
"Udah Sya, gak usah dipikirin. Tujuan kita kesini kan mau jalan-jalan, yaudah ayok!..."ajak Bella.
"Sya liat deh disana sepatunya cantik banget. Kita couple an lagi yuk. Biar sama an gitu, baju sama sepatu. Gimana?..."ucap Bella antusias.
Kesedihan di wajah Elisya sedikit berkurang, Bella benar-benar berhasil mengembalikan keceriaan Elisya.
"Yaudah ayo Bel, habis ini cari makan ya. Gue laper..."
"Ye mulai nih sifat manjanya keluar..."ledek Bella.
"Sama calon kakak ipar..."goda Elisya sukses membuat Bella malu-malu sendiri.
"Apaan sih lo. Ayo ah kesana..."tarik Bella.
🕓🕓🕓
Diluar mall yang sama, Vano berlari mengejar Angel.
"Ngel tunggu dulu..."teriak Vano.
Angel berlari dengan mata berkaca-kaca, ia benar-benar tidak menyangka Vano akan membentaknya seperti tadi. Memang benar saja Vano tak pernah membentak Angel sebelum ini.
Vano berhasil meraih tangan Angel,
"Sorry ya Ngel, gue nggak sengaja. Udah jangan nangis lagi ya..."bujuk Vano.
Angel memukul-mukul dada Vano, "Lo bentak gue Vano. Lo jahat, hiks hiks..."
Vano dengan cepat mendekap tubuh Angel dalam pelukannya. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah membentak Angel.
"Udah cukup. Maafin gue ya, gue gak sengaja tadi. Gue janji gak akan bentak lo kaya tadi..."ucap Vano sambil mengelus surai rambut Angel.
Angel menghapus air matanya pelan, lalu mendongak menatap Vano.
"Lo akan jagain gue terus kan Van, lo bakal selalu ada disamping gue kan?..."tanya Angel pelan.
Vano mengangguk, "Gue akan jagain lo terus, udah ya gak usah nangis lagi. Sekarang kita pulang ya. Lo perlu istirahat. Jangan kecapean..."ucap Vano tulus.
Angel tersenyum puas, " Mungkin kali ini lo bisa menang Sya, tapi ngga lain kali. Tunggu aja nanti..."gumam Angel dalam hati.
"Ayo Van kita pulang..."ajak Angel.
Vano tersenyum lalu menarik pelan tangan Angel menuntunnya memasuki mobil.
🕓🕓🕓
Disebuah cafe terlihat dua orang wanita cantik yang tengah bercanda.
"Enakkan makanan nya? Gue tuh sering kesini tau..."ucap Bella.
__ADS_1
Elisya mengangguk senang, "Iya enak. Lo sering kesini sama siapa?..."
"Sama Rangga..."suara Bella memelan aura ketakutan memancar diwajahnya. Mengingat bagaimana Rangga selalu berlaku kasar padanya.
Elisya menggenggam erat tangan Bella. "Jangan takut, gue ada disini. Gue akan selalu jagain lo..."
"Makasih Sya, gue seneng banget bisa temenan sama lo!..."ucap Bella tulus.
"Bagaimana kalau, sahabat?..."tawar Elisya sambil mengangkat jari kelingking nya.
Mata Bella berbinar-binar mendengar penawaran Elisya. "L-lo serius?..."tanya Bella tak percaya.
"Hm..."Elisya mengangguk sambil tersenyum.
Bella dengan ragu menautkan jari kelingkingnya dengan Elisya. "Sahabat..."ucap Bella lantang.
"Sekarang kita pulang yu Bel..."ajak Elisya.
Bella mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju parkiran. Lalu mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Ditengah perjalanan perasaan Elisya merasa tak enak. Ia merasa ada yang tidak beres sekarang. Ia melirik ke arah kaca spion mobil.
"Bel tuh mobil dari tadi ngikutin kita..."ucap Elisya.
Bella melirik ke kaca spion. Benar saja sebuah mobil hitam mengikuti mobilnya sedari tadi.
Elisya mengangguk. Bella memang cukup lihai dalam berkendara. Jadi ia tak perlu khawatir.
Bella menjalankan mobil dengan kecepatan maksimal menghindari kejaran mobil dibelakang nya. Namun nihil, mobil itu berhasil menyusulnya dan menyalip mobil Bella.
Bella menginjak rem mendadak, ia menghela nafas lega. Untung saja ia sempat mengerem mobilnya. Jika terlambat sedetik saja mungkin mobilnya sudah menabrak mobil hitam didepannya itu.
Kepala Elisya hampir saja terbentur, garis bawahi, hampir tapi tidak terbentur.
Dua orang pria berseragam hitam bertubuh besar mengetuk-ngetuk pintu mobil Bella cukup keras.
"Keluar lo..."ucapnya.
Bella gemetar menahan takut, "Kita harus gimana Sya..."tanyanya.
Elisya menggenggam tangan Bella, ia meraih telponnya lalu mengetikkan sesuatu dan meletakkan telponnya lagi.
Entah apa yang Elisya lakukan. "Gak usah takut Bel, kita turun. Kita lihat apa yang mereka mau dari kita..."
Bella menggeleng kuat, "Jangan Sya. Kalau mereka nyakitin kita gimana?..."tahan Bella.
Elisya mengangguk meyakinkan. "Lo percaya sama gue..."ucap Elisya.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk turun dari mobil.
__ADS_1
"Lo tuh cowok atau bukan sih. Beraninya sama cewek, gak malu sama badan lo yang besar itu..."ejek Elisya.
"Sya udah Sya..."tahan Bella.
"Jangan banyak omong, ikut kami..."ucapnya lantang.
Elisya mundur beberapa langkah, "Kenapa kami harus ikut kalian?..."tanyanya sesantai mungkin.
"Jangan membuang-buang waktu kami, kami hanya menjalankan tugas, ayo ikut kami..."ucapnya tegas.
Sudah cukup. Elisya mengangkat tangannya. Membuat kedua laki-laki bertubuh besar itu mengernyitkan alisnya. Bella pun ikut bingung.
"Lo ngapain Sya?..."tanya Bella heran.
Selang beberapa detik dua buah mobil mengepung dua orang laki-laki itu.
Elisya dengan cepat menarik tangan Bella memasuki mobil. "Kali ini gue yang nyetir..."ucap Elisya.
Terjadi pertempuran disana, yang tak lain adalah bodyguard yang memang ditugaskan untuk menjaga Elisya dari kejauhan. Saat Elisya mengangkat tangan, itu sebenarnya ia memberi kode untuk menyerang.
Elisya melajukan mobilnya cepat, "Dah selamat..."ucap nya sambil tertawa senang seolah yang baru saja terjadi hanyalah sebuah lelucon.
"Tadi siapa yang nolongin kita Sya?..."tanya Bella masih syok.
"Orang baik..."jawab Elisya santai.
Bella hanya menganggukkan kepalanya, "Lo emang misterius Sya, banyak hal yang gue belum tau tentang lo..."gumam Bella dalam hati.
Cit...
Elisya mengerem mobilnya tepat didepan rumahnya.
"Makasih ya Bel, udah ajak gue jalan-jalan. Lo pulangnya hati-hati. Gue pastiin lo aman ko sampai rumah. Bye..."ucap Elisya sambil melambaikan tangannya.
Bella masih syok dan mencoba memahami keadaan. Namun, otaknya masih belum mampu mencerna apa yang terjadi barusan. Bella benar-benar ketakutan tadi.
"Bye..."ucap Bella kikuk lalu perlahan melajukan mobilnya pulang.
Setelah kepergian Bella, Elisya menghela nafasnya lega.
"Huft untung gue cepat tadi, kalau nggak kan bisa bahaya..."lirih Elisya pelan.
Elisya berlari kecil memasuki rumah.
"Mah Elisya pulang, Elisya langsung kekamar ya mah. Mau istirahat, Elisya udah makan tadi sama ka Bella..."teriak Elisya kencang.
"Iya sayang..."jawab Revina dari arah dapur.
Setelah itu, Elisya berjalan santai menuju kamarnya.
__ADS_1