya hari ini. Terlihat jelas ketika Vano melajukan mobilnya ke jalan menuju sekolah.


"Kayanya gue harus bikin lo benci sama Elisya Van, biar lo gak dekat-dekat sama dia lagi. Gue bisa manfaatin trauma lo Van..."ucap Angel sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2