
Sesampainya didepan rumah Elisya. Arvie sudah berdiri tepat didepan pintu menunggu kedatangan adik kesayangannya itu. Setelah mendengar cerita dari kedua orang tuanya tentang Elisya yang mempunyai seorang pacar membuatnya tidak tenang.
Vano membukakan pintu mobil untuk Elisya, kali ini ia berniat mampir untuk meminta maaf karena membuat Elisya pulang agak terlambat.
Saat Elisya keluar dari mobil matanya tertuju pada sosok orang yang selalu ia rindukan. Orang yang selalu memanjakan nya.
"Kaka..."teriak Elisya sambil berlari menghambur pelukan pada Arvie sang kakak. Dengan senang hati Arvie menerima pelukan sang adik. Ia mengelus-elus punggung Elisya.
"Elisya kangen..."rengek Elisya manja.
"Udah gede, masih manja aja..."ledek Arvie. Elisya tak mempedulikan itu. Ia sangat merindukan kakaknya saat ini.
Vano berdiri dibelakang Elisya. Jujur saja trauma yang dialami Vano membuatnya cemburu saat Elisya memeluk laki-laki selain dirinya. Trauma itu selalu terbayang-bayang di kepalanya, tapi Vano mencoba menahannya, Arvie adalah kakak Elisya. Ia tak berhak melarang Elisya memeluk kakaknya sendiri.
"Sya kamu masuk duluan, kaka mau ngobrol sama pacar kamu bentar..."tegas Arvie.
Elisya melepas pelukannya, lalu mengangguk dan berjalan memasuki rumahnya.
"Lo Vano?..."tanya Arvie.
Vano mengangguk,
"Lo pacar adik gue kan..."tanya Arvie to the point.
Vano mengangguk lagi,
"Iya bang, gue pacarnya..."ucap Vano sopan.
"Gue peringatin ke lo ya Van. Gue kasih kepercayaan ke lo karena adik gue sayang banget sama lo. Jangan pernah sakitin dia sedikitpun. Jangan pernah bikin dia nangis. Kalau lo sayang sama dia. Bahagiain adik gue. Gue ngasih lo kesempatan buat buktiin kalau lo pantes buat adik gue..."ucap Arvie tegas sambil menepuk-nepuk pelan bahu Vano.
"Kalau lo berani nyakitin dia, gue gak yakin lo bisa hidup tenang Van, nyawa lo taruhannya..."sambung Arvie lagi.
Vano mengangguk mantap,
"Thanks udah percaya sama gue bang, gue sayang banget sama Elisya. Gue bakal jaga dia semampu gue..."jawab Vano yakin.
Arvie tersenyum singkat,
"Gue pegang omongan lo, pria sejati memegang teguh omongannya. Gue tuntut itu dari lo..."sambung Arvie lagi.
"Gue bakal pegang omongan gue bang..."jawab Vano yakin.
"Sekarang masuk..."ucap Arvie lalu berjalan mendahului Vano. Diikuti oleh Vano dibelakangnya.
Siapa yang tidak mengenal Arvie. Ia terkenal dengan keahliannya dalam bela diri. Diantara ketiga temannya tak ada yang mampu melawan Arvie, kecuali Dicky si pria kulkas, kemampuan bela dirinya hampir mengimbangi Arvie, walaupun sempat kalah beberapa kali saat battle melawan Arvie, tapi tak bisa dipungkiri Dicky juga ahli dalam bela diri.
Elisya menuju ruang makan, setelah masuk tadi Elisya langsung berganti pakaian ke kamarnya. Di ruang tamu sudah ada kedua orangtuanya, kakaknya dan kekasihnya Vano.
Elisya tersenyum saat melihat semua orang yang ia sayang berkumpul dimeja makan.
"Elisya lama ya..."tanya Elisya sambil duduk ditengah-tengah Vano dan Arvie.
"Emang pernah ya lo gak lama..."ledek Arvie.
__ADS_1
Elisya mendengus kesal,
"Mah kaka nakal..."rengeknya yang mengundang gelak tawa semua orang.
"Gini nih Van, adik gue manja banget. Lo harus terbiasa. Gue selalu manjain dia, dan sekarang tugas lo sama..."tegas Arvie.
Vano mengangguk mantap,
"Siap bang, gue bakal turutin semua kemauan Elisya..."ucap Vano.
"Ihh jadi sayang sama kaka..."ucap Elisya yang bergelayut manja ditangan Arvie.
"Udah sekarang makan dulu, kasian tuh Vano nunggu nya kelamaan..."lerai Revina.
Semuanya pun makan bersama dengan beberapa gurauan. Sampai acara makan-makan itu pun selesai.
"Makasih om tante..."ucap Vano.
"Jangan sungkan-sungkan Vano, kami senang bisa makan bersama seperti ini..."jawab Ferly.
Arvie menatap ke arah Vano,
"Dikasih lampu hijau lo sama bokap gue, sampai berani lo nyakitin adik gue jantung lo yang bakalan jadi makanan gue..."ucap Arvie.
"Gila kak, kaka sekarang jadi psikopat ya..."tanya Elisya.
Sedangkan Vano bergidik ngeri mendengar ancaman Arvie, salah sedikit nyawa melayang๐
"Kamu terlalu berlebihan Arvie, udah ya. Elisya anterin Vano ke depan. Kasian Vano takut kemalaman pulangnya..."ucap Revina.
"Ayo ka Vano Elisya antar..."ucap Elisya. Vano pun mencium punggung tangan kedua orang tua Elisya, lalu berjabat tangan dengan Arvie.
"Ayo Sya..."ajak Vano.
Sesampainya didepan rumah,
"Kaka pulang dulu ya Sya, kamu langsung istirahat..."ucap Vano.
Elisya tersenyum dan mengangguk
"Hati-hati ka Vano..."ucap Elisya.
Baru saja Vano berniat ingin mencium pipi Elisya, kepala Arvie sudah nongol dibalik pintu.
"Mau ngapain lo Van, main nyosor aja. Pulang sono. Belum sah..."sindir Arvie.
Vano menelan salivanya susah payah,
"Ia bang..."ucap Vano lalu berjalan menuju mobilnya.
"Lo juga Sya, udah nakal ya sekarang..."ledek Arvie.
"Ihh kaka apa-apaan sih, orang Elisya gak ngapa-ngapain..."kesal Elisya.
__ADS_1
"Mah pah Elisya mau ciuman sama Vano..."teriak Arvie lalu masuk tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sedangkan Elisya menghentakkan kakinya kesal,
"Kakak sialan, awas aja nanti..."Elisya menahan emosi lalu berlari mengejar Arvie.
๐๐๐
Setelah beberapa menit, mobil mewah Vano sudah terparkir indah di halaman rumahnya.
"Mah Vano pulang..."teriaknya.
"Tumben telat Van..."tanya Yunita.
"Abis makan besar sama calon mertua..."ucap Vano santai.
"So banget kamu Van, jagain tuh Elisya. Susah nyari yang kaya dia..."pesan Yunita.
"Siap mamah cantik..."ucap Vano lalu mengecup pipi Yunita sang ibu dan berlari ke kamarnya.
"Anak nakal..."lirih Yunita pelan.
Baru saja Yunita ingin masuk ke kamar sudah terdengar suara Angel memanggil-manggil Vano.
"Vano nya mana tante..."tanya Angel tanpa salam sedikit pun. Sangat minim atitude.
"Dikamar..."ucap Yunita lalu pergi meninggalkan Angel.
Angel langsung bergegas masuk ke kamar Vano tanpa permisi.
"Vano..."panggilnya manja.
"Ngapain sih Ngel, gue lagi cape..."ucap Vano.
Angel tertegun, sejak kapan Vano seperti ini. Biasanya selelah apapun Vano jika berkaitan dengan Angel ia selalu siap dan antusias, tapi sekarang tidak lagi.
"Malam ini gue lagi pengen belanja, lo temenin gue ke mall ya..."ajak Angel antusias.
"Gue cape Ngel, lain kali aja..."jawab Vano.
Angel sangat kecewa,
"Lo kenapa berubah gini sih Van, biasanya tiap gue ajak kemanapun lo selalu siap, sekarang apa..."ucap Angel sendu.
"Gue bukannya nggak mau Ngel, gue lagi cape..."jelas Vano.
"Pokonya gue gak mau tau, kalau lo nggak mau nganterin gue, bakal gue bilangin sama bokap lo..."ancam Angel.
Vano mendengus kesal,
"Ia nanti gue temenin..."jawab Vano final.
Angel tersenyum senang lalu meninggalkan kamar Vano pulang ke rumahnya yang berdekatan dengan rumah Vano.
__ADS_1
Yudi Mahesya adalah ayah dari Vano, seorang pengusaha yang cukup terkenal tentunya. Ayah Vano bersahabat sangat dekat dengan ayah Angel. Ayah Angel menanamkan banyak saham di perusahaan Yudi, bahkan sedari dulu Yudi sangat antusias ingin menjodohkan Vano dengan Angel. Selain karena ia sudah mengenal keluarga Angel, tentu juga untuk keperluan bisnis agar berjalan lancar. Oleh karena itu, Vano meng iya kan ajakan Angel saat Angel mengancamnya ingin melaporkan pada ayahnya. Ia tak ingin berdebat dengan ayahnya yang gila kerja itu.