
"Temenin gue ke toilet bentar dong, kebelet nih..."ucap Bella cengengesan.
Elisya tersenyum lalu bangkit dari duduknya, "Ayo gue temenin..."
Mereka berdua berjalan bersama melangkahkan kaki ke toilet. Bella dengan cepat masuk ke toilet menuntaskan keinginannya.
Elisya bersandar disamping toilet sambil menunggu Bella.
Tiba-tiba terdengar suara yang familiar di telinga Elisya. Suara perempuan yang tengah tertawa terbahak-bahak dari arah belakang sekolah.
Karena rasa penasaran yang menyerang, Elisya meninggalkan Bella sendiri. Berjalan pelan mencari sumber suara.
Tatapannya berhenti pada Angel yang tengah duduk ditaman belakang bersama Karin disampingnya.
Setelah melihat itu Elisya memutuskan untuk pergi, karena menurutnya itu tidak penting. Namun ia mengurungkan niatnya untuk pergi saat mendengar namanya disebutkan.
"Hahaha gila lo Ngel, keren parah. Lo berhasil Ngel..."ucap Karin senang.
Angel memainkan rambutnya sambil menyeringai, "Gue gitu loh, apa sih yang gak bisa gue dapetin. Kasian banget si Elisya. Dia belum tau aja gue siapa..."ucap Angel sombong.
Karin tertawa lagi, "Bisa-bisanya nyokap lo dukung rencana jahat lo Ngel..."
Angel tersenyum sinis, "Jelas dong. Nyokap gue sayang banget sama gue. Apapun yang gue mau pasti akan terkabul..."
"Lo gak takut Vano tau kalau lo cuman pura-pura sakit gini Ngel..."tanya Karin.
Angel tertawa kecil, "Ngapain takut. Gue bahkan udah buat surat keterangan palsu kalau gue sakit jantung. Pastinya Vano percaya dong..."ucap Angel puas.
"Gila sih parah, tuh dokter juga mau aja..."
"Jelas lah, itu dokter om gue tau, jelas lah mau bantu gue. Huft berhasil kan, tinggal dikit lagi Vano akan jatuh ke pelukan gue..."ucap Angel sambil tertawa puas.
Elisya yang mendengar pembicaraan Angel mengepalkan tangannya menahan emosi. Cukup! Ia sudah tak tahan lagi. Ia berjalan menghampiri Angel. Menarik tangan Angel kasar. Angel dan Karin kaget saat tiba-tiba Elisya muncul dan menarik tangannya kasar.
"Apa-apaan sih lo, berani banget kasar sama gue..."bentak Angel.
__ADS_1
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat tepat dipipi Angel membuatnya meringis menahan sakit sambil memegang sebelah pipinya yang memerah.
"Brengsek. Lo nampar gue bego..."Angel sudah mengangkat tangannya ingin membalas tamparan Elisya tapi terlambat! Elisya sudah lebih dulu mencengkram tangan Angel kasar.
"Dasar penipu. Kenapa hah, bangga lo! Bangga banget ya pura-pura sakit didepan pacar orang cuman biar diperhatiin. Hahaha haus perhatian ya lo. Miris banget hidup lo!..."tawa Elisya terkesan saat mengejek.
Karin yang melibat Angel meringis mendorong bahu Elisya.
"Apa-apaan sih lo, datang marah-marah langsung nampar orang..."kesal Karin.
Elisya melepas cekalan tangannya pada lengan Angel.
"Kalian pikir gue gak tau kalau Angel cuman pura-pura sakit hah! Gue bakal bilangin semuanya sama Vano...."ucap Elisya lantang.
Angel merasa ketakutan sekarang, ia takut Vano tau kalau ia hanya berpura-pura sakit selama ini hanya agar Vano selalu dekat dengannya.
Tiba-tiba saja Angel menjatuhkan dirinya sendiri hingga seragamnya sedikit kotor karena ulahnya sendiri.
"Lo apa-apaan sih..."tanya Elisya heran.
Elisya bingung, ada apa dengan Angel?
"Lo apa-apaan sih, gue gak-..."ucap Elisya terhenti saat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Ya sedari tadi Vano sudah ada dibelakang Elisya, saat Angel terjatuh ke tanah. Ia membalik tubuh Elisya kasar.
"Lo apain Angel, lo nampar dia Elisya. Kalau lo gak suka sama dia gak gini caranya. Lo tuh kekanak-kanakan banget tau nggak..."bentak Vano keras.
Elisya terpaku sejenak. Apa tadi Vano menyembutnya dengan panggilan lo-gue. Ada apa dengan Vano.
"Kaka salah paham, aku gak dorong dia sama sekali ka, dia jatuhin diri dia sendiri..."ucap Elisya mencoba membela diri.
Angel tengah tersenyum puas sekarang, saat melihat Vano membentak keras Elisya. Begitu juga dengan Karin.
__ADS_1
"Mana ada orang yang jatuhin dirinya sendiri. Punya otak kan lo! Mikir!..."
"Tapi aku gak dorong dia kak, percaya sama aku..."Elisya berusaha sekuat tenaga membendung air matanya agar tak jatuh. Ini pertama kalinya Vano membentaknya dengan kata-kata kasar seperti ini.
"Percaya sama lo? Gimana caranya gue bisa percaya Sya? Buktinya ada didepan mata. Lo dorong dia. Lo nampar dia..."kesal Vano.
"Dia cuman pura-pura sakit kak Vano, Elisya denger sendiri ka Angel ngomong gitu..."ucap Elisya mencoba memberi tahu.
Wajah Angel berubah pucat, ia takut Vano akan membencinya jika mengetahui kebohongan. Tapi tunggu!
Vano malah tertawa kencang, "Gue tau lo gak suka gue dekat sama Angel, tapi gak gini caranya. Lo udah nampar dia! Dorong dia! Dan sekarang lo mau fitnah dia? Ck gue gak nyangka ternyata lo sejahat ini Sya..."bentak Vano.
Senyuman puas terbit dibibir Angel, saat melihat Vano tak mempercayai ucapan Elisya.
Elisya sudah tak mampu lagi menahan air matanya. Air matanya jatuh tanpa izin saat Vano membentak nya begitu keras. Vano memang didepannya sekarang! Tapi Elisya rasa dia sudah berubah, dia bukan Vano yang ia kenal lagi.
"Gue kecewa sama lo Sya..."Vano berjalan melewati Elisya, berjongkok disamping Angel dan membopong tubuh Angel dan berjalan cepat membawa ke arah UKS. Saat berpapasan disamping Elisya, Angel tersenyum mengejek ke arah Elisya.
Karin berjalan dibelakang Vano. Mendekat ke arah Elisya."Rasain lo..."bisik nya pelan tepat disamping telinga Elisya lalu berjalan mengikuti langkah Vano.
Elisya membeku ditempatnya. Air matanya terus mengalir dipipinya. Hancur sudah. Kenapa rasanya sakit sekali! Untuk kesekian kalinya Vano tidak mempercayai nya. Seluruh dunia Elisya seakan runtuh saat ini juga.
Elisya terduduk diatas tanah. Roknya sedikit kotor sekarang. Akan tetapi, bukan itu inti permasalahannya. Ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Ini memang bukan pertama kalinya Vano membentak Elisya karena membela Angel, tapi Vano tak pernah berkata sekasar ini padanya. Elisya menangis terisak-isak mengeluarkan segala rasa sesaknya.
Bella kelimpungan mencari keberadaan Elisya. Setelah keluar dari toilet ia tak menemukan Elisya. Ia mencari ke berbagai penjuru sekolah tapi tak juga ketemu. Ia sangat mengkhawatirkan Elisya. Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada Vano yang membopong tubuh Angel dari arah taman belakang.
"Astaga Elisya..."lirih Bella lalu berlari cepat menuju taman belakang.
Benar saja dugaannya. Elisya tengah menangis tersedu-sedu sambil terduduk diatas tanah. Bella berlari menghampiri Elisya.
Ia berjongkok memeluk tubuh Elisya. "Udah tenang Sya, jangan nangis lagi. Kita ke UKS sekarang ya..."bujuk Bella.
Elisya melerai pelukan Bella, lalu menggeleng pelan menandakan ia tak ingin ke UKS.
Bella mengerti, bahkan Bella tak ingin menanyakan apakah Elisya baik-baik saja atau tidak. Ia hanya berusaha menenangkan Elisya dan akan menanyakan nya jika Elisya sudah lebih tenang.
__ADS_1
"Oke gue antar ke kelas aja..."ucap Bella menuntun Elisya berdiri. Ia sedikit menepuk-nepuk rok Elisya yang cukup kotor. Lalu menuntun Elisya berjalan menuju kelas.
Tak ada jawaban dari Elisya. Ia hanya diam seribu bahasa. Tak ada penolakan darinya. Ia mengikuti Bella yang mengantarkannya ke kelasnya.